Rumah Petaka

Rumah Petaka
Ancaman Fisik


__ADS_3

“Ayah.” sela Jennie menarik kembali lengan Dennis yang akan menyentuh rambut Hyeon Chul.


Bocah lelaki itu merubah wajah polosnya menjadi sinis ketika menatap Jennie yang juga menatapnya tajam.


Dennis sedikit merasa tak enak pada Hyeon Chul juga Jennie, namun ia segera ingin menuju rumah bersama Hyeon Chul.


“Eh, baiklah. Kita berangkat!” seru Dennis menaikkan suaranya diakhir kata, sambil merangkul kedua punggung bocah itu.


Disaat ketiga anak Adam tersebut memasuki mobil, tanpa mereka ketahui seseorang bermasker hitam gelap terus memandang pergerakan Dennis.


“Kapan waktunya aku membunuh mu, Den.” gumam pria itu terdengar sangat geram.


Dengan kasarnya ia menarik masker yang menghalangi area mulutnya. Wajah pria dengan logat Korea kental itu terlihat, Kim Jong Woon.


Tentu pria itu sangat geram dengan Dennis yang membawa Hyeon Chul ikut dalam permainan ini.


Perlahan ada seorang bocah berseragam sekolah mendekatinya.


“Kau hanya perlu memperlambat laju mobil itu. Bagaimanapun caranya.” perintah Jong Woon pada remaja lelaki itu yang hanya mengangguk mengerti, lalu segera pergi setelah amplop coklat muda itu berada ditangannya.


Mungkin hanya Dennis yang memasang wajah cerianya. Bahkan sekarang Jennie terlihat sangat bosan sambil memainkan sabuk pengaman yang tak ia pakai.


“Wah, sepertinya Hyeon Chul orang pertama yang menjadi tamu kita dirumah, ‘kan Jen?” tebak Dennis terus menatap jalan didepannya.


“Tak tahu.” jawab Jennie ketus dan apa adanya.


Raut wajah ceria Dennis seketika terlihat muram dengan wajah memerahnya. Bukan karena Jennie yang membalasnya ketus, namun seseorang bermotor besar tepat didepan mobilnya tersebut tak ingin minggir dari hadapannya.


“Sial!” umpat Dennis ketika ia hampir saja menabrak bagian belakang motor remaja itu, karna dengan tiba-tiba motor itu berhenti. Menimbulkan suara decitan keras, memaksa mobil Dennis untuk berhenti agar bisa mengelak dari tabrakan.


Dengan serampangan Dennis melepas sabuk pengamannya dan membuka-tutup pintu mobil dengan kasar, melampiaskan amarahnya. Namun itu berdampak pada Jennie yang ketakutan menyudutkan tubuhnya kepintu mobil.


“Hei, bocah! Apa maksudmu melakukannya?! Kau tak bisa melihat mobil ku?!” bentak Dennis persetan dengan luapan amarahnya yang berlebihan. Pria itu menunjuk mobilnya sendiri mencoba menyadarkan lelaki didepannya ini.


“Oh! Maaf Tuan, aku tak melihat mobil mu.” jelas lelaki itu tersenyum bodoh tanpa ada beban, membuat Dennis semakin geram. Ingin sekali ayah satu anak itu menaruh beberapa pukulan diwajah lelaki sipit itu.


“Pinggirkan motor busukmu?!” perintah Dennis menendang pelan ban motor.


Perlahan motor itu berpindah tempat memberi jalan bagi mobil Dennis untuk lewat. Namun belum sempat Dennis membuka pintu mobilnya, suara lelaki itu kembali terdengar.

__ADS_1


“Cepat sampai kerumah. Kejutan menunggumu, paman.” tutur lelaki itu setelah melihat layar ponselnya.


Dennis mengernyit heran dengan perkataan lelaki itu. Tanpa membalas perkataan tersebut, Dennis segera memasuki mobilnya.


*


Sesampai mereka dirumah Jennie dan Hyeon Chul berlari menuju pintu utama. Sedangkan Dennis berjalan dengan gontai mengikuti anak-anak dari belakang, sambil memandang kunci mobil yang ia genggam.


“Ayah!” panggil Jennie berteriak pada Dennis yang mendongak menatap pintu rumahnya yang terbuka.


Dengan langkah besar Dennis berjalan memasuki rumahnya. Pemandangan pertama yang pria itu lihat adalah tubuh terbaring Mira dilantai ruang tamu, sontak mata Dennis melebar dan bergerak cepat menghampiri Mira.


“Mir, Mira.” lirih Dennis bergetar tak sanggup melihat tubuh kejang Mira dengan mulut yang mengeluarkan busa putih bercampur dengan darah.


“Ayah! Ibu!” teriak Jennie kembali mengguncang lengan Dennis lalu kembali lagi kearah Mira.


Dennis membawa tubuh tak bergerak Mira kembali kearah mobil, membawa Mira secepatnya menuju rumah sakit.


“Ayah!” panggil Jennie berhasil membuat Dennis semakin frustrasi.


