
“Euh! Ya Tuhan!” desah Dennis frustasi menutup matanya dengan telapak tanganya.
Dennis sesekali menggeram mengingat mimpi terburuknya tadi.
“Hyuk Jae.” gumam Dennis menatap tajam kebawah.
Pria itu masih benar-benar mengingat bagaimana Hyuk Jae berwatak buruk dimimpinya.
*
“Anda cukup terlambat Tuan Dennis.” gumam bos tertinggi diperusahaan ini.
Si Won dengan lantangnya berbicara mengintrupsi Dennis yang masih berjalan cepat menghampirinya dan memberikan beberapa dokumen kepada Woon Jong yang masih menatap tajam segala pergerakan Dennis.
“Maaf presdir!” gumam Dennis membungkuk hormat pada Si Won dan beberapa orang yang kompak menggunakan setelan rapi berjejer disana.
Presdir Choi berdehem pelan lalu menatap 9 orang disana termasuk Dennis yang sudah duduk dengan tenangnya.
“Semua sudah disini, aku hanya ingin memberi tahu tentang aset penjualan kita menurun. Jadi aku minta untuk para manajer keuangan menjual aset kita 4%.” jelas Si Won yang didengar baik oleh para petinggi disana, kecuali Dennis yang sekarang merasa terganggu oleh sesuatu disudut ruangan ini.
Dennis mencoba melihat sesuatu disana dengan ekor matanya, tangannya yang berada diatas meja putih panjang itu terus bergerak gusar.
“Ada seseorang.” gumam Dennis untuk dirinya sendiri, memacu adrenalinnya untuk lebih melihat dengan jelas siapa seseorang tersebut.
Dennis berhasil menoleh pelan kearah sudut itu, namun disana tak ada siapapun. Padahal pria itu sudah amat sangat yakin jika sesorang disudut ruangan itu tengah menatapnya tajam dan duduk dengan kursi goyang.
Dennis menghembuskan napas pelan sebelum ia benar-benar menghadap kembali kedepan dimana sang Presdir muda itu tengah memulai rapatnya.
Saat Dennis menoleh secara mengejutkan pria tua tepat berada dihadapannya, sontak Dennis mencondongkan punggungnya kebelakang mencoba menjaga jarak dari pria tua yang tadi melihatnya tajam itu.
“Dennis, ada apa?” tanya Si Won ketika melihat pergerakan cepat Dennis dan napas tak beraturan dari pria itu.
Bukan hanya Si Won yang melihatnya, bahkan semua orang yang berada disana menatapnya dengan tanda tanya dan khawatir tentunya.
Dennis tersadar dari terkejutannya, ia melihat Woon Jong lalu menoleh ke sembarang sudut menatap rekan kerjanya.
“Maaf tadi, tadi saya tak konsen.” gumam Dennis sambil menggeleng mencoba mengambil kesadaran sepenuhnya.
“Kau tidur?” tanya Si Won menatap Dennis dengan satu alis yang terangkat.
“Ah? Tidak! Saya–“
__ADS_1
“Jika tidurmu tidak cukup, kau bisa istirahat. Pergilah! Terima kasih dokumen yang kau bawakan.” sela Si Won sarkatis mencoba mengusir Dennis secara halus.
Dennis menyerah, iapun menuruti perintah bosnya dan pamit dari hadapan mereka semua.
“Yah, aku harus istirahat.” gumam Dennis berjalan keluar dari ruangan rapat dengan tubuh terkulainya.
“Den!”
Panggilan seseorang spontan membuat Dennis menoleh tertuju pada seorang pria yang memanggilnya.
Pria pendek itu melambaikan tangannya namun Dennis tak bisa melihat wajah pria itu karna cahaya silau tepat dibelakang sosok tersebut.
Dennis mencoba mendekati pria yang tanpa henti melambai padanya itu namun, karna terlalu banyak orang berlalu-lalang hingga dengan perlahan pria itu menghilang.
“Kemana dia?” gumam Dennis bertanya sambil terus memandang posisi yang tadi ditempati oleh sosok itu.
“Tuan?” panggil Sekretaris Kim menepuk punggung Dennis, yang segera berbalik dengan wajah yang masih dengan raut kebingungannya.
“Kim, ada apa?” tanya Dennis sesudah mengusap wajahnya agar kembali lebih segar.
“Anda kenapa disini? Bukankah ada rapat?” tanya Sekretaris Kim balik tapi dengan wajah datarnya. Sangat terlihat hanya setengah hati ia bertanya.
Tanpa basa-basi lagi Kim Jong Woon segera berlalu meninggalkan Dennis, dan begitupun dengan Dennis ia segera ingin keluar dari perusahaan besar ini.
*
“Ayah pulang.” kata Dennis lesu lalu berjalan menuju sofa tunggal berwarna coklat muda dan mendudukinya.
Suara pintu terbuka tak membuat Dennis untuk membuka matanya karna sekarang ini ia hanya harus sedikit beristirahat.
“Kenapa? Kau dipecat?” tanya Mira menyudutkan Dennis bahkan pertanyaan Mira terdengar begitu tajam dan sinis.
