Rumah Petaka

Rumah Petaka
Rahasia Terungkap


__ADS_3

Jennie terdiam tidak mengerti, ia melirik pada Mira yang lebih dulu memandangnya dengan tersenyum tipis menyambut.


“Ibu, apa maksudnya nenek mendengar? Memang nenek masih hidup?” tanya Jennie polos.


Treeng!


Alat masak alumunium tiba-tiba terjatuh, membuat semua perhatian menuju ke mangkuk alumunium itu.


Mira melepaskan pandangannya dari mangkuk alumunium itu dengan pelan, kembali menatap Jennie yang terdiam masih setia melihat keberadaan mangkuk yang terjatuh tiba-tiba.


“Ada, nenek sebelum naik ke langit dan ditanyai oleh malaikat, akan menetap dulu di rumah selama 42 hari.” jawab Mira seolah ingin menarik perhatian Jennie.


“Ooh,”


“Nenek berarti sedang medengarkan kita, ya bu?” tanya Jennie penasaran.


Mira tersenyum, ia lalu mengangguk mengiyakan pertanyaan Jennie.


“Jadi mulai Senin kalian bersekolah, ya?” kata Dennis memperingati.


Setelah melangsungkan acara makan malam yang biasa, Dennis dan keluarga segera kembali beraktifitas. Kini kerja baru bagi Mira, mengajarkan Hyeon Chul dan Jennie agar mereka bersiap bekal untuk sekolah nanti.


Hingga Hyeon Chul dan Jennie tidur dipukul 11 malam karena mereka terlalu larut dalam kesenangan belajar.


“Selamat tidur, sayang.” kata Mira lembut mengecup dahi Jennie dengan pandangan kasih sayang.


Mira lalu berjalan pelan menuju pintu kamar Jennie, ia menengok sekilas pada Jennie yang juga mengamatinya. Dengan senyuman tipis, Mira lalu berjalan keluar kamar kemudian menutup pintu itu.


Setelah keluar dari kamar, tujuan Mira tentu mengarah pada kamar miliknya dan Dennis. Sebenarnya, Mira hanya ingin mengecek apakah Dennis sudah tertidur. Dan ketika Mira melihat Dennis sudah terlelap tidur, Mira pun dengan hati-hati menutup kembali pintu kamarnya.


Dengan mengendap-endap bagai maling di rumahnya sendiri, Mira lalu menarik pintu kamar almarhumah neneknya.


Kreek!


Pintu hijau tua itu terbuka, mempersilakan Mira untuk melihat keadaan kamar neneknya. Cahaya dari luar kamar Ji Yong segera masuk ke dalam, hanya menyinari lantai dan tembok di depan Mira.


Pandangan wanita itu menyeluruh ke semua sudut-sudut kamar Ji Yong. Sedikit berbeda, kamar neneknya ini lebih terlihat 'buruk' dari terakhir ia datang.


Buku-buku tua yang rapi tersimpan di dalam kardus kini berserakan di sekitar kardus tersebut. Ranjang yang setiap harinya begitu tertata rapi sekarang cukup berantakan dengan selimut yang tersingkap dan sprei yang terlepas dari spring bed.


Udara di kamar Ji Yong begitu sempit, bahkan Mira harus mengambil napas sedalam-dalamnya. Mira lalu melangkah maju, melihat lebih detail barang-barang yang disimpan Ji Yong.


Mira berjalan menuju meja rias Ji Yong, ia melihat dirinya di kaca yang tidak terlalu nampak karena tidak ada pencahayaan lebih.

__ADS_1


Setelah tak tertarik melihat wajah buramnya, Mira lalu menunduk tak tahu bahwa ada sosok wanita di belakangnya yang terpantul kaca rias itu menggunakan dress merah dengan rambut yang sangat pendek ditambah acak-acakan juga mata yang tiga kali lebih lebar dari mata manusia biasa dan menyeramkannya—mata itu bercahanya merah sambil darah terus mengalir bagai air mata.


