Rumah Petaka

Rumah Petaka
Menemukan Eun Hyuk


__ADS_3

“Sial,” gumam Dennis sambil duduk berteduh di lantai teras rumah lusuh milik warga ini.


Mata Dennis menatap dari ujung pandangan sampai ke ujung pemandangan desa dengan tatapan kesal karena hujan lebat yang turun di saat sedang semangat-semangatnya mencari Eun Hyuk.


Hyun Man lalu dengan wajah kerepotan ikut duduk di samping Dennis yang masih berwajah kesal. Mereka sebenarnya kini berada di bibir lantai rumah yang berdiri di atas penopang batang-batang kayu di bawah ini. Mau tak mau mereka diam dan ikhlas saja menerima saat wajah ataupun kaki mereka terkena semburan lembut air hujan yang terbawa angin.


Terkadang Dennis mengusap wajahnya yang basah karena percikan hujan.


Kreek..!


Pintu rumah yang Dennis dan Hyun Man singgahi ini terbuka, menarik perhatian Dennis dan Hyun Man. Pandangan mereka yang terkejut langsung bertemu dengan seorang wanita yang menggunakan ikat kepala berwarna putih dengan wajah wanita itu yang sangat jelas terlihat kesusahan dan lusuh.


Dennis sadar mereka belum meminta izin pada sang Pemilik Rumah, sehingga ia pun berdiri menghadap wanita tua itu untuk mencoba berbicara.


“Cheoseong hanmida aggashi,”


“Kau pergilah, kalian pergilah..” ujar wanita terlihat nanar dan ketakutan.


Dennis dan Hyun Man nampak kebingungan, mereka saling menatap dengan pertanyaan bagaimana mungkin wanita itu kejam sekali meminta mereka pergi di saat hujan begini. Wanita itu nampak semakin ketakutan, ia melihat ke sekitar dengan mata yang begitu sedih, tertekan dan waspada.


“Pergilah, tempat ini sudah gila. Hapus semua keinginan mu di sini. Sebelum mereka membunuh mu, pergilah!” teriak Wanita itu di akhir katanya sambil mengibaskan tangan pada Dennis dan Hyun Man.


Wanita itu nampak semakin ketakutan, tubuhnya bergetar memandangi sekeliling desa yang bisa dia lihat itu. Ia lalu cepat-cepat menutup pintu reot berbahan kayunya dengan sedikit hentakan, dan wanita tua itu tentu meninggalkan Dennis dan Hyun Man yang kebingunan dan ikut ketakutan berpikir buruk yang lebih jauh dan dalam.


Wajah terdiam nan gugup Hyun Man menatap lekat Dennis yang juga sedang focus berpikir, namun tiba-tiba, berharap agar Dennis tidak bisa menjangkau dirinya, pria itu segera berdiri dan berlari menerjang hujan pergi akan meninggalkan Dennis.


Dennis tentu terkejut, awalnya dengan kebodohan ia hanya menatap Hyun Man kebingungan namun ia segera berlari menuju Hyun Man ketika ia memprediksi dan ia pastikan itu benar bahwa pria berprofesi polisi itu akan melarikan diri.


“Hyun! Yak!” teriak Dennis berusaha menyamai cepatnya lari Hyun Man.


Dan betul saja, setelah mereka kejar-kejar an beberapa menit. Hyun Man bukan lari menuju kedai yang sebelumnya menjadi tujuan untuk menangkap Eun Hyuk, melainkan ia malah lari ke rumah penginapan mereka selama di Desa Jinan.


Hyun Man memasuki rumah, ia berlarian menuju kamar dan ruang tamu untuk mengambil barang-barang.


“Hei apa yang Kau lakukan ini?” tanya Dennis menepuk dan menarik bahu Hyun Man setelah ia berhasil berada di dekat pria ini.


“Tentu saja pergi.” jawab Hyun Man sepat namun lantang sambil masih mengambil beberapa barang yang berguna di perjalanan nanti.


Dennis tentu marah dengan penjabaran Hyun Man yang tidak meng abdi pada profesi-nya, ia dengan cepat dan tanpa sadar menurunkan salah satu ujung kedua alisnya hingga hampir menjadi satu.


