Rumah Petaka

Rumah Petaka
Kecelakaan Beruntun


__ADS_3

Mesin mobil pun telah dinyalakan oleh Mira. Setelah itu, mereka pun pergi dari sekolah menuju kembali ke rumah asli mereka.


Setelah beberapa menit perjalanan, Jennie baru sadar bahwa ini bukanlah jalan menuju rumah neneknya.


“Ibu, memang ini jalan ke rumah nenek?” tanya Jennie terheran.


Mira tersenyum tipis, ia lalu menggeleng.


“Tidak, kita akan pulang. Nenek kan sudah tidak ada lagi, jadi Jennie tidak perlu ke sana.” jelas Mira.


Jennie terlihat sedih harus pergi dari rumah neneknya, namun ia hanya diam tertunduk. Dan Mira tahu itu, namun ia berusaha untuk tidak peduli.


“Oh, ya. Jennie dan Hyeon Chul bagaimana sekolahnya?” tanya Mira mencoba membangkitkan semangat Jennie.


Tentu saja cara Mira berhasil, Jennie segera mendongak kembali dengan pupil mata yang lebar penuh semangat.


“Oh! Ibu, tadi Jennie bertemu dengan anak laki-laki bernama Majearn, eum, ada nama panjangnya tapi Jennie lupa dan itu juga sulit. Dia tadi membelanjakan Jennie es krim, Dia juga yang pertama mengajak Jennie menjadi temannya.” ujar Jennie antusias.


Mira yang mendengarkan celoteh berharga dari anaknya itu tersenyum dan terkekeh senang.


“Benarkah? Eumh, betapa baiknya Majearn. Dia bukan orang Indonesia?” tanya Mira menimpali.


Jennie terdiam sesaat, lalu menggeleng.


“Tidak, sepertinya. Matanya biru jernih, hidungnya mancung dan lurus, kulitnya putih sekali—lebih putih kulit Majearn dari pada kulit Jennie.” jelas Jennie menatap ke atas arah kiri, mengingat ataupun berimajinasi.


Mira membayangkan rupa anak laki-laki yang seumuran Jennie dengan ketampanan seperti itu, bisa dipastikan itu orang Eropa.


“Lalu, bagaimana dengan Hyeon Chul?” tanya Mira menatap Hyeon Chul dari kaca spion dalam mobil.


Hyeon Chul yang merasa Mira memanggil namanya secara individual pun mendongak.


“Then, what about my son Hyeon Chul?” tanya Mira tersenyum hangat.

__ADS_1


Hyeon Chul terdiam, ia merasa tidak ada yang harus diceritakan, semuanya datar-datar saja.


“I don't have a story for today, mom. Everything is fine.” jawab Hyeon Chul setelah mengulik-ulik kesehariannya hari ini.


Mira pun hanya bisa mengangguk mengerti, ia namun kembali berkata pada Hyeon Chul.


“Kakak Hyeon Chul tahu Jennie dekat dengan anak laki-laki bernama Majearn?” tanya Mira berharap Hyeon Chul menjaga Jennie untuk selanjutnya.


“Oh, tahu.” jawab Hyeon Chul berubah cuek.


“Benarkah? Eum, Majearn tidak nakal `kan?” tanya Mira lagi.


Kali ini membuat Jennie menoleh pada Mira dengan rasa protes bercampur kebingungan, apa maksud ibunya ini.


Hyeon Chul terdiam, bocah laki-laki itu memang tidak menyukai Majearn karena anak laki-laki itu telah merebut perhatian Jennie, namun itu bukan berarti ia tidak berlaku sejujurnya dan adil pada Majearn.


“Tidak, Dia baik. Dia ramah padaku juga.” jawab Hyeon Chul jujur, namun ia sendiri yang mendengarnya tidak suka.


Mira tersenyum senang, ternyata di zaman sekarang masih ada anak laki-laki yang berperilaku baik.


Hyeon Chul pun mengangguk pasti dengan senyumnya yang tulus.


...


Dennis tengah serius dan kebut membuat proposal presentasi besok, ia dengan wajah sedikit tertekan dan bibir yang terbuka mengkoreksi apakah ada yang salah ditulisannya ini.


