Rumah Petaka

Rumah Petaka
Ke Desa Jinan


__ADS_3

Kini, Dennis bersama 4 polisi dari kepolisian Seoul tengah berada di mobil menuju daerah Daegu. Walau perjalanan begitu menguras waktu yaitu sekitar 2 jam, namun mereka lebih memilih jalan tersebut agar Eun Hyuk dan kelompoknya tidak tahu.


Ya, kelompok Eun Hyuk. Polisi prediksi kaburnya Eun Hyuk bukanlah hasil sendiri, namun ada 3 sampai 8 sosok yang melindungi tersangka Eun Hyuk.


Menunggu ketibaan ia dan polisi-polisi ini di pelosok Daegu tempat di mana Eun Hyuk diprediksi berada, Dennis lebih baik tidur dahulu dengan tak nyaman.


Dua jam delapan belas menit kemudian..


“Tuan, tuan..” panggil seorang bersuara pria mengganggu tidur lelap Dennis dengan beberapa kali mengguncang pelan bahu pria ini.


Kedua mata Dennis kini mengerjap sebelum membuka mata dengan sempurna dan menatap kesal pria berjabat polisi di depannya.


“Sudah?” tanya Dennis serak sambil mengusap matanya yang berat untuk terbuka.


Ia ingin melanjutkan dan menyempurnakan perkataannya, namun suaranya sekarang hanya bisa sampai di sana saja.


Kedua polisi itu mengangguk menatap lekat Dennis yang masih terkadang menutup matanya lalu membukanya kembali dengan cepat.


5 menit kemudian, Dennis akhirnya bangun dari duduk berbaringnya dengan tiba-tiba.


“Hhh, ayo.” ajak Dennis berusaha keluar dari mobil dengan tenaga tubuh yang lemah.


Dennis menatap ke sekitar, menatap gedung kecil kantor polisi ini. Walau Daegu menjadi kota metropolitan ke-4 di negaranya, namun kantor polisi di sini tak besar dan tidak banyak penjaga.


“Kita akan bertemu siapa?” tanya Dennis mengernyitkan wajahnya karena terganggu oleh sinar matahari yang cerah.


“Di sini kita akan berkoordinasi secara langsung dengan Komandan Besar Ahn Jun Pyung.” jawab polisi itu masih menatap ke depan.


Setelah mereka ber-lima bertemu dengan salah satu penjaga kantor polisi, mereka disambut hangat dan di arahkan menuju ruang kerja pria bernama Ahn Jun Pyung yang berjabat sebagai Komandan Besar di kantor polisi ini.


“Hormat! Komandan, kepolisian Seoul sudah datang.” beri tahu penjaga polisi tersebut di ambang pintu ruang kerja Jun Pyung yang terbuka sedikit.


“Siap, berapa jumlah kehadiran mereka?” tanya sosok suara bagai pria berumur setengah abad.


Ya, beliau adalah Ahn Jun Pyung. Komandan Besar kepolisian Daegu ini sedang menulis sesuatu di sebuah map besar berwarna biru itu.


Kopral itu menoleh pada gerombolan polisi Seoul dan juga Dennis. Setelah itu ia menghitung.

__ADS_1


“Siap, 4 orang termasuk Tn. Dennis. Komandan.” jawab Kopral itu kaku.


Jun Pyung akhirnya selesai menulis di kertas mao itu, ia bersandar pada punggung sofa dengan memejamkan matanya terlebih dahulu. Setelah itu kemudian Jun Pyung meminta mereka masuk.


“Siap, bawa mereka masuk.” sahut Jun Pyung berdiri dan merapikan bajunya.


Kopral itu spontan mengangguk pasti, kemudian Dennis dan empat polisi itu berjalan memasuki ruang kerja Jun Pyung, sedangkan kopral tersebut berpamit pergi setelah berhasil izin pada Jun Pyung.


“Hormat!” seru ke lima polisi tentu saja termasuk Jun Pyung menegakkan tangannya dan mengarahkannya ke depan dahi sisi kanan, bentuk penghormatan.


Sementara Dennis yang satu-satunya dengan tenang membungkuk hormat. Dennis sedikit gugup dan merasa tak enak karena hanya ia yang berbeda sendiri bentuk hormatnya


“Silakan, silakan duduk di ruang yang lebih luas.” ujar Jun Pyung mengarahkan mereka ke tempat yang seperti ruang tamu.


Ke-lima orang itu berjalan di arahkan oleh Jun Pyung menuju pojok ruangan kantor milik dirinya.


Dua sofa single saling berhadapan dengan meja cukup panjang namun kecil di antaranya, sementara dua sofa panjang muat untuk dua orang juga saling berhadapan dengan diantaranya terdapat meja tersebut.


Dennis pun dipersilakan untuk duduk di sofa tunggal, sementara ke empat polisi tadi duduk di sofa yang lebih panjang. Tak perlu ditanyakan bukan tempat duduk Jun Pyung selaku pemilik ruangan? Yaitu di tengah kedua sofa panjang dengan posisi berada di ujung letak sofa panjang. Posisi itu juga sama dengan Dennis hanb yang lebih dulu duduk tanpa sungkan.


“Pak kami kemari sedang menjalankan tugas untuk berkoordinasi perihal buronan Kim Eun Hyuk.” jelas salah satu wakil dari kepolisian Seoul ini setelah ia terduduk.


“Heum, Kim Eun Hyuk itu, ya? Baik, baik.” lirih Jun Pyung menanti penjelasan kembali.


“Ini tuan Dennis Mahendra, beliau yang mengirimkan uang 30 juta won (362 juta rupiah) ke kepolisian Daegu. Ia dan keluarganya 5 bulan lalu menjadi korban teror dan pembunuhan berencana dari tersangka Kim Eun Hyuk.” jelas polisi itu lagi kali ini membuat mata Jun Pyung membesar.


