Rumah Petaka

Rumah Petaka
Mira Sendirian Di Rumah


__ADS_3

“Tidak, bukan itu.”


Akhirnya Jennie berbicara, tidak ingin ada kesalah pahaman di permasalahan ini.


Ketiga guru itu pun terhenyak ketika Jennie akhirnya berbicara, namun mereka makin penasaran apa yang membuat Jennie menangis.


“Lalu, apa yang membuat Jennie menangis? Heum?” tanya guru Jennie lembut.


“Jennie, tadi melihat hantu.” jelas Jennie ketakutan.


Gadis kecil itu masih mengingat bagaimana mengerikannya aura sosok wanita berjubah putih itu.


Guru-gurunya sontak terkejut, mereka menatap tak percaya pada Jennie.


“Sungguh? Di mana sayang?” tanya guru Jennie penasaran sekaligus ketakutan.


“Di ruang wastafel.” jawab Jennie pelan.


Jennie sulit memberi tahukan ini pada gurunya, ia takut hantu yang lain akan mendengarnya.


Tiga guru itu saling memandang, mereka tidak tahu harus apa.


“Jennie, jangan takut ya? Jennie harus tahu, anak kecil itu sering berimajinasi jadi mungkin itu hanya imajinasi Jennie.” kata guru pria itu menenangkan.


Jennie menggeleng keras, ia tak mau mengakui perkataan gurunya tentangnya. Jennie tidak mungkin berimajinasi seburuk itu.


“Tidak, Jennie tidak berimajinasi hal yang seperti itu!” bantah Jennie melengkungkan bibirnya ke bawah.


“Eum? Agar Jennie tidak takut lagi. Ayo pergi ke kelas, bertemu dengan teman-teman Jennie.” ajak Marissa mengangkat tangan Jennie.


Bocah perempuan itu pun menurut saja. Namun sebelum pergi, Jennie harus pamit dahulu pada kedua gurunya.


Jennie dan Marissa berjalan bergandengan tangan, entah mengapa mata Jennie tidak bisa lepas dari memandang lokasi taman.


Jennie berpikir keras akan jawaban dari pertanyaan dirinya sendiri mengapa ia terus memandang taman, hingga ia ingat tentang es krim-nya.


“Ah, bu. Aku masih punya es krim di taman!” seru Jennie menghentikan langkah Marissa.


“Es krim? Di mana?” tanya Marissa kebingungan.


“Di bangku taman! Ada kakak ku Hyeon Chul di sana, bu.” beri tahu Jennie melompat rendah berantusias.


Marissa mengangguk.

__ADS_1


“Baiklah, hati-hati ya.” peringat Marissa melepaskan Jennie.


Muridnya itu mengangguk pasti, Jennie segera berjalan kembali ke taman.


“Es krim-ku.” gumam Jennie berlari cepat menuju deretan bangku taman.


Akhirnya Jennie melihat kedua orang itu yang sedang mengobrol, tapi ia tidak mau peduli. Yang ingin ia tahu adalah bagaimana keadaan es krim-nya.


Jennie kemudian mendekat, ia melihat es krim-nya yang sudah meleleh—menetes banyak ke bawah. Mengetahui itu pun membuat Jennie kesal, entah tidak tahu harus kesal pada siapa.


“Es krim-ku!” seru Jennie merebut es


krim-nya dari tangan Hyeon Chul.


Jennie menatap lekat es krim-nya, ia sedih telah meninggalkan es krim-nya begitu lama hingga menetes begitu banyak.


Hyeon Chul pun prihatin melihat wajah sembab memang sehabis menangis dari Jennie.


“Jennie, beli lagi saja, ya.” saran Hyeon Chul tak mau Jennie menangis.


Sebenarnya Jennie menyetujui saran Hyeon Chul, namun ketika ia melihat Majearn entah mengapa ia jadi berubah pikiran.


“Tak apa, aku akan memakannya.” balas Jennie.


Ia lalu duduk di tengah-tengah kedua anak laki-laki itu. Hyeon Chul yang melihatnya pun kemudian beranjak dari duduk.


Jennie tanpa ingin tahu mengapa segera menuruti perintah Hyeon Chul, karena ia ingin menceritakan apa yang terjadi di toilet.


