Rumah Petaka

Rumah Petaka
Keadaan Keluarga Dennis


__ADS_3

Dokter itu berdiri dengan tatapannya yang terus memperhatikan Jennie, ia berjalan mendekati bapak dan anak tersebut.


“Pasien 01 sudah diberi paracetamol dengan dosis 570 gram larutan, jika masih nyeri kami tidak bisa berbuat lebih. Takut terjadi efek samping akibat over dosis.” jelas Dokter menatap sedih Dennis.


“Memang efek sampingnya apa?” tanya Dennis.


“Muntah, gangguan pencernaan, linglung dan lain sebagainya.” jawab Dokter berharap Dennis tidak keras kepala.


Sebenarnya, kalau Dennis tidak dari awal sedang stres, ia pasti hanya diam dan menenangkan Jennie yang kesakitan manja. Namun semuanya menjadi ia anggap berlebih ketika ia atau seseorang sedang stres.


“Tuan Dennis tenanglah, pasien saat ini hanya mengalami keram dan ngilu.” lanjut Dokter tersebut menenangkan.


Dennis mengangguk dalam tunduknya, ia menutup matanya yang lelah. Dennis lalu mengangkat wajahnya, menatap Jennie yang terdiam menutup mata.


“Jennie tidur?” tanya Dennis pelan.


Tak ada tanggapan sedikit pun dari Jennie.


Dennis lalu segera meninggalkan Dokter dan Jennie sesudah ia mengecupkan bibirnya ke dahi dan pipi anaknya itu.


Pria itu kembali ke meja Resepsionis, ia ingin menanyakan keberadaan Mira sekaligus akan memindahkan kamar Jennie ke VIP.


“Permisi, aku ingin memindahkan kamar anak dan istri ku ke kelas VIP.” kata Dennis langsung.


“Oh, silakan registrasi tuan. Tempat registrasi di sebelah saya.” jelas Resepsionis itu masih sibuk mengutak-atik komputer.


Dennis menoleh sebentar pada wanita yang menatapnya lebih dulu itu.


“Silakan pak di sini. Bapak ingin memindahkan kamar pasien siapa saja?” kata Wanita itu tersenyum tipis.


“Bagaimana cara mengisi formulir?” tanya Dennis melihat dirinya yang diberi selembar kertas.


Percakapan cukup panjang itupun terjadi, Dennis dengan serius dan terburu-buru mengisi formulir untuk Jennie itu.


“Sudah,” kata Dennis melempar rendah kertas itu.


“Uangnya tunai atau pakai kartu pak?”


Dennis tanpa memberi tahu lewat mulut segera menunjukkan kartu debit.


“Tunggu sebentar ya pak.” kata wanita itu tetap tersenyum.


Setelah transaksi selesai, Dennis segera kembali ke Resepsionis tadi.


“Di mana kamar Mira?” tanya Dennis tanpa permisi.


Resepsionis yang sibuk dengan komputernya itu mendongak.

__ADS_1


“Pasien di IGD, Anda lurus ke kanan, sudut kanan lagi lalu akan ada kamar IGD.” jelas Resepsionis itu menunjukkan jalan menuju ruang IGD dengan tangannya.


Dennis pun mengangguk, ia tanpa mengucap terima kasih langsung pergi begitu saja.


Dennis melangkah lebar menuju ruang IGD, ketika membukanya Dennis langsung melihat sosok Mira yang menggunakan alat bantu napas.


“Mira..” rintih Dennis berjalan mendekati Mira.


Dokter yang berada di dekat tubuh berbaring Mira itu menoleh, melihat Dennis.


“Anda suami dari korban?” tanya Dokter.


“Ya, bagaimana keadaannya?” tanya Dennis cepat.


“Pasien mulai membaik. Sebelumnya pasien kesulitan bernapas.” jelas Dokter tersebut.


Dennis berjalan menuju kasur Mira, ia menyentuh dan menaruhkan tangan istrinya ke tangannya.


“Pasien tidur setelah diberikan obat penenang. Ia butuh istirahat.” jelas Dokter.


“Kalau ada sesuatu yang mencurigakan dari Pasien, anda boleh memanggil saya. Permisi.” pamit Dokter tersebut akan melangkahkan kakinya.


Dennis segera menoleh dan mencegah Dokter itu pergi untuk sementara.


“Dokter,” cegah Dennis menghentikan langkah sang Dokter.


“Anda tahu anak kecil, juga korban kecelakaan bernama Kim Hyeon Chul?” tanya Dennis.


