Rumah Petaka

Rumah Petaka
Suatu Kejanggalan


__ADS_3

“Oh, ya sudah. Aku temani Kau masak, ya?” kata Dennis menduduki wastafel.


Mira hanya terdiam dengan senyum pada Dennis, mengartikan bahwa ia mengizinkan Dennis menemaninya.


Di sela kegiatan memasak Mira, ia sesekali melirik Dennis yang asyik memandang lekat kopinya. Terlihat sekali wajah Mira ingin memberi tahu sesuatu, namun ia takut untuk mengatakannya.


“Dennis.” panggil Mira mengaduk kuah soto di panci.


Dennis menoleh cepat pada Mira yang menatapnya ragu.


“Apa?” tanya Dennis.


Mira menunduk ragu akan mengatakan ini pada Dennis, ia tidak mau Dennis menganggapnya sedang berhalusinasi lagi.


“Kalau aku bilang, aku mengalami gangguan hantu, bagaimana?” tanya Mira balik.


Di luar dari presdiksi Mira. Dennis merasa ini serius, ia berdiri tegak menatap Mira mencari kebohongan di sana.


“Sungguh? Kapan?” tanya Dennis berantusias.


Mira bersemangat dan terharu mengetahui Dennis mau mendengarkannya.


“Itu, sebelumnya, aku melihat nenek sedang bergumam atau mungkin menggerutu di depan jendela kamarnya. Lalu,” cerita Mira berhenti ketika melihat jarinya melepuh.


Mengikuti arah mata Mira, Dennis juga melihat jari tengah Mira yang melepuh itu.


“Saat aku sedang membuatkan kopi untuk nenek, tiba-tiba ada makhluk menggantung di atap dan menatapku, hingga tanganku terkena teko panas. Sebenarnya tiga jariku yang terkena, tapi yang paling parah jari tengah ini.” jelas Mira menatap sendu jarinya.


Dennis lalu bergerak mendekat pada Mira, ia lalu menarik lembut tangan Mira pada telapak tangannya. Wanita itu pun mendongak dan menatap Dennis dengan lembut, sama halnya pada Dennis namun ia lebih terlihat serius.


“Berarti ada sesuatu yang aneh pada nenek, Kau selama ini memang tidak pernah melihat Dia melakukan sesuatu?” tanya Dennis.


Mira berpikir, ia rasa Ji Yong tidak pernah berperilaku aneh, apalagi tentang yang supernatural. Ia dengan jujurpun menggeleng pelan dengan wajah meyakinkan.


“Lebih baik Kau bertanya pada nenek.” saran Dennis tak tahu harus kemana lagi.


Mira menurunkan pandangannya takut, ia kini merasa tidak nyaman bertemu dengan Ji Yong.


“Tanya saja baik-baik, Dia tidak mungkin marah `kan?” sambung Dennis.


“Memang, Kau pikir nenek kenapa hingga ia harus marah?” tanya Mira curiga Dennis berpikir neneknya berhubungan dengan jin.


Dennis terkesiap dengan reaksi berlebihan Mira, namun ia juga tidak mengampik bahwa Dennis berpikir Ji Yong berteman dengan `merekaʼ.


“Aku, bukan. Yah, mungkin nenekmu awet muda dan selalu sehat karena hantu?” jelas Dennis terpojok.


Mira menggeleng keras tidak setuju dengan pemikiran Dennis, ia melengkungkan bibirnya tak senang.


“Nenekku bukan yang seperti itu, Dia sehat karena selalu berolahraga dan awet muda karena menggunakan perawat alami.” sanggah Mira.


Setelah Dennis tak berkutik, Mira lalu kembali melakukan aktivitas memasaknya.


“Memang kita harus bagaimana mencari tahu jika tidak dari nenek?” tanya Dennis.


“Tapi kalau aku bertanya reaksi nenek akan bagaimana, ya.” gumam Mira takut sekaligus penasaran.


“Haish, kenapa tidak membawa saja nenek ke rumah kita?” saran Mira mencari jalan praktis.


“Lalu rumah ini dijual.” lanjut wanita itu menatap penuh gagasan pada Dennis.


“Siapa yang akan di jual? Rumah ini tidak akan dijual.” ucap Ji Yong tiba-tiba di belakang mereka.


