
“Siapa dia?” tanya Hyeon Chul lirih, namun Dennis segera menoleh pada Hyeon Chul, dan mengikuti arah tatapan bocah itu.
Seorang wanita dengan rambut panjang menunduk, dan bergumam sesuatu sambil mengulur rambutnya yang berjuntainya diatas lantai. Wanita itu akhirnya menoleh kearah keduanya dengan mata lebar, membuat ingatan Hyeon Chul terlempar pada kejadian 4 tahun lalu.
Dimana ia melihat wanita itu menghalangi kakeknya untuk menolong dirinya dibalkon saat kejadian itu. Lebih tepatnya, dia adalah wanita baya.
Nenek itu menyeringai dengan mulutnya yang begitu panjang, dan dengan sayatan yang mengering disetiap sudut bibirnya, itu membuat sebuah ketakutan kembali menyergap Hyeon Chul. Dennis tak mungkin diam saja seperti yang dilakukan oleh Hyeon Chul sekarang, ia melangkah kedepan Hyeon Chul mencoba melindungi bocah lelaki itu.
“Apa mau mu? Siapa kau?” tanya Dennis lugas, yang tidak segera membuat senyuman mengerikan itu pudar. Justru seorang itu terlihat lebih senang dengan pertanyaan yang terselip rasa takut.
“Kau akan mati. Kau tak bisa menghilangkan kutukan itu.” gumam nenek itu menatap nyalang pada Dennis, lalu turun menatap Hyeon Chul yang mulai mengeluarkan buliran air mata ketakutannya.
Wanita itu beranjak lalu melangkah pelan kearah mereka. Tatapannya tidak pernah lepas pada Hyeon Chul yang tersedu tak kuat menanggung kesedihan dan ketakutannya. Mata itu menampilkan secercah kasihan dan marah, entah apa yang ada dipikirkan nenek itu yang sekarang semakin mendekati Dennis dengan lambat.
“Aku tak akan membiarkanmu lepas dari kutukan itu. Namun aku juga tak bisa membunuhmu sekarang, tapi cucuku nanti yang akan membunuh kalian.” kata nenek itu lirih, lalu mengeluarkan tangan kering nan panjang tak berkulit dan dengan cepat mengarahkannya pada Dennis.
Dennis segera melepas tangannya yang merangkul, melindungi tubuh Hyeon Chul. Lalu dengan spontan mencoba mendorong nenek itu untuk menjauh darinya.
Dennis menarik lengan bertulang nenek itu. Nampak sosok itu semakin marah lalu mencondongkan wajahnya, dan berteriak tepat didepan wajah Dennis dengan mulutnya yang berbau busuk.
“Euh, bau sekali.” gumam Dennis lalu mendorong nenek itu hingga tubuh wanita baya tersebut menghantam dan membuat hancur benda yang terkena tubuhnya.
Tatapan mata Dennis seolah sangat puas dengan pencapaiannya. Ia menarik angkuh kerah kemejanya, menunjukkan seberapa hebatnya dia kepada sang nenek.
“Ayo Hyeon, kita harus pergi.” ajak Dennis menarik tangan Hyeon Chul kebelakang. Namun tujuan utama Hyeon Chul adalah mengambil berkas dan membakarnya.
“Tapi, paman. Ada sesuatu yang harus aku lakukan tentang menghentikan kutukannya.” sahut Hyeon Chul berat hati kakinya melangkah semakin meninggalkan loteng ini.
Dennis menoleh sekilas—terheran pada Hyeon Chul. Seharusnya bocah itu tahu sekarang waktu yang tak tepat untuk melakukannya.
“Persetan dengan kutukannya.” bantah Dennis menarik paksa Hyeon Chul untuk segera turun dari loteng.
Brak!
__ADS_1
Pintu tangga itu tertutup dengan keras karna Dennis tak ingin lagi berada diruangan gelap berdebu dengan semua misteri itu.
“Paman, ini.” gumam Hyeon Chul baru menyadari hawa senja sore yang menyilaukan membuatnya terperangah.
Dennis menoleh pada Hyeon Chul—mencari jawaban dari bocah itu, namun tanpa Hyeon Chul jelaskan pria itu segera menoleh kesegala sisi jendela yang ada.
“Eum? Bukankah tadi baru saja siang hari?” tanya Dennis menatap lekat matahari yang segera tenggelam.
“Apa tadi kita terlalu lama? Aku rasa kita baru 10 menit disana.” ungkap Hyeon Chul, lalu melihat kebawah tangga mencoba melihat keberadaan kedua wanita yang terakhir ia lihat dimeja makan.
“Bibi dan Jennie tak ada.” sahut Hyeon Chul lalu melihat Dennis yang tak menggubrisnya.
“Jennie!” panggil Dennis melangkah menuju kamar Jennie.