Namun suara berisik bagai ada beberapa orang di belakangnya tengah berbisik itu mengganggu konsentrasi Dennis.


Walau awalnya ia tidak peduli, namun kebisingan itu sangat mengganggu Dennis. Ia dengan sebal-tak sadar kalau ia hanya sendirian di ruangan kerjanya menoleh dengan cepat nan tiba-tiba, bermaksud agar orang yang mengganggunya itu terkejut dan terdiam.


Namun, setelah melihat tidak ada siapapun di di belakangnya. Dennis baru sadar kalau ia hanya sendirian di sini.


Dennis tahu itu bukanlah hal wajar, namun karena adanya matahari yang cerah di siang hari ini membuat Dennis sama sekali tidak merasa takut atau waspada. Bagai itu hanya angin lalu.

__ADS_1


Lama Dennis menatap ke belakang hingga ia pun kembali berbalik fokus lagi pada mejanya, namun matanya dibuat lebar dan jantungnya dibuat berdebar lebih kencang ketika melihat ada secarik kertas sobekan setengah yang bertuliskan ; Jangan pergi, atau keluarga mu akan mati.


Tulisan tangan bertinta merah yang meluber itu membuat Dennis sulit bernapas, ia akan merebut kertas gila tersebut namun baru saja Dennis mengangkat tangan kertas itu menghilang bagai debu tertipu angin.


“Apalagi ini,” lirih Dennis menggebrak meja kerjanya.


Drrrt..


Duarr!


Dennis spontan menoleh pada kaca tembok ruang kerjanya yang langsung memperlihatkan keadaan kota sedang hujan lebat seketika.


Langit berubah gelap dengan beberapa sisinya berwarna merah efek dari matahari yang seharusnya masih berada di atas sana. Suara gemuruh di langit dengan kilat-kilat sinar setelahnya membuat suasana makin mencekam untuk Dennis.


...


Sementara, di lain sisi. Mira kini tengah serius menjalankan mobilnya di tengah `malamʼ yang gelap ini. Entah mengapa, Mira sangat harus merasa waspada, ia terus melihat ke kanan-kiri mobil apakah akan ada sesuatu yang dapat mencelakai mereka, terkhusus anaknya.


Kedua alis Mira meruncing dengan tatapannya yang tajam lekat ke depan, ia perlahan memberhentikan mobilnya—mengikuti apa yang dilakukan oleh mobil-mobil di depannya.


Jennie yang ikut penasaran dengan apa yang terjadi segera memajukan tubuhnya demi ingin melihat apa yang terjadi di kejauhan.


“Truk tergelincir, nak.” kata Mira memberi tahu Jennie yang juga penasaran.


Jennie lalu membaringkan tubuhnya ke jok, ia memejamkan matanya melepas penat. Namun hal tersebut tidak dilakukan oleh Mira, rasa kewaspadaannya makin tajam, ia ingin segera kembali melanjutkan perjalanan ini, kabur dari tempat ini.


Jauh di sana, jarak 700 meter dari mobil Mira. Ada sebuah truk gandeng bermuat kayu-kayu besar tengah melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sang sopir dengan santainya tengah bernyanyi fals, matanya yang sudah berumur lima puluh tahun lebih itu menyipit melihat ada yang aneh dengan mobil-mobil di depannya.


Karena hujan terus mengguyur, kaca mobil pun tidak jernih—membuat sang Sopir tidak tahu mobil di sana benar-benar berhenti.


Namun ketika makin dekat—sekitar 200 meter dari mobil-mobil, sang sopir itu baru sadar bahwa mobil-mobil di depannya itu benar-benar berhenti.

__ADS_1


Sontak sang Sopir menginjak rem, namun nampaknya mobil terus berjalan dengan cepatnya. Wajah kesusahan nan tergopoh-gopoh itu menunduk melihat apakah yang ia injak itu benarlah alat untuk menghentikan kendaraan, walau Sopir itu tahu apa yang ia injak dengan apa yang ia inginkan itu sama namun takdir nampak tidak mengizinkan itu.


Semakin frustrasi, Sopir tersebut berteriak nyaring sambil melihat rem lalu kembali ke jalan. Ini benar-benar rem blong. Tidak punya pilihan lain Sopir tersebut berusaha memutar stir yang sangat berat itu.


__ADS_2