Dennis dan Mira menoleh dengan tubuh yang terlihat kaku, mereka terlalu ketakutan hingga tidak bisa bergerak cepat.


Di sini Ji Yong sedang ingin mengambil minum air putih, ia dengan tatapan kosong menekan lama tombol agar air itu keluar.


Dennis dan Mira terdiam melihat gerak-gerik Ji Yong, hingga Mira tersadar dan segera mengajak bicara Ji Yong.


“Nenek, nenek kenapa tidak bilang pada Mira? Agar Mira yang mengantarkan.” kata Mira memperlihatkan rasa sungkannya.


Mira mengajak bicara pun Ji Yong tetap diam, mencari suasana cair, Mira kembali berbicara.


“Nenek, aku masak soto. Nanti nenek tak apa `kan makan ini? Agar nenek cepat sembuh.” kata Mira lagi melihat kepergian Ji Yong kembali memasuki kamarnya.


Dennis akhirnya bisa bernapas lega, ia tidak pernah melihat Ji Yong yang seperti ini.


“Nenekmu kalau sakit begini, ya?” tanya Dennis terkesiap.


Sedangkan Mira hanya diam tidak mau menjawab atau memikirkan pertanyaan Dennis.


[Jam 12:47 Siang]


Makan siang pun akan segera dimulai, Mira tengah membagikan lima piring untuk keluarga makan.


Sedangkan Jennie dengan baiknya membantu Mira membawa wadah nasi dengan bantuan Hyeon Chul yang takut nasi itu tumpah.


Setelah semua sudah lengkap, Mira kemudian dengan terpaksa menemui Ji Yong.


“Nenek,” panggil Mira takut. Karena Dennis tadi ketakutan, ia jadi ikut takut pada Ji Yong.

__ADS_1


“Nenek makannya di sini atau seperti biasanya?” tanya Mira semakin mendekati Ji Yong.


“Di sini.” jawab cepat Ji Yong tidak ingin melihat Mira.


“Ya sudah, aku akan ambilkan makanan, ya?” kata Mira lembut.


Di saat Dennis dan anak mereka sudah mulai makan, Mira harus terlebih dahulu menyiapkan makan untuk Ji Yong.


“Nenek, ini. Makannya yang banyak, ya? Agar cepat sembuh.” nasihat Mira seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya.


Ji Yong hanya terdiam, ia melirik Mira yang meletakkan makanannya ke nakas.


“Ayo nek, aku suapi, ya?” kata Mira bersiap menyuapi Ji Yong.


“Tidak, aku bisa makan sendiri.” tolak Ji Yong ketus.


Mira terdiam gugup mengetahui reaksi Ji Yong, ia merasa tidak melakukan apapun yang salah namun Ji Yong saat ini begitu sinis padanya.


“Kalau begitu, nenek cepat makan, ya? Aku akan pergi.” kata Mira menatap heran Ji Yong.


Dengan raut wajah kebingungan Mira berjalan ke meja makan, perilakunya pun dilihat oleh Dennis.


“Kenapa?” tanya Dennis sebagai sosok yang peka dan perhatian.


Mira pun tersadar dari lamunannya setelah duduk itu, ia lalu menatap Dennis dengan senyuman tipis.


“Tak apa.” jawab Mira memang merasa ini tidaklah sesuatu yang harus diceritakan, hanya saja ia bingung dengan neneknya itu.


“Ah? Ish, abojie!?” pekik Hyeon Chul menjatuhkan sendok yang sebelumnya berada digenggaman.


“Huh? Wae geurae Hyeon Chul-ah?” tanya Dennis turun dari duduknya dan mendekati Hyeon Chul.


Arah mata Dennis mengikuti apa yang ditatap Hyeon Chul. Dan tentu saja ayah dua anak itu terkejut melihat ada belatung di piring Hyeon Chul.


“Apa?” tanya Mira dan Jennie hampir sama, namun mereka hanya menengok piring Hyeon Chul di tempat duduk mereka sendiri.


“Bagaimana bisa?” gumam Dennis menatap lekat piring Hyeon Chul yang terdapat satu belatung di sana.


“Ya sudah, Hyeon Chul makanlah dengan piring baru. Yang ini dibuang saja.” usul Dennis menarik piring makan Hyeon Chul dari meja.


