Rumah Petaka

Rumah Petaka
Melukai Hyeon Chul


__ADS_3

Hyeon Chul lalu berjalan menuju dapur, ia menoleh pada pintu kamar Ji Yong karena takut nenek itu marah mendengar tangisan kencang Jennie. Setelah sampai di dapur, Hyeon Chul kebingungan mencari botol susu, ia lalu mencarinya di kulkas dan segera menemukannya di balik pintu kulkas.


Hyeon Chul lalu dengan hati-hati membawa botolnya ke meja, setelah itu ia mengambil panci kecil dan menuangkan air susu tersebut di panci. Kemudian Hyeon Chul meletakkan panci itu di atas kompor dengan api kecil.


Sungguh anak laki-laki yang bertanggung jawab. Setelah nampak cukup lama dipanaskan, Hyeon Chul kemudian menuangkan air susu itu ke gelas panjang dan berukuran cukup besar.


Dengan hati-hati, Hyeon Chul membawa gelas itu sambil melihat dengan fokus jalan yang ia tapaki.


“Jennie, ayo minum susu.” ajak Hyeon Chul sambil menatap gelas susu.


Jennie yang masih sesenggukan dengan mata yang hampir tertutup karena mengantuk itu berusaha menanggapi Hyeon Chul.


“Jennie, ini.” kata Hyeon Chul memberikan gelasnya pada Jennie.


Hyeon Chul lalu duduk di sebelah Jennie sambil memandangi gelas itu.


“Minumlah, jangan sampai tumpah.” kata Hyeon Chul melihat wajah malas Jennie.


“Kenapa, ya. Ibu dan ayah tidak mau aku ikut? Apa aku membebani mereka?” tanya Jennie termenung melihat putihnya air di gelas.


Hyeon Chul menunduk, ia saat itu juga pernah berpikir seperti itu, tapi karena dirinya yang pendiam Hyeon Chul tak pernah langsung mengatakannya.


“Mereka hanya ingin berdua saja, walau untuk sekali selama beberapa tahun.” jawab Hyeon Chul ikut merenung.


“Berarti aku membebani mereka?!” tanya Jennie marah.


Hyeon Chul terdiam, ia dari dalam hati menyetujui pertanyaan Jennie yang sudah terjawab lewat dia sendiri.


Di dalam perjalanan, di mobil Dennis bersama Mira.


“Oh, Kau gila Den? Bagaimana Jennie nanti?” seru Mira marah, terus melihat jalan di belakangnya.


“Aku sudah bilang pada Hyeon Chul agar menjaga Jennie.” jawab Dennis enteng.


“Tapi pasti sekarang Jennie sedang menangis!” sanggah Mira memaksa Dennis kembali.


“Sudahlah, memang Jennie selalu menangis tiap harinya bukan?”


“Dennis!”


“Ayolah My, kita yang emosional ini butuh waktu berdua untuk membuat kebahagiaan kembali seperti dahulu.” kata Dennis menyatakan tujuannya.


Mira terhenyak, ia memang merasa letih dengan kesibukan keluarga. Di lubuk hati paling dalam, Mira sebenarnya merindukan berkencan dengan Dennis lagi.


Mengetahui Mira yang tak berkutik, Dennis tersenyum tipis dan menoleh pada Mira.


“Ayo pergi jalan-jalan. Makan malamnya jam 7 `kan? Masih ada waktu 2 jam.” timpal Dennis mengendarai mobilnya senang.


Mira kemudian perlahan tenang, ia tapi tetap terdiam masih merasa bersalah pada Jennie.


Berusaha mencairkan suasana, Dennis berinisiatif untuk memutar sebuah lagu.


“Asisten.” panggil Dennis pada mobil berbicara ini.


“Ya Tn.”


“Putarkan lagu Just The Way You Are, Bruno Mars.” perintah Dennis tersenyum-senyum sendiri.


Tak lama, musik yang begitu menenangkan dan penuh kebahagiaan itu terdengar dibalut dengan suara merdu dan unik dari penyanyi Bruno Mars.


Mendengar lagu masa lalu itu membuat Mira mendongak terhanyut.


“Kau masih ingat `kan? Ini lagu yang diputar sebelum aku melamarmu.” kata Dennis tersenyum lebar melihat Mira yang serius mendengar lagunya


“Eum, supaya nanti Jennie tidak marah lagi. Ayo kita beli banyak makanan ringan dan mainan untuk mereka.” usul Dennis mempercepat laju mobilnya.


