Rumah Petaka

Rumah Petaka
Mencari Eun Hyuk (2)


__ADS_3

Jun Pyung mematung menatap Dennis dengan wajah ingin protes namun malu karena dilihat oleh anak didiknya .


Kemudian salah satu polisi menghampiri, ia menepuk bahu Jun Pyung dengan wajah menyemangati.


“Komandan akan benar-benar bekerja malam ini juga? Wah, saya salut pada Anda. Hormat tertinggi saya!” ujar polisi tersebut menatap Jun Pyung berbinar-binar.


Lalu ia membungkuk lama dan dalam ke hadapan Jun Pyung yang mulai berwajah sebal. Jun Pyung dengan kesal memegang lalu menekan lebih dalam kepala pria yang entah benar-benar terpukau padanya atau malah mungkin mengejeknya.


Setelah itu, Jun Pyung berjalan lebar menjauh dari kerumunan pria berjabat polisi ini.


Waktu yang hampir sama, dengan tempat yang hampir berdekatan pula, mata itu menajam melihat ke depan.


Duduknya yang angkuh dengan wajah bagian hidung hingga ke atas telah tak terlihat karena memakai jubah bertudung, pria itu tersenyum menyeringai.


“Bibi, mereka benar-benar menganggap remeh kita.” kata seorang suara pria yang tersenyum menyeringai itu.


Seorang bahu wanita paruh baya yang berada di belakang duduknya pria misterius itu bergetar menahan tawa.


“Bodoh, ya? Mereka tidak tahu asal-usul mu, sayang.” tanggap Bibi itu berbalik mendekati pria yang masih menyeringai mengeluarkan aura suramnya.


“Tapi walau bagaimana pun, mereka adalah tamu di desa ini, jadi sambut mereka dengan baik di awal.” kata pria itu berdramatisir dan mengejek.


Dan terpampanglah wajah tampan namun menyeramkan dari Kim Eun Hyuk.


“Bunuh mereka saat bulan purnama..” lirih Eun Hyuk lalu terkekeh suram.


.


.


.


“Hoam..!”


Jun Pyung bukanlah pecundang, ia membuktikannya dengan dirinya yang sekarang sedang mencari keberadaan Eun Hyuk di desa ini.


Hingga waktu menunjukkan pukul 6 pagi, Jun Pyung masih saja begadang menelusuri di mana tempat persebunyian Eun Hyuk.


Terlihat dua gelas plastik yang sebelumnya terisi air kopi telah habis menjadi penyemangatnya semalaman.


Dennis tanpa merasa bersalah menengok pada Jun Pyung lalu dengan wajah terpukaunya ia mendekati Jun Pyung.


“Waah, seperti jabatan anda. Komandan Besar Ahn Jun Pyung sangat tekun, ya?” puji Dennis tersenyum senang melihat meja dan wajah lelah Jun Pyung.

__ADS_1


“Hehe, aku hebat `kan..” gumam Jun Pyung sedikit tertawa lemah.


Nampaknya karena ia terlalu banyak minum kopi dan pencahayaan tidak seimbang laptop dengan cahaya di ruangan membuat Jun Pyung begitu sangat kelelahan.


Dennis dalam hati dengan wajah yang sedikit samar meringis melihat Jun Pyung. Ia mengaduh kenapa ada manusia yang seperti ini.


“Komandan mandilah, aku ingin melihat sampai mana pencarian Eun Hyuk.” ujar Dennis mulai sedikit kasihan.


Tanpa membantah, Jun Pyung bahkan dengan senang tersenyum lebar lalu berdiri dan menepuk bahu Dennis sebagai orang yang menolong dan yang pertama kali memuji hasil kerjanya.


Jun Pyung lalu pergi menuju kamar mandi, setelah itu Dennis segera mengecek di mana keberadaan Eun Hyuk sekarang.


Wajah Dennis kembali serius atau lebih condong ke marah, ia tidak bisa menahan rasa marahnya pada Eun Hyuk. Tangannya gemulai menekan-nekan tombol kotak yang ada di laptop hingga tidak lama ia sudah mendapat profil keberadaan Eun Hyuk yang terbaru.


Tubuh Dennis ia condongkan lebih dekat ke layar laptop, ia sedang membaca apa yang dituliskan oleh komputer tersebut.


“Apa itu Gyo?” tanya Dennis bergumam.


Ya, Dennis kini sedang tidak fokus pada tempat terduga keberadaan Eun Hyuk. Dennis kini fokus pada sebuah tempat di pojok Jinan yang dinamakan Gyo itu.


Beruntung ada seorang polisi tengah melewatinya.


“Hei, hei! Anak muda, kemarilah.” panggil Dennis tak mau melepaskan matanya berpindah dari laptop, ia hanya melambaikan tangannya cepat ke atas lalu ke bawah.