“Ck! Tidak! Hanya Presdir menyuruhku pulang.” jawab Dennis santai namun penuh penekanan disana. Ia tak suka dengan cara bicara Mira yang menyudutkannya.
“Ini baru jam 10 pagi. Apa yang kau lakukan sampai membuatnya menyuruhmu pergi?” tanya Mira kembali yang kali ini duduk disamping depan sofa tunggal Dennis.
“Ck, kenapa kau berisik sekali? Yang penting aku tidak di pecat, itu sudah baik.” pekik Dennis memukul bagian samping sofanya dan menatap Mira dengan tajam.
Sudah habis kesabarannya karna pertanyaan membebankan Mira yang membuatnya semakin pusing.
“Aku butuh tenang! Kau malah menyudutkan ku dengan pertanyaan tak penting. Kau pikir kata-katamu membuatku lebih baik? ” sambung Dennis marah dan menggebu namun terdengar lirih diakhir katanya.
__ADS_1
Dennis berjalan menaiki tangga dengan terus bergumam tak jelas. Sesampai dikamarnya pria berpakaian resmi itu merebahkan tubuhnya dengan bebas, lama-lama tubuh telungkupnya itu terasa lebih ringan hingga alam bawah sadarnya menguasai.
Sementara wanita itu terus melamun dan menatap hampir tanpa kedip pada sofa tunggal yang tadi dipakai sang suami. Ia hanya berfikir bagaimana mengambil utuh kembali kebersamaan keluarga kecilnya? Ia merasa karna negeri ginseng inilah yang membuat suaminya menjadi sensitif dan menjauh dari dirinya. Apakah karena ada wanita lain?
“Ibu. Ayah pulang?” Pertanyaan bersuara kecil dari atas mengalihkan pemikiran Mira. Wanita 28 tahun itu menoleh memandang Jennie yang baru keluar dari kamarnya yang pastinya telah mendengar percakapan tak harmonis dari orang tuanya.
Mira tersenyum sebaik mungkin kepada Jennie menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja lalu mengangguk membalas pertanyaan Jennie yang masih berdiri menyender pada pembatas kayu yang terukir rumit nan kokoh itu.
“Apa ayah marah?” tanya Jennie kembali sambil menopang dagu dikepalan tangannya yang bersender pada pembatas tangga.
Mira tersenyum tipis lalu kembali mengangguk memandang Jennie dengan tatapan terluka. Tidak hanya Mira namun Jennie pun terluka melihat jawaban dari ibunya.
Mira hampir saja meneteskan air matanya jika saja ia tidak mengusap matanya yang terlihat berembun. Jennie lalu segera berhambur mendekati ibunya dan memeluk Mira yang tak kuat lagi menahan bendungan air dipelupuk matanya.
“Kapan ayah bersama kita, bu?” lirih Jennie samar karna wajahnya telah tenggelam dipelukan ibunya.
Mira sesekali mengusap pipinya yang tak habis-habis terbahasi oleh air mata kesedihan. Hatinya tak dapat lagi dibohongi, ia terluka akan sikap tak acuh suaminya.
“Sabar, ini pasti ada ujungnya, hanya menunggu waktu sayang.” balas Mira mencoba memberi kepercayaan pada Jennie.
*
Hyeon Chul sangat suka makan, bahkan ia selalu menunggu jam makan untuk dapat mengunyah makanan dari pemilik panti asuhan ini.
Namun kali ini tidak! Bahkan menyentuhnya saja tidak. Entah nafsu makan anak itu terbuang kemana, ia bahkan hanya melihat piring berisi omelet itu dengan pandangan kosong.
“Apa yang kau lakukan? Cepatlah makan.” perintah seorang ibu bertubuh gempal yang memberikan piring itu sekaligus melihat Hyeon Chul yang sebelumnya tak pernah protes walau ia hanya diberi sisa makanan hari lalu.
“Hyeon Chul! Dimana temanmu itu? Kenapa ia tak kemari?” tanya wanita itu lagi yang sekarang mengerti kenapa Hyeon Chul tak selera makan.
“Entah, mungkin ayahnya sudah baikan lagi.” gumam Hyeon Chul sesudah melirik wanita paruh baya itu dengan ekor matanya.
Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, ia masih ingat betul saat-saat Hyeon Chul kemari dengan polisi dan anak kecil itu terus menangis dan merengek ingin pulang.
“Lalu, apa sekarang kau menunggunya?” tanya wanita itu duduk disalah satu kursi yang tak dipakai oleh para anak-anak panti asuhan yang sedang memakan makanannya.
Hyeon Chul secara spontan menoleh, terkejut dengan pertanyaan yang dibenarkan Hyeon Chul dari dalam hati namun ia sendiri menepisnya.
“Huh! Untuk apa aku menunggunya, yang ada jika dia kemari malah menjadi beban bagiku.” sela Hyeon Chul menatap kesal kearah wanita berumur itu.
Wanita bernama lengkap Oh Hye Sung itu tertawa ringan lalu beranjak dari duduknya dan mengacak rambut tebal Hyeon Chul pelan.
__ADS_1