
“Heum, ayo temukan Eun Hyuk!” seru Jun Pyung mengepalkan tangannya ke atas dengan rasa bersemangat menggebu-gebu.
Dennis menatap tak percaya dengan polisi-polisi ini, ia tersenyum tulus lalu mengusap wajah merasa bersyukur karena mendapat pertolongan mereka yang maksimal. Sementara polisi-polisi itu berseru semangat hendak menangkap Eun Hyuk.
“Yah! Ayo!” lanjut Dennis senang bersemangat sambil mengepalkan tangannya dan menjunjungnya ke atas.
.
.
.
Mereka berbagi tugas, Dennis dan polisi dari Seoul yang bernama Jang Hyun Man mencari Eun Hyuk lewat warga sekitar, sementara kepolisian Daegu mencari Eun Hyuk dari sinyal pelacakan.
“Hah..” rintih Dennis terlihat letih sambil terduduk di bibir gazebo.
Tentu saja ia lelah, dari pusat desa sampai di pinggir desa Jinan Dennis dan Hyun Man telah mencari jejak keberadaan Eun Hyuk yang sampai sekarang tidak jelas di mana kepergiannya.
“Apakah begini sifat orang di desa?” lirih Dennis kesal dan lelah setelah duduk di gazebo.
Untunglah di sekitar tempat gazebo ini sangatlah sejuk dan damai, anak sungai yang berada di belakang gazebo mengalirkan air dengan pelan membuat suara gemercik air tawar itu begitu syahdu.
Jang Hyun Man, eksekutif kepolisian dari Seoul itu tersenyum tipis melihat Dennis. Dengan punggungnya yang bersandar di tiang kayu gazebo berwarna hitam ini, Hyun Man menjawab.
“Tidak, anda sendiri mendengar penjelasan dari kopral Se Hoon. Di desa Jinan memanglah orangnya dingin dan pendiam.” bantah Hyun Man tenang.
Dennis mengangguk tak acuh, ia tidak mungkin tidak tahu bagaimana orang-orang desa yang katanya begitu polos. Dennis hanya kesal saja, untuk pertama kalinya ia masuk kesebuah desa dan mereka begitu tidak menyambut mereka.
“Huh, bagaimana pun kita harus mencari Eun Hyuk.” geram Dennis menatap lekat tangannya yang mengepal erat.
“Ayo, sudah selesai istirahatnya.” ajak Dennis berdiri merapikan celananya.
Takk!
Namun sebuah suara benda terjatuh menghinggap di pendengaran mereka, otomatis Dennis dan Hyun Man segera menoleh pada sumber suara.
Dan memang benar, ada sebuah kayu pendek berwarna cokelat gelap terukir berbentuk wajah yang terbaring di samping pohon maple.
Hyun Man pun berjalan dengan langkah lebar mendekati pohon berbatang ramping-lebih kecil ukurannya dari kayu berukir tersebut.
Panjang kayu tersebut hanya setengah meter dan lebarnya 10 inci.
Hyun Man mengangkat batang kayu cokelat gelap itu dan menatapnya mengernyit curiga.
Tentu saja curiga, Dennis dan Hyun Man melihat sendiri bahwa ukiran batang itu berbentuk wajah dengan mulut yang terbuka lebar.
“Apa ini?” tanya Dennis.
__ADS_1
Ia lalu ikut memegang sisi kayu berukir tersebut.
“Ini, pasti ada pemiliknya bukan?” tanya Hyun Man melihat detail ukiran kayu itu.
Drrt..drrt..
Namun sebuah panggilan masuk dari HT Dennis, ia pun segera mengangkatnya.
“Ya, ini bagian 04. Ada apa?” tanya Dennis berharap ada seseorang yang sudah menemukan persembunyian Eun Hyuk.
“Dennis, menyambung ke 12. Kami sudah menemukan Eun Hyuk melalui sinyal gelombang. Dia berada di sebuah kedai yang tidak lagi beroperasi sejak lama, tim akan segera ke tujuan dengan perlengkapan memadai. Ganti.” ujar sosok bersuara Jun Pyung serius.
Dennis terdiam, entah mengapa ia tidak merasa Eun Hyuk berada di sana.
“Ada apa Tn. Dennis?” tanya Hyun Man menatap penasaran pada wajah gusar nan berpikir keras Dennis.
“Komandan Besar Ahn Jun Pyung bilang ia sudah menemukan markas Eun Hyuk.” jawab Dennis lirih nan berat untuk mengatakannya. Dalam hati ia tak mau `menyesatkanʼ orang lain.
Spontan Hyun Man bersemangat, ia bergerak hendak berlari entah ke mana namun tentu dia menahannya, karena tidak tahu ia akan pergi kemana menangkap Eun Hyuk.
