Rumah Petaka

Rumah Petaka
Kewaspadaan


__ADS_3

Mimik wajah Jennie berubah, ia menunduk sebelum menjawab pertanyaan ayahnya.


“Karna disini terlalu banyak gangguan.” jawab Jennie sangat lirih membuat dahi Dennis berkerut.


“Ya sudah, pergilah Den nanti telat.” kata Mira mendekati Dennis lalu memijat pelan bahu suaminya.


Dennis membalas perlakuan Mira dengan mengelus kedua punggung telapak tangan istrinya.


“Baiklah, ayah pergi dulu sayang.” kata Dennis membungkukkan setengah badannya kepada Jennie lalu mencium ujung kepala anaknya ringan.


Selepas kepergian Dennis, Mira melirik kearah anaknya lalu ia mendekati gadis yang berada didepannya ini.


“Jennie, apa kau tahu dimana tempat tinggal Hyeon Chul?” tanya Mira lembut sambil kedua tangannya memegang kursi atas Jennie.


“Em, aku tahu bu.” jawab Jennie tak menoleh kepada ibunya.


“Eh, ibu ingin bertemu dengannya. Kira-kira anak itu dimana, ya?” tanya Mira ragu.


Kali ini Jennie menoleh heran kepada ibunya dan ia meletakkan roti selai yang tadi ia makan.


“Kenapa bu?” tanya Jennie ingin tahu apa maksud ibunya mempertanyakan temannya.


“Oh? Ya, ibu hanya ingin tahu saja.” jawab Mira memutar bola matanya gusar karna intimidasi dari Jennie.


“Ibu ingin menemuinya?” tanya Jennie lagi untuk memastikan.


Mira mengangguk samar lalu sesaat lagi Jennie tersenyum senang karna ia pun juga ingin bertemu dengan teman barunya itu.


*


“Love Children?” kata Mira mencoba membaca tulisan yang berada dipapan depan panti asuhan itu.


Kedua wajah ibu dan anak itu terlihat bingung untuk mempertimbangkan mereka akan masuk atau tidak.


“Oh, ada yang bisa saya bantu?” suara seorang wanita bertubuh gempal mengejutkan Mira dan Jennie, namun Mira segera kembali memasang wajah normalnya.


“Ah, Itu, Jennie! Katakanlah sesuatu dengan ibu itu!” pekik Mira tertahan sambil mencubit pelan punggung Jennie.


Jennie tersadar jika ibunya tak pernah bisa berbahasa lain selain Inggris dan Indonesia tentunya.


“Itu, kami mencari anak bernama Hyeon Chul.” kata Jennie dengan Bahasa Korea dan itu mampu membuat pandangan ibu itu terlempar kearahnya.


“Ya! Hyeon Chul.” kata Mira yang kata pertamanya dengan Bahasa Korea.


“Oh, Hyeon Chul! Kalian pasti pemilik rumah itu ‘kan?” tebak wanita asing itu dengan Bahasa Korea.


Jennie mengerjap beberapa kali lalu ia menggaruk belakang kepalanya bingung karna ia tidak bisa selincah itu berbahasa asing.

__ADS_1


“Hahaha, aku tahu kalian bukanlah penduduk asli, kemari aku akan membawa kalian kepada Hyeon Chul.” kata wanita itu yang ditengah katanya berubah menjadi bahasa Inggris yang terdengar aneh.


“Ya, baiklah.” kata Mira juga berbahasa Inggris, mungkin beberapa waktu nanti ia akan berbahasa asing.


“Hei! Hyeon Chul! Kemarilah, anak nakal! Ada yang mencari mu!” teriak ibu itu memekakkan telinga Mira dan Jennie.


Seorang anak kecil yang tengah membelakangi mereka bertiga berbalik menghadap sang pemanggil.


“Jennie!” teriak Hyeon Chul menjatuhkan bola yang berada dikedua tangannya.


“Dan, ibu Jennie?” lanjut Hyeon Chul takut melihat tubuh Mira yang terakhir ia lihat begitu marah padanya.


Hyeon Chul mencoba mendekati mereka, ia melangkah dengan lambat sambil matanya terus melirik Mira sesekali.


“Em, ibu ku disini ingin bertanya sesuatu pada mu.” kata Jennie sesudah menatap Mira bergerak mencoba memberi kode pada Jennie sebagai juru bicaranya.


”Ya sudah, kalau begitu aku harus pergi.” pamit ibu itu tanpa disetujui atau tak diketahui oleh Mira dan Jennie.


“Tanya apa? Memangnya aku tahu sesuatu?” heran Hyeon Chul berbicara ketus namun wajah herannya tak terhapus disana.


Jennie mencibir kecil lalu matanya terlihat lebih tajam dari sebelumnya.


“Bukan aku yang ingin bertanya, tapi ibuku.” jelas Jennie terdengar mengeraskan suaranya.


“Hei! Apa yang kau katakan? Jennie, katakanlah sesuai yang ibu perintah.” kata Mira melihat hal yang kurang bersahabat pada kedua insan itu.


