Rumah Petaka

Rumah Petaka
Memerangi Maut


__ADS_3

Suasana dimalam hari ini begitu mencekam, daun kering berguguran menutupi jalan perumahan disana.


Semua rumah terlihat gelap dan senyap, namun salah satu rumah di sana terlihat mulai bercahaya.


Seorang kakek bernama Kim He Nim terus berjalan menaiki tangga kayu rumah lalu membuka pintu berwarna abu-abu di sana, mata tuanya memandang kesenyapan di ruang kamar itu.


“Kau sudah tidur?”


Dengan bahasa asing yang kental He Nim berkata, seketika selimut berwarna kuning itu tersingkap dan menampilkan sesosok anak kecil yang menatap pria tua itu sendu.


“Kakek, Dia tidak mau berhenti bermain.” protes anak kecil itu sambil menunjuk udara di sampingnya. He Nim tersenyum lalu memasuki kamar.


“Apa karna itu Kau segera mematikan lampunya saat kakek akan menemuimu? Heuh anak ini!” kata He Nim sambil mengusap kepala atas bocah lelaki itu.


Suara langkah kaki yang terdengar menghentakkan kakinya kesal terdengar mendekati kamar anak tirinya, Hyeon Chul.


Dengan wajah marahnya berteriak kepada Hyeon Chul dan mertuanya itu.


“Hyeon Chul! Tidurlah! Kenapa Kau membuatnya masih terjaga?” teriak Ibu tiri Hyeon Chul dengan gamblangnya menyalahi mertuanya yang sudah sepuh itu.


“Aku ini ingin membuat Hyeon Chul tidur, Yeon.” bantah He Nim itu dengan dengan suara yang begitu lembut.

__ADS_1


Brak! Brak! Brak!


Sebuah pukulan keras dari pintu utama rumah ini membuat semua menjadi terkejut, walaupun takut tapi dengan penasaran Ibu Hyeon Chul segera berbalik dan melangkah turun dari tangga.


Kakek itu menoleh menatap cucunya yang sedang memeluk erat dirinya ketakutan, dengan gerakan perlahan ia berdiri dan mulai melangkah meninggalkan cucunya menuju ke kamar sebelah milik anaknya dan menantunya.


Dengan dorongan yang hati-hati untuk membuka pintu kamar itu, seketika matanya melebar mengetahui pria yang terbaring di ranjang sana terlihat sudah tak bernyawa lagi dengan secara beraturan terus mengeluarkan darah dari perut dan mulutnya.


Kakek itu menutup mulutnya yang dengan tak sengaja terbuka karna melihat dengan jelas bagaimana anaknya yang kejang-kejang dan terus mengeluarkan darahnya.


Kakek itu membanting pintu itu dan mencoba mengatur napasnya lalu menyeka air matanya yang jatuh ke pipinya sangat sedih akan kematian tragis anaknya.


Sampai di sana, He Nim tak menemukan menantunya dan dengan pergerakan awas ia menelusuri setiap ruangan di sana.


Langkahnya terhenti saat setitik buliran darah jatuh tepat di kemejanya yang berwarna coklat muda, He Nim mendongak menatap lampu besar di tengah atas ruang tamu.


“Kakek?! Aaa!” teriak Hyeon Chul yang masih berada di dalam kamarnya, hanya Hyeon Chul sekarang yang hidup, ia tak ingin ada yang menjadi korbannya lagi.


“Hyeon Chul?” teriak He Nim setelah dirinya membuka pintu kamar cucunya namun tak ada Hyeon Chul di sana.


“Kakek?!” teriak Hyeon Chul lagi dan kali ini suaranya terdengar di balkon kamar Hyeon Chul, He Nim segera menuju ke balkon kamar Hyeon Chul namun sesuatu menahannya.

__ADS_1


Gorden putih itu dengan sendirinya melayang—membentang menarik tubuh He Nim untuk kembali ke dalam hingga tubuh itu jatuh terbentur dinding.


“Biarkan aku menyelamatkan cucuku!” pinta Kakek itu disertai dengan batuk yang mengeluarkan darah lalu ia segera berlari tertatih-tatih menolong Hyeon Chul yang bergantung di perbatasan balkon, antara udara yang akan menjatuhkannya tepat di depan rumahnya.


“Hyeon Chul!” teriak He Nim sembari memegang kedua telapak tangan Hyeon Chul lalu menariknya kembali masuk ke balkon.


Angin mendadak menjadi kencang, semua benda mulai berjatuhan hingga sebuah lampu melayang dan mulai menghantam punggung Kakek Hyeon Chul hingga terjatuh dan melepaskan genggaman tangan Hyeon Chul.


Empat kaca kamar Hyeon Chul pecah dan berhamburan mengenai Hyeon Chul dan pria tua itu.


“Apa yang Kau inginkan? Kau sudah mengambil orang tua dari anak ini! Bukankah aku hanya pinta Kau untuk menemani Hyeon Chul saja?!” bentak He Nim mulai tersulut emosinya.


Hyeon Chul terus menangis sambil menggoyangkan lengan He Nim.


Namun sepertinya alam semakin nampak marah, dengan sendirinya tubuh kakek renta itu terseret dengan cepatnya hingga sampai kepalanya membentur dinding kamar Hyeon Chul lalu terseret lagi menuju balkon hingga kayu pembatas balkon itu hancur karena dorongan kuat dari tubuh He Nim, otomatis tubuh kakek Hyeon Chul terjatuh dari paling atas kamar dirumah ini.


“Haraboeji!” seru Hyeon Chul memanggil kakeknya dengan tangannya yang seolah ingin menahan terjatuhnya pria yang paling ia sayangi itu.


Suara sirine mobil polisi terdengar dan berhenti di depan pagar rumah besar ini, tangis Hyeon Chul semakin pecah karna ia merasa benar-benar sendirian.


Sambil memeluk kakinya yang ia tekuk, bocah kecil kisaran berumur 6 tahun itu menangis sejadi-jadinya hingga polisi itu datang menemui Hyeon Chul yang sendirian dan para warga disana terus membicarakan topik itu sampai hilang 5 tahun kemudian.

__ADS_1


__ADS_2