Rumah Petaka

Rumah Petaka
Kehadiran Hyeon Chul


__ADS_3

“Ibu,” gumam Jennie menatap sendu Mira, lalu memegang telapak tangan ibunya lembut.


“Ibu, cepatlah bangun. Aku menyayangimu.” sambung Jennie lirih mengalihkan tatapan matanya pada telapak tangan Mira.


“Eumh, Choi. Terima kasih karna sudah menolong Mira. Maaf jika menyusahkanmu hari ini.” kata Dennis menepuk pelan bahu Ji Won sambil tersenyum sekilas.


Ji Won membalas senyum Dennis, dan menoleh kembali pada Jennie yang bersandar dibahu terbaring ibunya.


“Apapun untuk seorang pasien.” balas Ji Won menatap sayu Mira membuat raut tak suka Denis muncul.


“Jangan bilang kau menyukai istriku.” tanggap Dennis mendapat kekehan hangat dari Ji Won.


“Tentu saja tidak. Lagi panggil aku Won-ie atau Ji Won. Bukan Choi!” jelas Ji Won membuat Dennis mengernyit geli.


Pasalnya ‘Woon-ie’ adalah panggilan yang akrab, atau juga bisa disebut panggilan sayang untuk seseorang.


“Ji Won saja cukup.” tanggap Dennis lirih sambil berdiri melangkah kearah sofa disamping ranjang Mira.


Hyeon Chul diam seribu bahasa mengetahui ia hanya menjadi pelengkap disini, salah ia juga mengiyakan ajakan Dennis untuk ikut. Tanpa pamit bocah itu keluar dari kamar inap Mira, lalu ia menoleh kanan-kiri melihat betapa heningnya rumah sakit ini.


“Hyeon Chul.” panggil seseorang sangat lirih. Membuat Hyeon Chul kesulitan untuk menebak siapa orang yang memanggilnya.


Tiba-tiba diantara para manusia sibuk itu, ada seorang pria yang menatap tajam kearah Hyeon Chul, membuat bocah lelaki itu ketakutan. Perlahan pria itu mendekati Hyeon Chul dengan langkah yang pelan. Dia mengeluarkan senyum miring, lalu membuka topi dan masker hitamnya.


“Paman Hyuk Jae.” gumam Hyeon Chul lirih.


Lalu ia teringat, pria ini adalah orang yang ia kira dalang dari sakitnya Mira.


“Sudah cukup lama kita tidak bertemu Hyeon. 2, 3 atau 4 tahun? Aku tak terlalu merasakannya.” ucap Hyuk Jae mengeluarkan senyum terbaiknya, namun tak membuat Hyeon Chul tertipu lagi.


“Aku pikir paman orang yang baik. Tapi paman yang membunuh keluargaku, 'kan?” tanya Hyeon Chul bergetar menatap marah sekaligus sendu pada Hyuk Jae.


Hyuk Jae terlihat sangat terkejut, matanya melebar dan terlihat marah dengan perkataan Hyeon Chul. Namun wajah penuh terkejutnya itu secepatnya sirna, diganti dengan raut kebahagiaan. Bahkan kekehan dari Hyuk Jae sangat misterius dan kejam.


“Kau yang bodoh! Masih beruntung aku menyisakanmu, sayang.” kata Hyuk Jae terdengar sangat kasar dari awal perkataannya, namun suaranya terlihat sangat lembut diakhir kata. Bahkan wajah itu sangat prihatin menatap Hyeon Chul yang mengepalkan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


“Paman jahat! Aku akan mengatakannya pada mereka!” pekik Hyeon Chul menepis sentuhan jari Hyuk Jae yang akan membelai pipinya.


Namun tak selangkahpun Hyeon Chul bergerak. Tangan itu menarik kasar lengan Hyeon Chul, membuat bocah itu terpental kebelakang.


“Aku akan membunuhmu jika kau mengatakannya. Diam atau dia akan membuat kepalamu berlubang?” kata Hyuk Jae mengeluarkan pistol yang ia sembunyikan diantara Hyeon Chul dan dirinya.


Hyuk Jae menyentak kasar, membuat tangannya terlepas dari lengan Hyeon Chul. Pria itu menyeringai puas dengan jawaban tak langsung dari Hyeon Chul, dengan diamnya bocah itu.


“Hyeon Chul.”


Panggilan cepat setelah terbukanya pintu dari ruangan Mira tersebut, membuat Hyuk Jae spontan mendongak lalu berbalik lari dari Dennis dan Hyeon Chul.


“Siapa dia?” tanya Dennis terkejut dengan reaksi pria misterius tersebut.


Merasa pertanyaannya tak dijawab oleh Hyeon Chul, yang hanya memandang kepergian pria tersebut. Dennis kembali bersuara dengan sedikit menyentak.


“Hyeon!” panggil Dennis, menyadarkan Hyeon Chul yang tersentak lalu cepat-cepat menyeka air matanya. Ia menoleh dengan wajah ketakutan pada Dennis.


