
Ji Won tersenyum simpul membenarkan namanya yang disebut Dennis.
"Aha, cepatlah pergi, atau mungkin anak-anak mu sudah diculik." sahut Ji Won bercanda namun membuat Dennis beranjak dari duduknya terkejut.
"Ya sudah, aku pergi dulu." gumam Dennis berlari keluar dari ruang rawat ini.
*
Dennis akhirnya sampai dirumah, ia terlebih dulu melihat kesekitar apakah ada 'anak-anaknya' disana.
“Hyeon Chul? Jennie dimana?” tanya Dennis setelah menatap Hyeon Chul yang dengan santainya memakan roti selai dan susu yang ia buat sendiri.
“Tak tahu. Dia tidur, masih marah dengan paman.” jawab Hyeon Chul dengan suara yang terendam makanan dimulutnya.
Dennis baru ingat tentang Jennie, lalu pria itu berjalan menghampiri Hyeon Chul dan mengacak rambut bocah lelaki itu pelan, pertanda terima kasih atas respon Hyeon Chul, lalu ia berjalan menaiki tangga.
“Jennie?” panggil Dennis sambil membuka kamar putrinya.
Ia rasa sudah cukup Jennie mengurung diri, ia harus bertemu dengan anaknya yang saat ini menutup tubuhnya dengan selimut hangat.
“Ayah minta maaf. Ayah tadi kalut, takut terjadi sesuatu pada ibumu, sayang. Jennie mau memaafkan ayah?” kata Dennis membelai punggung Jennie yang tertutupi selimut.
“Ayah seharusnya membawaku bersama dengan ibu.” gumam Jennie tak terdengar isakan disana, hanya suara lembut yang membuat Dennis tenang.
“Maaf, sayang.” gumam Dennis menatap sayu tubuh tengkurap Jennie.
Perlahan Jennie bangun dari tidurnya, lalu cepat-cepat menyembunyikan wajah sembabnya ke dada bidang Dennis. Dennis tersenyum haru melihat anak gadisnya menangis dipelukannya, kembali Dennis menangis senang mengetahui jika anaknya memaafkannya, walau secara tak langsung Jennie mengatakannya.
“Jennie memaafkan ayah?” tanya Dennis sesudah mencium hangat kepala Jennie.
__ADS_1
Tanpa suara jawaban dari Jennie namun sebuah anggukan ia rasakan dari anaknya.
Merasa ada sesuatu yang memperhatikan, Dennis menoleh pada pintu kamar Jennie yang terbuka menampilkan Hyeon Chul yang tiba-tiba segera membalikkan tubuhnya.
“Hyeon Chul, kemari ayah peluk.” lantun Dennis lembut menatap sayu Hyeon Chul.
Hyeon Chul mengalah pada egonya, bocah itu dengan wajah sendunya menghampiri Dennis dan ikut memeluk Dennis menumpahkan segala kerinduannya pada kasih sayang orang tua.
“Aku menyayangi kalian.” gumam Dennis tulus dalam hatinya lalu membelai surai rambut mereka.
Lama berlangsung hingga tangisan tak terdengar lagi. Hanya memberi ketenangan pada mereka, termasuk Jennie dan Hyeon Chul yang nyaman memejamkan mata didalam dada Dennis. Jennie menghapus air matanya lalu menegakkan tubuhya, gadis itu tak lagi cemburu dengan Hyeon Chul.
“Ayah, sekarang ibu dimana?” tanya Jennie menatap Dennis dengan kedua bola matanya melebar.
Dennis tersenyum, lalu berdiri dari ranjang diikuti oleh Jennie. Pria itu merapikan kemeja putihnya yang dibagian dadanya cukup basah akibat tangis putri semata wayangnya.
“Ibumu sedang bersama dokter. Ganti bajumu, lalu kita berangkat.” jelas Dennis mencubit cepat dagu Jennie pelan.
“Kalian akan kemana?” tanya Hyeon Chul turun dari ranjang dan mengikuti Dennis sesuai perintah pria tersebut.
“Kita akan kerumah sakit, melihat Mira.” jawab Dennis menggiring Hyeon Chul memasuki kamarnya dan Mira. Membiarkan bocah lelaki itu duduk diatas ranjang, sambil ia memakai kaos oblong putih mengganti kemejanya yang sudah tak pantas untuk dipakai.
“Wajahmu sembab. Cuci muka dulu, Hyeon. Sana!” perintah Dennis menunjuk kamar mandinya lalu segera dituruti oleh Hyeon Chul yang berlari kecil menggapai knop pintu.
*
“Oh! Hyeon Chul!” seru Ji Won menghampiri Hyeon Chul dan memeluknya.
Mereka terlihat begitu dekat karena Ji Won dan Hyeon Chul pernah bertemu saat keluarga bocah 9 tahun itu dibawa kerumah sakit ini.
__ADS_1
“Ah, paman! Sakit.” sela Hyeon Chul tak nyaman dengan pelukan Ji Won yang terlalu erat.
“Mira baik-baik saja, Choi?” tanya Dennis mengabaikan perdebatan kedua manusia berbeda umur tersebut.
“Oh, ya. Mira baik-baik saja. Hei, gadis manis! Siapa namamu?” kata Ji Won berjongkok dihadapan Jennie yang tersenyum manis pada Ji Won.
“Jennie, paman. Jennie Lucyana." balas Jennie membuat Ji Won terkejut.
Sambil menunjuk Jennie ia menatap Dennis yang mengenggam tangan Mira prihatin, tentu saja karna tangan itu terasa dingin.
“Hei, Dennis! Anakmu bisa berbahasa Korea!” seru Ji Won mengganggu Dennis yang hanya terfokus pada Mira.
“Ck! Berisik! Bagaimana jika Mira terganggu?” tanya Dennis menyatukan alisnya, membuat dahi pria itu mengkerut marah.
“Wah, benar hebat. Bagimana kau bisa, girl?” tanya Ji Won tak memperdulikan reaksi negatif yang Dennis berikan padanya.
“Ayahnya nenek dari ibuku orang Korea jadi tentu aku bisa berbahasa Korea. Ibu juga bisa tapi sedikit.” jelas Jennie bersemangat, walau Ji Won menatap Jennie penuh tanda tanya. Perkataan anak ini sulit ia cerna.
“Oh, begitu. Jadi ayah dari nenek mu, ‘kan? Kakek buyut?” tebak Ji Won memastikan pemikirannya benar.
Jennie mengangguk cepat menghilangkan rautan tanya dari Ji Won yang menjadi tersenyum senang.
“Oh, ibuku tak terlalu suka belajar bahasa lain, dia memang tak ingin belajar hal yang menurutnya tak penting. Cukup satu bahasa internasional saja, katanya.” jelas Jennie kembali setelah melirik Ji Won dan Hyeon Chul bergantian.
“Sebenarnya kalian membicarakan apa? Jennie disini ingin bertemu dengan ibu atau dia?” tanya Dennis mendekati Jennie, menyamakan tingginya dengan tinggi anaknya itu.
“Euh, ayah. Aku akan bertemu ibu dulu, paman.” pamit Jennie mendekati ranjang rawat tersebut, namun ranjang itu lebih tinggi dari dirinya.
Gadis itu pun mencari akal untuk bisa melihat ibunya, perlahan tangan Jennie mengambil kursi dan meletakkannya disamping ranjang, lalu ia menaiki kursi tersebut hingga akhirnya ia bisa naik melihat ibunya.
__ADS_1
Semua kerja keras Jennie tadi membuat ketiga lelaki berbeda umur itu menghembuskan napas lelah bercampur lega melihat keberhasilan Jennie.