Rumah Petaka

Rumah Petaka
Penasaran


__ADS_3

“Maaf Direktur, tapi saya tak tahu menahu tentang ini.” jawab Sekretaris Kim masih menampilkan wajah datarnya, tampak ia tak takut akan kemarahan bosnya ini.


Dennis mencoba untuk menyerah lalu ia melemparkan gumpalan kertas itu tepat di wajah Eun Hyuk.


“Bawa pergi kertas itu, bakar kalau perlu.” perintah Dennis dengan suara yang ia sedemikian turunkan.


Dennis duduk dengan lemasnya lalu menutup matanya berharap kemarahan tak berguna ini reda.


Kim Eun Hyuk menatap Dennis dengan sorotan mata yang sulit diartikan namun terlihat tajam.


“Kalau begitu saya pergi.” kata Eun Hyuk menyudahi pertemuan tak mengenakkan ini.


*


Langkah kaki kecil dari Jennie mengalihkan pandangan Mira, Jennie yang baru saja keluar dari kamar orang tuanya tersebut segera turun menghampiri Mira.


“Apa ayah sudah pergi, bu?” tanya Jennie menumpukkan kedua tangannya di atas meja makan.


“Eum, baru saja.” jawab Mira kembali berkutat dengan piring kotor yang akan ia bersihkan.


“Apa ayah masih marah bu?” tanya Jennie sambil terus menatap pergerakan ibunya.


“Memangnya kapan ayah pernah marah padamu?” tanya Mira balik lalu menghampiri Jennie.


Jennie menggeleng menjawab pertanyaan ibunya lalu ia kembali menundukkan kepalanya.


“Ibu, aku mau makan.” kata Jennie masih dengan wajah lesunya.


Mira tersenyum lalu mengusap kepala Jennie.


“Anak ibu mau makan apa?” tanya Mira masih mengusap kepala Jennie dan menatap anaknya sayu.


“Sandwich!” jawab Jennie antusias lalu ia mendongak dan tersenyum tipis.


“Sayang, apa temanmu itu tak akan datang lagi?” tanya Mira mengulum senyumnya di balik Jennie.


“Em? Entahlah, memangnya kenapa, bu?” kata Jennie tak pasti.


“Tak apa. Hanya Dia sudah bilangkan? Dia adalah anak dari pemilik rumah ini dulu.”


“Lalu?”


“Ibu hanya ingin tahu bagaimana keluarganya meninggal di rumah ini.” jawab Mira mulai berbalik sebentar melihat Jennie kaku.


“Bukankah kata Hyeon Chul mereka dibunuh?” tanya Jennie terdengar memastikan.


“Namanya Hyeon Chul?”


“Aku sepertinya pernah memberitahukan namanya?”


“Tidak, sepertinya tidak. Siapa marganya?” tanya Mira memberikan dua sandwich kesatu piring lalu menyodorkan kepada Jennie.

__ADS_1


“Kim, Kim Hyeon Chul.” jawab Jennie segera memakan salah satu sandwich disana.


“Apa temanmu itu pernah bercerita tentang keluarganya padamu?”


Jennie menghentikan makannya karna terkejut dengan pertanyaan Mira yang terdengar tenang.


“Apa ibu ingin mendengar cerita tentang keluarganya?” tanya Jennie balik dengan suara dramatisnya.


“Heum? Cobalah ceritakan.” kata Mira menyetujui permintaan Jennie.


*


Dennis membuka matanya saat beberapa waktu yang lalu ia tertidur di atas meja kerjanya.


Semua orang telah pergi dan hanya dirinya-lah yang berada dikesenyapan ini.


“Hah, hanya karna aku libur 1 hari namun pekerjaanku sudah menumpuk. Seandainya saja aku tidak libur.” cercah Dennis menatap sekitar ruangannya.


Derapan langkah terdengar diluar ruangan Dennis, Dennis menajamkan pendengarannya sambil berdiri dan melangkah mendekati suara langkah kaki itu.


“Siapa?” tanya Dennis ketika dilihatnya seorang siluet yang berbelok ke lorong lain.


Perasaan Dennis berubah menjadi was-was, ia harus segera pergi dari sini.


Dennis segera masuk kembali ke ruangannya lalu mengambil jas yang tergantung di punggung kursi, langkah Dennis hampir menyamai dengan berlari ia sengaja tidak menggunakan lift karna perasaannya tak tenang jika hanya ia sendiri yang berada di ruang kecil nan senyap itu.


“Tuan Den!” panggil seseorang di belakang Dennis.


Dennis berhenti menuruni tangga lalu berbalik melihat seorang di sana.


“Apa Anda baru saja ingin pulang?” sambung Dennis ketika melihat atasan tertingginya itu mendekatinya.


“Ya, aku tadi melihatmu berlari melewati lift yang akanku masuki.” jawab Presdir Choi Si Won tersebut tanpa menatap Dennis.