Pria itu tahu jika Hyeon Chul bukan ketakutan padanya, melainkan pada pria pengecut itu.


“Aku ingin pulang.” kata Hyeon Chul lirih dengan suara bergetar, yang terlihat sangat meminta tolong pada Dennis untuk mengantarnya pulang.


Dennis tak ingin menambah perdebatan ini, pria itu menghela napas pasrah lalu menatap sayu Hyeon Chul.


“Paman tak bisa mengantarmu ke panti. Kau bisa tidur dirumah paman.” jelas Dennis membelai rambut Hyeon Chul.


Hyeon Chul juga merasa itu lebih baik daripada pulang kepanti asuhan. Karna pastinya Hyuk Jae bisa menemuinya lebih mudah jika ditempat tinggalnya itu.


“Paman,” panggil Hyeon Chul melihat Dennis yang menatapnya hangat dengan wajah yang siap untuk menjadi pendengar yang baik, saat nanti Hyeon Chul menyambung katanya.


“Aku ingin membuat keluargamu terlepas dari teror ini. Jadi izinkan aku untuk bertemu dengan kakekku.” kata Hyeon Chul bersungguh tak ingin membuat perjanjian ini terus berlangsung. Namun ia tak tahu bagaimana caranya, karna itu ia akan meminta bantuan dari kakeknya.


Dennis mengernyit tak mengerti mendapat penjelasan Hyeon Chul. Ia masih sangat tahu jika semua anggota keluarga Hyeon Chul telah meninggal, dan Hyeon Chul sendiri yang saat itu mengatakannya.


“Kapan kau akan melakukannya?” tanya Dennis menatap lekat pada Hyeon Chul, bagi seorang anak kecil sangat jarang terlihat sangat kukuh dengan pernyataannya.

__ADS_1


“Besok Malam.” jawab Hyeon Chul lugas.


Ia ingin menyelamatkan keluarga Jennie, dari para pemilik rumah yang sesungguhnya membawa petaka itu.


Hyeon Chul pastikan saat ia menghapus kutukan tersebut, bukan hanya keluarga Dennis yang selamat namun keluarganya juga akan selamat disana.


*


“Hyeon Chul bisa tidur dikamar tamu. Aku akan membersihkannya.” kata Dennis berlalu menuju sebuah kamar yang paling ujung dilantai atas.


“Kenapa kau menginap disini?” tanya Jennie membuyarkan lamunan Hyeon Chul yang menatap kepergian Dennis.


“Kau pasti merasa keluargamu tak aman, aku akan membantu.” jelas Hyeon Chul cepat sambil duduk menunggu Dennis keluar dari kamar tak berpenghuni tersebut.


Jennie mengerti akan penjelasan singkat Hyeon Chul. Gadis itu teringat jika pagi ini tak ada sesuap makanan pun yang masuk keperutnya.


“Hyeon Chul! Sudah rapi, kemari! Rapikan pakaian yang kau bawa. Ada lemari kecil disini.” teriak Dennis dari dalam kamar.


Hyeon Chul segera beranjak dari duduknya, dan membawa sebuah tas yang berisi pakaian. Meninggalkan Jennie yang sedang meracik makanan instan didapur.


Hyeon Chul melihat seluruh sudut kamar yang lebih kecil ukurannya dari kamar Dennis dan Jennie. Hyeon Chul ingat, ini adalah kamar kakeknya yang ia sayangi lebih dari orang tuanya sendiri.


“Kamarnya kecil, tapi pemandangan dijendela lebih indah dari kamar lain.” gumam Dennis menatap area halaman belakang dari kaca kamar. Pepohonan yang subur membuat Dennis tenang sesaat.


Hyeon Chul segera mengalihkan tatapannya pada Dennis, lalu menjalar melihat pemandangan alam yang dipenuhi pepohonan tinggi. Namun sebuah pohon yang lebih pendek dengan daun yang sangat rindang, membuat Hyeon Chul terfokus disana.


“Pohon itu.” gumam Hyeon Chul menatap pohon itu lekat, membuat Dennis menoleh pada Hyeon Chul. Matanya mengikuti tatapan Hyeon Chul.


“Oh ya, paling berbeda dengan pohon lainnya. Dan bentuknya juga aneh.” tanggap Dennis lalu segera mengguncang bahu Hyeon Chul, agar bocah itu tak lagi menatap pohon itu.


“Jangan melamun, istirahatlah.” kata Dennis menatap heran pada Hyeon Chul yang menatapnya ketakutan.


Tanpa ingin berkata lebih Dennis segera menghilang, meninggalkan Hyeon Chul yang hanya diam tanpa merespon perkataannya.


“Kakek.” lirih Hyeon Chul menghirup udara kamar yang masih menyisakan debu dan jaring laba-laba disudut dan tempat terpencil.

__ADS_1


Mata itu menatap langit atap kamar yang terlihat menyeramkan. Luka itu terbuka lagi, melihat bagaimana ruangan ini membuka ingatan masa lampaunya.


__ADS_2