
Flashback On
“Nak~” panggil Kakek itu membuat langkah Dennis terhenti.
Tubuhnya ia hadapkan kembali pada kakek berkumis panjang itu.
“Umurku sudah tua, tapi rasa kemanusiaan ku tidak setua itu. Sekecil apapun, aku mungkin bisa membantu mu.” ujar Kakek tersebut.
Dennis sontak tersenyum gembira, ia segera berlari mendekati kakek itu.
“Kakek, aku mohon. Bujuk warga Jinan untuk membantu kami, ada teman kami yang terkurung di rumah penginapan. Tolong keluarkan dia Kakek atau para iblis itu akan membunuh teman saya!” pinta Dennis histeris sambil memegang erat ujung bahu kakek itu.
“Ya, baiklah..” balas Kakek tersebut mengangguk dalam.
“Setelah teman saya nanti bisa keluar. Tolong katakan pada Dia bahwa teman-teman yang ia anggap sebagai saudaranya itu tengah dilingkup kesulitan.” lanjut Dennis berharap dapat terketuk hati Hyun Man.
Kakek itu mendongak, ia menatap masam Dennis yang terdiam melamun.
“Nak, polisi-polisi itu bukan di kedai yang kalian tahu. Tapi mereka telah dibawa ke pondok.” beri tahu Kakek ini akhirnya setelah ia menimbang cukup lama apakah ia harus mengatakannya pada anak muda di depannya ini.
Dennis mendongak dari tundukkan yang mencoba menyembunyikan wajah sedih dan gusarnya. Ya, tanpa kakek itu beri tahu, Dennis sudah mempunyai tujuan ke sana.
“Ka-kalau begitu, saya pergi dahulu!” seru Dennis tidak ingin membuang waktu lama.
Rintik hujan semakin mulai mereda dengan perlahan, namun petir dan guntur masih bersahut membuat nyali umat manusia semakin menciut.
Kakek itu terus menatap kepergian Dennis hingga punggung itu telah tak nampak lagi, mata tua dan cekungnya tertunduk lesu.
“Heuh..” rintih Kakek itu lalu berjalan keluar rumah tanpa payung hingga tubuh atasnya yang tak memakai baju itu pun basah kuyup perlahan.
“Para warga Jinan! Berkumpul lah!!” teriak kakek itu memanggil warga Jinan dengan lantangnya.
__ADS_1
“Para warga Jinan! Berkumpul lah!” panggil Kakek itu terdengar lebih tegas.
Tak lama, pintu rumah-rumah warga itu perlahan terbuka dan memunculkan tubuh-tubuh yang membungkuk dan kering.
“Kalian tidak bosan 'kah? Terus terdiam menerima perilaku setan mereka? Kalian tidak ingin apa membalas jiwa-jiwa anak kalian yang telah mati di tangan mereka?” tanya kakek itu lantang, berpadu dengan suara guntur yang menekan jiwa.
“Para warga Jinan! Ayo kita kembali perangi mereka yang tidak tahu asal usulnya dari mana itu! Kalian tidak malu?! Leluhur kalian akan menangis melihat kita yang lemah ini!” seru Kakek itu membuat warga-warga di sana terhenyak.
Terdiam, Kakek ini teringat bagaimana kaum yang mereka sendiri namakan Itanimulli ini datang.
Yaitu 5 tahun yang lalu, ada seorang wanita paruh baya bernama Kim Ji Yong datang membawa sejumlah uang yang bisa dikatakan sangat besar untuk membantu ekonomi warga Jinan yang dikorupsi oleh bejabat kecil desa Jinan.
Karena terlalu senang dan membutuhkan uang hanya untuk makan, warga Jinan pun setuju dengan perjanjian yang Ji Yong katakan.
Yaitu, warga Jinan harus menerima kedatangan sekelompok orang baru di desa ini. Karena warga Jinan pikir persyaratannya semudah itu, akhirnya warga Jinan tentu setuju-setuju saja.
