
“Kau kejang-kejang, tubuhmu juga kaku.” jawab Dennis lirih.
“Lalu, kau kenapa? Tubuhmu bereaksi seperti itu?” tanya Dennis memberikan segelas air putih yang sebelumnya berada dinakas samping ranjang berbaringnya tubuh Mira.
Mira akhirnya sadar jika ini bukan lagi ditaman, tapi dirumahnya dan lebih beruntungnya lagi ia keluar dari mimpi serba gelap itu.
“Aku? Aku juga tak tahu.” jawab Mira masih terus menatap sekitar ruangan tidurnya.
Merasa ada seseorang yang ia acuhkan, Mira menoleh kearah Dennis dan ia melihat tangan Dennis terus terjulur menunjukkan gelas transparan berisikan air putih itu.
“Ah! Terima kasih.” gumam Mira segera mengambil gelas itu dan meneguknya beberapa kali.
“Jennie dimana?” tanya Mira setelah cairan bening itu telah ia habiskan.
“Jennie tidur, katanya juga lelah.” kata Dennis duduk disamping istrinya lalu membelai pelan ujung kepala Mira.
“Kau tidurlah kembali.” sambung Dennis yang disetujui oleh Mira karna sekarang wanita itu berbaring dan mulai memejamkan matanya.
Jika Mira memang sudah benar-benar terlelap, ia akan segera pergi mencari orang pintar, jujur dalam peristiwa yang menegangkan ini ia semakin semangat untuk mencari seorang yang tahu apa artinya kejadian semacam ini.
Setelah beberapa menit Dennis terus melihat pergerakan tidur Mira ia segera beranjak lalu mengenakan mantel berwarna coklat terang.
“Aku mencintaimu.” gumam Dennis sesudah mendaratkan ciumannya pada dahi Mira.
Dennis segera mengunci rumahnya dan mobilnya mulai melaju melewati rumah mewah yang berjejeran disampingnya.
*
“Permisi, apa ini tempat Tuan Park Jung Soo?” kata Dennis membuka pintu bermotif matahari dan dibawahnya ada awan putih yang bergumpal.
Lalu disekitar matahari dan awan terlihat awan abu-abu yang cerah karena paparan sinar matahari, mungkin itulah maksud dari matahari yang menyinari kegelapan.
“Ya, silahkan masuk.” kata seorang pria menyilangkan kedua kakinya dan menumpu sepasang punggung tangannya diatas lutut, seperti bertapa.
Dennis menatap sekitar, tak ada siapapun disini. Pandangannya terpusat pada gorden transparan yang bergoyang karna sesuatu dibelakang gorden itu menariknya agar Dennis mengetahui sosoknya.
“Aku disini.” kata pria itu sambil kembali memposisikanya pada yang beberapa waktu lalu.
Dennis mengangguk mengerti lalu mencoba mendekati orang pintar paling terkenal dipusat Kota ini.
“Jangan mendekati atau melampaui batas gorden ini.” pinta pria itu menjulurkan tangannya dan memperlihatkan telapak tangannya tanda pada Dennis untuk berhenti.
Dennis kembali mengangguk mengerti mendengar perintah pria bernama Jung Soo itu.
“Aku mempunyai rumah baru disekitar daerah ini, tapi semenjak keluargaku pindah disana keadaannya menjadi kacau.” cerita Dennis memberi reaksi berlebihan pada Jung Soo.
“Em, aku pernah mendengar cerita ini juga.” gumam pria berpakaian tradisional Hanbok itu mengelus dagunya.
“Apa kau tahu cara menghilangkan keadaan buruk itu? Aku juga ingin tahu kenapa bisa-bisanya rumah tanggaku sedikit meresahkan dan bahkan keselamatanku dan istriku –”
__ADS_1
“Berhenti, berhenti, berhenti!” sela Jung Soo mengebrak meja diakhir katanya.
“Aku tak ingin mendengar curahan hatimu, aku tahu pasti kau ingin tahu siapa yang bisa-bisanya mengganggu rumah tangga mu ‘kan?” sambung Jung Soo menaikan salah satu alisnya.
“Ya, aku pikir itu sejenis mahluk tak kasat mat-”
“Benar sekali!? ” teriak Jung Soo menyetujui perkataan Dennis.
“Biar ku panggil mereka agar tak lagi mengganggumu.” gumam Jung Soo memejamkan matanya sambil terus bergumam perkataan yang tak dimengerti Dennis.
Jung Soo membukanya matanya dengan terkejut diseluruh tubuhnya, ia melompat mundur dari tempat sebelumnya.
“Hah! Kau pergilah! Mereka benar-benar kuat!” teriak Jung Soo lalu berdiri dan berlari diseputar tempatnya.
Namun beberapa puluh detik kemudian tubuh Jung Soo jatuh dan berbaring dan anehnya kepala orang pintar itu tepat dibantal tempat duduknya.
Dennis yang dari saat Jung Soo terlihat panik ia langsung berdiri namun saat melihat kejadian berencana dari pembohong disampingnya ia menatap Jung Soo remeh.
