
Wartawan itu mendongak, melepas sejenak kesibukannya berganti dengan rasa terkejut akan perkataan.
“Iya, pak. Tak apa.” tanggap salah satu wartawan mewakili.
“Pak, bagaimana penjelasan tentang kecelakaan keluarga Anda?” tanya wartawan memulai.
“Saya jam 1 siang itu dapat telepon dari kepolisian bahwa Istri dan anak saya ikut dalam daftar korban kecelakaan, saya langsung pergi ke rumah sakit ini setelah diberi tahu oleh kepolisian.” jawab Dennis mengusap rambut dan kepalanya tak nyaman.
“Awal pertama bagaimana kondisinya pak?” tanya wartawan memilah dengan hati-hati pertanyaan yang penting mengingat Dennis hanya mau menjawab 4 pertanyaan.
“Untuk Jennie, ia hanya luka biasa, beberapa memar berat ada di lengannya. Sedangkan istri saya Mira, dia cukup parah, punggungnya yang melindungi Jennie dari kecelakaan ada beberapa yang tergeser. Kalau Hyeon Chul, ia masih di observasi, keadaannya masih kritis setelah dioperasi kepalanya.” jelas Dennis menghembuskan napasnya berat.
“Posisi masing-masing anggota keluarga bapak ada di mana, pak?” tanya wartawan lagi untuk ketiga kalinya.
“Mira yang mengendarai, Jennie di samping ibunya, sedangkan Hyeon Chul ada di belakang. Katanya sedang tidur saat itu.” jawab Dennis sudah bersiap-siap membuka kembali pintu kamar inap.
“Tadi bapak bilang istri bapak melindungi Jennie, tolong ceritakan secara kronologis, pak.” tanya wartawan itu.
“Istri saya satu-satunya yang tahu akan ada angkutan pohon-pohon besar yang terguling, jadi yang bisa ia lindungi hanya Jennie yang tertidur dengan memeluk dari atas tubuh Jennie.” jawab Dennis sambil melangkah hampir memasuki kamar.
“Pak, tolong satu lagi pak!”
“Aish, sudah-sudah.”
“Pak satu lagi pak!”
“Bagaimana keadaan mobilnya? Seberapa persen kerusakan?” tanya wartawan itu segera membuat berat hati Dennis ingin meninggalkan.
Dennis lalu memposisikan kembali tubuhnya ke semula.
“Kaca depan mobil pecah hingga berlubang cukup besar, atas bagian tengah tertimbun 3 batang pohon kayu. Kerusakan sekitar 70 persen. Kalian kalau seperti ini tanyalah ke polisi, bukan saya, ya.” nasihat Dennis di akhir kata segera memasuki ruangannya.
“Ya, terima kasih pak.” ucap wartawan tersebut terdengar terpaksa.
Dennis terdiam dari balik pintu dengan wajah suramnya, mengingat-ngingat kejadian itu membuat dendam Dennis semakin berat pada Eun Hyuk.
__ADS_1
Dennis lalu merogoh saku celana mencari ponsel, setelah menemukannya Dennis segera menelepon Sekretaris-nya.
“Hani, jam berapa rapat-nya?” tanya Dennis segera setelah Hanisa sang Sekretaris menjawab telepon.
“Ah? Eum, jam 2 siang Direktur.” jawab Hanisa sedikit mematung.
Mengetahui apa yang menjadi pertanyaannya, Dennis tanpa bicara sedikit pun langsung menutup sambungan telepon.
Sejak kecelakaan itu, Dennis menjadi sangat dingin pada semua orang, dan entah kapan ia bisa kembali lagi menjadi hangat.
Dennis segera bersiap-siap menuju kantor. Namun sebelum itu, Dennis harus pergi terlebih dahulu ke rumah untuk mandi dan mengambil baju bersih.
Setelah mencuci wajah, Dennis tidak langsung pergi dari kamar inap, ia terlebih dahulu mencium kening Jennie dan istrinya sambil berpamit pergi sebentar.
“Aku pergi, ya.” pamit Dennis pada Mira yang masih tertidur pulas.
.
.
