
“Baiklah, sekarang cepat makan!” perintah bibi Oh berlalu pergi meninggalkan Hyeon Chul yang masih mengutak atik makanannya.
*
“Ibu.” panggil Jennie kepada Mira yang menatap kosong kearah televisi.
Mira beberapa kali mengerjap hingga ia menoleh pada Jennie yang menatapnya heran.
“Eum? Ada apa?” tanya Mira setelah berhasil menormalkan suaranya.
“Ini sudah jam 1 siang, aku lapar.” gumam Jennie lirih sambil membelai perutnya di akhir kata.
“Oh, baiklah. Kau ingin ibu masak apa?” tanya Mira lebih condong pada Jennie.
“Eum, aku tidak ingin makan disini. Aku ingin makan diluar.” kata Jennie menatap Mira dengan tatapan memohon.
Mira tersenyum lalu mematikan TV acara talk show yang baru mulai jam 1 ini. Sebenarnya Mira sangat menyukai acara talk show itu namun permintaan anaknya lebih berharga dari acara komedi itu.
“Baiklah, ayo!” kata Mira menarik tangan Jennie yang mengikutinya dari belakang.
Tapi Mira rasa ada yang kurang darinya, Mira segera menghentikan langkahnya lalu berbalik kearah Jennie.
“Ibu belum membawa dompet! Juga belum cuci muka, sebentar sayang.” kata Mira lalu berjalan meninggalkan Jennie yang menatapnya dengan kesal.
Mira segera membuka pintu kamar dan pandangan pertamanya tertuju pada wajah tampan suaminya yang terlihat polos saat tidur. Tanpa sadar senyum Mira mengembang dengan tulusnya menatap Dennis yang sedang tidur.
Mira tersadar dari lamunannya tentang Dennis, lalu wanita dengan dress kuning bermotif itu segera melangkah kearah laci kamar berwarna pastel dan membukanya.
“Ah, dimana dompetku.” gumam Mira sepelan mungkin agar tak membuat suaminya terjaga.
“Mencari apa?”
Suara pelan tanpa berniat mengejutkan dari Dennis mampu membuat Mira terlonjak kaget.
Pelan-pelan Mira menoleh takut pada Dennis yang menampilkan wajah kusamnya dengan rambut berantakan.
“Eum, dompet milikku. Aku lupa apa aku menaruhnya disini atau tidak. ” jawab Mira lirih hingga Dennis harus mendekat pada Mira agar mendengarnya.
“Dompet mu? Kau benar benar ceroboh. Memangnya kau ingin pergi kemana?” tanya Dennis terdengar sedikit marah dan kesal dari intonasinya.
“Jennie ingin makan diluar jadi aku membutuhkannya. " ucap Mira menunduk mengetahui kemarahan Dennis.
“Pakai uangku, tapi aku ingin mandi dulu.” gumam Dennis berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
__ADS_1
Mira mendongak menatap kepergian Dennis dengan tatapan terluka. Ia kembali terluka dengan sikap dingin Dennis.
“Dasar, pemarah! Dingin! Menyebalkan!” maki Mira dengan suara pelan nan rapuh, ia membenci sekaligus mencintai suaminya.
“Oh? Ayah ingin ikut?” tanya Jennie melihat Dennis yang sudah berpakaian santai dan rapi berjalan seiringan dengan Mira.
Dennis tersenyum tipis pada Jennie lalu segera menghilangkannya kembali.
“Iya, ibumu kehilangan dompet.” jelas Dennis menatap Jennie hangat dan jauh dari dingin dan acuh.
“Ah, begitu.” gumam Jennie menanggapi perkataan Dennis sedikit kaku.
“Euh! Baiklah ayo berangkat!” seru Mira setelah sampai pada Jennie lalu menarik tangan anak itu.
Tak pernah Mira bayangkan akan seperti ini pemandangan keruh keluarga kecilnya, suasana hening ini tak pernah Mira temukan pada keluarga sebelumnya. Bahkan mulut Jennie yang selalu berbicara atau bernyanyi dulu hanya diam saja.
“Kita akan kemana?” tanya Dennis masih berfokus pada jalan didepannya.
Mira dengan gerakan gelisah menghadap sekilas kearah Dennis yang berada disampingnya.
“Eum, itu! Makan tteobokki. ” jawab Mira menunjuk kesebuah restoran yang hanya menyajikan makanan khas Korea termasuk tteobokki .
Kembali, setelah Dennis mengerti arahan Mira tadi. Suasana mobil kembali hening sampai mobil kesayangan Dennis itu berhenti.
“Oh, ayah kenapa berhenti?” tanya Mira mengetahui jika mobil silver iini berhenti tepat didepan samping gerbang panti asuhan yang ditempati Hyeon Chul, seingat Mira.
Mira masih tak mengerti jawaban dari Dennis yang terburu-buru, Mira menoleh kearah Jennie yang juga menatapnya heran.