“Apa?!” bentak Dennis berbalik menghadap Jennie, yang akan mengeluarkan buliran air mata mendengar bentakan Dennis yang menggerogoti relung hatinya.


“Ayahmu mungkin sedang kalut.” lirih Hyeon Chul menengahi keheningan.


Sementara dengan Jennie, gadis itu masih kuat dengan pertahanannya untuk tidak menangis atau merengek memalukan dihadapan teman sekaligus musuhnya ini.


“Aku hanya ingin ikut dengannya. Tapi,” gumam Jennie disertai dengan suara tangisan yang ia tahan.


Namun belum sempat semua perkataannya selesai, mulutnya terbuka mengeluarkan suara tangisan yang mengganggu telinga.


Hyeon Chul mengernyit tak suka mendengar suara lengkingan Jennie, hanya bisa terdiam tanpa meminta Jennie berhenti. Karna jika ia menyuruhnya berhenti, ia yakin tangisan Jennie akan semakin menjadi.


“Heuh,” desis Hyeon Chul frustasi karna ia hampir tak dapat lagi mendengar suara lain selain Jennie.


Mata Hyeon Chul yang sipit menajam saat matanya menangkap sebuah motor mengkilat berwarna hitam dengan pengemudinya yang menggunakan masker hitam pula, mencoba menyalakan mesin motornya dan melaju pergi. Hyeon Chul pikir ada sesuatu yang aneh pada pria itu, dan pastinya ada kaitannya dengan kejadian tadi.


“Ayah jahat! Aku tak mau bertemu dengannya lagi!” sungut Jennie memukul kedua pahanya dengan kepalan tangan mungil gadis itu.


Hyeon Chul mendelik kesal kearah Jennie, wajahnya mengernyit tak suka pada teman gadisnya ini.

__ADS_1


“Kau seharusnya bersyukur, ada ayah dan ibu yang menyayangi mu.” tutur Hyeon Chul menaikkan suaranya menentang perkataan ngawur Jennie.


“Akh! Terserah!” teriak Jennie beranjak dari sofa, dan meninggalkan Hyeon Chul dengan menghentakkan kaki kesal, menuju kearah kamarnya.


Hyeon Chul dari bawah hanya bisa meratap heran pada Jennie yang terlihat lebih kesal saat nasehatnya bersuara. Hyeon Chul perlahan menatap atas sekitar sudut rumah, seperti nostalgia. Walaupun banyak yang berubah pada rumah ini, seperti cat dinding, lantai kayu yang terlihat lebih kokoh, dan pastinya barang dirumah ini.


“Ayah, Kakek,” gumam Hyeon Chul memelankan suaranya diakhir kata.


Hyeon Chul menunduk menyembunyikan wajah sedihnya.


“Aku merindukan kalian.” sambung Hyeon Chul lalu suara senggukan dari tangisan itu menghiasi heningnya pagi.


*


“Mira baik-baik saja. Namun selama beberapa hari kedepan, istrimu harus bedrest.” jelas seorang pria dengan jubah putihnya, mencoba melepas kaca mata yang bertengger dihidungnya.


Hening sesaat karna si dokter tersebut terlihat menimbang pertanyaan yang akan ia ajukan pada Dennis yang memasang raut khawatir.


“Kalau bolehku tahu, kenapa istrimu meminum racun itu?” tanya dokter itu membenarkan letak duduknya.


Ya, Dennis baru ingat itu. Namun tak mungkin remaja pembawa motor itu yang melakukannya. Bukan anak itu yang mencelakai istrinya, tapi pasti anak itu ada sangkut pautnya dengan pelaku.


“Aku tak tahu. Tapi akan aku pastikan pelaku dari semua ini akan membusuk dipenjara.” jawab Dennis memukul kuat meja didepannya dengan kepalan tangannya, membuat buku jarinya memutih.


“Anak-anakmu sendirian, cepatlah kerumah. Biar aku yang menunggu istrimu.” kata dokter dengan rambut ebony itu menatap lekat Dennis yang terlihat marah bercampur sedih.


“Kak, biar aku tahu data terdahulu rumah itu. Kau pasti tahu semuanya, ’kan?” pinta Dennis mendongak menatap memohon pada tetangganya dari perumahan itu.


Memang mereka baru saling mengenal saat Dennis mengantarkan Mira tadi, tapi saat ini mereka mencoba untuk mengenal satu sama lain.


“Ck, jika ada waktu, aku ceritakan! Mengerti.” sela Dokter Choi cepat dengan logat Korea yang kental.


Pria itu terlihat begitu memaksa Dennis untuk bersabar dengan memajukan tubuhnya dan wajah prihatin pada Dennis


“Lagi, anakku hanya satu, kak.” gumam Dennis menunduk pasrah pada semua keputusan Choi Ji Won tersebut.


“Oh ya, namamu siapa?” tanya Ji Won akhirnya baru ingat karna mereka terlalu sibuk dengan Mira.


“Oh, aku Dennis dan kau pasti Choi Ji Won, 'kan?” tanggap Dennis menyipitkan matanya mengeja name tag yang terpasang pada jubahnya.

__ADS_1


__ADS_2