
Tidak mau menyakiti perasaan Hyeon Chul dan tidak mau juga membuat Ji Yong semakin takut. Mira dengan segera meminta Hyeon Chul untuk pergi.
“Hyeon Chul sayang, Kau mainlah lagi, ya.” ucap Mira tersenyum manis dengan matanya yang khawatir.
Walau Hyeon Chul tidak tahu arti kata Mira, namun Hyeon Chul merasa Mira menyuruhnya untuk pergi dengan halus.
Hyeon Chul lalu segera pergi sesudah mengangguk kebingungan.
“Bibi! Nenek, Kau kenapa?” tanya Mira khawatir mengguncang bahu Ji Yong yang terus bergerak.
Akhirnya Ji Yong kembali tenang, ia dengan napasnya yang masih terengah-engah menatap kosong lantai itu.
“Ada apa?” tanya Bibi Mira terkejut membuka pintu cepat.
Mira menoleh pada bibinya dengan alis yang meruncing dan dahi berkerut, masih terkejut dengan perilaku neneknya.
“Tak apa, bi. Nenek tadi kejang-kejang.” bohong Mira menyembunyikan kejadian itu.
Bibi Mira terheran sedikit kesal karena Mira membuatnya ketakutan sekaligus khawatir.
“Ibu, sudah bisa duduk, ya?” tanya Bibi Mira tersenyum senang.
“Tapi sebaiknya ibu tidur dulu, ya.” saran Bibi Mira menasihat Mira.
Walau bukan salah Mira membuat Ji Yong terduduk, ia tetap tersenyum sungkan.
“Iya, bu. Aku akan menidurkan nenek.” tanggap Mira.
Setelah pintu tertutup, Mira menatap lekat Ji Yong yang nampak kebingungan ini.
“Nenek, ada apa?” tanya Mira penasaran dengan reaksi Ji Yong tadi.
Namun bagai seorang yang stroke, Ji Yong sama sekali tidak membuka mulutnya, ia hanya menggeleng keras.
Di luar, Hyeon Chul berdiri terdiam di ujung ruang tamu. Ia terlalu ketakutan dan terkejut hingga tidak ingin berbaur terlebih dahulu dikeramaian.
Dennis terlalu berbahagia hingga ia tidak tahu Hyeon Chul sedang berdiri melihatnya sedih. Hingga ia tahu itu, Dennis segera berjalan menuju Hyeon Chul.
“Hyeon Chul, wae geurae-seo?” tanya Dennis khawatir menepuk bahu Hyeon Chul.
“Nenek, nenek tidak menyukaiku.” gumam Hyeon Chul hampir menangis.
Dennis mengernyit, tidak mungkin Ji Yong berperilaku jahat kepada anak kecil. Menge-sampingkan pikirannya, ia lalu segera tersenyum tipis sambil menggeleng pelan.
“Hyeon Chul, jangan ambil hati, ya! Nenek `kan sedang sakit, kita inilah yang harus merawatnya.” kata Dennis tersenyum hangat.
Hyeon Chul mendongakkan wajahnya pelan pada Dennis dengan ekspresi sedihnya. Dennis semakin melebarkan senyumnya, ingin mengantarkan kebahagiaan pada Hyeon Chul.
__ADS_1
“Shush, uljima-yeo.” kata Dennis membasuh air mata Hyeon Chul.
Hyeon Chul dengan penurutnya mengangguk mengerti sambil menarik ingusnya agar tidak keluar.
“Ayo, ke sana lagi. Ibu masih di kamar?” tanya Dennis lembut.
Hyeon Chul dengan suasana hatinya yang masih mendung, hanya mengangguk lemas.
“Kenapa, kenapa Kau mengadopsi anak itu? Nenek, tidak suka.” protes Ji Yong akhirnya berbicara.
Mira mengernyit aneh dengan sikap Ji Yong pada seorang anak kecil, Ji Yong yang lembut kepada semua orang ini kenapa sekasar itu pada Hyeon Chul.
“Nenek, sebenarnya kami di Korea mengalami kejadian seram.” jujur Mira menjelaskan.
Ji Yong semakin terlihat khawatir dikala Mira mengatakannya, ia namun penasaran dengan melirik samar Mira.
“Kami diteror oleh seseorang, katanya, kami akan dibunuh. Tapi, Hyeon Chul. Anak kecil itu yang menyelamatkan hidupku, suamiku dan anak kami Jennie.” jelas Mira singkat menatap sendu Ji Yong yang mulai tersentuh hatinya.