“Tidak mungkin `kan dari soto daging itu?” tanya Mira pada Dennis yang juga kebingungan.


Melihat kepergian Dennis, Mira lah yang harus ambil alih.


“Hyeon Chul, tto, boggo? Jennie ajak Hyeon Chul makan lagi.” kata Mira kebingungan merangkai kata bahasa Korea.


Mira sudah bersiap menaruh nasi pada piring bersih.


“Ah, tidak. Aku sudah kenyang.” jawab Hyeon Chul nampaknya sudah tidak selera makan setelah melihat belatung besar itu.


“Oppa tidak mau, bu.” beri tahu Jennie membuat Mira tidak lagi menggerakkan tangannya.


Dennis pun kembali menemui keluarganya yang berada di meja makan itu, ia terlihat bingung melihat Hyeon Chul yang terdiam.


“Hyeon Chul, kenapa tidak makan lagi?” tanya Dennis pada Hyeon Chul yang menatap murung Dennis.


Hyeon Chul tanpa bicara pun menggeleng pelan dengan wajah masamnya.


“Aku ingin masuk kamar dulu.” kata Hyeon Chul kemudian turun dari duduknya.


Mira dan Dennis kini masih dibuat bingung oleh belatung itu, sedangkan Jennie nampaknya sama sekali tak peduli.


“Jennie, makannya pelan-pelan. Sotonya masih ada banyak.” nasihat Mira tersadar dengan tingkah terburu-buru anaknya.


[Setelah Makan Siang]


Mira bersama Dennis dengan harmonisnya saling tertawa dan bercerita, mereka kini sedang saling membantu mencuci piring dan alat masak yang kotor.


“Heuh, ternyata kita dulu nakal sekali, ya.” gumam Dennis menatap piring yang ia bilas ini.


Suasana pun hening, Dennis sibuk mengamati cucian yang hampir habis ini. Sedangkan Mira, ia sibuk memikirkan neneknya lagi.


“Dennis,” panggil Mira manja setelah ia mencuci tangannya dari piring kotor.


“Heum?” sahut Dennis sangat fokus pada kegiatannya.


“Temani aku bicara dengan nenek, ya?” pinta Mira merengek menatap Dennis penuh harap bagai anak kecil.


Dennis akhirnya menoleh pada Mira, namun setelah itu ia kembali lagi membilas piring yang terakhir kalinya di cuci.


“Kapan? Sekarang? Ayo.” ajak Dennis semangat mengeringkan tangannya dengan kemeja yang ia kenakan.


Mira pun ikut semangat, ia mengangguk pasti dengan senyum simpul.


“Ya, ayo sekarang.” sahut Mira melangkah mendahului Dennis.


Dennis dan Mira lalu ber-iringan berjalan menuju kamar Ji Yong. Setelah sampai di depan pintu, mereka saling bertatap sinyal siapakah yang harus mengetuk pintu.


Hingga akhirnya dengan pembicaraan dari batin itu, Dennis lah yang mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


“Nenek, kami ingin berbicara. Boleh kami masuk?” pinta Dennis lembut.


Dennis dan Mira kembali saling bertatap, mereka akhirnya memilih untuk membuka pintu itu saja.


“Nenek?” sapa Mira saat Dennis membuka pintu dan memperlihatkan Ji Yong sedang duduk di kursi goyang.


Suasana semakin tidak nyaman, Mira dan Dennis hanya terdiam kaku melihat Ji Yong yang melirik ke arah mereka.


“Nenek, aku ingin bicara.” ajak Mira menatap takut Ji Yong.


Dennis dan Mira lalu duduk di atas ranjang, memandang Ji Yong yang masih membelakangi mereka.


“Nenek, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Mira meminta pada Ji Yong.


Memenuhi harapan Dennis dan Mira, Ji Yong sebelumnya menengok sebentar ke arah mereka lalu akhirnya dengan rapuh bangkit dari kursi.


Melihat Ji Yong yang kesusahan, Mira lalu bangkit dan segera menopang bahu Ji Yong. Sementara Dennis memindahkan kursi goyang itu ke hadapan ranjang.


Ji Yong pun kembali duduk ke kursi goyang itu, namun bedanya ia menatap Dennis dan Mira.


Setelah posisi Ji Yong sudah benar dan nyaman, Mira dan Dennis kemudian kembali duduk di posisi semula.


