Rumah Petaka

Rumah Petaka
Suasana Desa Jinan


__ADS_3

Dua mobil sudah disiapkan untuk perjalanan menuju Desa Jinan. Komandan Besar Jun Pyung memerintahkan 12 orang dari kepolisian Daegu untuk ikut dalam rencana penangkapan Eun Hyuk.


Total, ada enam belas orang termasuk Jun Pyung pergi menuju desa Jinan tersebut. Karena jalan yang terjal dan berliku, pengemudi sangat berhati-hati menjalankannya dengan cara memelankan laju mobil. Alhasil, perjalanan menuju Jinan diprediksi memakan waktu 7 jam lamanya. Sungguh, tidur di mobil itu tidak enak rasanya.


Dennis di mobil kepolisian Seoul kini tidak tertidur seperti yang sebelumnya, ia sibuk mengirim pesan pada Mira dan sesekali melihat ke jendela, memandang indahnya pohon-pohon yang hijau sehat segar.


Namun, ketahanan daya terjaga Dennis dari rasa mengantuk hanya berdurasi 2 jam. Ia berusaha sekuat apapun untuk tetap melebarkan matanya pun tidak ada hasilnya.


Dennis tertidur dengan musik rock dan metal yang masih berputar lewat earphone di telinganya. Sesungguhnya Dennis tidak suka musik berisik itu, ia hanya ingin membangunkan saraf otaknya yang semakin melemah butuh asupan rebahan.


Enam jam empat puluh tujuh menit setelah perjalanan ke Desa Jinan berlangsung...


Aroma embun dan pepohonan segar menyerbu indra penciuman manusia di sana, wajah lelah itu tiba-tiba terlihat lebih tenang karena mencium aroma yang hampir tidak pernah mereka cium.


Para manusia yang tertidur pun dibuat terbangun dengan nyamannya karena aroma dan hawa menyejukkan ini. Ya, bagai di atas pegunungan.


Dennis terbangun, matanya langsung mencari sumber aroma yang sangat segar tak tersentuh terik matahari dan polusi ini.


Di luar kaca jendela mobil yang transparan, Dennis melihat di seberang sana terdapat bukit yang dipenuhi pepohonan lalu di antara bukit tersebut dengan jalan yang ditelusuri mobil ini ada tanah yang lebih rendah hingga Dennis harus menunduk untuk melihat dangkalnya.


Dennis tidak tahu apakah jalan di depan benar-benar ada sebuah desa, karena yang Dennis lihat hanyalah pohon berbatang rendah dan tangkainya yang menopang dedaunan menunduk jatuh menyentuh jalan.


“Ini desa Jinan?” tanya Dennis takjub terpana melihat ke depan.


Tak mau mensia-siakan keadaan, Dennis dan para orang-orang di sana tak henti-hentinya menghirup udara sesegar yang pernah mereka rasakan ini.


“Ya, selamat datang di desa Jinan. Desa yang mensurvei 97 persen warganya bahagia, 100 persen anak-anak sekolah, dan 0 persen warga yang memiliki gawai. Oh! Dan enam puluh persen konservasi hutan.” jelas pengemudi yang berprofesi polisi itu nampak sangat tahu.


Orang lain yang mendengar pun hanya mengangguk bodoh menyimak secara seksama apa yang dikatakan si pengemudi.


“Hebat, ya. Mereka bukan sebuah suku, tapi mereka begitu dekat dengan alam.” gumam polisi lain memandang takjub rindangnya pepohonan dengan senyum tipis.


“Oh, mereka tidak perlu kiriman bahan makanan dan pakaian dari pemerintah. Karena hidup mereka dengan alam membuat alam pun memberikan apa yang tiap tanaman hasilkan.” lanjut polisi itu sambil mengemudi.

__ADS_1


Dennis berdecak kagum.


"Ck! Luar biasa. Berikanlah alam apa yang harus mereka terima, maka alam akan memberikan umat manusia hasilnya.” gumam Dennis dalam bahasa Indonesia dengan lirih.


Ya, pernahkah kalian merasa? Saking terpukaunya orang akan sesuatu, mereka akan berbicara dengan bahasa asli daerah mereka sendiri.


Lima belas menit kemudian, sebuah rumah pun akhirnya terlihat, lalu jarak sekitar dua belas meter kemudian satu rumah lagi tertampilkan.


“Ini desa Jinan?” tanya Dennis lagi membuat ia sendiri merasa de javu.