“Kau gila? Bagaimana dengan teman satu kota Seoul mu? Kita harus mencari mereka dahulu sebelum pergi!” kata Dennis dengan suara lantang, mengalahkan deru suara hujan yang keras.


Dennis terus memukul dan menepuk bahu Hyun Man, melampiaskan rasa kesalnya dan agar menyadarkan pria ini.


Hyun Man malah nampak marah, ia menyentak bahunya hingga tangan Dennis yang masih di sana tersentak lepas.


“Siapa yang gila di sini? Hah?! Bukankah Kau yang meminta kami untuk mencari Eun Hyuk dengan supernatural gilanya? Sudah tahu Eun Hyuk itu aneh tapi Kau mengajak orang lain ikut bunuh diri bersama mu?! Begitu?!” tanya Hyun Man menyudutkan Dennis yang terdiam mematung terkejut.


Pria itu kini tidak bisa mencegah Hyun Man pergi, ia hanya mematung sejenak mengarungi rasa bersalah lalu berjalan dengan pelan hingga keluar rumah dengan tatapan menunduk.


Dennis terdiam berdiri membelakangi rumah, hujan terus turun membasahi tubuh Dennis tanpa ampun. Andai saja hujan yang bersih ini bisa menghapuskan dosa dan rasa bersalah Dennis.


Brak!


Namun, suara pintu tertutup kencang di belakang Dennis membuat pria itu berbalik menatap rumah penginapan dengan mata yang melebar terkejut dan khawatir terjadi apa-apa pada Hyun Man.


Terlihat di sana pintu rumah yang sebelumnya terbuka lebar kini tertutup dengan rapatnya. Tak lama dari dalam ada sebuah kekuatan menggedor pintu utama tersebut agar terbuka dengan knop yang bergerak ke atas ke bawah.


“Tuan Dennis! Anda masih di sana?! Tuan tolong saya!” teriak suara Hyun Man sambil memukul berkali-kali pintu kokoh yang tertutup rapat ini.


Dennis tersadar Hyun Man butuh bantuan, ia lalu segera berlari menuju pintu mencoba menolong Hyun Man yang terjebak di dalam rumah besar penginapan itu.


Setelah sampai di depan pintu rumah penginapan, Dennis mencari cara agar pintu itu bisa terbuka, melihat ada sebuah kursi di samping pintu, Dennis lalu mengambil kursi kayu yang berada di sampinya dan langsung memukul knop pintu agar rusak.


“Kalau tidak bisa mendobrak pintunya, coba pukul knop pintu saja!” perintah Dennis meninggikan suaranya, karena ia melihat pintu utama itu yang terus terdorong cepat dari dalam ke depan.


Hyun Man nampak menuruti perintah Dennis dengan pintu yang tidak lagi terdobrak, pria itu segera mengambil barang besar untuk memukuli knop pintu.


“Aaa..akh!” teriak Hyun Man melampiaskan frustasi dan ketakutannya pada knop pintu yang tidak lecet sedikit pun walau telah Hyun Man pukuli.

__ADS_1


Hyun Man tak hentinya memukul knop secara brutal hingga sebuah serangan tak terlihat menggores pergelangan hingga siku Hyun Man dengan cepat dan dalam.


“Akh! Apa ini?!” teriak Hyun Man spontan membuang barang aksi pukulnya pada knop pintu dan melihat marah juga sebenarnya takut pada tangannya dengan kulit yang terbuka dan tertusuk dalam.


Dennis yang mendengarnya terkejut ia ikut terdiam sejenak, ia tak lupa bertanya bagaimana keadaan Hyun Man dengan salah satu sisi wajahnya ia lekatkan pada pintu.


“Neon gwenchana Hyun-ya?” tanya Dennis menempelkan telinganya di pintu .


“Akh, tangan kanan ku terluka.” gumam Hyun Man kesakitan namun masih bisa di dengar oleh Dennis.


“Eugh.. kau harus segera mengeluarkan aku dari sini!” perintah Hyun Man berteriak, ia sudah merasa gila dan frustasi.