.
Dennis kini sedang berada di ruang rapat yang memutuskan apakah ia mendapat hari bebas tanggung kerja atau tidak, dirinya kini sedang sangat serius untuk meyakinkan para atasannya agar menerima dan meng-apresiasi presentasinya.
Terlihat Presiden Aris menyimak dengan antusias penjabaran Dennis, ia dengan para Dewan Direksi terduduk diam mendengar perkataan demi perkataan bermanfaat Dennis.
“Kalau cara memanfaatkan investor sendiri ini berhasil, laba kotor perusahaan bisa mencapai 1 triliun lebih, atau laba bersihnya sekitar sembilan ratus delapan puluh tiga miliar. Sekitar 94 persen keuntungan yang akan kita ambil. Sementara kalau ini tidak sama sekali berhasil walau saya sangat berharap ini berhasil, kita masih bisa mendapatkan aset tanggungan negara sekitar 0,6 persen. Tidak ada ruginya perusahaan mencoba ini, jajaran yang sangat saya hormati.” tekan Dennis di akhir-akhir katanya sambil membungkuk hormat.
Saat kembali menegakkan tubuhnya, Dennis tersenyum lebar dengan wajah penuh keyakinan.
Tak lama, semua orang yang berada di ruangan ini kecuali Dennis bertepuk tangan meng-apresiasi kinerja Dennis yang begitu luar biasa.
Pintu besar berbahan baja mengkilap itu dibuka oleh kedua pelayan yang berada di tiap samping pintu, segera setelah dibuka kedua orang pria berjalan keluar dari ruangan dengan berpintu baja tersebut.
“Presentasi mu tadi bagus, Dennis.” puji Presdir Aris menepuk punggung Dennis.
__ADS_1
“Ehhe, terima kasih Presdir.” balas Dennis tersenyum lebar.
“Presdir, kata Sekretaris Hanisa, saya hanya mendapat satu hari dari bebas kerja.” kata Dennis memulai.
Aris menoleh sekejap pada Dennis menanggapi, ia lalu kembali melihat jalanan.
“Bagaimana? Apa Kau lelah?” tanya Aris perhatian.
“Yah, tidak terlalu Presdir, tapi. Saya ingin liburan dua atau tiga hari tanpa ada tuntutan pekerjaan setelahnya yang saya tinggalkan.” jelas Dennis lembut.
Presdir Aris terlihat menimbang, ia mengangguk samar memikirkannya.
“Baiklah, aku beri Kau 4 hari libur tanpa ada tuntutan pekerjaan setelahnya.” tanggap Aris.
Dennis tentu sangat terkejut mengetahui Presdir menjengkelkannya ini sangat murah hati hari ini. Sungguh 4 hari itu akan ia manfaatkan dengan baik.
“Ah, terima kasih banyak Presdir. Murah hati sekali Anda, saya berjanji setelah empat hari libur itu saya akan bekerja lebih baik lagi.” ujar Dennis senang.
Aris pun hanya tersenyum simpul dan mengangguk menerima ucapan entah menjilat atau benar-benar tulus dari Dennis.
“Presdir, bisakah saya mengambil libur itu besok?” pinta Dennis tak kalah berharap dengan yang sebelumnya.
“Iya, kapanpun Kau mau.” jawab Aris.
“Oh, ya. Bukankah istri dan anak mu baru saja kecelakaan? Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Aris mengingat berita yang ia dengar kemarin.
Wajah berseri Dennis berubah kembali sedih mengingat itu.
“Iya, Presdir. Keadaan Keluarga saya sekarang sudah baik-baik saja.” jawab Dennis sedih.
“Ck, turut berduka cita, ya.” tanggap Presdir Aris sedikit mengerutkan dahinya.
Mencoba menyemangati dirinya sendiri, Dennis mendongak tiba-tiba dengan senyuman hangat.
“Aiyo, tak apa Presdir.” kata Dennis sebenarnya mengatakan ini untuk diri sendiri.
__ADS_1
Aris lalu ikut membalas tatapan Dennis, ia kembali menepuk penuh semangat pada punggung Dennis.