
“Heuh, Mira, Mira!” teriak Dennis balik mencoba mengikuti alun suara wanitanya.
“Dennis! Aku disini!”
Dennis mendengarnya dan ia tahu dimana tempat Mira sekarang, halaman belakang. Pria itu menatap sebentar pintu kamar anaknya lalu segera berlari menuju Mira.
“***Dennis.” lirih Mira dengan wajah yang sudah terlihat sembab.
Mereka berpelukan bersama seperti sudah bertahun-tahun tak bertemu, rindu berkarat sudah mereka hempaskan sekarang***.
“Aku tahu ini kau. Dan wanita itu ingin membunuhku.” gumam Dennis melepas pelukan erat mereka.
“Masalahnya tak akan selesai walau kita keluar dari rumah itu ataupun negara ini. Kita harus menghentikan semua ini, dan pastikan takkan terjadi lagi.” balas Mira menatap lekat Dennis.
“Bagaimana caranya?” tanya Dennis parau menatap wanita itu penuh dengan cinta.
Namun sesuatu mengejutkan Dennis sekaligus Mira.
Tubuh Mira merosot dan tertarik ke belakang dengan paksa hingga menimbulkan debu disekitar. Seseorang muncul dengan jubah kebesaran dan tudung yang menutupi wajahnya, pria misterius itulah yang menarik Mira.
“Jangan pernah katakan apapun tentang itu?!” teriak pria itu menarik rambut atas Mira yang tersungkur.
Bodohnya Dennis hanya diam tanpa bergerak 1 inci pun, melihat wanitanya kesakitan meminta pertolongan.
Pria berjubah itu menoleh pada Dennis dengan tangan yang masih mencekeram rambut Mira.
“Dennis, bagaimanapun kau tak akan bisa lolos. Keluargamu akan mati dengan semua luka darah ditubuh kalian.” tutur pria itu melepaskan rambut Mira hingga membuat wajah wanita itu jatuh tenggelam ditanah.
“Kau. Jong Woon 'kan?” tebak Dennis datar tanpa harus melihat rupa pria itu.
Jong Woon, pria itu tertawa tanpa beban mendengar perkataan Dennis yang sanggup mengetahuinya dengan cepat.
“Ya, kenapa? Kau akan membunuhku?” tanya Jong Woon mengejek Dennis dengan tatapan pengecutnya.
“Bisa-bisanya kau melakukan ini. Apa salahku padamu?!” teriak Dennis diakhir katanya. Mulutnya berbusa mengumpati Hyuk Jae yang tanpa merasa bersalah kembali tertawa.
“Tak ada yang salah, hanya saja aku butuh keluargamu untuk menemani mereka. Satu-satunya orang yang kusayang.” jawab Jong Woon menarik belati yang ada dibelakangnya.
__ADS_1
Pria itu berdiri lalu bersiap-siap untuk berlari dan menghunus perut Dennis dengan belatinya.
“Pergi.” pinta Mira disela tangisannya mengembalikan kesadaran Dennis.
Dengan berat hati Dennis berlari menuju pintu rumah dan memasukinya, hingga belati itu menancap sempurna pada pintu rumah yang Dennis tutup.
Dennis tahu tadi itu tak seharusnya ia lakukan, seharusnya ia menolong Mira lalu membawa wanitanya kembali. Namun pria itu lebih tahu akan apa akibatnya ia menolong Mira, ia juga akan dibunuh oleh pria iblis itu. Dennis harus mengatur rencana yag diluar dari batas logika, pasti ada jawabannya dan hanya tinggal menuruti kata hati saja.
“**Aku harus menyelamatkan keluargaku.” gumam Dennis dengan segala kepercayaan dan keinginan yang bulat.
Ia hapus air mata yang mengalir diatas pipinya kasar.
Satu cara untuk menyelamatkan keluarga tercintanya, Kim Hyeon Chul.
*
Mata dengan segala kebencian itu menatap Mira dengan sinis. Melamunkan bagaimana tubuh itu ada namun raganya berada entah dimana.
“Kenapa kau melihatku terus?” tanya Mira tersenyum manis. Namun arti pandangan itu menurut Dennis, seolah sangat ingin memusnahkan dirinya.
“Kau cantik.” jawab Dennis lalu tersenyum miring mencoba memberi Mira kode bahwa kata itu bermaksud untuk Mira yang 'sebenarnya'. Mira didepannya ini sangat jelek bahkan menyeramkan hatinya.
