Rumah Petaka

Rumah Petaka
Menahan Pergi Dengan Cara Meneror


__ADS_3

Jennie menghempaskan tubuhnya ke punggung jok dengan kesal. Ia rasanya ingin segera berlari ke gedung besar itu.


“Ya, halo pak. Maaf pak, bisakah saya minta anak-anak di antarkan ke kelas mereka masing-masing dengan adanya wakil guru? Saya tidak tega membiarkan mereka pergi sendiri.” kata Dennis dengan bahasa Inggris pada seseorang di telepon yang dapat dipastikan itu Wakil Kepala Sekolah.


Jennie dan Hyeon Chul hanya terdiam menyimak suara yang sayup-sayup terdengar di telepon Dennis.


“Ah, baik pak. Terima kasih.” ujar Dennis dengan senyuman lega.


Setelah itu Dennis segera menutup sambungan telepon, kemudian menoleh pada jok belakang tempat duduk anak-anaknya.


“Sebentar lagi wali kelas kalian akan datang, ayo ayah antarkan keluar mobil.” kata Dennis bergerak membuka pintu mobil.


Hyeon Chul dan Jennie dengan semangatnya membuka pintu mobil dan segera membuat barisan rapi dengan ayahnya.


Tak lama dua orang wanita berusia matang tengah dengan anggunnya berjalan menuju mereka.


“Halo tuan Dennis.” sapa kedua wanita itu bersama-sama.


Mereka menjabat tangan Dennis dengan senyuman manis layaknya terpukau akan ketampanan pria dua anak itu.


Tentu sebagai seorang wanita—walau Jennie masih kecil, ia tahu ada maksud lain di senyuman merekah ibu-ibu guru itu. Jennie memandang curiga mereka.


Dilihat se-aneh itu oleh anak Dennis membuat kedua guru mulai sadar akan kelakuannya.


“Tolong jaga anak saya, ya?” pinta Dennis bersungguh-sungguh.


Kedua guru itu mengangguk dengan patuhnya. Dennis lalu menoleh pada Hyeon Chul dan Jennie.


“Anak-anak, ayah pergi dulu, ya? Sopanlah dengan guru, oke?” perintah Dennis memegang bahu Hyeon Chul dan Jennie.


Kedua anaknya itu lalu mengangguk pelan, Dennis sebagai tanda kasih sayang terakhirnya dipagi ini—ia memeluk kedua anaknya itu dengan dirinya berada di tengah-tengah.


“Ayah akan menjemput kalian jam 5, oke?” kata Dennis setelah melepaskan pelukannya.


“Iya ayah, ayah jangan khawatir.” balas Jennie tak mau dipandang lemah oleh Dennis.


Spontan Dennis terkekeh mengetahui rasa khawatirnya berlebihan.


“Kalau begitu saya pamit, bu. Tolong jaga anak-anak.” pinta Dennis lagi.

__ADS_1


Guru itu mengangguk dengan kekehan.


“Tentu saja, tuan.” jawab wanita itu anggun.


Dennis lalu akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Jennie dan Hyeon Chul yang menatap Dennis lekat.


“Hyeon Chul, ya? Aku ibu guru Nicki.” perkenal guru Nicki menjabat tangan Hyeon Chul lalu memeluknya.


“Jennie, kenalkan. Aku ibu guru Marissa.” perkenal guru berbaju ungu tua.


Jennie lalu mengangguk dengan polosnya.


“Ibu,” panggil Jennie melebarkan mata guru Marissa guna menanggapi panggilan anak muridnya.


“Ibu tadi kenapa memandang ayahku sesuka itu?” tanya Jennie berpura-pura polos.


Sontak, Marissa terkejut bercampur malu. Ia menatap Jennie terlebih dahulu sebelum menatap orang-orang di sekitar.


“Ahaha, nak. Jennie masih kecil, tidak baik langsung menghardik seseorang, ya?” kata Marissa mengusap rambut Jennie.


“Yaa, sudah. Ayo! Ayo!” ajak Marissa gugup.


Sementara jika di rumah, Mira masih saja terbaring di soda panjang dengan mata yang mulai jenuh melihat acara televisi.


Lama kelamaan, penglihatan Mira mulai buram. Namun ia masih berusaha untuk terus melebarkan dan memfokuskan matanya.


