Rumah Petaka

Rumah Petaka
Sosok Mira


__ADS_3

*


“Jennie, cepat mandi.” perintah Mira berniat membuat waktu luang pada dirinya dan Dennis.


Jennie tanpa membantah segera menaiki tangga dan menghilang dari balik pintu putih milik itu.


“Den, ada apa kau dengan Hyeon Chul?” tanya Mira dibelakang Dennis yang sedang merebahkan punggungnya kesofa.


Dennis sedikit membuka matanya dan mendelik mendengar pertanyaan Mira yang rendah nan lembut.


“Apa masalahnya?” tanya Dennis balik dan terdengar sinis membuat Mira enggan untuk bertanya kembali.


Mira segera pergi menuju kamar mandi yang berada didalam kamar dia dan Dennis, wajah Mira terlihat sekali bahwa ia sangat lelah dengan perseteruan ini. Tidakkah Dennis juga seharusnya lelah dengan hubungan mereka yang renggang?

__ADS_1


*


Beberapa waktu berlalu namun tak membuat keheningan ini terkubur. Bahkan sekarang rumah terlihat tak berpenghuni karna lampu dirumah ini sebagian besar tidak dihidupkan dan keadaan rumah yang kotor menimbulkan hasrat para serangga-serangga malam untuk menempati setiap celah rumah.


Disana Dennis dengan lelapnya masih tertidur tanpa lagi membersihkan dirinya, ia bahkan tidur dengan baju yang lusuh dan mulut terbuka, lagi kedua tangan ia rentangkan kepunggung atas sofa.


“Eugh,” desis Dennis membuka matanya dan mengerjapkannya mencoba sepenuhnya sadar dari tidur singkat yang ia selami barusan.


Dennis membenarkan posisi duduknya lalu mengerang kembali merasa tak nyaman pada posisi tidurnya. Dennis menoleh kesamping atas ingin melihat keberadaan Jennie dan Mira dibalik pintu kamar mereka masing-masing.


Dennis bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mereka. Ia membuka pintu kamar dan langsung menemukan Mira yang sedang terlelap tidur. Dennis sementara ini masih menatap teduh kearah wanita yang sedang tertidur menyamping itu.


Hatinya terenyuh melihat wajah letih Mira lalu satu langkah Dennis mendekat, namun suatu suara mengurung niat pria itu untuk kembali berjalan.

__ADS_1


“Dia bukan istrimu, dia bukan Mira.” suatu suara lirih hampir seperti angin lalu itu mengejutkan Dennis yang cepat-cepat berbalik ingin melihat siapa yang berbicara dengannya.


Wajah khawatir Dennis menoleh kesegala arah dibelakangnya. Namun suara ranjang yang terdengar dari belakang, membuat Dennis kembali menoleh, namun nasib sial ia dapatkan.


Dennis mendapati siapa yang ia lihat bukanlah Mira namun wajah wanita yang terlihat hancur. Mata wanita itu hampir keseluruhan putih dan setitik ditengah hitam dan ada sebuah sayatan luka dari rahang ujung keunjungnya lagi mencecerkan gumpalan-gumpalan darah keluar dari belahan sayatan itu.


Dennis bergidik ngeri melihatnya, mulutnya terasa keluh walau hanya untuk membuka mulut. Wanita itu terus menatap Dennis lalu perlahan mulutnya terbuka hingga mengeluarkan asap tebal. Mulut dalamnya sudah terlihat busuk bahkan lidah panjang mahluk ini bergerak leluasa tak seperti lidah manusia biasa. Hingga Dennis mencoba mengembalikan kesadarannya, dan berniat mendorong jauh-jauh mahluk itu. Namun pergerakannya lebih lambat dari pergerakan wanita yang sekarang mencengkram dan mendorong kebelakang lehernya.


“Akh!”


Dennis tak ingin membiarkan wanita ini mengalahkannya begitu saja. Dengan cepat-cepat ia mencengkram leher wanita itu hingga wajah kesakitannya muncul membuat Dennis melepaskan tangannya. Wanita itu bergerak mundur sambil terus memegang lehernya sampai tubuh itu terjatuh dilantai, menunduk kesakitan.


Hingga perbedaan wajah buruk wanita itu perlahan membaik hingga Dennis tahu jika wanita yang terbaring tak lemah disana adalah Mira, istrinya.

__ADS_1


Wajah terkejut Dennis terpampang dengan mata lebar penuh keheranan itu terus menatap tak percaya kearah Mira yang terbaring pingsan dengan memegang lehernya.


“Mira! Mira!” teriak Dennis mendekap tubuh lemah Mira.


__ADS_2