“Ibu keluar dulu, Jennie tetap disini.” kata Mira lugas kepada Jennie yang mengangguk menuruti perintah ibunya.
Mira mengernyit melihat suaminya sepertinya tengah berbicara dengan seorang anak kecil.
Mira semakin mendekat ingin tahu siapa anak kecil itu karna tubuh kecil bocah itu tertutupi dengan punggung kokoh Dennis.
“Hyeon Chul.” gumam Mira setelah tepat disamping Dennis yang berjongkok.
Hyeon Chul sontak menoleh pada Mira takut, dengan cepat Hyeon Chul berdiri dari duduknya ditanah dan membungkuk hormat pada Mira yang ia kenal adalah sosok yang pemarah.
“Eum, jadi bisakan?” tanya Dennis melanjutkan pembicaraan yang sempat terpotong karna datangnya Mira.
“Aku tidak bisa paman. Mereka bahkan tadi malam menghampiriku lewat mimpi.” jawab Hyeon Chul setelah menegakkan punggungnya kembali.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Mira tak mengerti arah pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Jadi kalau begitu, apa kau ingin makan bersama kami dikedai itu?” ajak Dennis sambil menunjuk restoran diujung jalan, seraya mencoba mengambil simpati dari Hyeon Chul.
Dennis sekarang percaya akan apa yang diceritakan dan dialami keluarganya dinegeri ini.
“Euh, apa Jennie ikut?” tanya Hyeon Chul setelah beberapa waktu berfikir.
Dennis mengangguk membetulkan pertanyaan Hyeon Chul yang bergantung pada Jennie.
“Kenapa mereka lama sekali.” lirih Jennie sesudah menghembuskan napas kesalnya.
Tak berapa lama ketiga pintu mobil dari arah depan dan samping Jennie terbuka memberi peluang ketiga anak manusia itu untuk masuk. Jennie tentu terkejut atas kehadiran Hyeon Chul yang mulai menempati posisi kursi disampingnya.
“Kenapa kau disini?” tanya Jennie tak langsung dijawab oleh Hyeon Chul karna lelaki itu sibuk menarik sabuk pengaman disampingnya.
“Kalian berteman, kan? Apa salahnya jika kita makan bersama?” terang Dennis melirik kedua bocah kebelakang.
“Jennie kenapa kau tak pakai ini?” tanya Hyeon Chul mengarahkan jari telunjuknya pada sambuk pengaman yang ia gunakan.
Jennie menoleh sedikit kearah sabuk pengamannya sendiri yang tak ia pakai lalu mengedikkan bahunya.
“Itu barang yang tak penting.” jawab Jennie menatap remeh sabuk pengaman itu.
Hyeon Chul sedikit berdecak melihat penuturan Jennie yang menurutnya salah.
“Memangnya apa kau tahu nanti akan ada kecelakaan atau tidak? Semua itu bisa terjadi dimana saja, karna itu selalu siaga menggunakan benda ini.” jelas Hyeon Chul panjang dan tak lagi membuat Jennie buka suara.
Jennie mengangguk mengerti karna ia sekarang tahu keuntungan apa jika ia menggunakannya walau Hyeon Chul tidak menjelaskannya secara langsung. Dan ternyata bocah umur 9 tahun ini begitu pandai berbicara.
Dennis tersenyum kecil mendengar semua percakapan berbahasa Korea itu, mereka benar-benar sudah dekat seperti kakak-adik.
“Sudah sampai!” seru Dennis dengan Bahasa Koreanya ia memberi tahu pada 3 orang disana.
*
“Terima kasih paman!” ungkap Hyeon Chul membungkuk hormat pada keluarga Jennie didalam mobil itu.
Tak lama setelah itu mobil silver itu melesat pergi membelah jalan sepi tersebut. Hyeon Chul sama-sekali tak ingin menghapus senyum kebahagiaanya karna rasa harmonisnya sebuah keluarga ia dapatkan kembali. Walaupun hanya sesaat.
“Waha! Lihat siapa yang pulang! Dari mana saja kau?” tanya kepala panti asuhan itu dengan wajah sinisnya.
“Apa kau sudah punya orang tua baru? Sana bersama mereka! Jangan meminta makan lagi dariku!” perintah wanita itu berteriak hingga terdengar disudut halaman utama bangunan kusam ini.
Hyoen Chul merasa begitu takut, ia rasa telinganya begitu panas dan matanya terasa berair. Ia mencoba mendongak walau ketakutan masih terpancar dimata anak itu.
__ADS_1
“Aku tadi hanya makan bersama saja.” jelas Hyeon Chul dengan suara bergetar ketakutan.
“Ya, kalau begitu jangan makan malam nanti dan kau tak akan dapat jatah makan besok!” tutur wanita itu segera berjalan cepat memasuki mobil mewahnya dan berniat pergi meninggalkan panti asuhan.