Rumah Petaka

Rumah Petaka
Mencari Eun Hyuk


__ADS_3

Ya, setelah mendapat persetujuan dari Mira yang terkadang keras kepala dan manja condong kekanak-kanakan, tentu saja segala hal yang ingin Dennis lakukan nanti di Korea akan lebih leluasa.


“Terima kasih banyak Mira ku sayang, setelah kita menuju kamar inap anak-anak nanti aku akan meminta izin pada anak-anak juga, ya.” ujar Dennis membelai kepala atas Mira lembut dengan senyuman tulus pada istri nya ini.


Mira lalu menoleh pada Dennis yang terlebih dulu terus menatapnya sayu, ia kini menatap Dennis sedih dengan bibir yang melengkung ke bawah bagai Jennie anaknya saat anak mereka itu tidak diberi izin untuk makan ice cream.


“Di sini dulu saja Dennis, ya. Aku ingin berdua saja dengan mu sore ini. Lihatlah, matahari nya, mungkin dia akan menangis kalau kita tinggalkan.” kata Mira sedikit bergurau membujuk Dennis yang tersenyum dan terkekeh lucu, Mira ikut tersenyum lalu menjatuhkan kepalanya ke bahu lebar Dennis.


“Hei matahari! Apakah kau akan sedih kami tinggalkan sore ini?!” teriak Dennis bersikap konyol dan tentu saja membuat Mira terkejut.


Mira melihat ke sekitar, pada orang-orang entah itu pasien atau orang yang membesuk yang menatap Dennis dan tak luput Mira dengan wajah kebingungan, kaget dan pastinya aneh.


Namun bukannya malu, Mira malah ikut tertawa lucu dengan mulutnya yang ia tutupi.


“Ish! Kau ini kenapa!” tanya Mira memukul bahu Dennis dengan senyum manisnya.


Dennis hanya terdiam, terkadang tersenyum karena melihat Mira yang begitu nampak senang karena perilaku konyolnya.


“Ayo, kalau bisa tidur di sini.” ujar Dennis sebenarnya juga pasti akan sangat berat dan rindu untuk meninggalkan Mira dan Jennie dan Hyeon Chul.


“Hehe..” tawa Mira akhirnya selesai, ia kembali bersandar pada bahu suaminya yang lebar nan kokoh itu.


Setelah keadaan kembali senyap, Mira lalu menutup matanya dengan tenang membiarkan angin lembut menerpa wajah putih, kencang dan lembut miliknya.


“Ayo tidur.” lanjut Mira dengan mata yang tertutup tenang.


“Iya,” lirih Dennis kembali membelai Mira dengan lembutnya.


Dennis dengan menurut, ia pun juga ikut menutup mata merasakan sejuk dan damai nya sore ini.


Sangatlah romantis pasangan Dennis dan Mira ini, mereka duduk berdua ber dempetan di kursi yang cukup panjang untuk tiga orang itu. Mira terlihat kecil jika berdampingan dengan Dennis, apalagi sekarang wanita itu bersandar di dada suaminya ini. Terlihat bagai anak SMA yang masih tidak mempunyai beban.


“Besok, aku akan pergi ke Korea.” ujar Dennis memecah keheningan juga memecah ketenangan Mira.


Sontak, istrinya menegakkan tubuh dan menatap Dennis dengan melebarkan matanya yang sebelumnya begitu tenang terpejam itu.


“Kenapa cepat sekali? Nanti saja..” tanya dan saran Mira agar Dennis lebih lama bersama dengannya dan Jennie juga Hyeon Chul. Dalam hati Mira menangis menangapa Dennis setega ini membiarkan orang yang sedang sakit sendirian.


Mira menepuk kencang dada Dennis gemas dan kesal.


“Hehe, iya. Maaf Mira. Presdir hanya memberi ku waktu besok. Bagaimana ini? Aku sebenarnya juga kerepotan.” bohong Dennis dengan berkeluh kesah agar Mira merasa kasihan dan meng izinkan dirinya pergi secepat itu.


