Rumah Petaka

Rumah Petaka
Kematian


__ADS_3

“Dokter Geo, tapi Tn. Dennis ini pernah menjadi Direktur di perusahaan yang menjalin kerja sama dengan rumah sakit Geosung.” ujar seorang dokter membuat langkah Lee Jun terhenti.


“Itu dulu bukan? Aku sudah tahu, sekarang ia bekerja di cabang Tanah Air nya sendiri. Dan itu tidak dilirik lagi oleh perusahaan pusat.” balas Lee Jun kemudian kembali melangkah.


“Sudah buang waktunya. Kita jalankan operasi sekarang.” lanjut Lee Jun tegas.


Ia lalu melihat-lihat gambar hasil rontgen, hingga ia melirik gambar yang baru diambil dari tubuh Dennis.



Duh, udh punya anak juga masih ganteng😄


“Dokter Geo, ada pendarahan disaraf otak Tn. Dennis.” ujar salah seorang dokter pada Lee Jun yang kini sedang sibuk mengacak-acak berkas.


“Ini bisa berdampak trauma serius dan korban kemungkinan mengalami cavernous angioma di—”


“Aku tahu, aku ambil operasi Tn. Dennis.” potong Lee Jun menekan sebuah berkas ke dada pria yang berbicara tadi.


“Kau menjadi dokter pembantu ku. Baca semua berkas MRI scan Tn. Dennis.” sambung Lee Jun berjalan keluar laboratorium.


¦ ¦ ¦


Lee Jun sudah siap dengan baju operasi-nya. Ia dengan tangan terangkat sampai ke dada berjalan pelan menuju meja operasi.


“Aku Dokter Geo Lee Jun, memimpin operasi Tn. Dennis. Mohon kerja samanya.” sapa Lee Jun setelah itu para suster dan dokter pembantu pun membungkuk hormat.


“Operasi dimulai pukul 06:12 menit pagi.”


Operasi dimulai, Lee Jun menukikkan alisnya serius, membuat aura ketampanan nya semakin kuat.


“Skalpel A20.” pinta Lee Jun yang segera dituruti oleh suster.


¦ ¦ ¦


Mata wanita itu seketika melebar mengetahui ada anak yang terbaring tengkurap berlumuran darah yang telah kering di ujung halaman rumah sakit ini.


Ia spontan berteriak melepaskan rasa takut dan traumanya melihat darah yang sebanyak itu keluar.


Seketika Rumah Sakit Pandewunu geger di jam 5 pagi karena kemunculan kasus anak bunuh diri ini.


Hyeon Chul, pelaku bunuh diri segera dibawa menuju meja operasi. Dokter bilang, nyawanya semakin lemah dan memang kemungkinan kecil Hyeon Chul bisa selamat.


¦ ¦ ¦


“Forceps.” pinta Lee Jun menengadahkan tangannya.


Secepatnya, suster segera memberi alat yang Lee Jun minta.


Namun, nampaknya tangan Lee Jun tak sengaja bergetar hingga membuat pembuluh darah di otak Dennis pecah.


“Sedot!” perintah Lee Jun lantang.


“Tensi nya semakin menurun..!” beri tahu salah seorang.

__ADS_1


“Berapa?” tanya Lee Jun cepat.


“80/49mmHg. Dan semakin menurun.” jawab perawat itu.


¦ ¦ ¦


“Haah...” rintih Dokter yang selesai mengoperasi Hyeon Chul.


Mira yang berada di luar ruang operasi pun segera mendekat dibantu oleh suster.


“Dokter, bagaimana?” tanya Mira tak bisa lagi menahan tetesan air matanya.


“Maaf nyonya Mira. Kami sudah melakukan yang terbaik..huft..” kata Dokter itu kesulitan untuk berkata.


Mira perlahan menundukkan wajahnya, ia sudah tak bisa mengontrol mimik wajahnya yang kini penuh kesedihan.


¦ ¦ ¦


“Dokter Geo!” lantang Dokter pembantu tak suka melihat Lee Jun yang masih mengulik mencoba menyelamatkan Dennis.


“Hah!!” desah keras Lee Jun frustrasi membenturkan punggungnya ke kursi.


Para suster pun saling menatap tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.


Mata kecil Lee Jun menatap langit-langit ruang operasi ini tak percaya juga bercampur sedih.


“Catat waktu kematiannya.” perintah Lee Jun akhirnya.


“Hhh, Huuh..!”


¦ ¦ ¦


Mata Mira menatap kosong ke depan, ia hanya pasrah terus didorong oleh suster yang akan mengantarkan dirinya ke kamar inap.


“Eum, sudah sampai nyonya.” beri tahu Suster itu sungkan.


Mira terlonjak, ia lalu berterima kasih dan memperbolehkan Suster itu pergi.


“Ibu?” panggil Jennie di dalam.


Mira pun tak tahu, ia sekarang merasa sangat lemah ketika mendengar suara polos Jennie. Tanpa seizin nya, air mata Mira terjun begitu saja untuk berkali-kali.


“Ibu? Kenapa ibu menangis?” tanya Jennie segera turun dari ranjangnya.


Mira segera menghapus air matanya, ia mendongak dan tersenyum sebisanya pada Jennie.


Triiing! Triiing!


Suara notifikasi dari ponsel Mira membuat perhatian mereka berdua sama-sama satu arah. Mira lalu segera menjalankan kursi rodanya ke ranjang tidurnya yang di atasnya terdapat ponsel miliknya.


Mira mengerutkan dahinya melihat nomor ponsel itu berada diluar negara. Tak banyak pikir, Mira segera mengangkat telepon asing itu.


“Ma-maaf. Ini dari kepolisian Daegu. Apakah ini nomor telepon istri Tn. Dennis?” tanya seorang pria menggunakan bahasa Inggris di sambungan telepon itu.

__ADS_1


Hati Mira bergetar, hatinya ingin menutup saja panggilan ini. Namun rasa penasaran dan khawatir membuat tangannya bergeming.


“Iya..” jawab Mira seadanya.


“Kami ingin mengabarkan berita duka. Ny.Dennis, suami Anda meninggal dunia di rumah sakit Geosung. Kami turut berduka cita.” beri tahu pria itu membuat dada Mira terasa bersekat, ia tidak bisa bernapas dengan baik.


Terlalu banyak pertanyaan dan rasa sakit, sedih, kecewa berkecamuk di hatinya. Mira tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya sekarang merasa berat dan lama-lama Mira tidak bisa merasakan tubuhnya.


“Ibu? Ibu?!” teriak Jennie berdengung di telinga Mira.


¦ ¦


¦ ¦


¦ ¦


*Aku tidak tahu bagaimana caranya hidup.


Melihat Jennie, aku kasihan padanya yang harus mempunyai ibu selemah diri ku.


Aku benci pada Dennis, aku benci pada Hyeon Chul. Aku benci pada Tuhan*.





——


——







——


——


Bagaimana ceritanya? Aku berharap banget setiap satu pembaca komen, aku pengen tahu bagaimana kesan kalian tentang novel ini.


 


Terima kasih :\)


 

__ADS_1


__ADS_2