
Jantung Mira berdegup kecang dan napasnya pun tak beraturan, ia seperti tersengat listrik saat memegang tangan dingin itu.
Perlahan ia pun mencoba untuk bangkit walau hanya setengah badannya yang beranjak untuk melihat siapakah sosok yang ada di sana.
“Apa aku berhalusinasi?” lirih Mira memegang dahinya yang sudah basah dengan keringat dingin.
“Ibu! Ibu!” teriak Jennie tiba-tiba membuat Mira sepenuhnya beranjak dari ranjang dan mencoba untuk membuka pintu kamar namun pintu itu tak memperlihatkan tanda-tanda ia akan terbuka.
“Euh, buka!” pinta Mira pelan namun tersirat nada perintah di sana.
Mira terus memutar knop pintu itu berkali-kali dan tergesa karna ia rasa suasana buruk berada di sampingnya, seperti sesuatu menahannya dan akan berbuat jahat padanya.
Berhasil, pintu itu berhasil terbuka lalu ia segera berlari secepat mungkin dan menjauhi kamar yang sekarang ia benci itu.
“Awas bu! Tangga!” peringatan Jennie terdengar pada Mira untuk segera berhenti sejenak dan menuntutnya berjalan dengan pelan menuruni tangga.
“Oh ya, Tuhan!” pekik Mira tertahan.
Setelah Mira beberapa saat cukup tenang iapun mendongak menatap Jennie.
“Apa yang terjadi?” tanya Mira sambil menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
“Acara kesukaan ibu sudah mulai!” jawab Jennie lalu menunjuk ke arah televisi.
Mira menghela napas lelah, ia pikir sesuatu terjadi pada Jennie namun anaknya itu berteriak padanya hanya karna sebuah acara televisi.
“Sayang, lalu kenapa Kau sampai berteriak seperti itu? Kau mengejutkan ibu.” lirih Mira lalu bersandar ke sofa di belakangnya.
“Ibu dulu minta padaku kalau acaranya sudah mulai harus memberi tahu.” jawab Jennie lirih menautkan kedua jari telunjuknya.
“Ya sudah, terima kasih karna sudah memberitahu ibu.” kata Mira menyudahi perdebatan yang sudah ia buat.
*
Hujan deras melingkupi kota Seoul, gemuruh petir dan jalan yang licin memicu adrenalin para pengemudi termasuk Dennis yang akan segera pulang ke rumah.
“Apa aku harus menelpon Mira agar tak perlu menungguku makan?” gumam Dennis mempertimbangkan sesuatu.
Namun tiba-tiba handphone yang berada di laci mobil Dennis bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dennis berdecak pelan lalu salah satu tangannya mulai mencari handphone tersebut .
__ADS_1
“Hallo?”
“Sayang, kau baik-baik saja? Bagaimana ini, apa tak perlu saja Kau ke rumah?” tanya seorang wanita di seberang sana yang tak lain adalah istrinya Dennis.
“Tak apa, sebentar lagi juga sampai.” jawab Dennis yang sebenarnya menyutujui perkataan Mira tadi tapi karna ia juga tak sampai hati membiarkan hanya dua wanita tinggal di dalam cuaca seperti ini juga tak baik.
“Baiklah, hati-hati aku menunggumu.” ucap Mira mengakhiri percakapan mereka lewat telepon.
Mata Dennis menyipit ketika ada gumpalan asap yang akan datang padanya, seketika wajahnya menjadi tegang dan dengan gerakan cepat ia menghentikan laju kendaraannya tersebut.
Di depan Dennis terlihat sebuah truk besar yang terbalik dan jika saja ia tak segera menghentikan mobilnya mungkin mobilnya akan sama saja hancurnya dengan truk itu.
“Hampir saja.” gumam Dennis sambil kembali menghidupkan mobilnya lalu ia putar ke kiri untuk melaju menghindari truk muatan kayu itu.
Namun keberuntungan untuk detik ini memang tak tertuju padanya, tak ia sangka ada sebuah sedan berwarna putih melaju menghadapnya.