Mereka pun sejenak saling bertatapan dengan arti mata yang berbeda. Mira dengan wajah kesal dan tak terima, sementara Dennis dengan wajah meminta belas kasih.


Merasa Mira sedikit terlihat lebih ikhlas untuk membiarkannya pergi, Dennis dengan lembut dan pelan menggenggam kedua telapak tangan Mira dan mengangkatnya sedikit. Wajah Dennis ia ubah agar lebih sangat imut dan kasihan untuk membuat Mira terhanyut.


“Ayolah, tak apa. Ya? Aku sudah sangat susah payah meminta pada Presdir agar di izinkan libur tugas perusahaan. Hanya kali ini.” pinta Dennis menggenggam kedua tangan Mira dengan mata yang berbinar berharap.


Mira menghembuskan napas lelahnya, ia tak rela harus secepat itu membiarkan Dennis suaminya ini pergi. Tapi tak mungkin juga ia tak mendukung Dennis yang begitu semangat ini untuk pergi menangkap si brengsek Eun Hyuk. tak tahu harus bagaimana. Tak mungkin lah, Mira melarang Dennis pergi.


“Mira sayang, kalau tidak sekarang kapan lagi? Heum?” tanya Dennis mendorong jatuh kegusaran Mira.


Mira pun sampai mengangkat wajah dan menatap Dennis terkejut juga tersadar. Heuh bagaimana pun Dennis pergi karena ingin mendamaikan Keluarga mereka.


Dengan kembali menghembuskan napas berat, Mira mengangguk lemah menyetujui keinginan suaminya ini.


Dennis tersenyum tulus ia lalu mendorong lembut kepala Mira kembali bersandar ke dadanya dengan pelan. Sedikit ada penolakan dari Mira dengan menegakkan tubuhnya tetap tegak, namun bagaimana pun Mira tetap luluh saat Dennis membelai surai panjangnya lembut. Wajah Mira pun bersandar pada dada bidang Dennis. Ujung kepala Mira Dennis belai lembut berharap Mira bisa tenang.


“Tenanglah, kita dan anak-anak akan baik-baik saja.” kata Dennis menatap matahari yang mulai tenggelam dengan sedih.


Sore telah usai, warna jingga yang disebabkan oleh matahari yang hampir sembilan puluh sembilan persen tenggelam itu menyadarkan Dennis bahwa sudah hampir satu jam Mira dan dirinya berposisi seperti ini.


Tersadar akan sesuatu, Dennis segera memperingati Mira. Ya, tentu saja anak-anak. Hari sudah malam dan Dennis berangkat nya besok pagi sekali sekitar pukul 2 pagi, jadi secepatnya ia harus mengabari Jennie dan Hyeon Chul.


“Jangan lama-lama di sini, ya? aku belum bertemu dengan anak-anak.” kata Dennis menyadarkan Mira yang masih nyaman di dada Dennis.


Mira lalu tertawa kecil mengetahui dirinya yang begitu lama berada di dada Dennis hingga jam mungkin sudah pukul 6 malam, karena matahari telah tak nampak lagi.


Mira kemudian menjauhkan wajahnya dari dada Dennis, ia menatap penuh rasa bahagia dan cinta pada suaminya yang juga menatapnya ini.


“Ayo.” ajak Dennis.


Mereka lalu beranjak dari duduk dengan waktu yang sama. Setelah itu Dennis dan Mira berjalan bergandengan tangan menuju kamar inap Jennie dan Hyeon Chul.


Dennis dan Mira kini telah sampai di depan pintu luar kamar inap kedua anaknya, Mira melihat dan menatap Dennis yang berusaha mengambil napas sebanyaknya karena saking gugup.


Setelah mengambil 3 hirupan napas dan Dennis merasa lebih tenang, ia menoleh dan melihat istrinya dengan senyuman semangat.


“Heum..” gumam Dennis membuka knop pintu kamar inap.


Ketika Dennis dan Mira masuk, mereka langsung melihat Jennie yang berteriak senang melihat kedua orang tuanya. Sedangkan Hyeon Chul, ia hanya terdiam berbaring di kasur rumah sakit sambil tangannya memegang dan memainkan game di ponsel milik Mira.

