
“Aku bodoh, aku bodoh! Sialan! Kenapa seperti ini!” teriak Hyuk Jae mengendurkan cengkramannya dan memukul tanpa ampun kepalanya.
Tanpa melihat kembali Hyeon Chul yang berlari serampangan mencari kembali bendanya, dan pergi menuju halaman belakang.
Tanpa aba-aba sesuatu menarik Hyeon Chul, setelah bocah itu hampir saja di bawah pohon rindang yang menjadi pemberhentian laju kakinya. Bocah lelaki itu meringis diam kesakitan di lengan kirinya dan beberapa bagian kulit yang terseret batu-batu kecil di tanah.
Hyeon Chul menoleh tanpa mengubah posisinya menatap terkejut pada seorang kakek yang pernah ia temui saat menolong Mira.
“Tidak akanku biarkan kau!” ucapnya menarik Hyeon Chul berdiri dan menghempaskan bocah itu hingga kembali terbentur dengan tanah.
Hyeon Chul segera berlari menuju pohon besar, tujuannya. Menunjukkan lembar foto yang tak pernah lepas dari genggamannya, di dekatkannya pada korek api. Perlahan membakar bagian ujung gambar, lalu menjalar pada tubuh kakek itu yang membuat Hyeon Chul sangat terkejut.
Saat kakek di gambar itu hampir menghilang oleh api, kakek di hadapannya itu juga ikut hilang, sampai pria paruh baya tersebut tak kembali mengejarnya.
“Seperti itu?” gumam Hyeon Chul terkejut dengan apa yang ia lihat beberapa waktu tadi, bukan hanya dia namun kakek itu juga terlihat terkejut.
Habis, hanya ada abu yang ditampung oleh kaos bagian bawah Hyeon Chul—menyisakan pembuktian selembar foto tersebut. Hyeon Chul dengan telaten menggali tanah di bawah rindangannya pohon besar, lalu abu yang ada di bajunya ia taruh ke dalam lubang sedalam 10 inci.
Hyeon Chul menatap sekelilingnya. Sepi, apakah sudah benar-benar berakhir?
“Tolong aku,” lirih Hyeon Chul menyeruakkan kegundahannya pada sang Tuhan.
Bocah itu meringkuk melipat kakinya dan mengikatnya menggunakan tangannya. Hyeon Chul tak tahu harus melakukan apa lagi, Mira pingsan—Jennie hilang dan Dennis tak tahu sekarang apa yang pria itu lakukan.
Hyeon Chul menangis sedih dengan tragedi satu hari ini, terasa lelah seperti ia menjelajahi seluruh negara didunia tanpa makan dan minum. Satu hal yang ia harapkan yaitu esok yang penuh tawa dan bahagia.
Perlahan mata sembab itu tertutup, menghentikan pemikiran beratnya yang terus membuatnya ingin bersama dengan keluarganya. Tak sanggup merasakannya sendirian.
*
Dengan paksaan dari otaknya, mata itu terbuka dengan rasa kantuk yang masih menjalar. Hyeon Chul mengernyit sakit pada kepalanya yang berdenyut, memaksa bocah itu untuk kembali berbaring setelah ia bersandar didash board ranjang berukuran king size ini.
“Apa semuanya sudah baik-baik saja?” gumam Hyeon Chul pelan memandang atap di depannya membayangkan apa yang terjadi di luar ruangan.
Seseorang terdengar dari luar berjalan mendekati kamar yang digunakan Hyeon Chul. Namun hentakkan kaki itu berhenti, membuat Hyeon Chul semakin penasaran siapa yang berada di luar.
“Hyeon Chul?” ucap Dennis memasuki kamar yang di tempati Hyeon Chul, sambil menatap bocah itu yang memandangnya.
“Kau sudah bangun? Beruntung, Mira baru saja menyiapkan bubur dan teh hangat untukmu.” sambung Dennis menunjuk baki yang diatasnya ada sebuah mangkuk dan cangkir berwarna hijau.
