Rumah Petaka

Rumah Petaka
Membunuh Tanpa Menyentuh


__ADS_3

Semakin frustrasi, Sopir tersebut berteriak nyaring sambil melihat rem lalu kembali ke jalan. Ini benar-benar rem blong. Tidak punya pilihan lain Sopir tersebut berusaha memutar stir yang sangat berat itu.


Namun, karena laju truk gandeng yang begitu cepat, kecelakaan pun masih saja tidak bisa terhindarkan. Kepala truk itu memang berbelok ke kiri pada pembatas jalan, namun pengait besi dump truck tidak kuat ikut membelok sehingga terlepaslah dan terguling ke dekat bahkan menyentuh dan menubruk bagian belakang mobil-mobil pribadi itu.


Lebih rusak dan parahnya lagi, kayu-kayu besar yang ditampung truk tersebut ikut keluar dan segera menggiling mobil-mobil yang terhenti, termasuk mobil Mira.


Karna yang dibawa lebih dari 10 kayu besar pohon, maka juga sepuluh kali mobil-mobil tersebut tergiling karena tekanan dan berat kayu pohon tersebut.


Mata Mira terbelalak melihat pohon-pohon besar yang dipotong bagian atasnya itu terguling, bagai melihat kiamat akan menjemput.


Mira segera dengan cepat membangunkan kasar Jennie, ia menengok pada Hyeon Chul yang juga sedang tertidur.


“Jennie, Hyeon Chul ba-”


Belum sempat Mira berbicara, kayu besar tersebut sudah berguling menghantam atap mobil.


“Aakh!” teriak frustrasi Mira hanya bisa memeluk tubuh Jennie yang masih tertidur.


...


Dennis tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya berteriak meminta untuk menelepon petugas sekolah, petugas jalan yang akan istri dan anak-anaknya lewati, polisi yang berada di sekitar sana, dan lain sebagainya hingga Dennis pun menjadi stres.


Dennis memilih untuk duduk berdiam terlebih dahulu, menenangkan pikiran dan hatinya.


Hingga per menit pun berlangsung, akhirnya Dennis mendapat jalan pikiran yang kembali jernih. Ia terlebih dahulu ingin menelepon Mira.


Wajah Dennis yang sebelumnya penuh dengan kekalutan kini nampak lebih tenang—menunggu dengan sabar jawaban telepon dari Mira.


Tok Tok Tok


“Tuan, pihak kepolisian ingin menelepon Anda.” beri tahu Hanisa mengetuk tak sabar pintu Dennis.


Sial, mendengar kata polisi ingin mengabarinya di saat seperti ini membuat Dennis jadi berpikir yang tidak-tidak, terlebih Mira sampai sekarang tidak bisa dihubungi.


Kesal dengan pikirannya sendiri, Dennis membanting ponsel miliknya ke lantai.


“Sambungkan pada ku!” jawab Dennis berteriak lantang, melampiaskan emosinya.

__ADS_1


Dennis sudah siap dengan mengangkat telepon kantor, ia menatap penuh amarah pada objek di depannya.


Tak lama, telepon pun sudah tersambung.


“Halo pak, selamat siang. Saya Satlantas Iptu Farris Ramadan mengabarkan bahwa di jalan Sangatta Besar telah terjadi kecelakaan besar. Istri dan kedua anak anda juga menjadi korban dari kecelakaan ini. Dimohon anda segera menuju ke Rumah Sakit Pandewunu, tempat anak dan istri anda dirawat.” beri tahu polisi tersebut.


Wajah itu nampak semakin lebih kalut dari pada apa yang ia pikir bisa. Tanpa berbicara apapun dari awal, Dennis segera mematikan telepon secara sepihak.


Hatinya bergetar tak sanggup membayangkan bagaimana keadaan orang-orang yang sangat ia cintai itu.


Dennis berjalan cepat menuju pintu ruang kerjanya, ia membuka kasar pintu itu tanpa berniat untuk menutupnya kembali.


Di luar, Dennis langsung bertemu dengan Hanisa yang kebingungan melihatnya.


“Istri dan anak-anak ku kecelakaan.” jelas Dennis menjawab tatapan kebingungan Hanisa.


“Hoh...?”


Hanisa, Sekretaris Dennis itu nampak sangat terkejut dengan perkataan bosnya. Ia terdiam menatap kepergian Dennis yang sudah memasuki lift.