Awalnya kaum Itanimulli ini berperingai sangat baik, mereka mengunjungi warga-warga dengan maksud menebarkan ajaran agama mereka yang dinamai Kabbalah.
Namun setelah sebulan, warga Jinan gempar karena ada 3 kasus anak hilang. Warga Jinan menuduh kelompok Itanimulli inilah yang menculik anak mereka dan membunuhnya.
Hingga, setelah sekian lama mengelak dari tuduhan warga. Seorang bernama Kim Eun Hyuk mewakili kelompok Itanimulli mengakui bahwa anak-anak itu telah diculik dan di bunuh untuk dijadikan sesembahan.
Kim Eun Hyuk itu juga mengancam akan membunuh siapa saja yang menentang kelompok Itanimulli.
Kakek itu meneteskan air matanya mengingat bagaimana anak laki-lakinya dibawa paksa oleh orang Itanimulli di depan matanya sendiri. Namun ia tidak bisa berbuat banyak.
“Kita, harus mengusir mereka. Kalau perlu membunuh mereka!!” seru kakek itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
“Bagaimana kalau kita sendiri yang mati?” tanya salah satu warga.
“Tidak! Lawan mereka kali ini adalah seorang polisi. Mereka mempunyai banyak senjata canggih pasti!” jawab kakek itu meyakinkan dengan mata yang berapi-api.
__ADS_1
Warga Jinan pun juga ikut terlihat bersemangat.
“Dan kalaupun kita mati nanti, bukankah itu lebih baik?” sambung kakek itu tersenyum kecut di akhir katanya.
“Ya! Usir kaum setan itu!” seru salah seorang membuat yang lain ikut mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
“Sebentar! Sebelum mendatangi pondok setan mereka! Kita tentu harus mengambil alat perang yang sesungguhnya! Yaitu di rumah penginapan orang baru itu! Ayo ke sana!” ajak kakek itu berseru.
Ada sekitar 50 orang berjalan berdekatan sambil terus berseru guna membakar semangat mereka.
Hingga akhirnya kakek tua dan para penduduk Jinan itu telah sampai di rumah penginapan Dennis dan para polisi.
Dengan cepat, warga Jinan mendobrak dan berusaha menghancurkan pintu dan jendela rumah penginapan ini. Hyun Man yang telah hampir pingsan tersungkur itu pun mencoba berdiri mencari pertolongan.
“Tolong! Tolong! Siapa pun tolong aku!” teriak Hyun Man menggedor pintu.
“Sabar, nak!” ujar kakek itu menenangkan.
“Huh, Eun Hyuk bodoh. Telah mengurangi kekuatan magisnya di sini.” lirih kakek itu melihat warga yang sedikit lagi dapat menghancurkan pintu utama.
Brak!
Pintu rumah penginapan tersebut telah rusak dibobol orang warga, mereka lalu segera berlarian mencari senjata api.
“Hei, tunggu! Tunggu! Kenapa seolah kalian ingin merampok?!” tuduh Hyun Man terkejut melihat orang-orang yang berburu pistol.
“Nak, teman-teman mu sekarang berada di pondok itu. Mereka disekap dan malam ini juga mungkin mereka akan dibunuh.” jelas kakek itu menarik tangan Hyun Man.
“Me-memang apa urusannya dengan ku? Mati, biarkanlah mereka mati! Si br*s*k itu tadi juga meninggalkan ku.” dengus Hyun Man mengingat Dennis yang pergi begitu saja.
“Tidak, orang yang Kau sangka meninggalkan mu itu berteriak bagai orang gila meminta para warga agar dapat menolong mu. Sekarang Dia pergi lebih dulu untuk menolong teman-teman mu. Kau tidak malu `kah? Dia bukan seorang polisi seperti mu tapi Dia mempunyai sifat juang yang tinggi. Sedangkan Kau?” sudut kakek itu membuat Hyun Man merasa di sentil hatinya.
__ADS_1
“Iya, kenapa aku terkesan jahat dan egois seperti ini?” ujar Hyun Man dalam hati.