Rumah Petaka

Rumah Petaka
Hyeon Chul Punya Keluarga Baru


__ADS_3

“Ibu!” teriak Jennie membuka pintu kamarnya dan melihat kebawah pada kedua orang tuanya yang dengan spontan menjauhkan tubuhnya masing-masing.


“Ayo kita pergi!” kilah Hyeon Chul keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekati sepasang suami-istri itu.


“Hm? Tapi, Jennie cepatlah mandi!” pinta Dennis mencoba menetralkan gerakan tubuh dan suaranya yang terdengar terbata.


“Kaos biru tosca milikku dimana? Aku ingin memakainya.” sambung Jennie memasang wajah masam sambil menyandarkan dagunya dipegangan tangga.


“Eum, sini ibu bantu.” jawab Mira segera meninggalkan Dennis—menyusul Jennie yang kembali berjalan kekamarnya.


Sementara Dennis menoleh pada Hyeon Chul yang sibuk mengeringkan rambutnya. Pria itu tersenyum lembut pada Hyeon Chul karna bocah lelaki itu sudah bisa beradaptasi dengan keluarga kecil ini.


Dennis berjongkok ingin leluasa melihat wajah Hyeon Chul yang menunduk sambil tangannya menggesekkan handuk kecil biru di atas rambutnya yang basah. Merasa seseorang memperhatikannya Hyeon Chul mendongak lalu tersenyum simpul pada Dennis yang lebih dulu tersenyum padanya.


“Sudah selesai? Cepat ke atas, ganti bajumu.” kata Dennis sambil membelai rambut seleher Hyeon Chul hangat.


Namun untuk anak laki-laki yang seumuran Hyeon Chul, bocah itu tak terlalu suka diperlakukan sedemikian—anak itu pun segera mengelak tangan Dennis dengan menggelengkan kepalanya ke arah berlawanan dari tangan Dennis, lalu ia segera pergi meninggalkan ‘Ayah barunya’ itu yang hanya berdiam diri dengan air muka tersakiti.


*


“Hwa! Neomu joha! (Aku sangat menyukainya)." pekik Jennie saat melihat hamparan cahaya dari atas ‘Namsan Tower’ dimalam hari ini.


Tentu saja ia sangat senang karna ini adalah kali pertamanya melihat kemerlip cahaya berwarna-warni itu.


“Oh ya, ayah! Tolong foto kami!” pinta Mira memberikan ponsel merah jambunya pada Dennis yang mengiyakan permintaan Mira.


“Kimchi!” seru Dennis saat memotret pemandangan di belakang istrinya, Jennie dan Hyeon Chul.


“Bagaimana?” tanya Mira segera menghampiri Dennis lalu melihat layar ponselnya yang mengeluarkan gambar dua bocah disetiap sisi tubuh Mira.


Mereka tersenyum bersama menggambarkan jika mereka sangat bahagia berada disini.


“Ayah tidak boleh ikut berfoto?” tanya Dennis dengan wajah lesunya memandang Jennie dan Mira bergantian.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya tertawa bersama kecuali Hyeon Chul, dan pada akhirnya Dennis dengan masih menggunakan ponsel istrinya ia berswafoto dengan keluarga kecilnya yang berada dibelakang.


“Baiklah, ayo pergi.” ucap Dennis mengajak istri dan anaknya untuk segera pulang.


Namun sepertinya Jennie tak segera beranjak dari sana, pandangannya masih tertuju pada sebuah restoran yang berada di ‘Namsan Tower’ ini. Merasa ada satu seorang lagi yang tak mengikutinya, Dennis berbalik dan melihat Jennie yang memandangnya lesu lalu kembali ke arah restoran itu.


“Jennie- “


“Aku ingin makan di sana.” sela Jennie pada Dennis sambil menunjuk restoran mewah dan mahal di seberang sana.


Dennis menghela napas mendengar penjelasan Jennie yang akan membuatnya bisa kehilangan kertas tebal berharga di dompetnya, uang. Memang Dennis akui dia adalah pria yang sangat pelit, bahkan pada anaknya sekalipun.


“Sayang, ayah tak punya uang banyak untuk kita makan di sana. Di rumah saja yah?” ujuk Dennis memelas meminta Jennie untuk lebih mengerti keuangannya.


“Kenapa masih di sini? Jennie, ayo pergi.” kata Mira melangkah mendekat pada suami dan anaknya ini. Mendengar suara ibunya, Jennie segera berlari cepat mengadu dengan wajah sedih dan marahnya.


“Ibu, ayah melarangku untuk pergi ke sana. Kenapa ayah pelit sekali?” adu Jennie menarik-narik telapak tangan Mira yang mengerut mendengar aduan kekanakan Jennie.