“Nenek, sebenarnya. Kami ingin bertanya.” beri tahu Mira sebetulnya tidak tahu apa yang akan ia tanyakan.


Mungkin karena saking gugupnya dan takut, Mira jadi lupa semua yang ingin ia tanyakan.


“Tanya apa?” sahut Ji Yong.


Mira gugup, ia belum mendapat rasa penasaran lagi pada Ji Yong jika di depan nenek tua ini.


“Apa nenek pernah merasa hal yang aneh pada situasi tertentu?” tanya Mira memulai investigasinya.


Mengetahui arah pertanyaan Mira kemana, Ji Yong terlihat ketakutan samar. Nenek itu sedikit kebingungan akan menjawab pertanyaan Mira.


Namun pemikirannya untuk menjawab pertanyaan itu hanyalah menghasilkan gelengan kepala.


“Nenek, tidak pernah `kah diganggu oleh makhluk halus?” tanya Dennis langsung.


Ji Yong terkejut menatap Dennis dengan mata yang lebar, ia seolah takut ada sosok jahat yang akan mendengar pertanyaan serasa tuduhan bagi Ji Yong.


Nenek tua itu menggeleng, gelengannya yang semua pelan berubah menjadi kencang dengan mata yang ketakutan.


“Tidak! Tidak! Pergi! Kalian pergi!!” teriak Ji Yong berdiri dari duduknya dan berjalan mundur hingga ia terbentur tembok rumah.


“Nenek!!”


Tentu saja Dennis dan Mira terkejut juga khawatir melihat ini, ia mendekat berniat menenangkan Ji Yong namun kelihatannya Ji Yong semakin frustrasi.


Akhirnya Mira dan Dennis hanya terdiam dengan jarak 1 meter dari tempat Ji Yong, mereka berdua ingin seolah ingin menggapai Ji Yong dan menenangkannya dengan menepuk bahu nenek itu. Namun, untuk mendekat saja Ji Yong sudah terlihat semakin histeris.


“Nenek,”


Sadar mereka adalah beban bagi Ji Yong, Dennis bergerak mendekap bahu Mira dan menjauhkan mereka dari Ji Yong.


“Mira,” gumam Dennis menyadarkan Mira.


Setelah istrinya itu menoleh pada Dennis, arah mata pria itu kembali ke Ji Yong.


“Nenek tenanglah, kami akan pergi.” ujar Dennis menarik pelan bahu Mira agar ikut padanya.


Semakin Mira dan Dennis menjauh, Ji Yong semakin tenang dengan berdiri melihat mereka.


“Nenek benar-benar aneh, apa yang terjadi padanya?” tanya Dennis kebingungan ingin mencari tahu.


Sedangkan Mira hanya terdiam tidak mengerti.


[Pukul 16.28]


Jennie dan Mira keluar dari kamar mandi, Mira kini telah selesai memandikan Jennie yang tersenyum senang.


“Heum, kini Jennie wangi!” gumam Mira menggiring Jennie masuk rumah.


“Mana? Sekarang giliran Hyeon Chul,” kata Mira mencari Hyeon Chul dengan pergerakan matanya.


Tanpa tahu, Hyeon Chul memang sudah siap membawa handuknya, ia muncul dari ruang tamu.


“Come on, Hyeon Chul. Let's get shower.” kata Mira berharap Hyeon Chul tahu maksudnya.


Tak disangka namun diharapkan, ternyata Hyeon Chul tahu perkataan Mira. Ia menggeleng menjauh lari dari Mira yang akan menangkapnya.


“Hajjima! Andwe!” teriak Hyeon Chul membuat Mira bingung.


“Ibu, Oppa Hyeon Chul sudah besar. Dia bisa mandi sendiri.” pekik Jennie cemburu.


“O'oh,” dengus Mira tersenyum lucu.


Hyeon Chul lalu dengan cueknya segera pergi dari hadapan Jennie dan Mira, ia sedikit berlari memasuki kamar mandi.

__ADS_1


“Ayo, bu.” ajak Jennie berjalan lebih dahulu dari Mira.


Ibu dari Jennie dan anak dari Mira itu kembali berjalan dengan pelan menuju kamar terdepan bagian kiri yang di mana itu adalah kamar anak Mira.


__ADS_2