Rumah Petaka

Rumah Petaka
Tubuh Mira Bukan Arwah Mira


__ADS_3

Dennis tersenyum tipis lalu menepuk punggung Vino pelan.


“Kapan acaranya mulai?” tanya Dennis lagi berharap ia masih mempunyai waktu dengan Vino.


“Jam 9 pagi hingga 12 siang.” jawab Jong Woon tanpa memperdulikan tatapan Vino yang mengintimidasinya.


“Heum, kita masih mempunyai waktu 2 jam! Ayo pergi!” ajak Dennis menoleh pada Vino yang mengalihkan tatapannya dari Jong Woon.


“Tentu,” seru Vino menarik punggung Dennis berbalik keluar gedung perusahaan.


"Den, Jong Woon itu se-fakultas dengan ku waktu di Jepang. Kami satu kampus dulu. " kata Vino setelah melihat sekitarnya, terlihat takut jika pembicaraan mereka didengar oleh orang lain.


Dennis mengernyit heran dengan perkataan temannya.


"Benarkah? Lalu kenapa?" tanya Dennis masih menatap kedepan tanpa melihat wajah keseriusan Vino.


"Kami memang tidak berteman tapi aku pernah melihatnya ditaman sendirian saat malam hari dan dia menangis. Aku tidak mendengar jelas apa yang ia bicarakan lewat telepon tapi, seperti yang aku dengar ada sangkut pautnya dengan pembunuhan dan intinya disana dialah pembunuhnya." jelas Vino panjang yang kini berhasil membuat wajah Dennis kearah Vino.


"Ah, serius kau? Dulu julukan mu kan 'si pembual'." kata Dennis sedikit bercanda namun sebenarnya ia cukup terkejut dengan penyampaian Vino.


"Ck, serius! Hei kau kira aku bohong dengan mu?" tanya balik Vino sambil menepuk kesal bahu Dennis yang tertawa renyah.


"Ya ya, baiklah. Lalu apa faedahnya kau bercerita padaku?" tanya Dennis membuat Vino merubah raut wajahnya yang menjadi semakin sebal dan terlihat marah.


"Hahaha. Iya iya, Vin. Kau marah? Haha Vin begitu saja marah. Aku percaya, aku percaya. Tenang saja. " kata Dennis berusaha membuat suasana hati Vino menjadi baik kembali dan begitulah sampai nanti.


*


Pagi ini Mira lebih pendiam, ia terus menunjukkan wajah pucatnya yang menurut Jennie sangat tak wajar ada pada ibunya. Jennie terus melamun memikirkan ibunya yang sekarang ini menyisir rambut panjang Jennie dengan pelan.

__ADS_1


“Ibu, rambutku sudah rapi. Ibu tak perlu menyisirnya lagi.” kata Jennie kepada Mira yang tersenyum pahit menatap helaian rambut Jennie.


“Lalu kau ingin ibu melakukan apa lagi?” tanya Mira dengan suara yang pelan dan begitu lembut.


Ini yang Jennie herankan, dari pagi tadi hingga siang ini ibunya terus berucap dengan suara yang justru terdengar menyeramkan. Ditambah dengan hangul, bahasa Korea.


“Eumh, aku bisa melakukan apapun sendiri bu.” jelas Jennie tanpa menoleh pada Mira.


“Benarkah? Kalau begitu ibu pergi dulu.” gumam Mira beranjak dari tempat tidur Jennie dan keluar dari kamar gadis kecilnya tersebut.


Jennie terus menatap pintu kamarnya menunggu Mira benar-benar keluar dari kamarnya. Setelah beberapa saat Jennie menunggu, lalu segera turun dari ranjangnya dan mencoba mengikuti Mira.


Jennie mencoba berjalan sepelan mungkin agar tak terdengar oleh Mira karna jarak mereka hampir cukup dekat. Jennie baru sadar jika ia dan Mira sedang berada dihalaman belakang yang udaranya sama dengan beberapa waktu lalu, saat ia berada disini juga. Rasanya dingin dan mencekam.