“Jennie, kenapa tadi lama sekali?” tanya Hyeon Chul khawatir.


Jennie bersemangat, pertanyaan Hyeon Chul ada hubungannya dengan apa yang akan ia ceritakan.


“Iya kak, tadi...aku...bertemu dengan...hantu.” jelas Jennie masih ragu-ragu.


Majearn dan Hyeon Chul tentu terkejut, mereka bersorak berbarengan.


“Hantu?!” seru Majearn dan Hyeon Chul bersamaan.


Jennie kini yang semakin terkejut, ia spontan menepuk kedua paha Hyeon Chul dan Majearn.


Kedua anak laki-laki itu mengaduh sambil mengelus cepat berkali-kali pahanya yang lebih tepatnya ditampar oleh Jennie.


“Ish! Jangan keras-keras! Bagaimana ada hantu lain yang mendengar.” peringat Jennie gemas.

__ADS_1


“Memangnya hantu apa?” tanya Majearn tak peduli pada rasa sakitnya.


Jennie terdiam melihat situasinya yang sebenarnya sedang ribut di sekitar, tapi ia dapat merasakan kesenyapan di bangku ini.


“Hantu...wanita dengan kaki tinggi, bajunya putih sedikit kusam dan rambut panjang yang berantakan.” jelas Jennie memang ia buat se-misterius mungkin.


Kriiing!


Namun hampir saja Jennie akan memulai cerita, tapi bel sekolah sudah berbunyi, menandakan mereka harus segera memasuki kelas.


“Ah!” pekik gemas Jennie.


“Ya, sudah. Jennie ceritanya sepulang sekolah saja, ya.” ujar Hyeon Chul mengelus punggung Jennie.


Terpaksa, Jennie mengangguk meng-iyakan perkataan Hyeon Chul. Mereka lalu kompak berdiri.


“Kakak pergi, ya.” pamit Hyeon Chul.


Jennie pun hanya berdehem. Hyeon Chul lalu pergi, sementara Majearn segera menarik tangan Jennie agar mereka tidak terlambat masuk kelas.


Sementara, di rumah.


Mira kini terdiam duduk di teras rumah, ia yang hanya memegang ponsel pintar itu. Mira tidak berani untuk memasuki rumah ini, ia akan terus berada di sini sampai anak-anaknya nanti datang.


Beruntung Mira selalu membawa ponselnya ke manapun ia pergi. Karena itu, segera setelah dirinya dicekik oleh sosok kakek tua, Mira cepat-cepat mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dan berlari keluar rumah.


Dari pagi tadi setelah kejadian itu, hingga siang ini Mira sudah mencoba menelepon Dennis, namun pria itu tidak juga menjawab teleponnya. Sekarang Mira lapar, ia tahu masih ada makanan di dapur namun ia takut jika sosok menyeramkan itu muncul lagi.


Huft, tidak ada pilihan lain. Mira harus makan di luar rumah dekat kompleks ini.


“Hah,” desah kesal Mira berdiri.


Ia lalu berjalan menyusuri kompleks perumahan ini sampai keluar dari sini. Dengan sapaan terlebih dahulu dari para penjaga kompleks Mira akhirnya dapat menemukan sebuah tempat makan.


Di sana Mira terus saja menelepon Dennis, Mira berjanji, jika sampai Dennis tidak menjawab teleponnya di pukul 12:50 siang, maka ia akan mendiami Dennis sampai dua hari.


Hingga akhirnya Mira selesai memakan dan selesai membayar lewat ponsel pintarnya, Mira cepat-cepat menelepon kembali Dennis.


Kini Mira sedang berjalan kembali di trotoar menuju rumah neneknya yang berhantu itu.


Tidak sampai 2 detik Mira menunggu, Dennis sudah membalas panggilannya.


“Halo sayang, wah! Ada apa menelepon ku sampai 41 panggilan tak terjawab?” tanya Dennis terkekeh di akhir perkataannya.

__ADS_1


Berbeda dengan tawa Dennis, di sini, di jalan yang panas karena terik matahari siang bolong ini Mira sedang kesal atau lebih tepatnya marah pada Dennis.


“Dennis!!”


__ADS_2