Dennis tersenyum, meletakkan baki itu keatas meja, lalu duduk di samping tubuh terbaring Hyeon Chul.
“Apa, sudah membaik? Bagaimana Hyuk Jae?” tanya Hyeon Chul pelan berusaha mengeluarkan suaranya yang tenggelam dipenuhi dengan makanan.
“Hyuk Jae sudah dibawa ke polisi setempat. Ia mengakui perbuatannya.” jawab Dennis membuat Hyeon Chul lega.
Hatinya tak kembali sesak membayangkan apa yang terjadi pada keluarga Dennis.
“Aku baru sadar jika dia memang Mira. Sekarang dia sudah memaafkanku.” sahut Dennis pelan.
“Namun aku heran, kenapa Hyuk Jae ditinggalkan oleh semua anggota keluarganya? Bagaimana bisa satu keluarga meninggal bersama-sama?” tanya Dennis berharap Hyeon Chul tahu sesuatu dari cerita keluarga Jong Woon yang juga pernah tinggal disini.
“Aku juga kurang tahu. Sepertinya Jong Woon hanya tak rela keluarganya meninggal, tanpa menyisakan satu dari anggota keluarga. Mungkin semuanya meninggal karna mempunyai penyakit yang sama.” jawab Hyeon Chul menebak cerita terjadinya kematian massal itu.
“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke polisi untuk mencari tahu.” gumam Dennis meninggalkan Hyeon Chul yang asik dengan makanannya.
Dennis segera kembali menutup pintu kamar Hyeon Chul, lalu berbalik menatap Mira yang menunggunya.
“Bagaimana Hyeon Chul?” tanya Mira menautkan kedua pasang jarinya—menunggu jawaban Dennis yang lebih memilih untuk melangkah mendekatinya.
“Dia baik-baik saja,” jawab Dennis lirih menyingkap helaian rambut Mira ke belakang telinga.
Hening melanda, namun tak serta merta membuat mereka gugup akan hawa ini. Mereka masih betah terdiam, saling bertatap hingga kesadaran Dennis kembali mengakhirinya.
“Aku harus melihat Hyuk Jae, dia akan cerita semua hal tentang ini. Kau mau ikut?” ajak Dennis mendapat senyuman tipis dari Mira. Wanita itu menggeleng pelan, menolak ajakan Dennis.
“Aku ingin menjaga anakku yang tidur. Dan Hyeon Chul yang pasti masih lelah dengan kejadian semalam.” sahut Mira membuat wajah kecewa Dennis muncul. Namun ia harus sadar bahwa keadaan belum seratus persen aman.
“Baiklah, aku pergi. Jaga anak kita.” kata Dennis berlalu pergi setelah mengusap puncak kepala Mira.
Dennis tersenyum simpul lalu kaki jenjangnya melangkah pergi menuruni tangga dan menghilang dari pintu rumah. Mira percaya 'mereka' tak akan kembali lagi, namun ia tetap berat hati untuk ditinggalkan oleh suaminya, walau hanya semenit saja. Wajah gusar Mira segera ia tepis mencoba berfikir positif seperti Mira yang dulu. Mira kemudian menoleh pada pintu kamar Hyeon Chul yang tak tertutup sempurna.
__ADS_1
"Hyeon?" panggil Mira menjulurkan kepalanya dari pintu kamar yang menutupi tubuhnya.
Hyeon Chul spontan menghentikan laju makannya, lalu menatap polos bercampur terkejut pada Mira, yang terkekeh geli melihat reaksi Hyeon Chul dengan mulut penuh makanan itu.
"Lanjutkan makanmu." sambung Mira disela kekehannya.
Hyeon Chul tersenyum tipis lalu ia kembali menyantap makanannya. Membiarkan Mira yang melangkah menuju semakin dekat dengannya.
"Terima kasih telah menyelamatkan kami." gumam Mira terdengar oleh Hyeon Chul.
Bocah laki-laki itu terdiam sesaat, lalu meletakkan sendok yang ia pegang dan menoleh memandang Mira sambil tersenyum manis.
