
Mira terbangun dari tidurnya, namun kedua kelopak matanya ini sangat berat untuk terbuka. Wanita berambut panjang menjuntai itu mengangkat tubuh atasnya, mencoba menghilangkan rasa kantuknya.
Mira menoleh pada suaminya, wajah gelisah selepas tertidur itu terasa lebih tenang melihat wajah suaminya yang tertidur pulas. Namun ia harus membangunkan Dennis secepatnya, karna cahaya matahari sudah terlihat cukup cerah walau gorden sudah menutupi jendela berkaca tersebut.
"Dennis, bangun. Kau harus bekerja, 'kan?" ucap Mira menepuk pelan berulang kali punggung Dennis agar suaminya itu segera terbangun.
Erangan terganggu Dennis terdengar diikuti dengan kelopak matanya yang perlahan terbuka. Senyuman jenaka terlihat dari bibir Dennis, menyapa Mira yang enggan tersenyum.
"Pagi sayang." sapa Dennis sambil memeluk tubuh Mira erat.
Inilah yang terjadi hampir setiap harinya pada mereka, karena dengan cara seperti itu membuat mereka terasa lebih semangat untuk memulai hidup.
"Eum, cepat mandi. Anak kita belum bangun juga." tanggap Mira melepas pelukan hangat mereka dipagi hari.
"Ya. Aku akan bersiap." ujar Dennis turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi.
Segera setelah Dennis menghilang dari pintu kamar mandi, Mira ikut turun lalu mengikat rambutnya dan keluar dari kamar menuju kamar Jennie. Mira mengetuk cukup keras pintu sambil memanggil nama anaknya tersebut, untuk membuat gadis kecil itu terbangun.
"Aku akan keluar!" seru Jennie yang sudah terbangun, membuat Mira mengurungkan niatnya untuk memasuki kamar anaknya.
Tubuh wanita itu kembali bergerak cepat menuju dapur rumah yang ada dilantai 1. Sambil berjalan cukup cepat namun berhati-hati, tatapannya melirik kejam dinding yang menunjukkan pukul 06:21 pagi.
Ini benar-benar waktu yang menjengkelkan, ditambah suaminya yang selalu berangkat kerja pukul tujuh, membuatnya harus berfikir apa yang akan ia siapkan untuk sarapan nanti.
"Heuh. Jika nasi goreng tak mungkin bisa, berarti nanti hanya bisa makan roti panggang lagi? Hhh payah." gumam Mira kesal dengan dirinya sendiri karena keterbatasan waktu hanya itu yang bisa ia buat.
Tak lama berselang, Mira sudah bersiap menyajikan dua gelas susu murni ke meja, yang dilihat oleh Dennis membuat pria itu selalu merasa tersanjung pada istrinya yang selalu mendahulukan anak dan suaminya dari pada dirinya sendiri.
"Ooh. Istriku sedang membuat apa?" tanya Dennis basa-basi memandang meja makan lalu berpindah memandang sayang istrinya.
Mira tersenyum kecut mendengar perkataan Dennis.
"Hanya roti panggang. Aku bangun kesiangan jadi, maaf aku hanya bisa menyiapkan ini." jawab Mira sambil meletakkan piring di meja, melihat wajah suaminya yang semakin mengembangkan senyumnya.
Mendekati Mira dan mengecup dahi wanita terhebatnya ini lembut nan dalam, seolah rasa terima kasihnya pada wanita itu tersampai lewat kecupan itu.
"Tak apa, aku menyukainya. Jikapun hanya air putih yang kau sajikan padaku, namun dengan segala rasa sayang yang kau torehkan lewat itu, aku akan sangat berterima kasih padamu." ujar Dennis membuat wajah lelah Mira benar-benar menghilang.
__ADS_1
Perkataan penuh kelembutan dan mendayu itu sanggup membuat senyuman pertama wanita itu dipagi hari.
"Heuh. Dasar mantan playboy." tanggap Mira menimbulkan suara renyah tawa yang dihasilkan oleh Dennis.
Seakan tak terima pria itu kembali berucap.
"Hei. Jika aku seperti itu, tak mungkin aku menolak cinta dewi yang menjadi primadona pria-pria di SMA."
"Tapi, bukankah kau menerima ajakan kencan dari perempuan lain, 'kan?"
"Hei, tapi sebenarnya kaulah yang mengejarku. Sampai akhirnya aku menerimamu."
"Iih. Kau mengganti topik. Bukan itu tadi-"
"Lalu apa hah?" sela Dennis lalu menyentuh titik bagian tubuh geli Mira yang langsung membuat wanita itu tertawa geli.
"Ah. Sudah." kata Mira disela tawanya yang langsung disudahi Dennis ketika ia mendengar suara pintu terbuka.