“Heum, sekarang ju-bir kecil ku, katakanlah.” pinta Mira menopang dagunya dengan tangan yang ia kepalkan dan mata yang terus tertuju pada Hyeon Chul tajam.


“Hah, ibu.” dengus Jennie lalu menghirup udara panjang dan melepaskannya kasar.


“Apa kau tahu sesuatu tentang, siapa pembunuh keluarga mu?” tanya Jennie menatap malas Hyeon Chul.


“Eum, aku tahu, tapi memang kenapa ibu mu ingin tahu hal seperti itu?” tanya Hyeon Chul mendekatkan tubuhnya.


“Ha? Kenapa kau tahu jika ibuku yang ingin tahu?” tanya Jennie balik dan itu mampu membuat Mira tahu jika kedua anak ini benar-benar tak bisa diajak serius.


“Oh! Yang benar saja!” geram Mira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Jennie! Sepertinya aku tak perlu bertanya pada Hyeon Chul, biar bibi tadi saja yang menjawab. Kalian bersenang-senanglah.” kata Mira lalu melangkah meninggalkan Jennie dan Hyeon Chul.


Pencarian Mira akhirnya berakhir, setelah ia bertanya dengan beberapa orang untuk mencari keberadaan bibi pengurus panti tersebut, ia pun melihatnya.


“Oh! Ada apa anda mencari saya?” tanya bibi Hwang yang Mira tahu dari beberapa orang, bibi Hwang adalah pemilik panti asuhan ini.


“Sebenarnya saya ingin bertanya sesuatu tentang rumah saya yang saya tahu rumah itu dulunya adalah tempat tinggal Hyeon Chul, benar’kan?” tanya Mira dengan bahasa Inggris yang ia coba pelankan agar ibu itu bisa mencernanya dengan baik.


Nyonya Hwang tersenyum tipis sambil menundukkan wajahnya.

__ADS_1


“Perkenalkan, aku Nyonya Hwang Jang Mi.” kata Nyonya Hwang menyalami telapak tangan Mira.


“Ya, Hyeon Chul pernah tinggal disana dengan keluarganya, sebelum keluarganya meninggal tentunya.” jawab Hwang Jang Mi setelah ia melepaskan jabatan tangan dari Mira.


“Lalu, kenapa keluarga Hyeon Chul bisa meninggal?” tanya Mira lagi setelah ia berhasil membenarkan letak duduknya, sekarang mereka berada di ruang Nyonya Hwang yang begitu banyak jendela kaca.


“Heuh! aku tidak tahu kenapa keluarga Kim bisa meninggal, bahkan sampai sekarang Hyeon Chul tak mau berbicara tentang kematian ayah, ibu dan kakeknya.” kata Nyonya Hwang terlihat sedih.


“Bagaimana dengan polisi? apa yang mereka sebut tentang kejadian ini?” tanya Mira begitu semangat untuk menggali setiap potongan kasus ini.


“Polisi tidak lagi ambil pusing soal kejadian ini, mereka hanya menyebutnya ada perampok buronan yang mencuri barang rumah Hyeon Chul—namun saat itu keluarga Kim mengetahuinya jadi terpaksa perampok itu membunuhnya.” jawab Nyonya Hwang dengan tatapan penuh iba disana.


Mira meringis mendengar kisah pedih yang dialami anak berumur 11 tahun itu.


“Ah! kalau begitu sampai jumpa Nyonya Hwang Jang Mi, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk saya.” kata Mira sambil berdiri dan membungkuk memberi hormat untuk Nyonya Hwang.


Senyuman Mira hilang ketika pintu ruang Nyonya Hwang tertutup, ia benar tak habis pikir dengan udara yang begitu sedikit disana, atau memang karna ia tak menghirup udara saking tegangnya cerita nyata dari mulut nyonya Hwang.


Mira bersandar sebentar dipintu ruang nyonya Hwang.


“Jennie, aku tadi membawanya.” gumam Mira menepuk pelan dahinya.


Langkah Mira semakin lama semakin cepat ketika ia tak menemui sosok anaknya.


“Ibu!” teriak suara Jennie yang membuat telinga terasa berdenyut.


Mira berbalik setelah mengelus telinga.


“Kenapa kau disana?” kata Mira menatap Jennie tajam.


“Aku memang bermain tadi, ibu pergi lalu aku disini bersama Hyeon Chul.” jawab Jennie dengan wajah polosnya.


Mira menghela napas lelah, ia pun melangkah menghampiri Jennie namun tatapan matanya terus tertuju pada Hyeon Chul yang wajahnya tak ada bedanya dengan Jennie.


“Ayo pulang Jennie.” ajak Mira menarik Jennie.


Tatapan Hyeon Chul sayu ketika Jennie melangkah menjauh darinya, ia akan sendirian.


“Aku pulang dulu, Hyeon.” pamit Jennie menatap Hyeon Chul.


Hyeon Chul tersenyum tulus pada Jennie dan senyum itu terlihat memberi ijin pada Jennie untuk pergi.


*


Cklek!


“Dari mana?” suara barithon dari Dennis mengejutkan ibu dan anak itu.

__ADS_1


__ADS_2