Mobil Dennis pun melesat melewati beberapa mobil yang lebih lambat darinya.


Sementara di rumah, Hyeon Chul dengan sigapnya mengurus Jennie yang manja setelah menangis.


“Kakak potongnya kecil-kecil.” pinta terasa perintah Jennie pada Hyeon Chul yang dengan sabar melakukan keinginan Jennie.


Hyeon Chul lalu memotong lebih kecil lagi buah apel dan pir untuk mereka. Setelah beberapa menit, Hyeon Chul lalu selesai memotong buahnya.


“Sudah, ayo makan.” ajak Hyeon Chul menusuk buah berbentuk dadu itu dengan garpu.


“Kakak, suapi.” pinta Jennie manja.


Hyeon Chul tidak marah, ia senang menjadi seorang kakak yang dewasa dan mengayomi. Ia dengan senyum, menyuapi Jennie buah-buahan.


Jennie benar-benar senang mendapat kakak yang begitu baik, ia dengan mengayun-ayunkan kakinya melahap semua yang disuapi kakaknya Hyeon Chul.


Namun menyadari, Hyeon Chul tidak makan buah-buahan itu, Jennie segera berhenti membuka mulut lalu berkata.


“Kakak kenapa tidak makan? Kakak makanlah kalau aku sedang mengunyah.” kata Jennie tersenyum manis.

__ADS_1


“Heum, baiklah.” tanggap Hyeon Chul lalu memakan pir yang sudah ia tusuk untuk Jennie.


“Kakak, kalau dilumuri kental manis akan lebih enak.” saran Jennie mengkode Hyeon Chul agar menuruti usulannya.


“Benarkah? Oke.” kata Hyeon Chul.


Anak itu lalu meletakkan garpu buah dan turun dari sofa kemudian berjalan cepat kembali ke dapur.


Hyeon Chul lalu mencari keberadaan kaleng kental manis, ia lalu berjinjit untuk melihat apakah ada kaleng kental manis di dasar meja dapur.


Namun saat asiknya Hyeon Chul melihat barang-barang di atas meja dapur, tiba-tiba sebuah tangan dengan kuku yang panjang meruncing itu menarik lengan Hyeon Chul.


“Akh!” pekik Hyeon Chul berusaha kuat untuk menarik lengannya ke atas.


Baik memang lengan Hyeon Chul sekarang di lepaskan, namun kini lengan bocah laki-laki itu tergores nan terkoyak parah karena cakaran kuku panjang makhluk itu.


Hyeon Chul mengamati lengannya yang terluka ini, saking sakitnya ia bahkan mengeluarkan air mata menahan rasa perih.


Hyeon Chul kemudian berlari menuju wastafel, ia segera membersihkan lengannya dari darah dengan air. Walau sedikit perih, namun Hyeon Chul berlagak kuat.


Melupakan kaleng kental manis, Hyeon Chul pergi ke ruang tamu bertanya pada Jennie apakah ada P3K di sini.


Sambil memegang lengannya yang terluka, Hyeon Chul tergopoh-gopoh menuju keberadaan Jennie.


“Jennie, apa ada P3K di sini?” tanya Hyeon Chul.


Laki-laki itu menutupi lukanya di depan Jennie agar adik tersayangnya tidak takut dan menangis.


Sedikit terkejut mengapa Hyeon Chul mencari itu, namun Jennie tetap mengatakan keberadaan kotak putih tersebut.


“Di lemari itu!” tunjuk Jennie.


Ia mengarahkan jari telunjuknya pada lemari besar dan kokoh dari kayu yang berada di sudut rumah.


Hyeon Chul kemudian segera berlari di sana, ia membuka semua laci di lemari tersebut. Setelah menemukan barang yang Hyeon Chul inginkan, ia segera membuka penutupnya.


Dari sofa, Jennie melihat Hyeon Chul yang begitu terburu-buru itu. Ia penasaran separah apa luka kakak angkatnya dan kenapa kakaknya itu terluka.


Jennie melihat gulungan perban sudah dililitkan di lengan atas Hyeon Chul, ia semakin penasaran apa yang terjadi.


“Kakak kenapa?” tanya Jennie khawatir.


Hyeon Chul menoleh sekilas, ia lalu kembali fokus pada apa yang ia lakukan.