"Aku melakukannya juga karna ingin menyelamatkan keluargaku, Bi. Oh ya, Jennie mana?" tanya Hyeon Chul akhirnya tak ingin larut dalam kasih sayang Mira yang memeluknya setelah ia membalas pernyataan Mira.
"Jennie tertidur tepat di sampingmu, saat kau masih berada di bawah pohon besar itu. Sekarang ia tertidur lagi dikamarnya, setelah terbangun dan hanya meminta minum." jelas Mira mendapat suara gumaman Hyeon Chul menyatakan ia mengerti dengan penjelasan Mira.
"Kau ingin melihatnya?" ajak Mira setelah hening sesaat.
Setelah Hyeon Chul meminum habis susu coklatnya, ia segera turun dari ranjang lalu menoleh kearah Mira.
"Melihat Jennie? Aku lebih tertarik untuk melihat halaman belakang." sahut Hyeon Chul segera pergi dari Mira menuju pintu rumah belakang.
Lelaki itu cukup terkejut melihat beberapa polisi terlihat memadati luar rumah ini. Namun ia segera mengalihkan tatapannya kepada pintu menuju halaman belakang.
Terbuka, halaman belakang itu terlihat berbeda dari yang pernah ia rasakan dan lihat.
"Kuharap kalian bisa tenang." gumam Hyeon Chul menutup kelopak matanya, menyembunyikan genangan air matanya.
Tiupan angin menerpa pipi Hyeon Chul lembut, ia merasakan jika keluarganya menjawab, memberitahukan mereka baik-baik saja. Dengan sangat pelan pintu terbuka dan nampaklah tubuh gagah nan tinggi Dennis, pria itu sengaja berdiam diri menatap sayu Hyeon Chul.
"Hyeon," panggil Dennis akhirnya pelan tak terlalu berniat mengganggu Hyeon Chul.
Hyeon Chul menoleh spontan pada Dennis yang tersenyum tenang pada lelaki kecil itu.
"Sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Kau sekarang bisa hidup tenang." gumam Dennis melangkah mendekati Hyeon Chul yang berdiam di tempatnya.
"Aku, lebih suka tinggal bersama mereka." lirih Hyeon Chul menunduk menyembunyikan wajah murungnya.
Dennis mengenyit heran pada perkataan ambigu Hyeon Chul. Dennis membungkuk menyamakan tinggi badan Hyeon Chul.
"Aku tak ingin kembali kesana." jelas Hyeon Chul namun masih belum cukup untuk membuat Dennis mengerti.
"Kesana, kemana?" tanya Dennis sekali lagi mengorek lebih dalam penjelasan Hyeon Chul.
Hyeon Chul mendongak pada Dennis yang menatapnya lekat.
"Aku benci berada di panti asuhan. Tidak ada yang mau berteman denganku." lirih Hyeon Chul melirik sekilas kearah Dennis.
Sementara pria itu tersenyum miris menanggapi celoteh anak kecil itu.
"Siapa yang bilang kau akan kembali ke panti asuhan? Hyeon Chul 'kan milik ayah Dennis dan Ibu Mira." kilah Dennis lalu tersenyum hangat saat Hyeon Chul menatapnya ragu bercampur senang dan terkejut.
Setelah berlama ia terdiam, akhirnya Hyeon Chul tersenyum lebar sambil meloncat pelan lalu memeluk erat leher Dennis.
"Terima kasih. A-ayah." ucap Hyeon Chul dengan nada yang ragu. Membuat Dennis tertawa lirih menyambut rasa kebahagiaan Hyeon Chul.
"Eumh, tak apa." gumam Dennis akhirnya berjongkok agar memudahkan dirinya membalas pelukan Hyeon Chul.
Pelukan mereka akhirnya terlepas dengan senyum keduanya yang masih mengembang.
"Hyeon, kau tahu kenapa pria bernama Hyuk Jae itu menyerang kita?" kata Dennis ingin menceritakan asal-usul pria itu.