Mira sibuk mencari-cari barang yang mungkin saja Ji Yong sembunyikan di laci meja rias, namun ia hanya menemukan sebuah tusuk rambut dengan batu Giok kecil berwarna hijau di ujung tusuk rambutnya.


Mira mengamatinya, entah mengapa ia sangat tertarik pada Giok hijau itu. Namun, perlahan dari dalam batu itu nampak sosok-sosok manusia yang bergerak. Mira merasa ini tak mungkin terjadi, namun ia masih penasaran apa yang tergambar di dalam batu Giok itu.


Semakin mata Mira terjerumus masuk ke dalam, ia jadi tahu bahwa sosok manusia di dalam sana adalah kakeknya dan neneknya Ji Yong.


“Nenek, kakek?” gumam Mira


bergetar—menutup mulutnya tak percaya sekaligus merindukan mereka.


Kakek Mira itu sudah 6 tahun pergi meninggalkan mereka yang masih hidup, tentu saja Mira sangat terpukul akan kematian kakeknya yang tak disangka-sangka itu. Pasalnya kakek Mira meninggal karena hal yang ringan, yaitu terpeleset saat akan memasuki kamar mandi.


Mira mengernyit, ia kini melihat Ji Yong dan suami neneknya itu bergerak, bukan lagi bagaikan hanya sebuah gambar.


Tiba-tiba keadaan begitu sangat membingungkan, Mira terhempas mengapung di udara atau bisa disebut keadaannya kini tanpa grafitasi. Sekejap kedipan mata langsung membawanya ke tempat belakang rumah dengan dirinya yang masih mengapung di udara.


Mira kebingungan, ia tak lagi sedang memegang tusuk rambut, ia juga tidak lagi hanya memandang kakek dan neneknya di dalam batu Giok. Melainkan, kini Mira melihat sendiri pertengkaran nenek dan kakeknya yang ia tak tahu apa asal-usulnya bisa terjadi.


“***Kau tidak bisa melakukan hal seperti itu, Yong. Itu tidak baik, janganlah Kau menjadi orang yang tidak punya rasa empati.” kata kakek Mira menasihati lembut Ji Yong yang sedang memegang tusuk rambut hijau miliknya itu dengan kedua tangannya.


Ji Yong memandang tajam tak suka pada pendapat suaminya, ia kini sedang berada di dekat sumur sambil mengarahkan tusuk rambut itu pada tengah-tengah lubang sumur yang terbuka.


“Mereka bahagia? Dengan cara orang lain tak dikenal harus terambil nyawanya?” tanya kakek Mira sinis.


Ji Yong tidak terima, ia terdiam menatap suaminya garang.


“Sudah, Yong. Hentikan ritualnya.” perintah kakek Mira berjalan besar mendekati Ji Yong.


Nenek Mira itu menggeleng keras, ia tak mau usahanya sia-sia.


Dengan rasa frustrasinya menimbang siapakah yang harus ia pilih, Ji Yong kemudian menarik tangan kirinya dari genggaman tusuk rambut lalu mengarahkan telapak tangannya pada tubuh kakek Mira.


Melihat pergerakan aneh istrinya, kakek Mira berhenti melangkah. Namun sesaat cepat kemudian tubuh belakang kakek Mira terasa panas hingga ia mengernyit nyeri, lalu berlanjut dengan tubuhnya yang terhempas melayang ke udara menuju pintu kamar mandi hingga pintu itu terpaksa terbuka.


Tanpa memperdulikan keadaan suaminya, Ji Yong kembali melakukan ritualnya yang sedikit terganggu.


“Aakh!” teriak spontan Ji Yong tiba-tiba jatuh dari berdirinya.


Nampaknya ritual kali ini tidak berlangsung lancar, karena terlihat sekali sekarang dari wajah Ji Yong bahwa ia sedang marah.


Ji Yong lalu pergi mencari keberadaan kakek Mira dengan langkah lebar.

__ADS_1


Tentu saja Mira ketakutan, ia ingin menghalau kakeknya dari kemarahan neneknya yang pasti sangat menakutkan dengan kekuatan sihirnya. Namun apalah daya Mira yang hanya boleh melihat tanpa bersuara ataupun bergerak.