Setelah selesai, Hyeon Chul lalu berjalan menuju Jennie.


Hyeon Chul memberi senyum manis, menenangkan Jennie yang masih menatap penasaran perbannya.


“Sudah, oppa baik-baik saja.” kata Hyeon Chul meminta Jennie mengabaikannya.


Jennie akhirnya mengalah, ia membalas senyum manis Hyeon Chul.


Dalam diam, sebenarnya anak laki-laki itu bertanya besar mengapa hal itu terjadi lagi padanya?


Sungguh, Mira dan Dennis menghabiskan waktu bersama dengan sangat menyenangkan, berbanding terbalik dengan Hyeon Chul dan Jennie yang termenung melihat dengan tatapan kosong pada televisi.


Hingga waktu menunjukkan pukul 6:18 malam, Dennis dan Mira akhirnya pulang. Mereka membawa dua kantong besar berisi penuh macam mainan dan cemilan.


“Jennie, Hyeon Chul sayang. Kami pulang!” seru Mira senang.


Walau Jennie sudah tidak menangis lagi, ia tapi tetap mengingat hal 'jahat' apa yang Dennis dan Mira lakukan.


Jennie yang awalnya baik-baik saja seketika berwajah masam memandang lekat televisi. Sementara Hyeon Chul menatap kedatangan Dennis dan Mira, namun ia kembali menoleh melihat Jennie dan terus seperti itu. Hyeon Chul tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Mengetahui Jennie yang tidak peduli pada mereka, Mira terlihat sedikit kecewa.


“Jennie, sayang.” kata Mira memeluk dari belakang tubuh Jennie yang memberontak pelan.


Mira memiringkan wajahnya menatap sendu Jennie yang tak mau menatapnya.


“Jennie, maafkan ibu.” kata Mira lirih.


Dennis lalu ikut memeluk Jennie, tangan kirinya menarik bahu Hyeon Chul agar bersama saling berpelukan.


“Maafkan ayah juga, ya. Jennie, Hyeon Chul.” pinta Dennis.


“Huk, huaaaa!”


Akhirnya tangis Jennie kembali pecah, ia dengan sigap menutupi wajahnya.


Mira lalu melepaskan pelukannya, ia berjalan menuju Jennie dari depan dan kembali memeluk anaknya itu.


Dennis terkekeh tertahan dengan rasa geli, entah kenapa ia selalu ingin tertawa kecil mendengar tangisan manja Jennie.


“Sudah, sudah. Jangan menangis.” ucap Mira mengelus rambut hitam Jennie.

__ADS_1


Mira membantu Jennie menghapus air matanya, ibu dari Jennie ini sambil tersenyum mengusap pipi anaknya.


Setelah keadaan kembali normal, Dennis baru sadar bahwa lengan Hyeon Chul diperban. Dennis dengan wajah khawatir berlebih menatap perban Hyeon Chul.


“Hyeon Chul, lenganmu kenapa?” tanya Dennis terdengar meringis.


Suara khawatir Dennis tentu membuat Mira tertarik melihat keadaan Hyeon Chul. Tak jauh beda, Mira ikut khawatir melihat lengan Hyeon Chul yang diperban.


“Ehe, tak apa.” jawab Hyeon Chul tak ingin yang lain khawatir.


Dennis tidak langsung percaya pada anak yang sangat dewasa ini, namun ia terdiam membuat rencana.


“Tak apa? Ya sudah. Eh! Hyeon Chul, Jennie. Ibu dan ayah membawa banyak mainan dan makanan ringan, lho!” seru Dennis menenteng dengan sedikit berat dua kantong plastik besar.


“Wah, apa itu ayah?” tanya Jennie berantusias.


“Yang ini mainan, ini cemilan. Yang mainannya nanti saja kita buka, ya?” ujar Dennis.


Ayah dua anak itu lalu menaruh kantong plastik di tangan kanannya ke lantai, sementara ia membawa kantong plastik di tangan kirinya menuju meja.


Ketika dibukanya kantong plastik itu, terlihatlah makanan yang berkomposisi MSG dan tak sehat ini.


“Wah! Ayah! Aku mau yang ini!” seru Jennie mengambil cepat satu bungkus camilan dari kantong plastik.


Disaat Jennie dan Mira sibuk memilih camilan, Dennis menepuk bahu Hyeon Chul yang tangannya tidak terluka.