__ADS_1


“Ayah! Ibu!” seru Jennie senang, ia sebenarnya ingin turun dari ranjang namun kesehatannya masih belum pulih.


Dennis melirik samar pada Mira dan berharap istri nya ini tidak mengetahui lirikan nya. Karena jujur, Dennis hanya menatap wajah Mira saja membuatnya bersemangat dan tenang.


“Jennie, Hyeon Chul. Nak, sini. Ayah bantu kalian berdua turun.” ujar Dennis menghampiri Jennie.


Dennis lalu mengangkat tubuh Jennie dan menaruhnya ke sofa berwarna merah jambu itu, lalu giliran Hyeon Chul. Namun kali ini untuk Hyeon Chul, Dennis meletakkan Hyeon Chul ke kursi roda karena melihat kaki dan kepala dan tangannya Hyeon Chul yang diperban. Kursi roda Hyeon Chul di letakkan ke samping sofa tersebut. Sedangkan Dennis duduk di sofa tunggal, jangan lupa bahwa Mira menggunakan kursi roda juga.


“Jennie, Hyeon Chul. Tolong izinkan ayah untuk pergi ke Korea yah?” pinta Dennis memohon dengan wajah meminta belas kasih.


Hyeon Chul hanya melebarkan matanya, sedangkan Jennie terlihat sangat terkejut hingga mulutnya berbentuk bulatan besar.


“Kenapa? Ayah?” tanya Jennie terheran.


“Ayah ditugaskan oleh perusahaan untuk tinggal hanya beberapa hari di sana. Hanya sementara, kurang lebih 4 hari. Tak apa ya?” pinta Dennis menjelaskan.


“Ah..aku ikut, ayah!” seru Jennie polos.


Dennis terdiam, ia takut kalau ia menolak keinginan Jennie, anak gadisnya ini akan marah.


“T-tidak bisa sayang..ayah tidak diperbolehkan bos ayah untuk membawa seseorang. Eugh! Ayah janji, nanti akhir tahun ayah dan Jennie, Hyeon Chul dan ibu mu akan ke Korea! Bagaimana?” nego Dennis mengangkat jari kelingking tangan kanannya.


Namun tiba-tiba, Jennie malah menangis. Gadis itu menangis dengan kencang hingga membuat matanya memejam.


Dennis dan Mira sontak kerepotan, Dennis yang sehat wal afiat pun berdiri dan segera memeluk tubuh mungil Jennie.


“Jennie, jangan menangis, eoh? Ayah minta maaf, ini hanya 4 hari. Sayang.” kata Dennis mengusap lembut pipi Jennie.


“Kau minta apa di Korea? Ayah bawakan untuk mu. Ya?” negosiasi Dennis lagi kali ini membuat Jennie terdiam perlahan.


“Eum..” rintih Jennie berusaha untuk berbicara.


“Ayah buatkan mie instan dengan 7 cabai, 2 saus tomat dan seledri. Rasa ayam bawang, sekarang.” perintah Jennie membuat Dennis terkesiap.


Permintaan aneh macam apa itu?


Dennis menoleh pada Mira yang terlihat lebih terkejut darinya.


“Baiklah, sekarang kan? Oke!” ujar Dennis lalu berlari keluar kamar inap.


Dennis meminjam dapur rumah sakit, beruntunglah di penyimpanan dapur sudah terdapat mi instan. Dennis yang memang cakap memasak hal yang sederhana itu segera bergerak cepat.


Lima belas menit kemudian..


Jennie lalu menoleh dengan antusiasnya.



“Wah! Enak sekali ayah!” seru Jennie mendekati mangkuk berisi mi itu.


“Ya, makanlah. Makan!” kata Dennis senang. Kemungkinan besar, Jennie akan membiarkan dirinya pergi.


10 menit kemudian..


Mangkuk yang tadinya penuh akan mie dan kuah ya itu kini telah habis tak tersisa. Kalau dipikir tidak mungkin Jennie bisa memakan sebanyak dan secepat itu. Ya, tentu saja. Jennie dengan baiknya berbagi pada Hyeon Chul yang juga sangat tergoda dengan tampilan dan wanginya.