Hyeon Chul terdiam sebentar lalu menggeleng tanda ia tak tahu, tentang kenapa pria bernama Jong Woon itu selalu mengganggu hidupnya.
30 menit yang lalu...
"Oh, bersama tuan Dennis?" tanya seorang pria berpakaian formal layaknya seorang polisi Korea itu berbalik pada sosok Dennis yang baru saja keluar dari pintu rumahnya.
Dennis mengangguk spontan saat mendengar namanya disebut oleh sang polisi.
"Ya," tanggap Dennis mendekati ketiga polisi tersebut.
__ADS_1
"Apa anda kenal pria bernama Kim Hyuk Jae itu?" kata polisi itu lagi sambil ia melihat sebuah berkas yang berada ditangannya.
"Tidak," jawab Dennis kembali singkat dan jelas membuat salah satu polisi di sana angkat bicara.
"Begini, menurut tersangka ia melakukannya karna keluarga Anda cocok untuk diteror, Tersangka bilang keluarga anda sudah seperti keluarganya sendiri, ia mengatakan pembunuhan berencananya dilakukan karna keluarganya yang sudah meninggal menginginkan keluarga anda tuan Dennis." katanya membuat Dennis hanya bisa mengernyit mendengarnya.
"Maaf pak, tapi saya bukanlah warga negara asli Korea. Keluarga kami pun tak ada yang mempunyai kerabat asli Korea." jelas Dennis membantah tuduhan polisi yang sebenarnya tak membebankan dirinya. Namun kebenciannya terhadap Hyuk Jae lah yang membuat emosinya sedikit naik.
"Eumh, kalau begitu kami minta maaf karna saat ini tersangka masih berada di rumah sakit, jadi mungkin ia masih sedikit belum sadar." kilah polisi tersebut lalu menunjukkan kertas bergambarkan wajah Hyuk Jae pada Dennis.
"Sebenarnya ada juga pembunuhan di rumah ini sekitar 5 tahun lalu, dan pembunuhnya sedang menjadi buronan. Kami akan menindak lanjutkan kasus ini, karna ini pasti ada ikatan dengan pembunuhan 5 tahun lalu." jelas polisi tersebut kemudian menyunggingkan senyum kecut pada Dennis.
-** - **-
"Berarti, paman Hyuk Jae pernah tinggal disini?" gumam Hyeon Chul menebak terkaanya yang ia pastikan benar.
Dennis terdiam sesaat, seraya terus menatap Hyeon Chul ia berfikir, kenapa baru sekarang Kim Hyuk Jae tertangkap. Dan apa yang membuat pria itu sampai-sampai membunuh sekumpulan keluarganya sendiri.
"Heuh, sudahlah lebih baik kita masuk rumah." tanggap Dennis menarik lengan Hyeon Chul memasuki rumah.
Setelah memasuki rumah, pandangan Hyeon Chul langsung tertuju pada sosok kecil Jennie yang terduduk lemas di sofa ruang tamu.
"Oh Jennie! Dia sudah baikkan, My?" tanya Dennis memanggil Mira dengan sebutan kasih sayangnya.
Mira menoleh dengan senyuman lembut pada Dennis yang terus berjalan semakin dekat dengannya.
"Ya, Jennie sudah cukup baik sekarang. Dan polisi sudah pulang.” jawab Mira lalu kembali fokus pada masakannya.
"Sayang," lirih Dennis lalu mendekatkan wajahnya pada dahi Jennie untuk menciumnya.
"Hyeon Chul kenapa masih di sini?" tanya Jennie setelah menatap sayu Hyeon Chul yang mematung berdiri disana. Dennis dan Mira secara kompak menatap Hyeon Chul.
"Hush! Yang sopan sayang, dia kakakmu sekarang." kilah Dennis membuat Jennie berhenti bernapas, terkejut.
"Hah? Kakakku? Aku tak ingin punya kakak seperti dia," kilah Jennie ketus menatap penuh protes pada ayahnya.