Dennis mengangguk pasti dengan wajah serius, ia menatap lekat knop pintu yang terus ia pukul namun tak sedikit pun terlihat rusak itu.


Wajah Hyun Man semakin terlihat ketakutan dan sedih ketika ia merasa ada suatu aura datang menemuinya. Dengan tubuh yang tiba-tiba tidak bisa digerakkan, Hyun Man hanya bisa melirik ke segala arah.


Dahinya basah oleh keringat yang membuat tubuhnya kepanasan disebabkan oleh rasa ketakutan yan berlebih.


“Ahh.. cepatlah Tn. Dennis!” keluh Hyun Man merasa kedua bahunya kini tengah dirangkul oleh sebuah tangan besar namun transparan.


Dennis tak tahu benar dengan apa yang terjadi di dalam rumah, namun mendengar keluhan frustasi Hyun Man membuat ia semakin bersemangat umtuk menolong pria itu dengan cara memukul knop pintu.


Bahu Hyun Man ia gerakkan secara serampangan berharap aura negative itu bisa pergi. Kini entah mengapa seluruh tubuhnya bergetar seolah ingin membentengi aura tersebut.


Suara pukulan keras yang tak henti-henti dari luar knop pintu kini lebih mendominasi dari pada suara hujan. Kesenyapan di tengah-tengah suara pukulan dari Dennis membuat batin Hyun Man malah semakin terusik, ia kini tambah lebih focus pada aura hitam di belakangnya.


Kini tak hanya sentuhan transparan yang dialami Hyun Man, ia sekarang mulai merasakan bisikan-bisikan setan menutup telinganya untuk hanya dapat mendengar dari ‘nya’.


Hyun Man memejamkan matanya takut sambil menggelengkan kepalanya berusaha mengusir bisikan setan ini.


“Argkh..! Dennis cepatlah! Heu..” teriak Hyun Man dengan di akhir suaranya yang bagai menahan tangis.


Rintihan Hyun Man semakin membuat Dennis terbakar semangat, namun apalah daya, otot Dennis sudah melemah dan cedera. Beberapa kali Dennis mengaduh nyeri merasakan ototnya yang kencang karena gerakannya.


“Eugh..” lenguh Dennis sudah putus asa.


Sementara Hyun Man yang berada di dalam rumah sangat terkejut mendengar tak ada lagi suara pukulan di luar, giginya bergemelatuk cemas harap Dennis tak berhenti secepat ini.


“Tuan, Dennis?” tanya Hyun Man di suasana yang senyap ini.


Sreek..


Tak..


Mata jeli Hyun Man seketika mengarah pada objek yang menimbulkan suara, keringat bercucuran di keningnya. Udara menipis membuat dadanya naik turun mencari udara lebih.


“Tuan..”


Srek..


Brak!


Sreet!


“Aa! Aakhh!”


Tubuh Hyun Man ia rasa terdorong dari belakang lalu sebuah tangan besar berkuku panjang dan tajam menariknya menjauh dari pintu. Kedua tangan Hyun Man memberontak mencoba menggapai semua barang yang berada di dekatnya.


“Dennis!” teriak Hyun Man meminta pertolongan.


Dennis yang mendengar semua suara itu berdiri cepat, ia mendobrak pintu rumah tersebut beberapa kali namun tetap saja pintu itu kokoh bertahan.


`Tidak, kekuatan sihir tidak bisa lawan dengan nyata. Caranya adalah melenyapkan portal antara dimensi nyata dan dimensi para setan terkutuk ini.ʼ ujar Dennis dalam hati menatap lekat pintu tersebut.


“Huh, kurang ajar.” gumam Dennis kesal mengepalkan tangannya.


“Hyun Man! Bertahanlah!” teriak Dennis menyemangati Hyun Man yang tidak membalas selirih apapun.


Namun Dennis tidak peduli, ia segera berlari menuju tempat yang sudah ia firasati Eun Hyuk berada di sana.

__ADS_1


Namun sebelum itu, Dennis terlebih dahulu akan menemui warga untuk meminta pertolongan.


“Tolong!” seru Dennis mengetuk secara tak sabar pintu salah satu warga.


