
Mira tidak tahu mengapa ia begitu berharap agar Dennis melarangnya pergi, namun apalah daya, Mira tidak mungkin membatalkan rencananya yang matang dan sebenarnya mudah ini.
Mira lalu pergi keluar dari ruang kerja Dennis dengan lemasnya, sementara suaminya itu terus menatap tempat terakhir Mira
pergi—menghilang dari peredaran mata memandang dengan wajah yang sama masamnya bercampur kebingungan.
“Mira,” lirih Dennis mengungkapkan setengah persen dari rasa kegusaran hatinya.
Kenapa, kenapa hati ini sangat berat hati untuk membiarkan istrinya pergi.
Mira berjalan sedikit terhuyung melewati orang-orang yang berlalu-lalang menunduk hormat padanya. Setelah ia sampai di mobil Dennis yang berada di depan gedung kantor, Mira segera memasuki mobil tersebut.
Setelah terduduk di jok pengemudi, Mira sadar dirinya aneh, ia mengernyit bertanya pada dirinya sendiri mengapa hatinya segusar ini.
“Ayolah Mira, Kau ini kenapa?” tanya Mira pada dirinya sendiri menatap dirinya dari kaca spion dalam mobil.
Sambil menggelengkan kepalanya guna menjernihkan pikirannya, Mira akhirnya bersiap untuk menjalankan mobilnya.
...
Kaki gadis kecil itu bergerak dengan cepat nan semangat di udara, tubuh itu tengah terduduk di sebuah tempat duduk panjang berbahan tanah dan semen.
Jennie, ia tengah menunggu Hyeon Chul yang masih belum keluar dari kelas. Mencoba untuk tidak bosan dalam menunggu kakaknya, Jennie bersenandung lagu-lagu dengan bahagianya.
Hingga akhirnya, para murid di kelas enam pun telah keluar. Ada yang berlari, ada juga yang saling mengobrol dan berjalan santai.
Jennie melihat segerombolan anak-anak di sana, matanya yang jeli mencari-cari sosok Hyeon Chul yang sedang berjalan sendirian dengan tenangnya.
Jennie segera berdiri ketika melihat sosok kakaknya, ia melambaikan tangannya ke udara.
“Kakak!” panggil Jennie keras agar didengar Hyeon Chul.
Sontak Hyeon Chul menoleh dengan elegannya pada Jennie, ia lalu berjalan mendekati adiknya itu.
“Ayah sudah datang?” tanya Hyeon Chul tanpa basa-basi.
Jennie melihat ke gerbang besar sekolah, ia masih tidak dapat menemukan mobil ayahnya.
“Belum.” jawab Jennie lesu.
Hyeon Chul tidak ingin menambah kekecewaan pada Jennie, ia hanya mendengus lirih.
“Ayo pergi ke kantin.” ajak Hyeon Chul merangkul bahu Jennie.
__ADS_1
Mereka lalu pergi bersama menuju kantin untuk makanan, ia akan membelanjakan adiknya mie ayam.
“Jennie lapar, ya?” tanya Hyeon Chul ramah.
“Iyah!” jawab Jennie berseru.
Hyeon Chul pun terkekeh, ia dengan gemas melihat tingkah lucu Jennie segera mengusap ujung kepala adiknya.
“Ayo makan mie ayam.” ajak Hyeon Chul semangat.
“Ah, kakak mie ayam, aku bakso. Nanti kalau kakak ingin bakso aku ada, kalau aku ingin mie ayam tinggal minta pada kakak. Bagaimana?” tawar Jennie menunjuk wajah Hyeon Chul dengan jari telunjuknya.
Menyetujui saran dan inovasi Jennie yang bagus, Hyeon Chul tersenyum simpul pada Jennie sambil mengangguk.
Mereka lalu memesan makanan, sambil menunggu kedatangan mobil Ayahnya.
Saling berbagi makanan adalah yang menjadi tujuan mereka, hingga akhirnya hanya dalam waktu 17 menit, mereka telah menghabiskan dua mangkuk bakso dan mie ayam.
Jennie lalu meneguk es teh yang hanya Hyeon Chul pesan satu, karena mereka sepakat tidak mungkin bisa menghabiskan masing-masing satu gelas es teh.
“Wah, perut ku kenyang sekali.” gumam Jennie setelah menghabiskan hampir setengah dari isi es teh itu.