“Kalau begitu ayo ke sana tuan!” seru Hyun Man tak sabar.
“Tak apa, secepat kita pergi di sana. Tim Jun Pyung pasti sudah menangkap Eun Hyuk.” jelas Dennis sebenarnya ingin berjaga-jaga.
Hyun Man pun kehilangan semangatnya, ia menunduk melihat tanah yang ia pijaki dan berjalan ber-iringan dengan Dennis yang berjalan lambat ini.
“Memang letaknya di mana, Tn. Dennis?” tanya Hyun Man penasaran.
Hyun Man hanya mengangguk.
Setelah dari tadi Dennis terus saja terdiam di dalam perjalanan panjang, ia lalu menoleh pada Hyun Man yang lebih tinggi beberapa inci darinya.
Dennis melihat Hyun Man dengan tatapan serius dan mengintimidasi. Lama di lihat selekat itu oleh Dennis, Hyun Man pun menoleh ikut melihat Dennis dengan rasa risih dan gugup.
“Hyun,” panggil Dennis dengan tatapan menerawangnya, membuat Hyun Man tak nyaman dan ingin segera mengakhirinya.
“Apa Tn. Dennis?”
“Kau mau tidak percaya pada ku?” tanya Dennis serius.
Hyun Man terkesiap, ia jadi penasaran terlebih dengan apa yang akan Dennis katakan.
“Aku sungguh berprasangka kuat bahwa Eun Hyuk itu berada di pondok luar Jinan. Yang sering digunakan untuk berpesta tiap bulannya.” kata Dennis menatap berusaha meyakinkan Hyun Man.
Namun Hyun Man malah tertawa skeptis, dan ia segera menghentikannya melihat wajah Dennis semakin menyeramkan karena kesal ia tertawakan.
“Tuan, Eun Hyuk di sini karena ia kabur dan mencari tempat yang tidak dihampiri oleh banyak orang. Mustahil jika pendatang baru bisa bergabung sedekat itu dengan warga di sini, karena pondok itu dijaga ketat.” perjelas Hyun Man lembut, berharap Dennis tak marah.
__ADS_1
Dennis terdiam, ia menunduk berpikir bahwa Hyun Man tidak akan mempercayai dirinya dan lebih baik diam menahan egonya.
.
.
.
Sedangkan sebelumnya, Jun Pyung tengah tergesa-gesa mengenakan baju dinasnya dengan orang-orang di sekitar ikut bersiap-siap menjalankan tugas.
“Ayo, cepat-cepat!” seru Jun Pyung mengayunkan tangan kanannya memerintah.
12 pria itu pun pergi menggunakan mobil menuju perbatasan desa Daegu.
“Senjata AK-47 sudah siap?” tanya Jun Pyung pelan sambil menatap serius ke depan.
“Sudah, Komandan.” jawab salah satu polisi.
Tak butuh waktu lama untuk menyusuri desa sekecil ini, mereka telah sampai di kedai berukuran sedang itu.
Mereka berjalan cepat mengikuti arahan Jun Pyung untuk mengepung kedai yang diduga menjadi persembunyian Eun Hyuk.
Setelah para polisi diam berdiri di tempat dengan senjata api yang berbaring tegap mengarah ke depan, Jun Pyung lalu berbicara menggunakan pengeras suara.
“Kim Eun Hyuk! Anda sudah terkepung, segera berserah diri atau kami akan menjemput anda secara paksa.” ujar Jun Pyung menatap tajam kedai tertutup itu.
Namun, desiran angin lama-lama berubah menjadi kencang sehingga membawa awan tebal berwarna hitam datang ke Desa Jinan ini.
Jun Pyung dan polisi-polisi itu mengalihkan fokusnya pada cuaca yang tiba-tiba berubah ini. Pandangan mereka terheran-heran menatap langit.
Tak lama, air hujan satu per satu itu turun hingga tidak bisa dihitung banyaknya yang turun, besar dan beratnya satu rintik hujan bahkan bisa membuat kepala terasa berat sejenak.
Kembali fokus pada kedai yang suram itu, Jun Pyung berbicara lebih lantang.
“Kim Eun Hyuk! Keluarlah!” teriak Jun Pyung tak sabar.
Cetarr!!
Suara petir menggelegar menggetarkan hati Jun Pyung dan polisi-polisi lainnya. Namun itu hanya sesaat, mereka kembali terfokus pada pintu reot yang bergerak-gerak sendiri terkena terpaan angin kencang.
Brak!
Pintu kedai terbuka dan melayang entah ke mana, polisi segera menyiapkan pistol berjaga-jaga akan kedatangan Eun Hyuk nanti.
*
*
__ADS_1
“Sial,” gumam Dennis duduk berteduh di teras rumah warga.
Mata penuh kebencian dan amarah Dennis menatap air hujan yang terus turun.