Ji Yong menggetarkan bibirnya, ia terlihat merasa bersalah dan terbebani.
“Nenek, Hyeon Chul sudah tidak mempunyai keluarga karena teror itu juga. Kami sangat sedih jika meninggalkan Hyeon Chul di Korea.” tambah Mira memandang penuh harap pada Ji Yong.
Nenek itu semakin bingung, ia terlihat sedih.
“Biarkan kami merawatnya, nek.” ucap Mira bergetar.
“Terserahmu.” gumam Ji Yong menatap nanar atap kamar.
[Ruang Keluarga]
“Dennis, berapa hari Kau libur cuti?” tanya Bibi Mira mengalihkan perhatian Dennis.
“Eoh, besok sudah kerja.” jawab Dennis polos.
“Bukankah dari sini kantormu lebih dekat?” tanya Bibi Mira tersenyum tipis jenaka.
“Hehe, iya. Bibi menyuruhku tinggal di sini merawat nenek?” tanya Dennis langsung pada intinya.
“Aha, Kau tahu juga. Soalnya bibi akan ke Bali melanjutkan bangunan hotel bersama paman. Kai juga masih bekerja di Adora, harus pindah ke Papua untuk merauk emas.” kata Bibi Mira curhat.
“Iya, bi. Tak apa.” tanggap Dennis tersenyum sungkan.
Dari ujung mata, Dennis lalu melihat Mira keluar dari kamar dengan raut sendu. Dennis terus menatap Mira hingga wanita itu juga menoleh padanya saat semakin dekat berjalan menuju dirinya.
“Apa yang dikatakan nenek?” tanya Dennis membelai halus tangan Mira.
Memberi semangat pada dirinya dan menampilkan situasi baiknya pada Dennis, Mira tersenyum simpul.
__ADS_1
“Tidak, tidak apa. Nenek tadi kejang-kejang di depan Hyeon Chul, anak itu takut, ya?” tanya Mira tenang.
“Kejang-kejang? Bawa ke rumah sakit saja, ya? Sepertinya keadaannya membahayakan.” usul Dennis khawatir pada Ji Yong.
“Nenek tidak mau, ia katanya ingin di rumah saja.” jawab Mira putus asa.
Dennis tak habis pikir dengan keras kepalanya Ji Yong, ia lalu menghembuskan napas beratnya dengan tatapan kosong.
“Eum, bibi kemana?” tanya Mira tersadar.
“Eugh, bibi pulang. Kai juga. Mereka ingin kita tinggal di sini.” jawab Dennis berat.
Mira tidak merasa terbebani, ia hanya mengangguk mengerti.
“Haha, haha.” seru Jennie frustrasi senang dikejar cepat oleh Hyeon Chul di halaman depan.
Dennis dan Mira tersenyum tipis namun terlihat sangat tulus di sana, mereka senang kedua anaknya bermain bersama.
“Aku pergi ambil beberapa baju untuk kita, ya?” izin Dennis berdiri dari duduknya dengan senyuman tipis.
Mira tersenyum sambil mengangguk setuju dengan keinginan Dennis.
“Ya, pergilah.” kata Mira ikut berdiri.
Dennis pergi keluar rumah dengan Mira di belakang.
“Mainnya hati-hati, ya.” peringat Dennis pada Jennie yang mengangguk.
Namun seketika Jennie berteriak menghadang kepergian Dennis.
“Ayah mau ke mana?” teriak Jennie menghampiri Dennis yang membawa kunci mobil.
Bermuka masam, Dennis lalu berbalik melihat Jennie.
“Ayah mau mengambil baju, Jennie mau ikut?” tanya Dennis sudah tahu tabiat anaknya.
“Iya, mau.” seru Jennie melompat-lompat rendah.
“Sana ajak kakak Hyeon Chul.” perintah Dennis melihat Hyeon Chul terdiam bingung di belakang.
“Oppa, jja ttarawa.” ajak Jennie hanya membalikkan tubuhnya pada Hyeon Chul.
Merasa terpanggil, Hyeon Chul berlari kecil mendekati Jennie.
“Eoddi-kka?” tanya Hyeon Chul mendekat.
“Uri Jibbe.” jawab Jennie diangguki mengerti Hyeon Chul.
__ADS_1
“Kkaja, Hyeon, Jennie.” seru Dennis mulai berjalan memasuki mobil.
Mira tersenyum bahagia melihatnya, namun ketika mobil itu sudah tidak terlihat lagi. Mira sadar dirinya sedang sendiri bersama neneknya yang sakit.