“Ah! bayarannya.” gumam Jung Soo disela-sela pingsannya dan itu membuat Dennis semakin marah dengan kejadian ini.
“Bayar?” tanya Dennis terdengar menyindir.
Lalu ia mengambil bantal kotak tempat duduknya lalu dengan semua kekuatannya ia melemparkan bantal yang tadi berada dibawah tubuhnya mendarat diatas wajah Jung Soo membuat orang pintar itu berteriak dan meringis tertahan sambil terus tidur terkapar.
Dennis menutup pintu mobil dengan kasar, emosinya benar-benar terkuras karna pria tua itu tadi.
Kemudian Dennis melihat pergelangan tangannya yang tertengger sebuah jam tangan.
“Sudah petang, aku harus segera pulang.” gumam Dennis menghidupkan mesin mobilnya dan beberapa saat ia mulai melaju pergi.
*
Dennis dengan wajah murungnya terus berjalan menghampiri pintu rumah dan bermaksud membukanya, namun ia mencium semerbak masakan rempah dan matanya ia pejamkan sesaat mencium harumnya masakan yang tak lain dari istrinya.
“Oh, Jennie! Ayah sudah pulang.” panggil Mira ketika ia melihat tubuh jangkung Dennis.
“Jennie dimana?” tanya Dennis mendekat pada Mira.
“Ia dikamar, mungkin sedang main.” jawab Mira membantu Dennis untuk membuka mantel yang suaminya kenakan.
“Kau dari mana?” tanya Mira balik menatap lekat Dennis.
“Heum? Tak tahu.” gumam Dennis melewati Mira dan pergi memasuki kamarnya.
Itu tidak jawaban yang diinginkan Mira, ia merasa Dennis lebih dingin dan acuh padanya.
“Apa yang kau lakukan?” lirih Mira menatap nanar pintu kamarnya.
Pintu kamar Jennie terbuka dan anak itu menghampiri ibunya untuk menemani kesendirian Mira.
__ADS_1
“Apa ibu memasak Opor Ayam?” tanya Jennie membuka tutup panci dimeja makan.
Mira tersenyum dan menghampiri anaknya.
“Ya, kau suka? Ini makanan kesukaan ayahmu.” jelas Mira mengambil dua piring lalu menaruh nasi diatasnya dan salah satu piringnya diberikan pada Jennie.
“Em, aku tak suka makan dimeja jika tak ada ayah, disana saja bu!” kata Jennie menunjukkan ruang tamu yang berada cukup jauh disampingnya.
Mira sempat sedih ketika Jennie mengetahui ayahnya sedang ingin sendirian namun anaknya ini begitu tahu caranya untuk pergi dari kesenyapan agar rumah ini tak terlihat bisu.
“Ya, baiklah! Ibu juga senang makan sambil melihat TV.” kata Mira berjalan menuju sofa—menyalakan TV lalu duduk disofa bersama Jennie.
Mungkin ini adalah acara makan yang menyenangkan jika tak bersama dengan Dennis, mereka mulai menyantap makanan yang tersaji dipiring dengan sesekali berbicara hingga melupakan nasi dan lauk pauknya dipiring.
.
.
Keringat dingin dari dahi Dennis terus mengalir deras hingga membasahi sebagian bantal yang dikenakan oleh pria itu, bibirnya terus bergumam tak jelas dan sesekali telapak tangannya mengepal.
“Den, Den.” terdengar rintihan itu dari bibir Dennis sendiri.
Mata Dennis terbuka lebar, ia berdiam diri sesaat lalu menatap sekitarnya.
“Mira, Mira!” teriak Dennis ketika ia tak mendapati istrinya dikamarnya.
Dennis mencoba bangun dan bermaksud untuk ke kamar Jennie.
“Jennie! Jennie dimana kau? Dimana kalian?!”
Dennis seperti pria gila yang mencari keluarganya, ia dengan sembarangnya merusak semua barang yang dihadapannya.
“Mira! Jennie!” panggil Dennis berjalan mundur dari kamar Jennie.
Dennis berdiam diri saat memijaki kayu anak tangga itu. Ia melihat betapa rentannya kayu yang ia pijaki namun semakin lama ia memikirkan kayu itu tiba-tiba kayu yang ia pijaki retak dan sesaat kemudian tubuh Dennis jatuh dari atas.
“Ah!” ringis Dennis bangkit dari jatuhnya, beruntung tangga dirumah ini tak terlalu tinggi jadi Dennis hanya merasa nyeri dipunggungnya.
Tanpa sengaja Dennis menatap punggung Mira yang sedang berbaring tak jauh disampingnya.
“Mira, kau tak apa?” kata Dennis menghampiri Mira dan mengguncang tubuh istrinya.
“Hanya satu jalan untuk menghentikan ini, tolong ikut aku paman!”
sebuah suara mengejutkan Dennis, ia mendongak mencari tahu siapa pemilik suara tadi.
“Hyoen- Ah, siapa nama mu?” tanya Dennis mencoba mengingat nama dari bocah itu.
“Hei! Den!”
__ADS_1