Dennis memang pria yang hampir tak berbeda sifatnya dengan Jennie. Namun jika harus berhadapan dengan istrinya, Mira lah yang harus lebih dominan dari siapa pun. Karena itulah yang ia pikir sebagai seorang suami sejati.


Namun sepertinya perkataan Dennis malah semakin membuat Mira ikut murung dengan alasan suami malas, manja dan pelitnya ini. Terlintas di kepala Mira sejenak, membuat wanita itu tersenyum jenaka pada Dennis yang sudah gelisah. Ia pun menghela napas.


“Baiklah, kita akan makan di sana dengan uang ibumu, nak.” tanggap Mira menoleh pada Jennie yang terlonjak senang. Namun perkataan Mira membuat beban Dennis semakin menambah.


“Tidak, tidak, tidak!” sela Dennis secepat mungkin membuat Jennie menoleh tak suka padanya. Terdiam sesaat, akhirnya Dennis kembali yang menyerah.


“Baiklah, sepertinya ayah punya uang lebih.” sambung Dennis setelah menghembuskan napas iklas uangnya raib dalam waktu seharian.


Pernyataan Dennis tentu saja disambut senang oleh kedua wanita kompak itu. Mira tersenyum puas dengan derita yang Dennis buat sendiri.


“Yeay! Ayo makan!” seru Jennie menarik tangan Mira menuju tempat restoran itu.


Namun tubuh Mira tetap berada di tempat mengingat sesuatu yang hilang dari mereka.

__ADS_1


“Hua!” tangis seorang anak laki-laki di belakang mereka, Hyeon Chul. Dennis dan Mira kompak menoleh pada Hyeon Chul yang tangisannya ia buat-buat.


“Waegeu-rae Hyeon-ah? (Ada apa, Hyeon?)" tanya Dennis pada Hyeon Chul yang segera menjelaskan pertanyaan dari ayahnya.


“Kalian mengacuhkan ku.” jawab Hyeon Chul dengan wajah cemberutnya.


Membuat kedua orang tua itu terkejut mengetahui kelalaian mereka sebagai seorang ayah dan ibu.


“Hahaha, geurae kkaja boggo. Hyeon Chul-ie(Baik, ayo kita makan. Hyeon Chul sayang)"seru Dennis menarik lengan Hyeon Chul.


Mereka pun menuju ketempat tersebut dengan perbincangan disela perjalanan mereka.


*


Perjalanan mereka berakhir, hingga sesampai di rumah Jennie terheran. Pada saat ia dan ibunya sudah turun, ayahnya malah kembali memacu mobil sedan itu keluar dari lingkup gerbang rumah.


“Ibu,” panggil Jennie lirih pada Mira yang hanya berdehem menjawab panggilan anaknya.


“Kenapa ayah pergi lagi? Ayah akan kemana bersama Hyeon Chul? Kenapa aku tidak di ajak? Aku juga ingin bersama mereka.” tanya Jennie bertubi-tubi membuat Mira menghela napas.


“Jennie temani ibu di rumah saja, ya? Ayah dan kak Hyeon akan ke panti asuhan mengurus surat kepindahan kak Hyeon Chul. Tak ada jalan-jalan lagi.” jawab Mira menampung pipi Jennie memberikan jawaban yang tak boleh dibantah kembali oleh gadis kecilnya.


“Eum, baiklah. Aku juga sudah mengantuk.” tanggap Jennie sambil berjalan gontai menuju kamarnya.


Mira menatap prihatin pada anaknya yang bisa saja jatuh dari tangga, dengan langkah kaki yang tak memperhatikan jalan.


“Heuh, Jennie hati-hati.” peringat Mira lalu ia segera duduk disofa panjangnya—menunggu kedatangan Dennis dan Hyeon Chul.


Pandangannya teralih pada jam dinding yang menunjukkan pukul 11:44. Sebenarnya Mira sudah lelah dan mengantuk, namun ia harus menyambut kedatangan Dennis. Tak lama setelah Mira hampir saja menutup kelopak matanya, pintu rumah terbuka membuat wanita itu segera beranjak dari duduknya. Ia melihat Dennis yang membawa Hyeon Chul di atas pangkuan lengannya, dengan kepala bocah itu bersandar di bahu Dennis.


Pria itu cepat-cepat menunjukkan jari telunjuknya tepat di depan mulut, menandakan Mira harus pelan bersuara jika tak ingin membuat Hyeon Chul terjaga.


“Ouh? Kenapa lama?” tanya Mira mengikuti Dennis yang melangkah membawa Hyeon Chul kekamar bocah itu.

__ADS_1


“Benarkah? Tidak juga. Mungkin lama karna tadi aku mengurus berkas kepindahan Hyeon Chul, jadi aku tidak melihat waktu.” kata Dennis meletakkan tubuh Hyeon Chul pelan di ranjang.


__ADS_2