Rumah Petaka

Rumah Petaka
Si Gadis Kecil Berjuang


__ADS_3

Mira menghentikan ucapannya lalu menatap Dennis yang ia pikir terganggu dengan cerita tak masuk akalnya.


“Lanjutkan.” gumam Dennis menatap serius pada Mira.


“Aku mencoba percaya padanya dan mendekatinya, tapi setelah beberapa saat aku dan Jennie bersama. Ia hanya diam saja dan, aku mendengar suara Jennie dari luar—aku tentu saja terkejut dan berbalik melihat Jennie namun itu bukan Jennie. Itu seorang wanita yang menamparku hingga mampu membuatku terlempar dan mengenai lemari.” kata Mira panjang lalu ia kembali menolehkan wajahnya dan melihat Dennis yang tak bergeming.


“Jadi maksudmu? Kau pingsan karna imajinasi mu sendiri?” tanya Dennis menaikkan salah satu alisnya dan dengan pandangan merendah melihat Mira


“Tidak! Itu nyata! Aku merasakannya!” tangkas Mira cepat dengan wajah memerahnya.


“Katakan dimana hal nyatanya disemua ceritamu!” bentak Dennis sambil mengguncang kedua bahu Mira kasar.


Hening sesaat sebelum Mira berdecih dan mengalihkan tatapannya dari Dennis yang masih menatapnya tajam.


“Kau bilang kau percaya padaku, tapi ini juga balasan darimu padaku. Aku sudah menduganya!? ” gumam Mira yang terdengar pekikan diakhir katanya, dengan wajah kecewanya ia melepas kedua tangan Dennis yang berada dibahunya. Lalu menekuk kaki dan wajahnya tenggelam diantara kakinya dan tubuh atasnya.


“Aku hanya tak percaya akan hal mistis seperti itu.”


“Tapi itu nyatanya, kau harus segera keluar dari zona logismu itu.” tambah Mira samar karna terhalau oleh suara tangisannya.


Dennis menatap Mira iba, ia mencoba untuk meminta maaf namun ini bukanlah salahnya karna Mira sendiri yang membuat-buat cerita yang tak perlu.


“Terserahmu percaya atau tidak, ini yang ku alami dan saat kau mengalaminya kau akan sadar sendiri.” gumam Mira pada Dennis lalu ia mencoba berbaring mengabaikan Dennis yang menatapnya heran.


.


.


“Eoh? Ibu sudah sehat?” kata Jennie terkejut melihat tubuh Mira yang sedang merapikan piring berisi makanan untuk sarapan.


Mira menoleh pada Jennie lalu tersenyum simpul.


Jennie menuruni tangga yang diikuti dibelakangnya Dennis, yang menatap istrinya yang saat ini mencoba tak memperdulikan tatapan Dennis.


“Ibu membuat apa?” tanya Jennie menyikap helaian rambutnya dibelakang telinga.


“Kepiting asap dan nasi goreng kimchi.” jawab Mira nyaris bergumam.


Jennie sedikit terkejut mendengar menu masakan kesukaannya berada dihadapannya dan siap untuk dimakan.


“Ini terlalu banyak, aku tidak makan dirumah.” kata Dennis menatap sarapan pagi ini.

__ADS_1


Jennie mendengar ucapan Dennis lalu ia mendongak menatap Mira yang sepertinya tak mendengar atau tak acuh akan perkataan ayahnya. Jennie memberingsut kesal ketika gadis itu melihat dan merasakan bahwa tak ada perhatian dari kedua pasangan yang sangat terlihat sedang berjauhan ini.


“Heuh! Kenapa ayah dan ibu diam? Kalian bertengkar?” tanya Jennie mulai jenuh dengan perlakuan kedua orang tuanya yang berdampak pada dirinya.


“Jennie? Apa yang kau katakan?” tanya Dennis menatap Jennie dengan nyalang.


Pria itu terlihat lebih pemarah semenjak ia tinggal disini dan kedua perempuan itu begitu sangat merasakannya.


Mira menoleh pada Jennie dan menghentikan pergerakan tangannya yang mengambil beberapa lauk memasukkannya kedalam bekal milik Dennis.


“Jennie, kenapa kau tidak sarapan? Makanlah.” perintah Mira lembut sambil sesekali menatap Dennis yang mengambil alih urusan bekalnya.


“Ibu dan ayah bertengkar?” tanya Jennie yang sudah duduk namun sama sekali tak menyentuh makanan yang tersaji.


Mira tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Jennie yang terdengar lebih lembut dari sebelumnya.


“Tidak, kami tidak bertengkar.” jawab Mira membuat senyum Jennie mengembang.


“Kalau begitu berikan aku adik!” teriak Jennie semangat sambil menghentakkan telapak tangannya dimeja.


Mira melebarkan matanya dan bibirnya nyaris berbentuk ‘O’ besar, tak jauh dari reaksi berlebihan Mira Dennis hanya terpaku pada Jennie dengan wajah datarnya namun terlihat sekali bahwa pria itu terkejut.


“Kenapa kau ingin mempunyai adik?” tanya Dennis dengan suara yang rendah hingga membuat kedua wanita itu menoleh padanya.


