Rumah Petaka

Rumah Petaka
Meminta Izin Pergi


__ADS_3

Jam 1 Siang...


Dennis tengah semangatnya bekerja, ia bertekad akan mengerjakan tugasnya dengan rapi dan cepat hari ini agar ia bisa pulang lebih awal.


Namun disaat Dennis sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas, suara dering ponsel menghentikan kegiatan Dennis selanjutnya. Ia awalnya hanya menatap sejenak pada ponselnya yang terus berdering.


Dennis pun akhirnya tergerak hatinya, ia mulai mengangkat ponsel dan melihat siapakah yang meneleponnya. Betapa terkejutnya Dennis ketika melihat siapa yang meneleponnya, yaitu pihak Rumah Sakit.


Hati Dennis ada sedikit rasa ketakutan-tak mau mendengar kalau pihak Rumah Sakit memberikan kabar buruk, namun di sisi lain ia berantusias ingin mendengar kabar gembira salah satunya dari Hyeon Chul yang mungkin sudah siuman.


Dengan tertatih-tatih, Dennis akhirnya mengangkat telepon.


“Ya?” sapa Dennis tegang.


“Dennis?” sapa balik sosok suara yang sangat mirip dengan suara Mira.


Dennis pun terlonjak ringan mendengar suara lembut nan indah itu.


“Mira? Mira, bagaimana? Hyeon Chul, dia sudah lepas dari masa kritis `kah?” tanya Dennis berantusias tak sadar tengah melebarkan matanya.


Terdengar dari sambungan telepon tersebut, Mira terkekeh lemah mendengar suara bersemangat suaminya.


“Hyeon Chul baik-baik saja, Dia kini sedang makan disuapi oleh Suster.” jawab Mira sambil menoleh pada Hyeon Chul yang sibuk menunggu suapan dari Suster.


Dennis tak sengaja tersenyum lega nan lebar mengetahui sekarang seluruh keluarga kecilnya sudah baik-baik saja.


“Bagaimana Jennie?” tanya Dennis lagi tidak mau mempercepat pembicaraannya dengan Mira.


“Jennie baik-baik saja, selepas makan siang ia ditemani oleh Suster berjalan-jalan di taman Rumah Sakit.” jelas Mira.


Dennis pun berdehem panjang mengetahuinya.


“Lalu, bagaimana dengan mu?” tanya Dennis akhirnya membuat senyuman semakin lebar di bibir Mira.


Dengan wajah tersipu malunya, Mira menjawab.


“Aku baik-baik saja. Ponsel ku hilang, ya? Polisi tidak menemukan ponsel ku.” kata Mira mencoba mengalihkan suasana.


“Iya, tak apa. Beli yang baru lagi.” sahut Dennis menatap dengan pupil melebar ke depan, seolah ada Mira di depannya.

__ADS_1


“Mira tunggu, ya. Jam 4 nanti aku akan ke Rumah Sakit.” lanjut Dennis menengahi keheningan.


“Oh, iya. Kau bekerjalah, aku juga belum selesai makan.” tanggap Mira menatap piring di atas baki miliknya.


“Eum, sampai bertemu sayang.” timpal Dennis romantis.


Mira pun dibuat kembali tersipu manja oleh Dennis.


“Iya.” jawab Mira singkat, berbanding terbalik dengan hatinya yang meletup-meletus tak henti-henti.


Berkat Mira, Dennis yang bekerja giat hari ini pun dibuat lebih terbakar semangat lagi untuk mengerjakan pekerjaan kantor ini.


Dengan senyum bersemangat dan gaya yang lincah, Dennis benar-benar menyelesaikan pekerjaannya 2 jam lebih cepat.


Jam 4 Sore...


Dennis keluar dari mobil dengan senyum tipis yang merekah, ia lalu berjalan kecil namun cepat ingin segera menemui anak-anak dan istrinya.


Ketika ada orang yang hanya sekedar menatapnya aneh atau bahkan mungkin menegurnya dengan ucapan pedas, Dennis tidak peduli. Ia hanya terus menatap jalan yang membawanya ke kamar inap kelas atas yang dipesannya.


“Jennie!” sapa Dennis berseru sambil membuka dan berjalan memasuki kamar besar ini.


Mendengar namanya dipanggil oleh seorang pria yang amat Jennie cintai, ia menoleh pada Dennis dan mengoyangkan badannya ke sana ke mari dengan semangatnya.