“Oh, jadi anda tuan Dennis Mahendra!? Haha. Bantuan dana dari anda itu sangat membantu kami sekali. Terima kasih, terima kasih.” ujar Jun Pyung akhirnya bersemangat dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.


Mendengar namanya di agungkan begitu senangnya oleh Komandan Besar Ahn Jun Pyung, Dennis dengan setengah hati pun menunduk dalam dan tersenyum simpul membalasnya.


Ke empat polisi tersebut mengangguk semangat mengingat kebaikan Dennis, nampaknya juga senang mengingat kepolisian Seoul ikut diberikan dana lebih besar oleh Dennis ini.


“Hehe, tuan Dennis ini baik sekali. Pak Komandan Besar Ahn Jun Pyung, Kepolisian Seoul juga diberi 66 juta won (797 juta rupiah) hanya untuk mendalami sosok Kim Eun Hyuk brengs*k itu.” timpal polisi perwakilan Seoul membuat Jun Pyung semakin terkejut dan bersemangat mencari Kim Eun Hyuk.


Jika Kepolisian Daegu bisa menangkap Kim Eun Hyuk, pasti Dennis akan memberikan hadiah lebih bukan? Hehe, Jun Pyung tak sabar untuk segera menangkap Eun Hyuk lalu mendapat uang ratusan juta won.


“Wah, iya kah? Haha, tuan yang terhormat Dennis. Kami akan secepatnya menangkap Eun Hyuk untuk Anda!” ucap Jun Pyung bergelak tawa kemudian.

__ADS_1


Dennis sebenarnya malas menanggapinya, ia harap momen ini cepat selesai agar Eun Hyuk juga cepat tertangkap.


Beberapa belas menit setelah ke lima polisi bar-bar ini membicarakan kekayaan Dennis.


“Um, baiklah. Laporan dari mata-mata kami melampirkan bahwa Eun Hyuk terduga berada di pelosok Daegu, yaitu di desa Jinan. Di desa Jinan itu terkenal dengan orang-orangnya yang tertutup namun tiap sebulan sekali mereka selalu membuat pesta.” ujar Jun Pyung mulai serius membaca sebuah dokumen dari lembaran kertas.


Dennis pun menyimaknya dengan serius pula, ia mengernyitkan dahinya serius dan mencoba menajamkan telinganya agar lebih jelas mendengar setiap perkataan yang dilontarkan Jun Pyung nantinya.


“Ya, kita harus ke sana. Ke desa Jinan.” kata Jun Pyung bersemangat dengan wajah seriusnya.


Dennis mengangguk pasti lalu melirik ke empat polisi di samping kanan dan samping kiri dalam posisinya itu yang tengah bersiap-siap.


“Kita ke sana besok.” lanjut Jun Pyung membuat wajah bersemangat Dennis menghilang, pria itu menatap kesal Komandan Besar ini yang tidak mengetahui Dennis melihatnya setajam itu.


“Kenapa tidak sekarang?” tanya Dennis protes sedikit menaikkan volume suaranya.


Jun Pyung menoleh pada Dennis dengan wajah tak bersalahnya sebelum menjawab.


“Ini sudah sore tuan Dennis, sampai di sana nanti malam.” ujar Jun Pyung ber-wajah tak merasa gugup atau rasa bersalah sedikit pun.


Dennis semakin berwajah kesal sekaligus kecewa pada Komandan Besar Ahn Jun Pyung ini yang tak terlihat kompeten dan menjanjikan.


“Memang kalian menangkap seorang penjahat di siang hari? Oh, ayolah. Penangkapan akan lebih efektif jika di malam hari!” seru Dennis menahan rasa kelakuan diktator dan pasti rasa kesalnya.


“Sekarang saja kami masih tidak tahu di mana letak tepat atau rumah persembunyian Kim Eun Hyuk.” jawab Jun Pyung menenangkan namun yang Dennis lihat pria paruh baya itu tak ingin diremehkan dan disalahkan.


“Ya, kita cari di sana. Bertanya kepada orang-orang di sana akan lebih cepat menemukan Eun Hyuk.” jawab Dennis keras kepala ingin berangkat sekarang juga, memang tipikal orang yang tidak mungkin bisa dibantah.


Sebelum berdebat ini dimulai, Dennis adalah sosok yang sudah mematangkan segala aspek yang bertentangan dengan bantahan yang logis karena ia tahu ia benar.


“Tapi, penangkapan hanya bisa efektif jika sudah mempunyai rencana matang-matang.” bantah Jun Pyung memohon agar ia diberi istirahat beberapa jam saja untuk besoknya mereka ke desa Jinan, dan lagi ia tak mau dikalahkan oleh seorang tamu yang seharusnya memohon meminta bantuan, bukannya seperti ini.


“Rencana penangkapan tidak mungkin terjadi jika tidak tahu tempat penangkapan itu. Apa yang anda pikirkan Kombes Jun Pyung? Menangkap semut singa (undur-undur) dari jalan depan?” bantah Dennis mengejek halus namun menyakitkan hati Jun Pyung.


Terdiam dengan wajah memerah malu namun ia berusaha agar tak mengetahuinya, akhirnya Jun Pyung tamat setelah 2 ronde berlangsung.


“Aku mau kita jalan hari ini juga, mau nanti kita sampai di malam hari atau bahkan tengah malam aku tidak peduli. Penangkapan Eun Hyuk harus cepat.” ujar Dennis dengan aura diktatornya.

__ADS_1


Lima polisi itu hanya diam dengan sesekali melirik ke atas pada Dennis yang berapi-api.


__ADS_2