Semakin lama semakin ia tak kuat dengan serbuan rasa kantuk, Mira pun akhirnya lemah dan semakin terhanyut ke dalam dunia mimpi.


Mira meninggalkan televisi itu menyala, Mira tidak melihat televisi itu kini berganti-ganti channel dengan sendirinya.


Perasaan tenang menyelimuti psikis dan hati Mira, ia merasa sangat tenang dan aman di alam tidur ini.


Namun, sebuah tangan dengan jari panjang menarik paksa nan cepat kaki kanan Mira. Ia pun terlonjak segera mendudukkan tubuhnya.


Mira melihat televisi sedang mencari sinyal, ia lalu melihat lagi ke sekeliling.


Pintu rumah yang sebelumnya terbuka menjadi tertutup, jendela-jendela rumah juga tertutup. Menjadi rumah ini bak malam hari tanpa penerangan.


Suara televisi yang sedang mencari sinyal itu makin keras, menganggu Mira hingga wanita itu beranjak dari duduknya ingin mematikan televisi.

__ADS_1


Namun ketika Mira baru saja menyentuh tombol televisi di belakang, tentu saja wajahnya tertempel pada kaca televisi. Mira diterkejutkan oleh suara pria parau terdengar putus asa di sound system televisi.


“Kalian keluar pun, akan mati.” kata sosok suara di sana.


Karena terkejut bercampur takut, Mira segera menghempaskan tubuhnya ke belakang. Ia mengamati sebentar kaca televisi yang kembali mencari sinyal.


Merasa takut namun sebal, Mira segera mematikan televisi itu cepat.


Hening pun melanda, Mira menatap pintu rumah yang tertutup.


Kakinya lalu melangkah cepat menuju pintu rumah.


Tiba-tiba sosok pria tua dengan wajah yang hitam tak terlihat wajahnya begitu saja muncul, mendekati cepat Mira dengan ganasnya berusaha menggenggam leher Mira dengan kedua tangannya.


Mira tak berteriak, lidahnya terasa berat untuk di angkat. Ia rasa ini semua hanya mimpi, Mira mencoba sekuat tenaga untuk berteriak, namun hasilnya hanya mulutnya yang terbuka lebar dan suara yang menjerit yang tertahan kuat.


Semakin mendekat, Mira baru tahu bahwa kakek itu adalah kakek kandungnya. Ya, itu adalah suami dari neneknya Kim Ji Yong.


Walau begitu Mira tak mau terlarut dalam rasa rindu, ia tahu pria di depannya ini bukanlah kakek aslinya.


Mira mundur dengan berat menjauh dari kakeknya, ia masih tak lelah untuk terus berteriak sekuat tenaga.


Hingga akhirnya Mira merasa dirinya sudah sadar, namun ia memang masih ingin menutup kelopak matanya yang lelah.


“Arggh..”


Mira sontak membuka matanya—ingin melihat siapa sosok yang bersuara berat tadi. Namun tiba-tiba entah dari mana asalnya, sosok yang seperti kakeknya itu jatuh menindihnya dan mencekik lehernya.


“Ukh! Eugh..” rintih Mira berusaha melepaskan tangan tua itu dari lehernya.


Rasa sakit ini sudah tidak lagi membuat Mira ketakutan, ia malah merasa kesal diperlakukan menjengkelkan seperti ini.


Mira dengan kesalnya memberanikan diri untuk menampar keras pipi kakek itu. Namun siapa sangka, kakek itu terhuyung hingga jatuh dari sofa karena tamparan Mira.


Wanita itu sendiri juga terheran dan terkejut, ia menengok pada kakek itu yang menoleh padanya dengan gerakan tubuh ketakutan. Setelah itu kakek itu pergi berlari terbirit-birit menuju belakang rumah.


Mira sudah spontan akan mengikuti kakek itu, namun ia tidak berani mengikutinya. Akhirnya Mira hanya terdiam menatap kepergian terakhir kakek tersebut.


Mira baru sadar, kepalanya pusing dengan tubuhnya panas sedikit terasa berat. Ia lalu memegang dan memijat-mijat dahinya dan kepala.

__ADS_1


“Hosh..” rintih Mira sambil menutup matanya yang juga kelelahan.


__ADS_2