“Jennie.” panggil Mira seolah mengetahui keberadaan Jennie yang mematung dibelakangnya.


“Apa yang kau lakukan? Kemari.” ajak Mira mengayunkan kelima jari kanannya.


Jennie menatap Mira takut namun ia masih melangkah mendekati Mira yang tersenyum lembut kearah gadis itu.


“Apa yang ibu lakukan disini?” tanya Jennie balik sambil mendekat pada Mira.


Mira menoleh pada sebuah pohon rindang yang besar dan kokoh lalu menunjuknya, membuat Jennie ikut mengalihkan tatapannya pada pohon itu.


“Ibu sangat suka dengan pohon itu, mereka sangat baik.” jawab Mira menatap pohon itu dengan tatapan sendu.


Jennie mengenyit heran pada jawaban Mira yang tak sesuai dengan keinginannya, ibunya hari ini sangat berbeda.


“Kenapa ibu menyukainya? Itu hanya sebuah pohon biasa.” gumam Jennie merubah raut wajah tenang Mira, wanita itu menoleh tajam kearah Jennie yang masih menatap pohon itu.

__ADS_1


“Kau tak boleh berkata seperti itu! Itu adalah tempat dimana kita hilang!” sela Mira terdengar sangat tersinggung dengan perkataan Jennie.


Jennie terkejut mendengar bentakan dari Mira yang sekarang terlihat sangat marah dengan perkataan Jennie, yang sebenarnya hanya mengeluarkan pendapatnya saja.


“Baiklah bu, maaf.” jawab Jennie menunduk dalam melihat kemarahan Mira yang tak pernah ia rasakan selama ini.


Mira perlahan tersenyum puas mendengar kata penyesalan dari Jennie, wanita itu membelai surai rambut lembut Jennie.


“Bagus, kau tahu bagaimana pohon itu tumbuh?” kata Mira menyamakan tinggi badannya dengan Jennie.


Jennie hanya menggeleng polos pada Mira yang menatapnya dalam.


“5 tahun lalu sebenarnya pohon itu tidak ada. Tapi karna anak itu membunuh semua anggota keluarganya, lalu ia menanam pohon ini untuk tahu dimana anggota keluarganya yang ia bunuh itu berada. Kau tahu? Setiap malam anak berumur 18 tahun itu kemari, tapi sekarang ibu tak tahu bagaimana ia sekarang. Anak itu pasti lebih dewasa.” gumam Mira diakhir katanya.


Ia terus menatap sendu kearah pohon rindang tersebut, namun terpancar kebahagiaan disana.


“Kenapa cerita ibu hampir sama dengan cerita Hyeon Chul?” tanya Jennie memandang pohon tersebut kemudian menatap ibunya.


Mira terlihat sangat terkejut dengan pertanyaan Jennie. Wajahnya bahkan terlihat merah padam mendengar nama Hyeon Chul.


“Hyeon Chul?” lirih Mira menoleh perlahan kepada Jennie yang mengangguk dengan wajah polosnya.


Mira menatap kosong dan menggeleng pelan. Senyum sinisnya terbit disana, ada sebuah ketidakpuasan saat Mira mengetahui nama Hyeon Chul.


“Dimana sekarang dia?” tanya Mira memaksa Jennie dengan sedikit bentakan kecil disana.


“Ibu, apa ibu lupa? Kita pernah mengunjunginya saat itu.” kata Jennie tak mengira jika ibunya mempunyai batas ingat yang pendek, dan ia tak suka saat Mira terlihat marah pada Hyeon Chul.


Mira terlihat berpikir sejenak lalu langkah kakinya dengan cepat meninggalkan Jennie yang menatapnya heran dengan kelakuan Mira yang menurutnya berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2