
“Mira, aku pergi dulu.” pamit Dennis kepada istrinya yang belum juga membuka matanya dari malam itu hingga saat ini.
Dennis mencium lembut telapak tangan Mira yang ia genggam dengan erat.
Selepas itu Dennis keluar dari kamar dan berniat menemui Jennie yang sekarang sedang tidur dengan selimut yang sudah berantakan.
“Jennie! Bangun sayang!” teriak Dennis berdiri diambang pintu kamar putrinya.
Dennis menghela napas kesal lalu berjalan menuju samping single bed mini milik Jennie. Ia membuka gorden jendela Jennie yang berwarna hijau.
Terpampang embun pagi penuh kesegaran disela-sela sudut perumahan elit ini. Dennis membuka jendela berniat untuk menghirup udara segar dari negara ginseng ini.
“Jennie, bangun! Kau har—“
Tubuh berbalik Dennis jatuh terkejut, ketika melihat sosok wanita dewasa. Dengan wajah pucatnya, sosok itu melihatnya tajam dan berdiri tegak.
“Mi-Mira.” lirih Dennis dengan suara seraknya karna terkejut akan kehadiran Mira yang terlihat menakutkan.
Dennis mencoba berlagak biasa. Pria itu berdiri masih dengan menatap terkejut-heran kearah istrinya.
“Kenapa kalian berada dikamar ku?” tanya Jennie melihat bergantian ibu dan ayahnya dengan wajah kantuk.
Dennis menoleh kearah Jennie dengan sesekali menatap Mira takut.
“Eumh, ayah dan ibu ingin membangunkan mu bersama.” jawab Dennis pada Jennie namun mata pria itu tak mengalihkan tatapannya pada Mira yang tersenyum masam.
“Sayang, ayo keluar ibu buatkan jjangjamyeon.” ajak Mira dengan bahasa Korea menatap Jennie yang tersenyum kearahnya.
“Jjangjamyeon? Yeah! Jjangjamyeon!” seru Jennie segera berdiri dari ranjang dan berjalan bersama Dennis dan Mira.
“Kapan ibu bisa membuat Jjangjamyeon?” tanya Jennie mendongak pada Mira yang hanya menampilkan senyumnya tanpa menjawab pertanyaan Jennie yang menggunakan bahasa Indonesia.
__ADS_1
Dennis tak terlalu fokus dengan semua pembicaraan kedua wanita didepannya itu. Dennis hanya terus menunduk sambil memakan jjangjamyeon yang sudah siap dimakannya.
“Ayah, ayah tidak bekerja?” tanya Jennie menatap Dennis didepannya yang hanya terhalang oleh meja makan ini.
“Eumh, yah. Hati-hati dirumah, ayah pergi dulu.” tutur Dennis mengecup puncak kepala Jennie lalu menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa.
“Tentu saja ayah, ada ibu yang akan menjaga ku.” jelas Jennie membuat Dennis menghentikan kegiatannya lalu matanya tertuju pada Mira yang menatapnya tersenyum masam.
Justru perkataan Jennie membuat Dennis takut jika Mira melakukan sesuatu pada anaknya.
Dennis tersenyum tenang pada Jennie lalu segera berjalan keluar dari rumahnya dengan perasaan takut sekaligus bingung, apakah ia harus membawa Jennie bersamanya?
*
Langkah kaki Dennis membuat suara gesekan antara pentofel miliknya dan lantai marmer perusahaan yang bergerak dibidang otomotif ini terdengar. Dennis membungkuk pada beberapa orang yang hampir semuanya adalah asli orang Korea menyapanya dengan sopan dan dibalas sesopan mungkin dari Dennis.
“Anda terlalu pagi untuk sekedar rapat pada jam 10 nanti, Tuan. Ingin kopi hitam?” ajak seorang teman kerjanya yang bersama berjuang bekerja dinegeri orang ini.
Pria itu hanya tersenyum sambil mengangkat dagunya satu kali menjawab pertanyaan sahabatnya.
“Ck! Ingin apa kau disini?” tanya Dennis kembali menyelipkan kedua telapak tangannya kesaku celana dan menatap pria itu sinis.
“Hahaha, tak mungkin aku akan mengambil jabatan mu! Global ekonomi perusahaan kita sedang menurun, aku juga seorang asisten dari direktur keuangan Den. Aku berhak untuk datang kesini.” jelas Vino jeda beberapa kali.
Dennis bisa tersenyum sekarang, beruntung pekerjaan Vino yang ia lihat belakangan ini begitu pesat tak membuat pria itu mengambil posisinya dan juga pasti tak mungkin jika ia akan teralihkan oleh sahabatnya ini.
“Hufh, baguslah kalau begitu! Jabatan ku tak tersingkir.” gumam Dennis mengelus pelan dadanya.
“Memangnya kau ingin terus berada dijabatan direktur pemasaran?” tanya Vino mengernyit mengikuti langkah kaki Dennis.
“Ya, itu jabatan yang ku inginkan dari dulu.” jawab Dennis tersenyum manis saat menoleh pada Vino.
__ADS_1
Vino menatap remeh pada Dennis, tak percaya akan apa yang dikatakan atasannya.
“Jadi jika kau diberi promosi kau akan menolaknya?” tanya Vino terdengar mengejek jawaban Dennis.
“Selama itu membuat ku disanjung, aku akan mengambilnya.” jawab Dennis memandang arah didepannya.
Vino meringis mendengar penjelasan Dennis yang terkesan ingin disegani semua orang.
“Dasar pria penggila pujian.” gumam Vino membuat Dennis tertawa ringan menanggapinya.
Seorang dari arah depan menghentikan laju langkah Dennis yang membuat Vino juga ikut terhenti dan melihat Dennis heran.
“Ada apa?” tanya Vino menatap Dennis yang berada lebih depan darinya.
“Tuan Den, beruntung anda sudah masuk.” panggil seorang Kim Jong Woon menghampiri Dennis yang tersenyum tenang kearahnya.
Namun air muka Vino berubah seketika, matanya terus menatap pergerakan Hyuk Jae yang semakin dekat dengan dia dan Dennis.
“Yah, oh! Kenalkan ini Vino Ramadhan.” jelas Dennis setelah ia sadar jika dirinya tak sendirian tadi.
Eun Hyuk sedikit melebarkan matanya saat mengarah pada Vino namun ia cepat-cepat tersenyum sopan dan menjabat tangan Vino yang membalas senyum Eun Hyuk kaku.
“Eun Hyuk.”
“Vino.”
Dennis tersenyum tipis lalu mengalihkan tatapannya pada Eun Hyuk yang selalu memasang wajah tak terbacanya.
“Eum, ada apa kau mencari ku?” tanya Dennis menatap penuh tanya kearah Eun Hyuk.
“Ada klien yang harus anda temui jam 2 nanti, ini berkas presentasinya. Lagi, rapat jam 10 pagi harus anda tangani karna anda harus mendatangi launching mobil terbaru kita, presdir juga ada disana.” jelas Eun Hyuk mengalihkan tatapannya pada Dennis yang berdecak kesal karna harus berpisah dengan sahabatnya.
__ADS_1
“Tenang Den, kita akan bertemu lagi nanti.” gumam Vino mengerti dengan raut wajah kecewa Dennis.