Rumah Petaka

Rumah Petaka
Perpecahan Yang Diinginkan Mereka


__ADS_3

Mata Dennis terbuka sepenuhnya, ia segera menoleh menatap keberadaan Mira.


“Kau mimpi apa?” tanya Mira yang juga menatapnya bertanya.


“Tak apa, aku hanya kelelahan.” jawab Dennis setelah ia berdiam diri sesaat dan menghembuskan napas pelan.


Mira mencoba mengerti keadaan Dennis, entah karna pekerjaan atau yang lainnya namun Mira harus tetap bersabar agar Dennis kembali bisa bersama dengan keluarganya lagi.


.


.


Hari ini tak seperti hari biasanya yang penuh dengan kehangatan keluarga, Dennis segera pergi kerja setelah mandi tanpa berpamitan pada kedua perempuan istimewanya dahulu.


“Ibu, ini 'kan hari libur lalu kenapa ayah masih tetap kerja?” tanya Jennie memainkan lembaran roti yang sebaiknya ia makan.


“Entah.” jawab Mira singkat karna pertanyaan Jennie juga berada dikepalanya.


Mira sesekali menatap sendu Jennie yang tak memakan rotinya, rumah ini begitu suram jika tak ada kebahagiaan disini.


“Ibu.” panggil Jennie membuat Mira menoleh memandang Jennie.


“Siapa itu?” tanya Jennie terbata-bata dan jari telunjuknya menunjuk kearah depan, tepat dibelakang Mira.


Mira awalnya hanya mengernyit menatap Jennie namun ia segera mengikuti arah tangan anaknya.


Ada seseorang disana.


Ia memakai jubah hitam dan topi yang runcing lalu wajahnya tertutupi kain transparan berwarna hitam, lama-lama langkah kaki seorang berjubah itu semakin cepat menghampirinya namun salah satu tangan seorang berjubah itu menunjuk pada Mira dan tanpa wanita itu sadari angin kencang muncul dan dalam sekejap mampu menjatuhkan kursi duduknya hingga ia sendiri terjatuh ditempat dan kepala belakangnya terbentur lantai rumah.


“Akh!” rintihan tertunda Mira saat ia merasa rambutnya ditarik semakin dalam oleh seorang berjubah itu.


“Keluargamu akan mati, namun aku ingin dirimu dahulu yang mati.” cercah mahluk mengerikan itu dengan suara pria yang terdengar penuh amarah dan dendam.


“A-apa salah ku?” tanya Mira merintih dengan Bahasa Korea—tak berniat menanggapi pernyataan pria itu yang tidak ia mengerti sebenarnya.


Pria itu mengulas senyum jahat kepada Mira dan tangannya terus menarik semakin dalam rambut Mira membuat kepala wanita itu ikut tertarik secara paksa.


“Aku akan membunuh mu.” gumam pria itu menatap Mira lekat.


Mira yang hanya terpejam tak kuasa memandang pria itu mencoba membuka matanya dan menatap tajam dan menantang pada pria itu.


Kini semua tubuhnya bergerak mencoba melepaskan tangannya yang dibelenggu dengan satu tangan dari seorang pria itu.

__ADS_1


“Kau akan mati.” gumam pria itu tak jauh dari kata kematian.


“Ibu!” panggil Jennie mengguncang bahu Mira keras mencoba terus menyadarkan ibunya.


Tubuh Mira yang Jennie lihat terlihat bergetar dan kepala ibunya itu terus menoleh kebelakang.


“Ibu!”


Mira menoleh terkejut memandang Jennie dengan napasnya yang tak beraturan.


“Ibu tak apa?” tanya Jennie menarik tangannya dari bahu ibunya.


Mira menghembuskan napas sebelum ia tersenyum dan mengangguk menjelaskan ia baik-baik saja.


*


Mira terduduk dalam lamunan tentang pagi tadi, ia terus bertanya apa simbol dari kejadian tadi? Apa akan terjadi sesuatu pada dirinya dan keluarganya?


“Ibu, selamat malam! Aku tidur dulu.” ucap Jennie lalu kembali menutup pintu kamarnya meninggalkan Mira yang sedang bersandar disofa ruang tamu sambil memandang ke satu arah selama beberapa waktu.


Pintu rumah itu terbuka dan menampilkan tubuh Dennis yang sudah tidak mengenakan jasnya namun itu tak membuat Mira walaupun hanya sekedar menoleh kearah suaminya, ia hanya terus berdiam, melamun seperti sebelumnya.


“Mira!” panggil Dennis menyentuh bahu Mira.


“Kau tak apa?” tanya Dennis yang terdengar datar tanpa benar-benar ingin tahu bagaimana keadaan istrinya.


Mira menoleh memandang kearah wajah dingin suaminya.


“Jika berkata seperti itu membuatmu menyiakan waktumu maka tak perlu bertanya, aku tak apa walau suamiku akhir-akhir ini tak acuh padaku—bahkan tak hanya padaku pada anaknya pun ia berjaga jarak. Apa yang terjadi padamu? Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu?” kata Mira menatap tajam kearah Dennis.