Dennis tidak bisa berpikir jernih karna ia sudah terlalu tersudut dibantingnya stir mobil ke arah manapun yang terpenting tak ada sebuah mobil di sana, di sana memang tak ada mobil namun di tempat itu ada pagar besi pembatas jalan.
Dengan kurang dari 3 detik mobil depan Dennis hancur.
“Euh, tolong, tolong.” Itulah kata terakhir Dennis sebelum ia memasuki alam bawah sadarnya.
*
“Menjawab panggilanku saja ayahmu tak bisa.” jelas Mira sebal sambil terus mengetuk layar handphone gemas.
“Apa yang terjadi pada ayah? Apa ayah kecelakaan?” gumam Jennie tanpa mempertimbangkan perkataannya dulu.
“Hush! Apa yang Kau bicarakan?” tanya Mira terkejut akan pertanyaan Jennie yang tak terkontrol.
“Maaf bu.” pinta Jennie segera mungkin pada ibunya.
“Kau lapar? Ibu akan membuatkan makanan kesukaanmu!” kata Mira mengalihkan pikirannya pada Dennis.
“Ayah tak akan makan di sini?” tanya Jennie menatap Mira sendu.
“Em, ayahmu tadi bilang jika ia menginap di rumah temannya jadi ia tak akan pulang hari ini.” bohong Mira mencoba membuat Jennie tak terlalu khawatir tentang keadaan Dennis.
“Benarkah? Tadi ayah menelpon?” tanya Jennie kembali mencoba memastikan pernyataan ibunya.
__ADS_1
“Em, tidak, tapi ia mengirim pesan jika. Ya seperti itu sayang.” jelas Mira bingung.
“Baiklah bu!” gumam Jennie lalu melangkah dengan riangnya memasuki dapur yang berada di samping ruang tamu.
*
“Sayang, nanti ibu tidur di kamarmu, ya?” pinta Mira memulai pembicaraan saat acara makan ini.
Jennie mengernyit bingung mengetahui sifat penakut Mira yang sulit ia temui.
“Ibu takut, ya?” tebak Jennie menatap mengintimidasi pada Mira.
“Tidak hanya saja ibu tak suka tidur sendirian dengan ranjang yang begitu besar.” Jelas Mira tak mampu membuat Jennie langsung percaya.
“Eum, baiklah bu.”
Tok! Tok**!
Ketukan pintu rumah itu terdengar sampai ke telinga Mira yang segera terbangun.
“Dennis.” gumam Mira lirih dan langsung beranjak dari tidurnya lalu ia pergi meninggalkan Jennie yang tidur di sampingnya .
“Dennis!” gumam Mira keras sambil menuruni tangga lalu ia mulai membuka pintu rumahnya.
Kosong, tak ada siapapun yang berada di depan Mira. Yang wanita itu lihat hanya deretan pohon yang beberapa kali nampak terlihat sangat terang karena pancaran sinar petir dengan suara yang menyeramkan menemani rintikan hujan deras serta dingin ini.
“Ibu!” teriak Jennie terdengar serak dan begitu ketakutan.
Teriakkan Jennie membuat Mira kembali merasa suasana hal ini begitu membuatnya tertekan.
“Jennie.”
Kembali, Mira melangkah menaiki tangga dan segera membuka pintu kamar Jennie.
“Jennie!” teriakan Mira tak mengusik Jennie yang masih terbawa dalam alam bawah sadarnya.
Mira mengernyit bingung karna baru beberapa saat ia mendengar anaknya berteriak meminta tolong, namun tubuh tenang gadis kecil di sana begitu tidak menghiraukan.
“Jennie! Jangan bercanda pada ibu! Bangun!” perintah Mira marah pada Jennie yang mungkin sedang memainkannya.
__ADS_1
Senyum miring Mira tertampil karna betapa ia frustasinya dengan kejadian ini.
“Oh! Ya Tuhan!” gumam Mira menunjukkan rasa frustasinya.