Tak lama kemudian, Dennis segera berlari pada Jennie dan memeluk tubuh kecil anaknya ini.


“Aigo! Tubuh Jennie kenapa hangat?” tanya Dennis terselip rasa khawatir di sana.


“Tidak, tubuh ayah saja memang yang dingin.” jawab Jennie sembari mengusap berkali-kali punggung lebar Dennis.


Dennis tersenyum tiba-tiba mendengar penuturan anaknya, ia lalu melepaskan pelan pelukan mereka.


“Benarkah? Heheum,” tanggap Dennis mengacak lembut ujung kepala Jennie.


Tak hanya itu, Dennis lalu mendaratkan kecupan di kedua pipi dan kening Jennie. Setelah itu Dennis baru menuju ke Hyeon Chul yang berbaring setengah duduk.


“Anakku, bagaimana keadaan mu? Heum.” tanya Dennis duduk di bagian kosong ranjang Hyeon Chul sambil menatap penuh perhatian pada anaknya itu.


Nampaknya Hyeon Chul masih belum baik-baik saja. Dari bahu hingga pergelangan tangan kanan diperban, seluruh kepala atasnya pun diperban dengan kuat, banyak luka-luka kecil di sekitar wajah Hyeon Chul.

__ADS_1


Entah mulutnya susah digerakkan atau memang Hyeon Chul yang malas, anak itu hanya tersenyum tipis tanda ia baik-baik saja pada Dennis.


Tidak asyik untuk diajak bicara seperti yang sebelum sebelumnya, Dennis akhirnya hanya tersenyum sambil mengusap pipi Hyeon Chul memberi semangat.


Beralih tempat, Dennis berjalan dengan senyum hangat pada Mira yang dari awal kedatangannya terus menatap Dennis, suaminya itu.


“Mira,” sapa Dennis canggung menyikapi Mira karena ditatap oleh anaknya, Jennie.


“Kau bisa keluar kamar sebentar bersama ku? Ada yang ingin aku katakan.” ujar Dennis mendekat.


Mira terlihat berpikir sejenak menatap ke bawah.


“Ya, tak apa. Tapi infusnya Kau bawa, ya? Hehe.” jawab Mira berkelakar serius.


Dennis pun mengangguk pasti dengan kekehan setelahnya, menemani tawa ringan Mira sebelumnya.


Setelah mendapat izin dari kedua anaknya ; Jennie dan Hyeon Chul, Mira dan Dennis lalu pergi menuju taman rumah sakit.


“Yah, duduklah di sini.” tunjuk Dennis menyuruh Mira duduk di bangku taman.


Mira yang dari awal tidak sabar akan apa yang ingin dikatakan Dennis itu terus menatap penuh rasa penasaran pada Dennis.


“Apa?” tanya Mira ingin segera mendengar perkataan Dennis.


Setelah dengan benar Dennis ikut duduk di samping Mira, suami Mira itu pun mulai berbicara.


“Mira, aku akan ke Korea.” kata Dennis sementara hanya itu dulu, ingin melihat reaksi Mira.


“Ke Korea? Untuk?” tanya Mira terkejut spontan.


Namun pertanyaannya itu tidak segera dijawab oleh Dennis, karena pria itu yakin Mira akan segera mengingat jawabannya.


“Untuk menemui Eun Hyuk?” tebak Mira lirih dan pelan.


Dennis pun dengan wajah serius dan lekat menatap Mira mengangguk membetulkan tebakan istrinya ini.


“Tapi. Kau mau meninggalkan kami yang belum sehat total ini?” tanya Mira kesal.


“Aku yakin kalian akan aman, di sini ada banyak orang yang sanggup menolong kalian dari bahaya. My, akan lebih mengancam lagi kalau kalian bertiga tinggal di rumah tanpa ada banyak orang yang menjaga. Tolong percaya pada aku.” jelas Dennis menatap meyakinkan pada Mira yang tak menatapnya juga.

__ADS_1


Lama kelamaan, wajah dengan dahi berkerut keras itu terlihat lebih tenang saat ia cukup lama hanya terdiam mempertimbangkan. Dengan melepas napas yang tertahan, Mira pun mengetuk palu akan keputusannya.


“Hah, mau bagaimana lagi. Baiklah.” kata Mira lalu menatap lekat Dennis yang perlahan tersenyum simpul mendengar jawabannya.


__ADS_2