Rumah Petaka

Rumah Petaka
Kesibukan Senin Pagi


__ADS_3

“Ah?! Kita kesiangan!” seru Dennis dan Mira bersamaan.


Mereka lalu segera bergerak cepat turun dari kasur, menghempaskan selimut yang sama-sama mereka pakai.


Kegugupan tentu melekat pada mereka di pagi hari ini, karena ini adalah hari pertama anak-anak mereka bersekolah. Hal yang seharusnya dan biasa Mira lakukan menjadi serba salah ketika ia bingung harus memulai dari mana.


“Aku bangunkan anak-anak dahulu, Kau pergi mandilah.” kata Mira diangguki Dennis.


Namun tak lama kemudian, Dennis menatap Mira cemas.


“Pakaian ku sayang.” punya Dennis manja dengan raut berharap besar.


“Oh, iya. Aku tapi membangunkan anak-anak dulu, sebentar saja. Oke?” sahut Mira tersenyum keberatan.


Dennis tahu ia merepotkan Mira, namun gejolak rasa juga ingin diperhatikan membuatnya melakukan ini.


“Eum, santai saja, ya.” kata Dennis prihatin pagi-pagi sudah melihat aura negatif Mira.


Dibalas dengan anggukan sederhana, Mira lalu keluar kamar berjalan dua langkah menuju kamar Jennie.


Setelah membukanya Mira segera melihat badan Jennie yang tertelungkup berbaring di atas kasur.


Mira kemudian mendekati bocah cilik itu, lebih dulu mengelus halus punggung anaknya sebelum membangunkan ia dari mimpi indah.


“Jennie, bangun sayang.” ujar Mira menaikkan volume suaranya namun dengan aksen yang lembut.


Tubuh kecil itu menggeliat, meregangkan ototnya. Ia berbalik tertidur dengan posisi menyamping membelakangi ibunya.


“Eumh, nanti dulu bu.” kata Jennie parau.


“Katanya mau sekolah, ayo bangun sayang. Nanti telat sekolahnya.” kata Mira memperingati.


Mata Jennie langsung terbuka mendengar perkataan ibunya yang mengingatkan Jennie akan hal yang paling ia tunggu dan gemari itu.


“Sekolah?” gumam Jennie terkejut.


Ia segera bangkit dengan badannya yang bertumpu pada kedua tangannya, Jennie menoleh terkejut bercampur gembira pada Mira yang juga tersenyum senang menatapnya.


“Ayo, bu.” ajak Jennie tak tahu harus apa.


Mira terkekeh lucu.


“Iya, mandilah dulu. Ibu akan membangunkan kakak Hyeon.” sahut Mira mengusap rambut berantakan anaknya.


Jennie mengangguk, ia pertama-tama mengikat rambutnya dengan rapi dan tak lupa membersihkan ranjangnya, lalu berpamit pada Mira untuk pergi ke kamar mandi.


Setelah Jennie pergi meninggalkan kamarnya, Mira segera berjalan menuju kamar di samping kamar anak perempuannya.


“Hyeon Chul-ah, ireona bwa.” panggil Mira setelah membuka pintu kamar Hyeon Chul.

__ADS_1


Berbeda dengan Jennie yang putri tidur, Hyeon Chul nampak langsung bereaksi saat mendengar suara Mira memintanya bangun.


Hyeon Chul menggeliat terganggu di tidurnya, setelah sadar ia mulai regangkan tubuhnya.


“Hooaam!”


Hyeon Chul lalu terduduk di atas kasur dengan kaki yang masih lurus berbaring. Matanya mengerjap, menarik kelopak matanya ini bagaikan mengangkat barang seberat 10 kilo.


“This is the day you go to school.” kata Mira berjalan mendekati Hyeon Chul.


Mira lalu duduk di pinggir kasur, ia sambil mengusap punggung Hyeon Chul memberi energi.


“Heum, i will go. Mom.” sahut Hyeon Chul sambil mengucek matanya.


Mira tersenyum lega mendapat anak sepenurut dan bijak ini.


“Great, after Jennie has been shower. You are the next. Ok.” kata Mira.


Ia spontan membentuk lengkungan di jari jempol dan telunjuk, lalu menyatukannya.


“Ya,” jawab Hyeon Chul masih lunglai untuk bergerak.


Mira lalu menepuk kuat dan padat kepada bahu Hyeon Chul, berharap anaknya itu lebih semangat.