Kini Mira berganti posisi, ia sekarang sedang berada di atas dalam kamar mandi.


“Sadarlah, Yong.” kata kakek Mira parau sambil menahan batuk yang mengeluarkan darah.


“Hampir saja aku membunuh semua keluarga mereka, termasuk anaknya. Tapi Kau mengacaukannya! Kenapa bisa Kau sejahat itu padaku? Kau tidak boleh mengganggu akuuu!?! ” teriak Ji Yong nyatanya benar-benar marah.


Ji Yong menatap bengis kakek Mira yang masih berusaha berdiri, ia tanpa pikir panjang langsung mengucapkan mantra.


“La Eksperanyo Sin Con Azugar, La Eksperanyo Sin Con Azugar, La Eksperanyo Sin Con Azugar!” ucap Ji Yong mengulang-ulang mantranya.


Hingga dipengucapan Ji Yong yang terakhir, kakek Mira kembali bergerak dengan sendirinya hingga mampu bangkit. Bagai boneka, kakek Mira dimainkan oleh tangan Ji Yong yang bergerak-gerak mengatur pergerakan selanjutnya untuk suaminya sendiri itu.


“Ji Yong, sadarlah.” gumam Kakek Mira sudah tidak mampu lagi untuk mendongak terkejut.


Kakek Mira hanya menjatuhkan kepalanya lemas, dengan mata yang tertutup lemah.


“Salah sendiri Kau mendekati harimau yang sedang kelaparan.” gumam Ji Yong buta rasa.


Dalam waktu itu, Ji Yong sama sekali tidak teringat bahwa kakek Mira adalah suaminya. Ia hanya di rajai oleh setan yang penuh rasa amarah.


Kakek Mira meracau tak jelas merasakan sakit yang luar biasa di perutnya, ia rasa ada sosok makhluk yang kini sedang memakan organ-organ dalam perutnya.


Ji Yong merasa penyiksaannya cukup, ia sebenarnya hanya ingin memperlihatkan kehebatannya pada suaminya agar kakek Mira ini merasa takut.


Namun, kakek Mira terdiam saja. Ia bahkan tidak terlihat bernapas.


Menunggu ada reaksi walau pelan dari suaminya, namun sampai saat ini kakek Mira tetap terdiam. Ji Yong mulai khawatir, ia berjalan cepat menuju Kakek Mira yang tak bergerak itu.


Ji Yong masih yakin suaminya ini hanya menggertak saja, karena itu Ji Yong hanya melihat dan beberapa kali menepuk pipi kakek Mira.


Namun ini sudah terlalu lama bagi Kakek Mira untuk ber-istirahat, Ji Yong pun dengan rasa kepanikan menggoyangkan bahu suaminya itu kasar. Ji Yong tidak sampai berpikir kakek Mira meninggal, karena itu ia kemudian pergi meninggalkan suaminya tersebut.


Mira rasanya ingin berteriak meminta Ji Yong untuk kembali dan mengecek napas kakeknya, namun Mira hanya bisa menangis tersedu-sedu.


Mata Mira lelah melihat kejadian menyakitkan perasaan dan menakutkan itu, ia memejamkan matanya dan seketika itu Mira sudah kembali lagi ke kamar Ji Yong.


Mira lalu merasakannya, ia merasakan sedang duduk di kursi meja rias neneknya kembali. Mira lalu membuka mata dan melihat dirinya di kaca, terlihat matanya yang sembab karena terlalu banyak menangis.


Mira lalu mengusap kasar pipinya dari air mata, ia beranjak berdiri dari duduknya. Mira ingin segera keluar dari kamar ini, ia merasa jijik tiba-tiba dengan neneknya Ji Yong walau wanita tua itu sudah meninggal tapi auranya masih berada di kamarnya.


Setelah berhasil keluar dari kamar Ji Yong, Mira lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya.

__ADS_1


Mira melihat ke pintu kamar Dennis dengan dirinya, Mira harap Dennis tidak terbangun dan mencarinya.


__ADS_2