"Oh. Jennie." panggil Mira tersenyum lembut pada anaknya yang fokus pada jalan yang ia tapaki.
"Ibu dan ayah sedang apa?" tanya Jennie mengintrogasi kedua pasang suami-istri tersebut.
"Kenapa? Jennie marah? Tapi 'kan Jennie yang akan selalu ada di dalam hati ibu dan ayah." ujar Dennis lalu pria itu segera memeluk Jennie diikuti oleh Mira.
"Eum. Ayah ibu."
"Heum?"
"Kak Hyeon Chul?" tanya Jennie langsung membuat Mira dan Dennis spontan melepaskan pelukan, hingga akhirnya mereka tertawa geli karna melupakan 'anak barunya' itu.
"Ya sudah kalian makanlah. Aku akan memanggil Hyeon Chul." ucap Mira segera menaiki tangga sambil memanggil nama Hyeon Chul.
Disaat Dennis mulai menikmati roti panggang buatan Mira, Jennie hanya terdiam sambil menatap kecewa pada apa yang ia pandang sekarang. Seolah mengetahui raut wajah yang diperlihatkan secara tak sengaja oleh anaknya, Dennis menelan makanan yang ia kunyah lalu memajukan wajahnya pada Jennie.
"Roti panggang lagi? Tapi aku ingin nasi goreng." kata Jennie menatap penuh harap pada ayahnya, agar pria itu mungkin bisa membuatkan makanan yang ia inginkan.
"Kau ingin ayah buatkan? Eum, tunggu sebentar." jawab Dennis lalu beranjak dari duduknya, dan mencoba melihat beberapa bahan nasi goreng untuk ia masak.
__ADS_1
Dia memang seorang suami kekanakan bagi Mira, namun ia juga bisa menjadi ayah yang baik bagi putrinya. Lagi pula disaat Mira terkena sakit dulu, ia sering memasak bersama Jennie.
Mira menutup kembali pintu Hyeon Chul, dan melihat Dennis yang berada didapur menimbulkan suara yang cukup bising. Senyum Mira terlihat ketika memandang gerakan sigap suaminya didapur, ia segera berjalan menuju suami dan anaknya.
Jennie menoleh ketika mendengar suara langkah kaki Mira.
"Ibu kenapa tidak membuat nasi goreng?" kata Jennie mengeluarkan wajah kesalnya pada Mira. Wanita itu hanya bisa tersenyum tipis, lalu melirik suaminya yang nampak tak setuju dengan anak gadisnya.
"Sayang, tak boleh begitu. Ibumu saja sampai sekarang masih belum mandi karna terlalu sibuk." protes Dennis membuat Mira terkejut dan baru sadar jika ia bahkan belum membersihkan wajahnya.
"Oh ya. Haha aku lupa." gumam Mira tertawa renyah sambil menepuk dahinya.
"Tuh, 'kan. Cepat sana mandi. Aku yang memasak." kata Dennis sambil sibuk memandang masakan yang sedang ia buat.
"Eum. Maaf ya, Jen. Ibu mencintaimu." kata Mira sesudah ia duduk lalu mengecup dahi putrinya, menyerahkan semuanya pada Dennis.
"Lihat? Ibumu kasihan sekali, sayang." ujar Dennis membuat Jennie memeluk pinggang ayahnya manja.
—
Jam menunjukkan pukul 19:30 petang, ini saatnya Mira menunggu kedatangan Dennis dengan semua makanan yang telah ia buat.
"Hyeon Chul, Jennie. Ayo sayang, kita makan." seru Mira pada Jennie dan Hyeon Chul yang berada di depan televisi.
"Bu! Bisakah kami makan di depan televisi saja?" tanya Jennie meminta persetujuan dari ibunya.
"Ck. Tak boleh, sayang. Kita akan makan bersama ayah." jelas Mira membuat kedua bocah itu menghembuskan napas pasrah.
"Heuh. Ya sudahlah. Ayo." ajak Hyeon Chul menarik lengan Jennie yang masih terduduk bersila.
"Hei. Ayo." ajak Hyeon Chul terpaksa membuat Jennie mengikutinya.
"Ayah datang." sapa Dennis setelah membuka pintu rumah.
Kedatangan Dennis membuat semua manusia yang berada di rumah merasa senang, terutama Jennie yang langsung menghampiri ayahnya.
"Ayah!" teriak Jennie menghampiri Dennis yang siap memeluk putrinya tersebut.
__ADS_1
"Ugh. Putriku." gumam Dennis lalu mengecup puncak kepala anaknya.
"Ayo kita makan." ajak Dennis menggandeng tangan mungil Jennie menuju meja makan.