“Tuan Dennis, kami sudah memesan rumah untuk kita menginap di sini. Rumahnya bagus, Anda pasti akan nyaman.” ujar Jun Pyung hanya sekedar memberi tahu.


Dennis pun mengangguk.


“Aku di sini bukan untuk berlibur.” balas Dennis menatap lekat pedesaan ini.


Sementara Jun Pyung terdiam malu.


Tentu saja warga di sekitar yang melihat dua mobil itu terlihat sangat kebingungan dan menatap mobil dan orang-orangnya aneh.


Setelah beberapa menit mobil berjalan, akhirnya mereka telah sampai di penginapan murah yang bergaya kuno tersebut.


Semua orang keluar dengan pandangan takjub pada rumah panjang dan besar di depan mereka ini.


“Wow, rumah besar yang artistik dengan sewa murah. Kalau diberi libur, aku akan kembali ke sini.” ujar salah satu polisi turun dari mobil dan menatap mendetail struktur bangunan rumah ini.


Dennis pun ikut turun dengan tatapannya yang terus memperhatikan dua sungut bagai tanduk kambing yang berada di ujung atas rumah.


“Heum, illuminati?” ujar Dennis dalam hati.


Namun tentu saja kecurigaannya hanyalah bahan lelucon atau kabar terlintas cepat di otaknya. Ia hanya mengada-ada saja.


Mereka lalu berjalan bergerumul memasuki rumah besar nan kuno dari kayu ini.

__ADS_1


Tidak bisa tidak takjub oleh pemandangan ini, mereka serasa sedang berada di dunia imajinasi alam. Di mana semua yang mereka lihat di desa Jinan ini hanyalah indahnya hayati.


Polisi tersebut terus mengangkat-angkat ponselnya, lalu menepuk keras ponsel tersebut dan berbagai cara lain untuk menyampaikan keinginannya.


“Di.. Sini... Tidak ada sinyal!!?” pekik polisi tersebut menatap dengan wajah yang tidak bisa ditolelir.


Dennis menoleh dan baru sadar akan hal itu.


“Dan tidak ada listrik?!” tanya salah satu polisi melihat tidak ada sambungan kabel yang terlintas di dinding.


Dennis terdiam, ia bingung harus apa.


“Lalu bagaimana mendapat informasi mengenai Eun Hyuk?” tanya Dennis akhirnya.


Sungguh, ingin pecah kepala Jun Pyung mendengar suara Dennis yang selalu mengkhawatirkan soal penangkapan Eun Hyuk.


“Tuan Dennis tenanglah, ada HT (Handy Talky) untuk melancarkan pencarian ini.” jelas Jun Pyung tenang.


Dennis melirik ke bawah, ia mulai sekarang hingga diwaktu yang belum ditentukan ini harus hidup tanpa ponsel. Sebelum mengikhlaskan ponselnya nanti mati, Dennis harus memberi tahu terlebih dahulu pada Mira.


“Heuh.” lirih Dennis pasrah.


Jun Pyung melirik pada wajah kesusahan Dennis, rupanya masih ada rasa kesal mengingat dirinya yang dihina oleh Dennis beberapa jam yang lalu.


“Bagaimana tuan Dennis? Penangkapannya di malam hari ini juga agar anda bisa cepat-cepat keluar dari Jinan dan mengisi daya ponsel anda?” tanya Jun Pyung dengan wajah berusaha tidak terlihat mengejek.


Dennis melirik sarkas pada Jun Pyung, lalu tersenyum miring.


“Sungguh tak punya akhlak bapak Komandan Besar ini.” gumam Dennis dalam hati dengan seringaian di bibir pada Jun Pyung.


“Ya, cari tahu keberadaan Eun Hyuk sekarang juga dan tangkap dia secepatnya.” balas Dennis tak apa bertaruh jatah tidur demi menjadi budak egonya.


Jun Pyung menegangkan wajahnya mendengar tanggapan Dennis.

__ADS_1


“Oh, bagaimana Komandan Besar? Kau kan yang penanggung jawab tim ini, sementara tim-mu kelelahan. Karena usulan bagus tadi dari mu, bagaimana kalau kau saja yang mencari tahu?” lanjut Dennis tersenyum tipis.


“Ya, tak apa. Anda bekerjalah, kami ingin tidur dahulu.” sambung Dennis lalu berjalan memasuki lorong kamar yang berjejeran.


__ADS_2