Sementara pria itu menanggapi air muka anaknya dengan santai, membuat Jennie mengalihkan tatapan mengadunya pada Mira.
"Ibu," lirih Jennie memelas membuat Mira tertawa geli.
"Hei, memangnya kenapa, sayang? Bukankah katanya kau ingin punya saudara?" tanya Mira mencoba menenangkan Jennie.
"Aku ingin adik, bukan kakak." jawab Jennie meninggi menentang ucapan kedua orang tuanya.
"Halah, sama saja sayang! Lagi pula Jennie masih harus dituntun oleh orang yang lebih tua. Jika Jennie nanti bertengkar dengan kakak Hyeon, ayah pastikan kakak Hyeon yang akan mengalah. Benarkan?" usul Dennis terbuka, karna ia tahu Hyeon Chul tidak akan mengerti apa yang dari tadi mereka bicarakan.
Usulan Dennis cukup mampu membuat Jennie merasa lebih tenang, gadis itu hanya terdiam sambil sesekali mengangguk menyetujui usulan ayahnya.
Mira tersenyum geli mendengar usulan Dennis yang menurutnya egois. Kemudian Dennis lalu menatap Hyeon Chul dan menyuruh anak itu untuk segera ke kamar mandi belakang yang hanya dituruti saja oleh Hyeon Chul.
“Sayang, jangan dengarkan kata ayahmu. Itu namanya egois, sayang. Saat kau salah, kau yang harus mengalah dan mengakuinya. Mengerti?” tanggap Mira pelan pada Jennie lalu menatap tajam Dennis yang hanya terkekeh menyadari kesalahannya.
“Oke, setelah Hyeon Chul mandi, ayo kita jalan-jalan. Sebulan lagi kita harus pulang, banyak pekerjaan yang harus kita lakukan di Indonesia.” kata Dennis membuat semangat Jennie naik. Gadis itu dengan air wajah terkejut dan bahagianya terpekik senang.
“Benarkah? Yeay! Tapi kali ini harus benar-benar penuh bahagia. Janji?” kilah Jennie menunjukkan kelingkingnya pada Dennis dan langsung dibalas oleh ayahnya dengan simbol perjanjian itu.
“Sana mandilah, Jennie juga belum mandikan?” tebak Dennis dibalas anggukan oleh Jennie.
Gadis itu segera berjalan kearah tangga menuju kamarnya. Kedua orang tuanya hanya menatap lembut kepergian Jennie, mereka senang pada akhirnya titik cerah itu datang setelah perjuangan mereka.
“Kau pintar membuat anak mu senang kembali.” gumam Mira memuji sifat dewasa Dennis, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.
Dennis tersenyum lebih lebar saat Mira memujinya, menurutnya sanjungan itu yang membuat ia lebih dan lebih mencintai keluarganya.
“Terima kasih,” balas Dennis kemudian tangannya naik ke puncak kepala Mira.
Membelai surai istrinya lembut memberi ketenangan di antara mereka.
“Tapi sayang, aku minta maaf soal kemarin, hingga membuat dirimu tak sadarkan diri.” ucap Dennis setelah ia mengingat kembali kejadian saat ia mendorong Mira hingga wanita itu terjatuh kesakitan.
“Aku terlalu bodoh untuk mengenalmu. Jika aku percaya sepenuhnya padamu, pasti itu tak akan terjadi.” lanjut Dennis membuat Mira terpaksa harus menatap mata suaminya. Lalu menangkup rahang Dennis, agar prianya itu berhenti berceloteh. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Dennis.
__ADS_1
“Shuut! Ini bukan kesalahanmu. Aku yang hanya tak bisa membuatmu percaya padaku.” bantah Mira menjadikan suasana yang lebih erat diantara mereka.
Keduanya tersenyum penuh arti, hingga beberapa lama hanya terus tersenyum penuh cinta yang mereka rasakan saat ini. Tangan Dennis yang sebelumnya berada dipuncak kepala Mira, menurun ke pinggang istrinya sambil menarik pelan tubuh kecil itu semakin dekat dengannya.