Brak! Brak! Brak!


Kini tak cukup mengetuk, Dennis pun menggebrak pintu rumah warga yang tak kunjung membukanya ini.


“Tolong! Tolong kami!” teriak Dennis tak sabar.


Kemudian, pintu pun perlahan terbuka. Dan tampillah sosok kakek tua yang nampak ketakutan. Dennis sampai sedikit tertegun melihat wajah kakek itu yang was-was.


“Kakek, tolong, tolong kami.” rintih Dennis.


“To-tolong apa, nak? Kami saja sudah kesusahan.” balas kakek itu sedih.


“Tidak kakek, ku mohon. Ada 14 orang yang menjadi korban kejahatan Kim Eun Hyuk. Kakek...kakek tahu pastikan siapa itu Eun Hyuk?” jelas Dennis memohon meminta pertolongan.


“Nak, carilah orang yang lebih muda. Aku sudah tidak bisa.” gumam kakek itu.


Kakek tersebut kembali menutup pintu dengan tatapan lekatnya pada Dennis yang tiba-tiba terdiam melihat mata kelam kakek itu yang nampak benar-benar kesusahan.


“Kakek, kakek ku mohon bantu kami.” rengek Dennis masih menggedor pintu.


Dari dalam rumah, kakek itu menghela napas berat.


Setelah begitu lama Dennis membujuk kakek itu yang masih bergeming, Dennis dengan terpaksa akhirnya mengalah.


Setelah dua langkah Dennis berjalan menjauh dari rumah reot itu, tak disangka pintu terbuka dengan cepat dan lebar. Seorang kakek itu pun terlihat.


“Nak!” panggil kakek itu membuat semangat Dennis kembali muncul.





Ia lalu segera pergi menuju pondok besar yang terletak di pinggir desa Jinan ini dengan tergesa-gesa.


Akhirnya, setelah 1 jam perjalanan. Dennis akhirnya sampai di pondok besar tersebut.


Tiba-tiba, langit yang sudah gelap kembali menjadi lebih gelap, angin bergerak bagai memberontak memporak-porandakan ranting dan dedaunan kering.


Di sana, di ruangan paling atas pondok yang jika dilihat dari luar berbentuk segitiga itu.


Di dalam sana nampaklah sosok pria berbahu lebar dengan kaki yang jenjang itu berjalan selangkah demi selangkah mendekati kursi goyang di dekat jendela besar bagai pintu yang memperlihatkan langsung keadaan di luar.


Kim Eun Hyuk, mata jernihnya menatap tajam penuh rasa antusias pada sosok Dennis yang menatap bengis pintu pondok ini.


“Kim Eun Hyuk! Aku tahu kau di sini! Keluar kau!” lantang Dennis memandang detail semua arsitektur pondok ini.


“S*kkie.. Yak! Nagga!” teriak Dennis lagi berjalan lebar menuju pintu.


Ketika Dennis berjalan tertatih-tatih karena sebelumnya telah menghabiskan banyak energi, pintu pondok yang lebar dan menjadi dua bagian itu terbuka dengan pelan membuat Dennis terdiam seketika.


Tch, Dennis jengkel. Ia marah dengan sifat pecundang Eun Hyuk yang hanya bisa menyerang dari belakang.


“Tch! Sekkia! Shippal!” teriak Dennis frustrasi dengan pemikiran dan apa yang ia alami hari ini.


“Eun Hyuk brengsek! Keluar pecundang!” teriak Dennis lantang mengibaskan tubuhnya memberontak.


Setelah itu semua, sialnya Eun Hyuk tidak keluar juga.


Dennis terdiam, ia melihat dalam pondok itu yang begitu gelap tak dapat melihat apapun di sana.


Namun, Dennis merasa ada sebuah gelombang besar yang akan menyerangnya. Gelombang itu begitu kuat dan cepat menerjang wajah Dennis sampai-sampai pria itu terjungkal ke belakang karena dorongan dengan waktu kurang dari 1 detik ini.


Gelap, Dennis hanya bisa merasakan pusing dan sakitnya kepalanya. Setelah itu, ia tak sudah sadar.

__ADS_1


__ADS_2