“Pasien tersebut dioperasi sesuai petunjuk Dokter spesialis, kerangka kepalanya ada yang retak karena benturan dan tekanan yang kuat dari atas. Biasanya untuk operasi yang demikian, durasinya sekitar 4 sampai 6 jam.” jawab Dokter itu detail.


Dennis meringis, ia kasihan dengan Hyeon Chul yang sekecil itu sudah merasakan sakit yang luar biasa.


....


Mata cantik berbentuk bulat itu mengerjap menyesuaikan retina matanya dengan cahaya di sekitar.


Mira tersadar akan keadaannya sekarang yang terbaring di atas kasur rumah sakit. Seketika nyeri menghinggap di seluruh tubuhnya.


“Eugh!” erang Mira menyikapi rasa sakitnya.


Dennis seketika terbangun dari tidur tidak berkualitasnya yang di sofa tersebut. Ia langsung memandang Mira dengan wajah berseri-seri.


“Mira?” sapa Dennis berjalan cepat menuju istrinya yang terbangun.


“Bagaimana, heum? Aku panggil dokter, ya.” sambung Dennis menatap Mira yang berwajah kesakitan tersebut.


Dennis lalu menekan tombol merah yang berada di atas kepala Mira.

__ADS_1


“Punggung-mu sakit, ya? Dokter mengatakan tidak boleh menggerakkan area punggung terlebih dahulu.” kata Dennis sangat perhatian pada Mira.


Baru saja Dennis selesai berbicara, seorang Dokter telah datang dengan tak lama kemudian sosok Suster mengikutinya.


“Dokter, Mira sudah bangun.” beri tahu Dennis segera setelah Dokter itu memasuki kamar rawat.


“Oh, begitu, ya. Sebentar kami periksa dulu.” balas Dokter muda itu.


Setelah Mira ditanyakan bagaimana keadaannya, ia segera diperiksakan suhu tubuh, mata dan seputar tentang kecelakaannya.


“Tulang punggung Pasien ada yang tergeser, kami akan segera melakukan operasi jika Pasien telah mempunyai daya tahan tubuh yang kuat.” jelas Dokter tersebut tersenyum tipis.


Dennis mengangguk, ia senang Mira dan Jennie selamat, namun ia masih tidak dapat kepastian dari keadaan Hyeon Chul. Dennis pun kembali merenung memikirkannya.


“Lalu, bagaimana dengan Hyeon Chul?” tanya Dennis dengan wajahnya yang suram.


“Anda tenanglah, Pasien saat ini sudah selesai dioperasi. Namun keadaannya memang kritis, jadi tidak bisa untuk dibawa kemari.” jawab Dokter tersebut ingin menenangkan kegusaran Dennis.


“Kalau begitu kami permisi.” pamit Dokter tersebut tersenyum hangat.


“Ya, terima kasih, Dokter.” sahut Dennis masih tidak bisa menghilangkan rasa takutnya akan kehilangan.


Selepas Dokter itu pergi, Dennis menghempaskan kesal tubuhnya terduduk ke sofa. Ia menangkup dahinya dengan tangan kanannya yang bertumpu pada lengan sofa.


“Awas Kau Eun Hyuk.” gumam Dennis geram menggerutu.


Esoknya...


Nada dering handphone Dennis bersuara, membuat si empunya terlonjak ringan dari duduknya, mata yang belum total terbuka itu diusap kasar agar sedikit terbantu.


Dennis kemudian segera mengangkat panggilan dari Asistennya.


“Maaf, Direktur. Beberapa wartawan berkerumun di depan kamar inap keluarga Anda. Saya harus bagaimana?” tanya Asisten Dennis dengan suara bergetar.


Berdecak kesal, Dennis mengusap-usap wajahnya geram.


“Ya, aku akan ke depan.” balas Dennis cepat.


Tanpa cuci muka terlebih dahulu, Dennis segera berjalan membuka pintu dan langsung menemui sekitar 5 wartawan beserta juru kamera-nya yang telah menunggunya.


“Oh? Pagi, pak.” sapa para wartawan antara terkejut dan takut melihat aura dingin Dennis.


“Pak, boleh minta waktu sebentar?” izin salah satu wartawan memulai.


“Apa?” tanya Dennis dengan wajah terganggu.


“Maaf pak, tentang kecelakaan keluarga, bapak.” jawab wartawan itu sedikit sungkan.

__ADS_1


Dennis terdiam. Percuma soalnya! Mau Dennis bilang tidak boleh pun ia akan tetap dihujani pertanyaan.


“Hanya bisa 4 pertanyaan.” kata Dennis ketika melihat para wartawan sudah siap-siap merekam.


__ADS_2