Pintu kamar terbuka dan semakin aneh. Saat pintu itu terbuka tak ada lagi matahari membuat seisi rumah gelap gulita. Dennis segera menyalakan saklar lampu kamar, melihat diberbagai sudut ia tak menemukan sosok Jennie. Dennis kalap, ia menyingkirkan semua barang besar yang ia pikir pasti menyembunyikan tubuh kecil putrinya.
“Jennie! Di mana kau?” teriak Dennis mendorong lemari putih berisi mainan Jennie.
“Ayolah Jen. Jangan membuat ayah menggila.” lirih frustasi Dennis terdengar begitu memohon gadis kecilnya untuk kembali.
Suara motor dari luar rumah menarik perhatian Dennis. Pria itu menatap dari jendela Jennie yang menampilkan seorang pengendara motor.
Dennis melebarkan matanya terkejut mengetahui siapa sosok pengendara motor yang membuka helm hitam miliknya.
“Hyuk Jae.” gumam Dennis segera keluar dari kamar Jennie, dan berlari secepat yang ia bisa untuk segera keluar dari rumahnya.
“Hyuk- “
Belum sempat Dennis mengutarakan perkataannya. Hyuk Jae, pria yang ia kenal kurang dari sebulan itu, tidak ada lagi berada diposisi yang terakhir di lihat Dennis.
“Den,” Suara lembut itu membuat Dennis terhenyak, dan nyalang menatap Mira dengan semua kemarahannya.
“Kau! Dimana anakku, iblis?!” bentak Dennis menunjuk Mira membuat wanita itu terlonjak. Relung hatinya begitu ngilu mendengar bentakan terparah dari Dennis padanya.
__ADS_1
“I-iblis? Aku istrimu, Den!” teriak Mira bergetar tak kuat melihat Dennis yang menatap penuh kebencian kepadanya.
Dennis berdecih sinis melihat peranan Mira yang begitu menipu. Pria itu mendekat pada Mira, lalu mencengkeram kuat ujung bahu Mira, membuat istrinya itu meringis sakit.
“Kembalikan anakku.” pinta Dennis lirih, terkesan sangat tidak ingin kembali dibantah oleh wanita didepannya ini, yang sudah mengeluarkan air mata kecewaan disudut matanya.
“Paman, lepaskan bibi Mira!” teriak Hyeon Chul keluar dari rumah, namun ia tak bisa melakukan apapun untuk mencegah Dennis.
“Dia bukan Mira!” bentak Dennis menatap sekilas kepada Hyeon Chul yang berdiri ketakutan.
“Itu, bibi Mira, paman. Bibi kembali.” sahut Hyeon Chul cepat tak ingin Dennis melakukan sesuatu yang membahayakan pada wanita itu.
“Den, lepas! Kau menyakitiku.” ucap Mira menarik lengan Dennis—mencoba terlepas dari cengkeraman kuat pria itu pada bahunya.
Dennis menyeringai, terhina dengan kata-kata Mira yang merasa tersakiti. Yang ada dipikiran Dennis ialah, Mira sedang terpenjara dialam lain dan hingga saat ini ia tak mungkin bisa keluar jika tidak ada yang menolongnya.
“Memangnya hanya kau yang tersakiti? Aku juga! Dimana anak ku? kembalikan anak ku!” teriak Dennis membuat hati Mira tergetar sakit mendengar semua gertakan yang ditunjukan padanya.
“Aku juga tak tahu! Lepaskan aku!” teriak Mira balik tak kuasa menahan rasa sakit yang Dennis torehkan bertubi-tubi padanya.
“Oh, kau ingin aku lepaskan?” tanya Dennis lirih semakin menunjukkan sisi kejahatannya.
Dengan sekali hentakan Dennis melempar tubuh Mira. Hingga wanita itu tersungkur masuk ke rumah dan terbaring dilantai ruang tamu setelah menghantam punggung sofa.
“Oh! Bibi Mira!” teriak Hyeon Chul lalu berlari mendekati tubuh Mira yang tak bergerak sedikitpun.
Namun tanpa rasa bersalah, Dennis menatap keji Mira yang pingsan karena benturan yang keras dari sofa dan lantai kayu rumah.
“Paman jahat! Aku lihat sendiri bibi Mira asli sudah memasuki tubuhnya! Dia sudah tak berada didunia itu!” tanggap Hyeon Chul sambil menangis, takut melihat kasarnya Dennis pada istrinya sendiri.
Dennis sangat mendengar dengan jelas setiap kata yang diucapkan bocah itu. Hatinya percaya jika itu adalah Mira, namun pikirannya begitu kukuh mengatakan itu bukanlah Mira yang sesungguhnya.
Pandangan tajamnya redup, ketika semakin ia berfikir, ia semakin percaya jika apa yang dikatakan Hyeon Chul benar. Karena tidak mungkin Hyeon Chul tahu dengan sendirinya, kalau Mira saat ini tengah terperangkap, jika ia tak memberitahu Hyeon Chul soal ini. Bahkan Jennie tak tahu dengan permasalahan ini.
__ADS_1