“Tempat Gyo itu apa?” tanya Dennis penasaran, sungguh benar-benar penasaran.


Polisi itu terdiam dengan wajah yang berpikir keras sambil menatap laptop itu tajam.


“Itu, itu tempat warga desa berkumpul dan bersilaturahmi tuan Den.” ujar polisi itu akhirnya.


Dennis mengangguk meng-iyakan pertanyaan yang ia tanyakan sendiri.


“Bagaimana kalau Eun Hyuk ada di sini?” tanya Dennis meminta pendapat.


Polisi itu langsung berwajah protes dan menolak dengan anggapan Dennis.


“Tidak mungkin tuan, warga di sini tidak ramah lalu gubuk tersebut begitu sangat terjaga.” jelas Polisi itu memberikan jawaban mengapa Eun Hyuk yang orang asing di sini tidak mungkin berada di sana.


“Heum, lalu di mana menurut mu Eun Hyuk? Tidak ada rumah penginapan lagi selain ini, iya kan?” tanya Dennis menggali-gali di mana letak persebunyian Eun Hyuk.


“Oh! Lihat, kasus hilangnya orang yang berlibur di sini begitu banyak, yaitu 68 persen.” celetuk Dennis melihat koran-koran harian.


Polisi iyu nampak semakin kebingunan, ia hanya terdiam berpikir.

__ADS_1


“Atau, Eun Hyuk tidak berada di sini?” tanya lirih Polisi itu membuat Dennis mendongak terkejut menatap padanya.


“Bagaimana? Tidak, dia ada di sini. Aku merasakannya!” ujar Dennis menomor satukan pemikirannya.


Dennis pun akhirnya terdiam, menimbang mana yang benar antara dirinya dengan polisi ini.


“Ayo kita cari bersama-sama. Aku ingin hari ini.” pinta Dennis memerintah memegang kua


“Kalian cepat mandi, setelah itu kita akan bertanya secara tertutup oleh warga-warga di sini.” lanjut Dennis berkomando.


Polisi muda itu pun dengan bodohnya mengangguk lalu pamit pergi untuk mandi.


Dennis tidak bisa berdiam, ia memikirkan keras hal buruk apa saja yang akan terjadi. Hingga Dennis tidak sengaja melihat pistol tergelatak di meja yang penuh dengan tumpukan barang yang lain membuat jiwa brutal Dennis bergejolak.


Tidak bisa, dari awal Dennis memang tidak berpikir untuk menunggu aba-aba dari Kepolisian. Dennis tidak percaya penuh bahwa polisi nanti bisa menemukan Eun Hyuk yang ajaib tersebut.


Dennis dengan lirikan matanya yang memantau apakah akan ada orang yang lewat di jalan ini, kakinya dengan santai melangkah lebar menuju meja. Tak lama dengan kecepatan kilat dari tangannya, Dennis berhasil merampok pistol dari seorang polisi.


Tiga puluh menit kemudian...


“Tuan Dennis, ada apa ini? Kenapa kau memerintahkan anak-anak buah ku seenaknya? Di sini akulah yang berkomando, jadi hanya aku saja yang bisa memerintah” ujar protes Jun Pyung sopan.


Dennis terdiam, entah ia mendengar perkataan Jun Pyung atau masih berpikir tentang Eun Hyuk.


“Tolong mengertilah Komandan Jun Pyung, aku hanya ingin melindungi anak-anak ku yang sampai sekarang masih terbayang-bayang dan diteror lewat mimpi oleh Eun Hyuk. Andai anda tahu apa yang saya alami karena kelakuan Eun Hyuk, anda pasti lebih marah dari pada saya sendiri.” kata Dennis kini mulai memohon.


Jun Pyung terdiam mendengar keluhan Dennis, ia bukannya kasihan malah tertarik dengan apa yang dilakukan Eun Hyuk pada Dennis.


“Kalau boleh tahu, apa saja yang dilakukan oleh Eun Hyuk?” tanya tak ada naluri kemanusiaan salah satu polisi dengan gamblangnya.


Dennis menoleh, tak apa, sabar dahulu. Ceritakan semuanya kalau perlu diberi drama agar mereka kasihan.


Tiga puluh menit setelahnya..


“Di dunia nyata, itu benarkah terjadi?” tanya salah satu polisi masih berdecak tak percaya sekaligus kagum


Dennis dengan wajah memelas sedihnya terdiam merenung, Dennis tak ralat bahwa ceritanya membuat ia kembali merasa sedih, marah dan sebagainya menjadi satu.


“Karena itu, aku minta tolong pada kalian.” ujar Dennis parau.


Semua orang yang berada di sana pun merasa iba dengan Dennis.


“Hm! Tak apa Tn. Dennis! Kami akan membantu anda membalas si brengsek Kim Eun Hyuk itu!” seru salah satu polisi menepuk bahu Dennis memberi semangat.

__ADS_1


__ADS_2