
“Mira.” gumam Dennis terkejut.
Pria itu hanya bisa menatap Mira, dan sesekali berkedip membenarkan apa yan ia lihat.
Wanita yang berada diatas tangga itu hanya menatap Hyeon Chul dengan datar. Hyeon Chul mendongak membalas tatapan Mira.
“Bibi.”
“Ibu!”
Tentu semua manusia didepan meja makan, menatap terperangah pada Mira yang terlihat baik-baik saja.
“Ibu, makanlah! Ibu pasti lapar.” timpal Jennie lalu kembali terfokus dengan makanannya.
Mira akhirnya tersenyum walau begitu tipis. Perlahan kakinya membawa ia mendekati meja makan, dan duduk disamping Jennie.
“Apa aku terlambat?” tanya Mira sambil menatap Hyeon Chul, lalu berbalik pandangan kearah suaminya.
“Tidak, kami baru akan makan.” jawab Dennis pelan mencoba kembali sadar dari lamunannya tentang Mira.
Mira kembali tersenyum, dan kali ini senyum yang tenang dan lembut. Dennis berpikir Mira sekarang masih di 'diami' oleh wanita buruk hati itu.
"Ingat Den, dia wanita munafik."
Batin Dennis ikut berargumen untuk tak terlalu mempercayai wajah selembut bulu angsa dari Mira ini. Dennis menatap nyalang Mira, yang suara merdunya begitu mendominasi acara makan ini.
“Apa ibu tak lelah? Ibu merasakan apa?” tanya Jennie disela makannya, sambil sesekali menatap wajah sumringah dari Mira.
“Ibu merasa baik-baik saja.” jawab Mira pelan, lalu menatap Hyeon Chul dan tersenyum. Senyum itu bermakna ia berterima kasih pada jasa Hyeon Chul.
“Hyeon Chul, kenapa bisa ada disini?” tanya Mira pelan, menatap bergantian kearah Dennis yang seolah tak mendengar pertanyaannya, lalu ia menatap Jennie.
“Tak tahu. Ayah yang mengundangnya.” jawab Jennie memang benar-benar tak tahu apa maksud Dennis melakukannya.
__ADS_1
Mira merasa ada yang salah dari Dennis, ia hanya bisa menatap sayu Dennis yang lebih memandang makanannya, dan terus melahapnya tanpa jeda.
“Hati-hati, ayah. Nanti ayah bisa tersedak.” gumam Mira justru membuat Dennis benar-benar tersedak, hingga membuat Mira dengan cekatan menuang air ke gelas dan memberikannya pada Dennis.
Dennis tersedak bukan karna ia terlalu cepat makan, namun karena ucapan Mira yang penuh perhatian membuat Dennis terkejut. Tak ada keganjilan disetiap kata yang Mira lontarkan—seperti begitu saja, membuat pemikiran buruk Dennis pada Mira hampir saja runtuh.
“Ayah tak apa?” tanya Jennie mendongak, menatap Dennis yang meliriknya lalu tersenyum menenangkan.
Sementara itu Hyeon Chul dari tadi terus berdiam diri, sambil sesekali melirik ketiga manusia ini. Hati kecilnya tak sabar untuk menunggu malam tiba menghampirinya. Hyeon Chul melamun mengingat satu hal yang ia ingat dari penuturan kakeknya waktu itu.
“Hanya butuh kepercayaan dari semua perjuangan itu nanti. Hanguskan semua kenangan yang tersimpan rapat dari keluarga itu. Maka bukan hanya keluargamu yang akan selamat, tapi mereka yang sudah berwujud ruh yang tidak diterima itu, juga bisa berjalan lebih jauh meninggalkan dunia gelap ini dengan tenang. Kau hanguskan berkasnya, dan pendam dibawah pohon halaman belakang, lalu tidurlah dan semuanya akan baik baik saja.” Kata kakek Kim menengahi pembicaraan Mira dan Hyeon Chul, sebelum mereka akan keluar dari kamar dan memasuki kamar Dennis.
“Bagaimana caraku melakukannya? Dan berkas apa? Di mana letaknya, kakek?” tanya Hyeon Chul berbalik menatap kakeknya.
“*Diloteng, diatas tangga ini. Disana ada tiga foto dari anggota keluarga mereka, hapus semua foto mereka dan pendam! Itu adalah caranya. Aku tahu karna setiap malam, seorang anak muda memasuki loteng itu dan sering membicarakannya.” jelas kakek Kim membuat Hyeon Chul tak sengaja menebak siapa pria yang sedang dibicarakan kakeknya.
“Hyuk Jae.” gumam Hyeon Chul yang hanya bisa ia dengar sendiri*.
“Hyeon,” panggil Mira membuyarkan lamunan Hyeon Chul. Bocah itu menatap semua, dan benar saja semua orang melihatnya dengan tanda tanya.
