Rumah Petaka

Rumah Petaka
Hasutan


__ADS_3

Flashback End




Wajah kalut serta menahan tangis dari Hyun Man nampak jelas. Ia kini sedang mengemudi menuju pusat daerah Daegu dan segera memberi tahu pihak berwajib tentang keadaan di Desa Jinan.


“Bagaimana..? Bagaimana kalau nyawa mereka tidak tertolong..?” gumam Hyun Man bergetar.


Beruntung di malam hari, jalan menuju pusat kota kini leluasa sampai hanya mobil Hyun Man saja-lah yang melaju.


Hyun Man pun menancap gas hingga 200km/jam agar ia bisa cepat-cepat ke kantor polisi.


Alhasil, hanya dalam waktu 56 menit. Hyun Man telah sampai di kantor polisi terbesar di Daegu ini.


“Inspektur! Kopral! Siapapun tolong!” teriak Hyun Man sambil berlari memasuki kantor polisi yang buka 24 jam ini.


Lalu sesosok penjaga pun datang mendekati dan menenangkan Hyun Man yang masih kelabakan.


“Hei, nak. Tenanglah. Duduk.” tanggap penjaga kantor polisi itu tidak diacuhkan Hyun Man.


“Tidak pak! Pak tolong panggilkan resor kasus Kim Eun Hyuk! Ada hal darurat pak!” seru Hyun Man tak mau tenang.


Melihat ada hal genting, penjaga itu segera berlari memasuki aula khusus.


Hyun Man lalu terduduk di ruang tunggu umum dengan kedua tangannya memegang kepalanya yang terasa sangat berat.


“Anda? Polisi dari Seoul bukan?” tanya seorang pria dengan suaranya yang begitu berat.


Hyun Man lalu segera mendongak dan berdiri tegap.


“Pak, saya mohon panggil Dokter kepolisian untuk menolong polisi-polisi kalian di Jinan. Semuanya parah pak, mereka sekarat!” ujar Hyun Man memegang kedua tangan polisi berjabat Jenderal itu.


“Siapkan dua mobil dinas, 11 mobil medis dan 4 dokter spesialis bedah.” perintah Jenderal Eksekutif Resor Kriminal Bong Sang Pil kepada tiga orang polisi yang berada di belakangnya.


Ketiga polisi itu mengangguk pasti dengan wajah serius, mereka lalu berlari pergi setelah menghormat pada Sang Pil.


“Ayo, pak. Ayo!” seru Hyun Man menarik-narik tangan Sang Pil.


“Tunggu, ya? Kami siapkan dulu mobilnya.” kata Sang Pil lembut.


“Ayolah pak! Mereka bisa mati sekarang! Aku bahkan tidak berani mengangkat tubuhnya karena mereka terlalu lemah..huhu..hiks...hiks.”


Kini tangis rapuh dan trauma Hyun Man terdengar pedih di ruangan yang senyap ini, Sang Pil pun hanya bisa terdiam dengan berkerut dahi.










__ADS_1




R.S Geosung


Keramaian di jam 5 pagi di Rumah Sakit Geosung ini terjadi, para dokter magang maupun yang sudah terlatih kini berkumpul untuk menyambut kedatangan para pasien yang dikabarkan mengalami luka parah.


Dokter Bedah Saraf bernama Geo Lee Jun yang memimpin dokter-dokter lain untuk menangani kasus besar ini.


“Dokter Geo, persediaan alat CT scan dan rontgen telah tersedia. Kami pastikan bisa menangkup jumlah korbannya nanti.” beri tahu salah seorang dokter mendekat di belakang tubuh ramping Dokter Lee Jun.


“Oh, bagus.” tanggap Lee Jun tersenyum dengan bibir tipis dan kecilnya itu.


Tak lama kemudian, mobil ambulans datang berturut-turut. Lee Jun pun segera memerintahkan para dokter dan suster untuk menurunkan para korban dari mobil ambulans.


“Segera bawa mereka ke ICU. Lebih baik langsung periksa dengan MRI Scan.” tutur Lee Jun setelah mengetahui keadaan korban yang lebih parah dari pada bayangannya.


Bisa jadi tengkorak korban ritual setan Eun Hyuk ini retak, dan dipastikan kedua pergelangan tangannya hampir putus. Sedangkan tulang disepasang pergelangan kakinya bisa saja retak dan hampir patah.


Wajah-wajah korban sudah tidak bisa lagi nampak jelas karena telah dilumuri oleh darah dan efek tulang tengkorak mereka yang tergeser.


Mata kecil dan tajam berwarna cokelat milik Lee Jun itu mengamati dengan serius hasil rontgen, matanya mendelik tak sadar mengetahui begitu parah retakan yang dialami korban-korban ini.


Hyun Man dengan kaki panjang kekarnya berlari kencang menuju laboratorium yang menangani korban desa Jinan. Ia sambil menangis sesenggukan terkadang menyenggol bahu seseorang tanpa ia peduli.


Sesampai di laboratorium yang Hyun Man lihat ternyata sudah ada sekitar 4 dokter yang menjaga pintu, Hyun Man dengan wajah kalut berusaha meminta para medis untuk mengizinkannya berbicara pada pemimpin dokter mereka.


Kegaduhan terjadi di luar ruangan yang dipakai Lee Jun dan beberapa dokter ini. Karena terganggu, Lee Jun turun tangan sendiri untuk membuka pintu laboratorium dengan wajah dingin terganggunya.



(Uwu~ ganteng banget nih suami orang 😍)


“Ah! Anda Dokter Lee Jun bukan?” tanya Hyun Man memastikan, tidak memperdulikan wajah terganggu Lee Jun.