Hyeon Chul hanya mau menanggapi Jennie dengan kedua alisnya yang naik, ia juga harus segera minum agar tenggorokannya tidak panas.
Jennie lalu melirik gelas es teh yang sudah hampir habis, ia tak mau kalah dengan Hyeon Chul. Ia segera kembali mengambil gelas es teh dan meneguknya sampai habis.
“Ya, habiskanlah Je.” kata Hyeon Chul juga merasa dirinya sudah banyak minum.
Mata Hyeon Chul memandang lapangan sekolah yang lebar itu, ia lalu beralih lagi pada lorong kelas-kelas. Namun tak lama, ada sesosok wanita yang sangat mirip dengan tubuh ibunya tengah berjalan melewati kelas-kelas yang sudah kosong ataupun masih ada murid di sana.
Hyeon Chul melebarkan matanya, setelah mengatahui pasti itu Mira. Hyeon Chul segera menepuk bahu Jennie.
“Jennie, ada ibu.” beri tahu Hyeon Chul masih menatap pekat takut kehilangan sosok ibunya.
Jennie awalnya mengernyit, lalu ia segera berbalik melihat apakah benar yang ditatap Hyeon Chul. Tak jauh berbeda dari keterkejutan Hyeon Chul—atau mungkin Jennie melebihinya, gadis cilik itu membelalakkan matanya dan segera kabur menuju ibunya di depan sana.
“Ibu!” panggil berteriak Jennie berlari menghampiri ibunya.
Hyeon Chul tidak bisa lari, ia tentu harus membayar makanan dan minuman tadi.
Wanita yang dipanggil ibu oleh Jennie itu segera berbalik pada kedatangan Jennie, dan terpampanglah wajah yang benar-benar Mira ibu Jennie di sana.
Anak gadis Mira itu segera memeluk tubuh Mira yang berjongkok, membuatnya lebih leluasa dalam memeluk ibunya ini.
__ADS_1
“Jennie, kakak mana?” tanya Mira setelah sekian detik ia membiarkan Jennie merasa nyaman.
Jennie membuka kelopak matanya, ia lalu melepas pelukan ibunya dan segera menengok ke belakang pada Hyeon Chul yang tidak terlihat.
"Di kantin, kami tadi makan mie ayam dan bakso. Enaak sekali. Sekarang mungkin kakak Hyeon Chul sedang membayar.” jawab Jennie menjelaskan detailnya.
“Ooh,” lirih Mira berdiri.
Mira dan Jennie saling bergandengan menuju kantin yang khusus untuk menu makanan mie ayam dan bakso.
“Hyeon Chul?” panggil Mira mendekati anaknya yang sedang memunggunginya ini.
Hyeon Chul berbalik dan menyapa Mira sewajarnya.
“Sini ibu yang bayar.” kata Mira mengeluarkan ponselnya.
“Tidak perlu bu, aku masih mempunyai uang jajan.” tolak Hyeon Chul.
Lagi pula sang kasir sudah mengumpulkan uang kembalian dari Hyeon Chul.
“Uang jajan kalian masih belum habis?” tanya Mira terlihat protes.
“Belum, aku saja masih utuh lima puluh ribu.” jawab Jennie bangga.
“Duuh, masih utuh, ya. Kalau ayah tahu disangka kalian terlalu irit, lho.” jelas Mira khawatir.
“Hyeon Chul, sisanya berapa?” tanya Mira gusar.
Hyeon Chul menghitung sebentar, ia lalu segera menjawab.
“Lima belas ribu.” jawab Hyeon Chul polos.
“Masukkan ke kotak amal saja, ya.” perintah lembut Mira melihat celah agar lepas dari ceramahan Dennis nanti.
Hyeon Chul pun dengan menurut dan polosnya segera memasukkan sisa uang jajannya ke kotak amal.
“Punya Jennie uangnya ditabung, ya.” lanjut Mira mengusap lembut rambut Jennie.
Tentu saja Jennie dengan senangnya mengangguk.
“Ya sudah, ayo pulang.” ajak Mira menggandeng kedua masing-masing tangan anak-anaknya.
Mereka lalu segera memasuki mobil, Jennie berasa di samping jok pengemudi sementara Hyeon Chul berada di belakang.
__ADS_1