“Ada apa? Kenapa kau melamun?” tanya Mira kembali mengusap bahu Hyeon Chul, dan sesekali menguncangnya.
“Aku harus keloteng.” gumam Hyeon Chul menatap lekat Mira. Mencoba mengingatkan Mira kembali dengan rencana besar yang sudah terencana kemarin. Hyeon Chul berharap semoga saja ia berhasil.
“Loteng? Loteng siapa?” tanya Dennis mengernyit heran pada Hyeon Chul. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Mira dan Hyeon Chul?
“Aku sudah selesai makan. Aku pergi dulu.” kata Hyeon Chul mengindahkan pertanyaan Dennis yang menurutnya tidak penting.
Hyeon Chul segera berjalan menaiki tangga, lalu ia mendongak memandang atap kayu yang begitu kontras dengan sebagian besar atap rumah ini yang terbuat dari beton. Lain halnya dengan yang ia lihat sekarang, kayu itu berwarna coklat pudar. Dengan gerakan pelan namun pasti, ia mengangkat tangannya dan kedua jari Hyeon Chul mengapit sebuah tali yang bergelantung.
Hyeon Chul menariknya, dengan sedikit mengejutkannya. Sebuah tangga terlempar dari atas ke bawah—mengikat perjalan Hyeon Chul lebih dalam, masuk kedalam ruangan yang asing baginya.
“Hyeon Chul!” teriak Dennis menghampiri Hyeon Chul yang sudah memasuki loteng yang terlihat gelap itu.
__ADS_1
Hyeon Chul melirik disekitarnya, semuanya sangat berdebu. Barang-barang tua dibungkus dengan sehelai kain. Sejauh yang Hyeon Chul lihat tak ada jendela disini, yang mungkin akan membuat ruangan ini menjadi lebih hidup.
“Hyeon.” panggil seorang dibelakang dengan lirih. Perlahan sosok pria tinggi itu terlihat mendekatinya, sambil menarik dengan kasar kain tipis putih dari barang disampingnya.
Hyeon Chul tak bisa menoleh ke belakang, ia terlalu takut untuk sekedar berbalik. Ia hanya sanggup melihat sosok itu dengan ekor matanya. Yang terlihat sekali jika ia ketakutan.
“Kakek,” lirih Hyeon Chul mengepalkan telapak tangannya yang bergetar ketakutan.
Tangan besar itu menepuk cukup keras bahu Hyeon Chul, membuat tubuh bocah itu spontan berbalik. Mundur dengan wajahnya yang menunduk, dan reflek menunjukkan kepalan tangannya kearah pria itu.
“Hei, kau tidak apa?” tanya Dennis kembali menggenggam kedua ujung bahu Hyeon Chul.
Hyeon Chul baru sadar jika suara tadi adalah suara Dennis. Mata terpejam itu terbuka—dan melihat sesosok pria dengan wajah yang membelakangi cahaya membias dari luar loteng. Dennis.
“Kenapa kau bisa tahu tempat ini?” tanya Dennis menatap Hyeon Chul yang masih berdiam diri.
“Kenapa ayah melakukan tadi?” tanya Hyeon Chul berteriak kesal sambil menghentakkan salah satu kakinya.
“Memangnya kenapa? Ayah tidak melakukan apapun tadi.” bantah Dennis menekan setiap katanya, termasuk ‘ayah’.
Hyeon Chul terkejut mendengar perkataan Dennis yang membuatnya malu. Ia tak sadar jika tadi dirinya memanggil Dennis dengan sebutan ‘ayah’. Hening, tak ada yang ingin berbicara lagi termasuk Hyeon Chul, yang menunduk malu pada Dennis yang malah tersenyum lembut.
“Kenapa kau harus merasa tak enak jika memanggilku ayah?” tanya Dennis lugas dengan masih tersenyum menatap Hyeon Chul yang juga menatapnya takut.
Brak!
Pintu dari tangga loteng itu dengan kasar terbanting dan tertutup, membuat kedua lelaki berbeda usia itu mengarahkan pandangannya pada tangga yang menutup jalan untuk mereka keluar nanti. Dengan langkah lebarnya, Dennis berlari mendekati pintu dan mendorongnya dengan punggung yang ia banting kearah pintu.
“Apa tidak bisa?” tanya Hyeon Chul menghampiri Dennis perlahan.
“Ini, sulit.” jawab Dennis masih berfokus untuk mendobrak pintu itu.
Hyeon Chul melihat kearah sekitarnya, berharap ada sesuatu benda yang bisa membantu mereka keluar dari loteng ini. Namun sesuatu mengejutkan Hyeon Chul, membuat pandangan bocah itu terus tertuju pada seseorang sosok dipojok sana.
__ADS_1