Rumah Petaka

Rumah Petaka
END OF SEASON


__ADS_3

*_*


Tubuh Mira terhempas ke ranjang dengan matanya yang tertutup. Wajahnya terlihat letih, ingin segera terlelap hingga ia benar-benar merasa tertidur.


Tak lama kemudian di saat ia benar-benar lelah, Mira tertidur tak menghiraukan Dennis yang saat melihat kelelahan istrinya, refleks segera memijat kepalanya pelan.


"Hyuk Jae. Dia adalah pemilik rumah ini sebenarnya. Aku tak tahu entah kenapa ceritanya, namun Hyuk Jae-lah yang menbunuh semua anggota keluarganya. Ia memang mempunyai gangguan kejiwaan, depresi yang berkepanjangan karena orangtuanya meninggal. Dan tertekan karena kondisi keluarga."


*


*


*


Byur!


"Hei! Anak nakal bangunlah?!" teriak seorang pria tua kurus menggunakan kaos berwarna kuning kusam.


Ia berteriak pada seorang pria yang terbangun terkejut karena air yang


menampar keras wajahnya.


"Eugh. Apa ini paman?" tanya pria tersebut bergumam pelan.


Plak!


Satu tamparan keras dari pria paruh baya itu mengguncang tubuh lemas selepas tidur remaja lelaki itu.


"Kim Hyuk Jae?! Apa Kau benar-benar bergabung dengan teman kriminalmu itu?" tanya paman tersebut, namun bukan seperti pertanyaan. Lebih terasa menuntut lelaki itu untuk meng-iyakanya.


Hyuk Jae, pria itu melebarkan matanya terkejut akan pernyataan sang paman.


“**Paman, aku-"


Plak**!


"Kau brengsek?! Paman sudah mendidikmu baik-baik tapi Kau, ck!! memalukan!"


"Sudah baik Kau dihidupi di sini. Kenapa masih membuat ulah?" tanya seorang wanita yang berstatus istri dari pamannya.


"Bisakah aku pergi saja dari sini?! Kenapa kalian mengekangku terus?!" bentak Hyuk Jae bukan membuat mereka terdiam.


Malah seorang kakek yang sebelumnya duduk di ujung kamar dengan tongkat yang dipegangnya, beranjak berjalan cepat menghampiri Hyuk Jae.


"Dasar anak tak tahu diri?!"


Bugh!


Pukulan telak dari kakek itu membuat mulut Hyuk Jae mengeluarkan bercak darah.


"Seharusnya Kau mati bersama ayah dan ibumu! Kau tak boleh memakan apapun yang ada di rumah ini mulai dari sekarang!" teriak seorang wanita berusia senja membuat Hyuk Jae tertusuk sakit hatinya.


Mata pria itu memerah dan panas menahan air mata yang akan keluar. Hyuk Jae melirik sebuah pisau buah yang tergeletak di atas meja, tanpa pikir panjang Hyuk Jae segera mengambil benda tajam itu. Dengan sangat kilat sang pisau telah menghunus perut bawah pria yang berada di depannya, pamannya.

__ADS_1


"Akh!? Hyuk Jae! Kau gila?!" teriak spontan bibi Hyuk Jae, membuat pria itu semakin meradang.


"Justru kalian yang gila?!!" bentak Hyuk Jae yang sudah dipenuhi dengan kemarahan.


Jleb!


Lagi, pisau tersebut tertancap tepat di bahu bibi yang beberapa detik lalu


berteriak.


"Hyuk Jae, apa yang Kau lakukan?!" bentak kakek tersebut ketika tatapan mata Hyuk Jae beralih kemereka.


Neneknya datang dengan terkejut, hanya bisa menyembunyikan tubuhnya di belakang suaminya.


"Heuh! Di saat seperti ini kalian takut padaku? Pengecut?!"


Akh!


Jleb


"Tidak Hyuk-ie. Ja-"


Jleb


Seringai setan itu muncul, hening mendera membuat senyum kecut itu menghilang.


Seperti baru menyadari apa yang ia lakukan, wajahnya berubah khawatir. Tangannya bergetar setelah ia melihat di sekelilingnya hanya ada mayat-mayat kaku hasil 'jeri payahnya' sendiri. Pisau yang sudah terlumuri darah terjatuh menimbulkan suara yang nyaring.