“Kalau begitu ayah dan ibu jangan bertengkar, jika kalian bertengkar kapan aku punya adik?” kata Jennie turun dari kursi lalu memegang salah satu tangan Mira dan menyatukan tangan wanita itu dengan Dennis.


Jennie tersenyum lepas saat melihat kedua tangan itu menyatu, sementara Mira menatap tangannya dengan rasa kecewa terhadap Dennis yang sekarang hanya menatapnya tajam.


“Ayah harus pergi, ini sudah telat.” kata Dennis melepas genggaman tangannya pada Mira.


Jennie tanpa sadar memudarkan senyumnya ketika Dennis tanpa hati melepaskan genggaman yang Jennie harap berubah menjadi pelukan harmonis keluarga.


“Kenapa ayah berubah?” gumam Jennie menatap pintu rumah dimana punggung Dennis menghilang.


Mira tak jauh sakit hatinya dari Jennie, ini tak sepenuhnya salah wanita itu.


“Ayah sedang banyak pekerjaan, jadi wajar jika ayah tak stabil.” jawab Mira menyakinkan Jennie dan juga dirinya, pada akhirnya Mira yakin jika Dennis akan kembali padanya—pada keluarganya.


Jennie melepas napas kasar sebelum ia berpamitan ingin keluar mencari angin sebentar.


Ya, kini Mira sendirian lagi ditinggal oleh anaknya yang seharusnya bersamanya dan saling tertawa walau tak bersama Dennis, namun gadis itu lebih ingin mengadu pada alam diluar sana.

__ADS_1


*


“Sarapannya gagal.” kata Jennie yang sekarang tepat berada dihadapan


Hyeon Chul yang memasang wajah ingin tahunya.


“Ck! Padahal jika aku menjadi dirimu—aku akan memakan sarapannya dan tak memikirkan tentang orang tuamu.” sahut Hyeon Chul berpendapat sambil tatapannya mengarah keatas membayangkan makanan yang diceritakan Jennie padanya.


Jennie merasa pendapat Hyeon Chul sejalan dengan pemikirannya merespon dengan tanpa sadar mencubit cepat lengan Hyeon Chul membuat laki-laki itu menghentikan halusinasinya dan mengaduh kesakitan.


“Mereka orang tuaku, mereka benar-benar berharga dalam hidupku! Jika mereka bertengkar pasti rumah akan sangat menyeramkan.” pekik Jennie tak cukup keras menatap Hyeon Chul kesal.


“Kau benar, sedangkan aku tak punya orang tua.” kata Hyeon Chul rendah berniat menyindir Jennie yang berkata seperti itu tanpa memikirkan perasaannya.


Jennie terkesiap ketika Hyeon Chul


mengeluarkan ucapan lirih itu namun bagaimanapun Jennie tetap mendengarnya.


“Maaf, tadi aku tak sengaja.” gumam Jennie sebelum merapatkan bibirnya dan menunduk, Jennie tentu harus berkata seperti ini dan jika tidak siapa lagi yang akan mendengar ceritanya.


Hyeon Chul yang tadinya menatap Jennie dengan sangat tajam dan tak suka berubah menjadi tatapan yang teduh namun masih tetap terlihat tak suka pada Jennie.


“Ya, tak apa.” gumam Hyeon Chul yang masih membelai halus lengannya yang terkena cubitan dari Jennie.


Jennie mendongak cepat kearah Hyeon Chul yang menunjukkan senyum tipisnya, Jennie tentu senang melihat wajah Hyeon Chul yang tak menyeramkan lagi seperti wajah ayahnya.


“Mungkin jika kau ingin ayah mu baik lagi—ibu mu harus meminta maaf padanya.” saran Hyeon Chul sebelum menoleh kebelakang—melihat seorang wanita paruh baya yang menghampirinya.


Jennie yang juga melihat bibi itu segera menundukkan wajahnya dan menyapanya.


“Hallo bibi! Aku Jennie.” kata Jennie semangat dan mengeluarkan senyum terbaiknya pada wanita paruh baya itu.


Bibi itu terkejut sementara lalu segera tersenyum kearah Jennie.


“Hallo sayang, namamu Jennie? Lalu temanmu ini siapa?” tanya bibi itu menatap Hyeon Chul dengan wajah ramahnya.


“Eh, aku Hyeon Chul.” kata Hyeon Chul sedikit kaku namun ia masih berperilaku sopan yaitu membungkukkan badannya setelah ia beranjak dari duduknya.


“Em, kalian kakak-adik? Bagaimana jika kalian aku bawa kerumah bibi? Disana banyak mainan.” ucap bibi itu merayu kedua anak kecil dihadapannya ini.


“Ah? kami tidak kakak adik, hanya berteman. Lagi pula Jennie bukan anak panti asuhan ini.” jelas Jennie secepat mungkin tak ingin dibawa oleh bibi ramah ini.

__ADS_1


“Yah, benarkah? Padahal bibi begitu ingin mempunyai anak perempuan.” lirih bibi itu menepuk kedua tangannya kecewa.


Jennie tersenyum masam sambil terus menatap bibi itu sedangkan Hyeon Chul juga ikut kecewa karna bibi itu sebenarnya hanya ingin Jennie saja bukan dirinya.


__ADS_2