Sementara di lantai pertama, tiga-tiganya televisi di sana menyala dengan menayangkan berita terbaru, yaitu berita kecelakaan di jalan Sangatta Besar.


Itulah sepenggal perkataan dari sang Reporter, Dennis yang ketika mendengarnya pun menoleh dan menyimak. Namun ia segera kembali lagi berlari menuju mobil yang disediakan oleh perusahaan.


Dennis pergi, melintasi jalan yang penuh dengan genangan air hujan yang sangat lebat siang ini.


Dalam hati, Dennis bersumpah ini adalah ulah Eun Hyuk. Sungguh setelah ia nanti melihat keadaan Mira dan anak-anaknya, Dennis akan segera pergi ke Korea untuk menemukan si baj*ng*n Eun Hyuk itu.


Dennis percaya, mereka pasti akan baik-baik saja.


Setelah empat puluh menit dalam perjalanan, Dennis akhirnya sampai di rumah sakit Pandewunu. Ia melihat banyak mobil medis berjejeran membawa korban kecelakaan.


Dennis tak peduli, ia segera memasuki gedung rumah sakit untuk menanyakan keberadaan kamar Mira dan anak-anak.


“Aku suami Mira Jen, ayah Jennie Lucyana dan Hyeon Chul. Di mana aku hisa menemukan mereka?” tanya Dennis langsung pada Resepsionis.


Wanita Resepsionis itu nampak terkejut bercampur kebingungan melihat Dennis yang tiba-tiba seperti ini, ia lalu menyiapkan sebuah map berisi daftar khusus korban kecelakaan hari ini.

__ADS_1


“Pasien Hyeon Chul masih di operasi tuan, sedangkan pasien Mira sedang menjalani masa kritis. Untuk pasien Jennie, ia sudah dipindahkan ke kamar PICU, tuan.” jelas Resepsionis itu langsung, dan itu yang diinginkan Dennis.


“Hyeon Chul dioperasi? Lalu, di mana kamar PICU?” tanya Dennis lagi mencoba menormalkan rasa terkejutnya..


“Mari saya antarkan ke kamar PICU, pak.” ajak seorang Perawat yang kebetulan lewat.


Dennis menoleh pada perawat tersebut, ia langsung mengangguk pasti menyetujui ajakan baik sang Perawat.


Mereka lalu segera pergi memasuki sebuah lorong besar, setelah 3 kali melewati jalan yang berbelok-belok akhirnya Dennis sampai.


“Ini pak ruang PICU, kalau begitu saya tinggal, ya.” ujar Perawat tersebut halus.


“Ya, terima kasih banyak.” sahut Dennis.


Ia segera memasuki deretan kasur single yang tiap kasurnya mempunyai gorden itu, Dennis dengan serampangan membuka pelan hanya ingin mengintip apakah ada anaknya.


Setelah 4 kali Dennis membuka-tutup gorden seseorang tanpa izin, ia akhirnya menemukan Jennie yang nampaknya setengah sadar. Jennie mengaduh lirih dengan mata yang hampir tertutup.


“Jennie!?” seru Dennis lalu segera duduk di dekat anaknya yang tidak mempunyai luka apapun.


“Ayah? Ayah~.” kata Jennie sedikit melebarkan matanya.


Dennis mendekatkan wajahnya pada Jennie yang begitu senang melihatnya ini. Tak terasa, air mata mengalir membasahi pipi Dennis.


“Iya, nak. Ada yang sakit `kah?” tanya Dennis lembut.


Jennie pun mengangguk dengan bibir yang bergetar.


“Iya, lengan dan kepala ku sakit berdenyut.” beri tahu Jennie menangis.


Dennis tak kuasa ia berkali-kali mengusap kasar mata dan pipinya.


“Sabar, nak. Ayah akan minta Dokter untuk meredakan rasa sakit mu, ya.” sahut Dennis menggenggam erat tangan mungil nan dingin Jennie.


“Dokter!” panggil Dennis melihat seorang Dokter pria yang sedang berbicara ringan dengan pasien lain.


“Iya?” tanggap Dokter itu menoleh tanda tanya pada Dennis.

__ADS_1


“Anakku kesakitan, tolong beri dia obat pereda rasa sakit lagi.” pinta Dennis terdengar memerintah.


__ADS_2