Hatinya terasa sangat sakit melihat keluarga yang tersisa sudah menghilang.


Kriiing!


Tatapannya melirik pada ponsel miliknya yang berada di atas ranjang. Dirinya melewati begitu saja tubuh kaku pamannya, lalu mengambil ponselnya yang berdering. Tertulis di sana pemanggil bernama Gene Hernandez.


"Hallo, Jae?" panggil seorang pria di sana yang terdengar seperti seorang pria berkebangsaan Amerika.


"G-gene. Hhh."


"Hei. Apa yang terjadi?" tanya Pria itu kembali dengan bahasa Inggris yang kental.


"A-aku, hhh. Aku membunuh keluargaku, karena-"


"Wha! Kerja bagus, eh. Maksudku Kau ini anggota geng kriminal, 'kan? Ya, memang harus begitu. Lalu kenapa Kau takut?'


"Ck. Bagaimana aku tak takut! B-bagaimana jika polisi menangkapku?"


"Ooh. Tentang itu, aku akan bicara dengan bos agar mengeluarkanmu sementara dari Korea ke Jepang. Jepang sering menjadi tempat berkumpul mereka. Tunggu beberapa jam lagi mereka akan menjemputmu."


Setelah Hyuk Jae penuhkan kepercayaan dirinya pada pria bernama Gene tersebut, ia hanya bisa berjalan gelisah selama menunggu berjam-jam lamanya.


Brak Brak Brak


Dengan kecepatan penuh Hyuk Jae berlari menuju pintu yang bersuara nyaring itu lalu membukanya.

__ADS_1


"K-kenapa lewat belakang?" tanya Hyuk Jae spontan melihat dua pria berbadan kekar itu.


"Hey, bodoh. Jika terlihat oleh tetanggamu bagaimana?! Begitu saja tidak tahu!"


"E-. Ayo, bawa aku pergi dari sini." ujar Hyuk Jae melangkah maju ingin segera keluar dari sini.


Namun langkahnya terhenti saat kedua tangan seseorang dari mereka menahan bahu Hyuk Jae.


"Apa yang kalian tunggu?! Aku akan gila jika di sini terlalu lama!?" bentak Hyuk Jae benar frustasi dengan sikap pria-pria ini.


"Siksa mayat keluargamu dahulu. Setelah itu Kau akan pergi."


"Siksa apanya?! Mereka sudah mati, bodoh?!" teriak Hyuk Jae frustrasi.


Namun kali ini diberi bogem mentah dari pria yang dari tadi hanya terdiam.


"Ini perintah bos! Kau tak punya otak? Maksud bos dengan 'menyiksa' ialah, para keluargamu itu harus menjadi jasad yang buruk. Dengan kulitnya yang terkelupas, kepalanya yang bocor atau yang lainnya. Agar polisi nanti kesulitan mengambil jejak. Masih tak tahu?"


"Arraseo. (aku mengerti/baiklah)"


Ketiga pria tersebut menuju ke tempat para mayat tersebut berada. Hyuk Jae terdiam sesaat sesudah seseorang dari mereka memberikan pisau tajam dan tongkat kayu.


"Cepat lakukan!?"


Hyuk Jae menangis dalam diam, ia sangat takut dan merasa bersalah pada keluarganya.


"Hiks, maafkan aku. Akhh!"


Bugh


"Tidak, jangan."


Jleb Jleb


Bugh


"Jangan! Kumohon mereka-"


"Mira! Mira!"


Mata Mira terbuka dengan paksa. Posisinya setengah berbaring dengan kedua tangan yang seperti ingin menggapai sesuatu. Pandangan wanita itu beralih pada Dennis yang menatapnya khawatir.


"Hei, Kau mimpi apa, sayang?" tanya Dennis hati-hati.


Namun wanita itu masih berdiam seperti seseorang baru tersadar dari tidur panjangnya, linglung. Pikiran Mira hanya tertuju pada mimpinya beberapa detik yang lalu.


-


-


-


Next Season 2

__ADS_1


__ADS_2