“Jadi bagaimana sayang? Enak kan? Kau setuju ayah tinggal sementara di Korea kan?” tanya Dennis berantusias.


Mengingat itu kembali, Jennie juga kembali sedih. Namun bagaimana lagi, ia sudah berkata seperti itu.


“Eum, ayah boleh pergi.” gumam Jennie lesu.


Dennis lalu dengan spontan menepuk sekilas tangannya, namun ia segera tersadar dengan berwajah kaku menatap ketiga orang di depannya.


“Terima kasih, ya. Jennie sayang. Ayah nanti akan memberikan oleh-oleh yang banyak sepulang ke Indonesia.” kata Dennis tersenyum simpul mengusap dari ujung kepala Jennie hingga punggung anaknya.





Ke esokan harinya, di mana sebelumnya saat Dennis meminta izin pada Jennie dan Hyeon Chul, Jennie yang masih kecil dan sebagai seorang anak gadis manja itu begitu sangat marah dan sedih bahkan tidak mau bertemu dengan ayahnya, namun akhirnya Jennie pun menyetujui rencana Dennis dengan segala bujukan yang dibuat Dennis untuk menenangkan Jennie yang sempat menangis.


Kini Dennis telah mengemas beberapa lembar baju dan barang penting lainnya untuk dia ke Korea.


Di atas tempat tidur, dijam 3 pagi. Jennie dengan wajah sedih melihat ke arah ayahnya yang sedang sibuk merapikan koper. Hingga Dennis selesai, ia kemudian melihat Jennie yang dari tadi memandangnya.


“Ayah,” rengek Jennie manja, tak rela.


Dennis lalu berjalan menuju kasur Jennie.

__ADS_1


Tidak bisa berkata apa-apa, Jennie hanya akhirnya kembali menangis dan memeluk ayahnya.


“Jennie kenapa sedih sekali? Ayah pasti akan segera kembali.” kata Dennis mengusap punggung Jennie.


Melepas pelukan, Dennis tersenyum hangat pada Jennie yang menatapnya dengan mata yang basah.


“Bilang pada ibumu yang masih tidur itu, ya. Ayah pergi.” pamit Dennis mencium punggung tangan dan kening Jennie.


Gadis itu pun mengangguk pasti dengan wajah menahan tangisnya.


Kembali, Dennis memeluk Jennie lebih erat namun juga lebih cepat melepaskannya.


“Dadah, ayah pergi sebentar ya.” pamit Dennis melambaikan tangannya sambil membawa koper dan berjalan keluar dari kamar.


Selepas Dennis keluar dari kamar inap, wajah lembut dan hangatnya berubah menjadi kembali dingin. Tujuannya sekarang hanya ingin kalau bisa membunuh Eun Hyuk.


“Jaga Kau.” lirih Dennis mulai berjalan dengan tegasnya melewati orang-orang yang berlalu-lalang tanpa peduli dengan tatapan membunuh Dennis.


Setelah sampai di bandara Dennis segera memasuki pesawat, ia sudah membuat rencana setiap langkah-langkah apa yang akan ia lakukan di Korea nanti.


“Terima kasih sudah menggunakan jasa kami, periksa-”


Suara Pramugari yang bersuara lembut dan tenang itu tak terlalu dipedulikan oleh Dennis, ia kini sibuk mengambil headphone dan beberapa barang kecil yang ia bawa menemaninya di bangku pesawat.


“Hah,” desah Dennis menunggu orang-orang di depannya ini berjalan lebih cepat.


Selepas Dennis keluar dari pesawat, ia ingin segera pergi lagi ke kantor polisi untuk menanyakan keberadaan terakhir jejak Eun Hyuk.


Begitu keluar dari gedung bandara, Dennis menghirup kuat udara segar guna menenangkan hati dan pikirannya.


Setelah beberapa langkah Dennis menuju keluar dari bandara, ia di datangi seorang laki-laki berbaju biru layaknya seorang sopir panggilan.