“Ayah.” panggil parau Jennie yang baru saja keluar dari kamar. Dengan punggung tangannya, ia mengusap kelopak mata setengah tertutup itu.
“Apa?” tanya Dennis memeluk bahu Jennie dengan lengannya, setelah anak itu sudah bersandar pada sofa.
“Aku tadi malam tidak bisa tidur. Lalu aku keluar dari kamar, dan melihat ayah pergi keluar menuju halaman belakang.” jelas Jennie membuat Dennis mengernyit mengingat kembali. Seingat dirinya tak pernah masuk ke halaman belakang.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Mira menatap tajam bocah kecil itu.
Entah kenapa rasa takut terhadap Mira merayap begitu saja tanpa alasan pasti. Gadis kecil itu seolah tahu ibunya bukanlah dia.
“Jennie, kau ingin keluar? Ayo ayah temani. Biar ibumu disini.” sela Dennis mengalihkan keheningan yang tercipta. Hanya beberapa detik saja, namun itu membuat hawa panas terasa.
“Aku akan ganti baju, ayah!” seru Jennie seolah tidak melihat kejadian Mira menatapnya penuh ancaman. Membuat Mira menggeram marah, terbalik dengan Dennis yang tersenyum lepas.
“Kau ingin mengajaknya kemana?” tanya Mira ketus.
__ADS_1
“Kenapa? Kau juga ingin ikut?” tanya Dennis balik terdengar mengejek Mira untuk kesekian kalinya.
Mira tersenyum kecut lalu segera menghapusnya dengan wajah dingin itu kembali. Sudah sekian lama Dennis tak pernah melihat wajah ketus wanitanya, namun kali ini berbeda membuat Dennis harus menghembuskan napasnya frustasi.
“Kapan kau akan membunuhku?” tanya Dennis mutlak membuat seringaian Mira menggembang.
“Malam disaat dia membunuhku.” balas Mira lalu kembali memotong sayuran untuk ia masak.
Dennis diam sesaat, lalu tatapan matanya beralih pada pisau yang digunakan Mira. Hati kecilnya sangat ingin mengembalikan istrinya kembali, namun ia tak tahu caranya. Pastinya ia harus mengembalikan Mira sebelum wanita ini membunuhnya.
“Sudah, ayah. Ayo berangkat!” seru Jennie mengalihkan raut kerisauhan Dennis yang terpaksa tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.
*
“Ini bukan jalan-jalan tapi menuju ke suatu tempat 'kan, ayah? ” jelas Jennie parau sangat kecewa dan marah pada ayahnya yang terkekeh mendengar keluhnya.
“Memangnya kau tak ingin bertemu Hyeon Chul? Ayo kita sudah sampai!” seru Dennis menarik tangan mungil Jennie.
“Ah, paman!” teriak Hyeon Chul berlari memeluk Dennis yang bersiap berjongkok membalas pelukan Hyeon Chul.
“Ck, kenapa kalian akrab sekali.” kata Jennie ketus menarik lengan ayahnya, namun tangan itu tak terlepas dari tubuh Hyeon Chul yang menjulurkan lidahnya membuat Jennie semakin geram.
Dennis segera melepas pelukannya lalu menatap wajah Jennie yang mengembungkan pipinya kesal.
“Kenapa paman kemari?” tanya Hyeon Chul lugu menghiraukan tatapan tajam Jennie padanya.
“Paman ingin mengajakmu datang ke rumah. Hyeon Chul tak keberatan, 'kan?” pinta Dennis tersenyum hangat menatap anak lelaki itu.
“Iya, paman. Lalu bibi Mira?” tanya Hyeon Chul kembali terlihat takut dengan Mira yang pernah memarahinya karna memasuki rumah mereka.
Dennis mengantupkan mulutnya mendengar perkataan Hyeon Chul, bocah lelaki ini takut pada Mira.
“Bibi Mira akan sangat suka dengan kehadiranmu! Dia suka orang bertamu mengunjungi rumah kami!” jawab Dennis meyakinkan menaikkan alisnya dan sesekali mengangguk.
“Eum, baiklah. Aku juga belum sarapan.” gumam Hyeon Chul terus-terang, karena tujuan utamanya ia ingin meminta makan disana.
Dennis terkekeh mendengar jawab Hyeon Chul yang apa adanya, membuat Dennis gemas hingga ia ingin mengacak rambut atas Hyeon Chul.
__ADS_1