Hyeon Chul lalu mendongak penuh tanya pada Dennis yang menatapnya hangat.


“Ayo lihat lukamu.” ajak Dennis kemudian tersenyum tipis.


Hyeon Chul tertegun, ia terkesan dengan kepekaan Dennis. Hyeon Chul lalu segera menyetujui ajakan Dennis ayahnya.


“Ayah dan kakak Hyeon Chul pergi sebentar, ya.” izin Dennis diangguki tak peduli Jennie.


Sedangkan Mira, ia melirik terlebih dahulu luka Hyeon Chul kemudian mengangguk dan tersenyum.


Dennis dan Hyeon Chul lalu berjalan menuju kamar Dennis, setelah itu Hyeon Chul diminta untuk duduk di atas kasur. Sedangkan Dennis duduk berjongkok di depan Hyeon Chul.


Dennis lalu dengan teliti membuka perban Hyeon Chul yang melilit tidak rapi di lengan anaknya.


Setelah membuka helaian perban setengahnya, Dennis mengerutkan dahinya terkejut melihat luka Hyeon Chul yang ternyata parah.


Dennis mendongak tak percaya anak sekecil itu bisa menahan rasa perih, ngilu, dan sakit pastinya.


“Sakit?” tanya Dennis.


Hyeon Chul lalu dengan jujur mengangguk dengan kerutan kesakitan.


“Tunggu, ya. Ayah akan membawakan obatnya.” ujar Dennis meninggalkan Hyeon Chul di dalam kamar.


Sedangkan ia berjalan menuju letak P3K. Kembali menuju kamar dengan melewati anaknya dan Mira, Dennis dengan hati-hati melintas melewati Jennie dan Mira dengan berusaha tidak terlihat hingga menarik perhatian mereka.


Dennis lalu dengan perasaan lega berjalan menuju kamarnya dan Mira.


“Hyeon Chul, bagaimana luka separah itu bisa terjadi?” tanya Dennis cepat setelah ia memasuki kamar.


“Heum?” tanya Dennis benar-benar ingin jawabannya sekarang.


Dennis sambil mengobati lengan Hyeon Chul, bocah laki-laki itu kemudian mau bercerita sama dengan apa yang ia alami.


“Tadi, aku sedang mencari kaleng kental manis di atas meja dapur. Tiba-tiba ada tangan besar dan panjang menarik lenganku. Tapi karena aku sangat berusaha untuk melawan tarikannya, jadi Dia hanya bisa mencakar lenganku.” papar Hyeon Chul membuat cerita itu tak se-menakutkan yang aslinya.


Dennis lalu selesai mengobati hingga memperban lengan Hyeon Chul, ia terdiam melihat nanar di depannya. Hingga sebuah deru napas berat keluar dari mulut Dennis.


“Hyeon Chul, ayah minta maaf.” kata Dennis merasa bersalah.


Dennis lalu membalas tatapan Hyeon Chul yang kebingungan.


“Ayah minta maaf telah membawamu kembali ke situasi ini.” kata Dennis.


Hyeon Chul melepas tatapannya dari Dennis, ia gugup dan tak nyaman.


“Ayah berjanji, kita akan segera keluar dari rumah ini kalau nenek Ji Yong sudah tidak sakit lagi.” ujar Dennis sudah sepakat bahwa neneknya lah yang membuat semua ini terjadi.


Kini Hyeon Chul hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk enteng.


Dennis tentu bangga dengan sikap dewasa Hyeon Chul, ia lalu memeluk erat anaknya ini.


“Ayah, Hyeon Chul sayang!” panggil Mira.


“Ayah, kakak Hyeon Chul cepat ke sini! Segera dihabiskan Jennie nanti!” peringat Jennie mengungkapkan isi hati Mira sebenarnya.


“Oh, ya sudah. Ayo Hyeon Chul, kita makan camilan!!” seru Dennis senang menuntun Hyeon Chul berjalan lebih dahulu.


Mereka lalu memakan berbelas-belasan camilan itu bersama-sama dengan kebahagiaan yang menyertai, sesekali Jennie bertingkah manja pada Dennis dengan meminta ayahnya itu untuk menyuapinya makan.

__ADS_1


Tak lupa, Mira mendatangi kamar Ji Yong untuk menawarkan dan memberikan beberapa camilan yang ringan dan nenek dinginnya juga menerima pemberian mereka.


__ADS_2