“Tn.Dennis?” tanya laki-laki itu setelah Dennis ikut melihatnya.


“Oh, iya. Anda Sopir Taksi yang saya pinta?” tanya Dennis basa-basi sekaligus memastikan.


“Iya, silakan kemari tuan.” arahan Sopir itu diikuti oleh Dennis yang berjalan dengan tegaknya.


[Kantor Polisi]


“Tuan Dennis?” sapa seorang penjaga kepolisian begitu segan menyambut Dennis.


Sementara dengan angkuhnya pria itu hanya mengangguk, penjaga itu lalu mengarahkan Dennis kepada Kepolisian Resor yang menangani kasus Eun Hyuk.


Terlihat dari luar dengan dinding yang berbahan kaca transparan, kedua sheriff tengah berbicara serius. Dennis terus mengamati wajah kesal dan garang dari kedua pria paruh baya itu.


“Hormat! Maaf Sheriff, tuan Dennis sudah datang.” beri tahu polisi dengan pangkat penjaga itu berwajah tegang di depan atasannya


Kedua Sheriff itu lalu mengalihkan tatapannya dari penjaga polisi kepada tubuh Dennis yang berada di belakang bapak penjaga.


“Owh! Tuan Dennis! Haha.” sambut gembira salah satu Sheriff berdiri dan bersiap menjabat tangan Dennis.


Mau tak mau, sheriff yang satu lagi ikut berdiri ingin menjabat tangan Dennis.


“Apa kabar?” tanya Sheriff itu tersenyum tiga jari.


Dennis mengangguk pasti dengan senyum tipis menjawab pertanyaan Sheriff itu malas.


“Tuan duduklah, ada kabar terbaru dari tersangka Eun Hyuk.” beri tahu Sheriff itu masih mengenggenggam tangan Dennis dan mengarahkan pria itu kursi.


Satu Sheriff di sana dan tak lupa penjaga polisi itu kemudian membungkuk memberi hormat lalu pergi.


“Tuan Dennis, kami sudah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah di Daegu karena kami melacak tersangka Eun Hyuk itu berada di sana. Tolong percayakan pada kami dan tunggu hasilnya. Ya?” pinta Sheriff itu dengan wajah meyakinkan.


Dennis terdiam, kalau ia hanya menunggu, pasti waktu 4 hari tidak mungkin cukup.


“Biarkan aku juga ikut membantu,” izin Dennis tak mau dibantah.


Sheriff itu terlihat kebingungan, ia terdiam menimbang apakah harus sampai merepotkan Dennis. Bisa-bisa, pria kaya di depannya ini tidak mau memberikan bonus kalau ternyata yang menemukan Eun Hyuk nanti adalah Dennis sendiri.


“Eumh, bagaimana ya.” gumam Sheriff mengetuk dagunya dengan kening yang berkerut.


“Aku akan tetap menghormati kalian sebagai kelompok kepolisian. Di sana aku hanya ingin membantu apa yang bisa ku bantu.” jelas Dennis berniat mengelabui juga menenangkan sang Sheriff.


Dilihat dari gerak-gerik Sheriff, ia mulai berpikir untuk menyetujui keinginan Dennis. Sheriff tersebut melihat Dennis lekat, ia masih menimbang.


“Ba-baiklah, kalau itu mau Anda. Tuan.” ujar Sheriff itu akhirnya masih dengan wajah keberatan.


Dennis akhirnya bisa tersenyum senang walau tipis mendengar perkataan membahagiakan sang Sheriff.


“Terima kasih.” ujar Dennis mengangguk memberi hormat.

__ADS_1


“Haha, tidak perlu se-hormat itu kepada saya tuan Dennis. Dengan bantuan dana pribadi anda kemarin membuat kepolisian semakin giat mencari tersangka Eun Hyuk itu! Haha.” kelakar Sheriff mengekspresikan diri.


Sementara Dennis hanya tersenyum tipis, berniat menanggapi suara menggelegar penuh keceriaan dari anggota polisi itu.


__ADS_2