Dennis kembali melaju langkahnya ketika Presdir Choi menyamakan posisi tubuhnya dengan Dennis.


“Aku dengar Kau bertengkar dengan Sekretaris Kim Eun Hyuk?” tanya Presdir Choi memastikan sambil sesekali menatap Dennis yang berada di sampingnya.


“Em? E—itu, itu tak juga dianggap bertengkar hanya saya salah paham saja.” jawab Dennis ragu.


“Ya, mungkin Sekretaris Kim memang baru bekerja dan ini pengalaman barunya saat beberapa tahun yang lalu berada di Jepang.” gumam Presdir Choi menatap penuh anak tangga.


“Ia bukan warga asli Korea?” tanya Dennis menaikkan salah satu alisnya.


Si Won tersenyum tipis sambil terus menatap langkah kakinya.


“Ia warga Korea, namun Jong Woon melanjutkan S2nya di Jepang.” jelas Presdir Cho bersuara rendah.


Dennis berdehem kecil menanggapi penjelasan Presdirnya ini


Suasana hening tercipta dan hanya suara derap langkah kaki kedua pasang sepatu pentofel tersebut.

__ADS_1


“Lalu kenapa Kau menggunakan tangga?” tanya Presdir Choi menoleh sekilas kearah Dennis.


“Ah, hanya sedang ingin olahraga saja.” jawab Dennis sedikit terbata-bata.


Sedangkan Dennis tak kembali melempar pertanyaan yang sama pada Si Won karna ia tahu atasannya ini sangat menyukai hidup sehat dan ia akan melakukan apapun untuk sesering mungkin membakar kalorinya.


“Em, kalau begitu sampai bertemu lagi Den.” kata Presdir Choi mendekati mobil silver sedannya dan melambaikan tangannya ke atas.


Dennis tersenyum lalu ikut melambaikan tangannya pada Choi Si Won sang Presdir ramahnya itu.


Tok! Tok! Tok!


“Sayang! Aku pulang.” teriak Dennis menunggu bukanya pintu utama tersebut.


“Malam sekali pulangnya.” gumam Mira setelah membuka pintu untuk akses Dennis masuk.


“Maaf, tadi terlalu banyak pekerjaan.” kata Dennis lirih lalu segera memasuki rumah sewanya.


Langkah kaki kedua manusia itu beriringan menaiki tangga tanpa perkataan yang memecah keheningan.


“Oh, Jennie tidur di sini?” kaget Dennis saat tahu jika tubuh Jennie terbaring pulas di atas tempat tidur mereka.


“Ya, aku masih takut dengan kejadian beberapa waktu yang lalu.” jawab Mira setelah mencoba melepas jas yang dikenakan suaminya lalu berjalan menaruh jas itu di gantungan baju.


“Itu sudah beberapa hari yang lalu, kenapa Kau begitu takut?” tanya Dennis duduk di atas ranjang dan melonggarkan dasi yang terasa menekan lehernya.


“Bukan hanya kejadian itu, tapi aku sudah kesekian kali diteror.” jelas Mira terselip rasa marah di sana.


Dennis tersenyum tipis sambil menatap istrinya yang ikut duduk di atas ranjang dan menghadap ke arahnya.


“Sudahlah, sepertinya Kau yang harus tidur.” kata Dennis mengulurkan kedua tanganya kepada ujung bahu Mira mencoba menenangkan istrinya.


Mira tertawa kecil sebelum berdiri dan memutari ranjang lalu mulai berbaring di atas ranjang.


“Em, Kau tidurlah.” gumam Mira masih tersenyum kepada Dennis.


Dennis menghela napas lalu ikut tidur di bahu ranjang.


“Aku tak bisa tidur sejauh ini denganmu.” lirih Dennis terdengar dramatis, ia lalu membenarkan letak selimutnya.


Tidur Jennie memang sangat pulas sampai ia bahkan hampir menutup akses ranjang berukuran king size itu, dan lagi posisi tidur Jennie berada di tengah ranjang ini hingga Mira dan Dennis berada ditepat bahu ranjang.


“Hanya satu malam.” kata Mira disertai tawa kecil.


.


.


“Pagi mom, pagi dad!” teriak Jennie terdengar di penjuru rumah ini.


“Hem, pagi sayang.” sapa Dennis meminum kopinya dan membiarkan salah satu pipinya tersentuh oleh bibir mungil anaknya.

__ADS_1


“Aku ingin segera bertemu dengan kakek, kapan kita pulang?” tanya Jennie menumpuk kedua tangannya ke atas meja.


“Kenapa Kau ingin segera pulang? Bukankah Jennie sangat menyukai ke luar negeri?” tanya Dennis balik sambil terus mengunyah makanan yang penuh berada di mulutnya.


__ADS_2