“Tolong tangani korban bernama Dennis! Ku mohon! Dia yang paling membutuhkan pertolongan! Ku mohon!” seru Hyun Man menempelkan dahinya pada kedua tangan lentik Lee Jun, sedangkan pemiliknya nampak sedikit kebingungan.


Lee Jun segera menarik kembali tangannya, lalu berkata dengan bijaknya.


“Saya spesialis terbaiknya, siapa korban yang paling membutuhkan sayalah yang tahu. Anda tolong tenanglah.” kata Lee Jun menatap datar Hyun Man yang masih menunduk lemah dan menangis diam.


Lee Jun tanpa peduli lagi segera kembali memasuki laboratorium.





Jam 2 pagi di Kota Sangatta, Rumah Sakit Pandewunu.


Beberapa Suster dan Perawat nampak mulai kembali bekerja, mereka memeriksa kondisi pasien mereka masing-masing.


Ya, hanya beberapa pasien dari kelas bawah yang dicek. Sementara untuk kelas atau lantai atas, mereka akan dicek saat jam 6 pagi, sehingga keadaan lantai 27 hingga keatas masih belum tersentuh oleh orang banyak.


~


~


**Hyeon Chul sudah mempunyai tekad bulat, ia sudah tidak mengingat keluarga Dennis yang menganggapnya ada.


Hyeon Chul sangat rindu, kasih sayang ibu dan ayahnya yang hangat dan lembut. Ia sangat berharap bisa mengatakan bahwa Hyeon Chul sangat mencintai dan menyayangi ayah Hee Cheol dan ibu Jin Neun.

__ADS_1


“Jalannya..di sana...” desis kakek Hyeon Chul menatap lekat bagai terhipnotis pada jendela besar di depan Hyeon Chul**.


~


~


“Hosh!”


Hyeon Chul terbangun karena ia tidak bisa bernapas, tubuh atasnya pun sampai terangkat karena terkejut.


Pintu dan jendela tertutup, tapi Hyeon Chul merasakan angin lembut nan dingin yang menerpa tengkuknya.


“Jalannya..”


Hyeon Chul terkejut dalam diam mendengar suara yang terbawa angin tersebut. Ia lebih terfokus dengan apa kata yang dibawa angin lembut itu.


Mata Hyeon Chul melirik pada Mira dan Jennie yang masih terlelap tidur.


Tidak, tekadnya dimimpi maupun di alam yang nyata tidak boleh berbeda. Hyeon Chul berdiri dan turun dari ranjangnya. Ia menarik kasar alat infus yang masih tertancap di pembuluh vena miliknya.


Hyeon Chul pikir jendela yang ditunjuk kakeknya ada di dalam kamar inapnya, namun jendela kamar inap itu lebih kecil daripada yang ia lihat dari mimpi.


Karena itu Hyeon Chul lalu segera keluar dari kamar inap, ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari jendela tersebut.


Lampu inti lorong kamar inap rumah sakit ini tidak di nyalakan, hanya lampu kecil yang menyala sehingga masih sedikit terlihat.


Kebetulan, di lorong kamar inap ini hanya satu yang terpakai, yaitu kamar milik Mira, Hyeon Chul dan Jennie. Karena itu, kamar inap yang lain tidak diberi penerangan sama sekali.


Hyeon Chul terus berjalan ke arah kanan, yaitu semakin jauh dari pintu keluarnya lorong kamar inap kelas menengah ini. Ia melihat pintu-pintu kamar inap yang diberi kaca panjang di tengah atasnya sehingga Hyeon Chul bisa melihat ke dalam kamar inap yang senyap dan dingin.


Klek..!


Mata Hyeon Chul dengan sigap menoleh ke sumber suara, ia melihat jendela setinggi 120 sentimeter itu nampaknya terbuka kuncinya.


Dengan cepat Hyeon Chul berjalan ke jendela besar nan panjang itu. Tanpa rasa takut, Hyeon Chul duduk berjongkok di ambang jendela.


Hyeon Chul terlebih dahulu membuka lebar penutup jendela itu dan menyegelnya, agar saat ia lompat tidak ada yang menghalanginya.


Namun, desiran rasa gusar datang di pikirannya. Hyeon Chul merasa jantungnya berpacu lebih cepat.


Entah, Hyeon Chul merasa bimbang apakah ia akan lakukan ini. Seperti, seseorang sedang mengamati dan mengendalikan dirinya.


Tiba-tiba Hyeon Chul kembali merasa ia harus mati dan bertemu keluarganya, ia lalu cepat-cepat berdiri tanpa rasa takut di ambang jendela. Ia melihat ke bawah, sekitar 10 meter ia berjarak dengan tanah halaman rumah sakit ini.


“Akh..!”


Hyeon Chul mengaduh, konsentrasi nya buyar.


Hyeon Chul tapi masih ingin mati, ia lalu kembali berdiri tegak.


Setengah badan Hyeon Chul akan melompat tapi ia mendengar suara di hatinya.


“Penggal!”


Glek!


Dorr!


Hati Hyeon Chul bergetar, ia tiba-tiba mengingat sosok Dennis. Matanya setengah membayangkan keadaan Dennis, ayahnya yang sekarang sedang hampir mati.


Hyeon Chul tak tahu apa yang terjadi, Hyeon Chul hanya percaya bahwa Dennis tengah dibunuh.


Mengetahui itu, Hyeon Chul lemas. Ia sedih teramat hingga rasanya ia akan pingsan. Mata Dennis hampir tertutup dengan tubuhnya yang kemudian jatuh ke depan.

__ADS_1


Deug!!


Darah hitam mengalir membasahi rerumputan halaman rumah sakit.


__ADS_2