Dennis mengernyit mendengar perkataan tanpa jeda dari Mira, memang ia merasa jika ia berjauh diri dari lingkungan tapi seharusnya Mira mengerti keadaan dikantor yang membuatnya tertekan. Apa Mira pikir bekerja hanya sekedar bertanda tangan dan membaca kertas-kertas itu?


“Aku membencimu.” gumam Mira beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Dennis yang terlihat cukup terkejut mendengar ucapan terakhir Mira.


“Mira.” gumam Dennis memandang kepergian istrinya, ini pertama kalinya istrinya itu berkata demikian dan rasanya begitu sakit seperti hatinya terasa diremas secara bertahap.


“Ia pikir hanya dirinya saja yang berkesulitan? Ia pikir aku berubah kenapa? Hah! Apa hanya dia yang butuh ketenangan dan aku harus berusaha mengertinya padahal ia sendiri tak pernah memikirkanku.” gumam Dennis berkacak pinggang mencoba menepis pikiran untuk meminta maaf pada Mira.


Mira terbaring menyamping dan mencoba untuk menahan ringisan tangisnya hingga membuat bibirnya bergetar, sementara air matanya tak dapat lagi ia tahan dan air bening itu telah membasahi bantal yang Mira gunakan.


“Kenapa ia seperti ini? Seberat apapun pekerjaannya ia seharusnya bercerita padaku, bukankah sebelumnya dia begitu.” kata Mira kembali mengatupkan bibirnya.


Setelah pipi yang tadinya dibasahi oleh air mata Mira sekarang terlihat kering, Mira sudah terlihat cukup lebih baik dan tertidur dengan kerutan didahinya menandakan ia sangat tak nyaman akan tidurnya.

__ADS_1


.


.


Hyeon Chul terlihat bosan dengan permainan dihadapannya, ia sesekali menoleh kearah kanan dan kirinya ingin melihat apakah ada permainan yang lebih menarik dari permainan perempuan kecil dihadapannya ini.


“Hyeon Chul Oppa! Eoddi kka?” tanya gadis kecil itu pada Hyeon Chul yang berjalan menjauh darinya dengan Bahasa Korea.


“Aku bosan dengan permainanmu, aku ingin mencari permainan lain.” jawab Hyeon Chul menatap sinis kearah gadis berambut panjang dan diikat menjadi dua itu.


Terlihat sangat jelas gadis dihadapannya menaruh kecewaan diraut wajahnya yang menunduk membiarkan Hyeon Chul pergi meninggalkan dirinya.


“Hei! Hyeon Chul.” panggil gadis yang cukup jauh disampingnya.


Hyeon Chul mencoba mencari tahu siapa gadis bersuara melengking itu, namun karna begitu banyaknya anak-anak disana membuat Hyeon Chul kesulitan menemukan gadis yang ia ketahui dari suaranya adalah Jennie.


“Ish, aku disini.” panggil gadis itu sekali lagi lalu berlari menghampiri Hyeon Chul.


Benar dugaan Hyeon Chul, itu Jennie. Bocah perempuan yang banyak bicara dan sensitive.


“Kenapa kau disini?” tanya Hyeon Chul menatap tak suka kearah Jennie.


Jennie mengerucutkan bibirnya mencoba untuk dibelas kasihi oleh Hyeon Chul.


“Aku tak suka dirumah, membosankan.” balas Jennie menatap kebawah.


“Oh, kau tahu? Tadi aku juga bosan dengan permainan gadis disana, tapi sekarang aku lebih bosan lagi saat bertemu denganmu ini.” jelas Hyeon Chul mencoba mengusir Jennie dari tempat penampungan anak ini.


Jennie mendelik kearah Hyeon Chul yang masih memasang wajah dinginnya.


“Hm, kau jelek seperti ayahku tadi malam! Apa wajah dinginmu bisa diubah dengan keceriaan? Kenapa semua laki-laki jika saat ia marah wajahnya terlihat menyeramkan!” pekik Jennie mencubit kedua pipi Hyeon Chul diakhir katanya.


Hyeon Chul terkejut dan mencoba untuk melepasakan tangan Jennie dari pipinya yang terasa sakit.


“Hei! Hentikan!” pinta Hyeon Chul sebelum semua jari Jennie terlepas dipipinya.


“Boleh aku bermain disini?” tanya Jennie dengan mata yang berbinar-binar dan kedua telapak tangannya ia kepalkan seperti berdoa.


“Eum, aku akan memperbolehkannya jika kau menceritakan ayahmu semalam.” kata Hyeon Chul berjalan pelan dan diikuti oleh Jennie.


“Aku tak terlalu bisa berbahasa Korea.” gumam Jennie mendongak menatap wajah Hyeon Chul yang 10 centi lebih tinggi diatas kepalanya.


“Katakan saja intinya.” kata Hyeon Chul beri solusi tanpa menatap Jennie dan terus tertuju kedepan.

__ADS_1


“Em, entahlah, karna ceritanya panjang jadi kita harus duduk.” gumam Jennie menarik Hyeon Chul untuk duduk dibangku panjang disampingnya.


__ADS_2