“Hwaiting!” seru Mira tersenyum gembira.


Ia percaya Hyeon Chul akan segera mandi setelah Jennie selesai, karena itu Mira meninggalkan Hyeon Chul untuk mengurusi baju formal Dennis.


Mira segera memilah mana baju yang cocok untuk Dennis dipakai hari ini. Ia lalu memilih kaus putih bersih, jas biru gelap, dengan celana slim-fit berwarna abu-abu gelap.


Mira tersenyum sudah membayangkan Dennis memakai baju kerja ini, pasti sangat elegan dan misterius.


“Sayang.” sapa Dennis sambil menekan-nekan rambutnya dengan handuk kecil.


Mira menoleh dengan wajah antusias menatap Dennis, ia lalu segera menoleh senang pada suaminya.


“Kau pakailah, aku akan memasak. Ya.” kata Mira menepuk kecil bahu Dennis.


Melihat rasa suka cita Mira membuat Dennis bingung, padahal wanitanya ini belum mandi, tapi wajah cantik naturalnya membuat Dennis terpana.


Ia dengan kebingungan bercampur kekaguman mengangguk setuju dengan penyampaian Mira.


Dennis terus melihat Mira yang sedang senang hati itu hingga tubuh itu pergi keluar kamar.


“Dia kenapa?” tanya Dennis penasaran sebetulnya ikut senang dengan kegembiraan Mira.


Istrinya itu berjalan menuruni tangga demi mamasuki dapur, di sana ia berpapasan dengan Jennie yang baru membuka pintu belakang. Menghentikan laju langkahnya, Mira terlebih dahulu menyapa Jennie.


“Sudah, sayang? Panggil kakak mu, ya. Kakak Masih di kamar.” kata Mira tersenyum simpul.

__ADS_1


“Iya, bu.” jawab Jennie melaksanakan permintaan ibunya.


“Eum, terima kasih.” tanggap Mira dengan suara bernada.


Jennie lalu tersipu melihat Mira, ia segera berlari keluar dapur dengan wajah memerah.


Mira terkekeh melihat wajah Jennie yang tersipu senang, ia lalu mulai melakukan pengecekan bahan-bahan makanan apa yang bisa ia masak.


Sementara itu, Jennie sesosok yang amanah ini segera mengedor pintu kamar Hyeon Chul.


“Kakak, kakak bangun! Bisa telat sekolah kita!” teriak Jennie.


Gadis kecil itu tidak mau memasuki kamar, ia lebih senang membuat suasana berisik agar dapat mengganggu Hyeon Chul.


“Kakaak!” teriak Jennie panjang.


“Haish, jangan berisik, ah. Ini kakak sudah bangun.” sela Hyeon Chul keluar dari ruang tamu.


Jennie tersenyum kecut melihat kakaknya yang ternyata telah bangun, ia sedikit merasa kesal tidak dapat mengganggu Hyeon Chul.


“Oh, hehe. Kakak sudah bangun, ya. Kalau begitu mandilah kak, aku sudah selesai.” beri tahu Jennie tersenyum jenaka.


Hyeon Chul menatap masam Jennie, ia lalu berjalan melewati adiknya lunglai.


Hyeon Chul terus berjalan hingga ia menemukan Mira di dapur.


Sebenarnya Hyeon Chul tidak terlalu peduli dengan adanya Mira, namun karena ibunya itu peka dan segera menyapa, Hyeon Chul pun berhenti berjalan untuk sementara.


“Oh, Hyeon Chul!” sapa Mira menghentikan laju tangannya memotong bawang.


Hyeon Chul dengan sikap cueknya hanya tersenyum simpul, lalu ia kembali berjalan setelah sang Ibu kembali fokus memasak.


Tak lama, Dennis sudah siap dengan wajah tegasnya sedang memakai baju formal yang dipilihkan Mira.


“Mira!” sapa Dennis tahu dirinya sedang sangat tampan dengan memakai pakaian ini.


Mira sudah tahu itu suara Dennis, karena itu dia dengan wajah yang sudah sangat berantusias menyambut ketampanan suaminya segera mendongak senang.


Betul lebih sangat tampan aslinya dari pada apa yang ia bayangkan, Mira kemudian dengan wajah terpukai segera mendekati Dennis.


“Ooh, Kau tampan sekali, sayang.” puji Mira tulus menatap dari atas hingga bawah tubuh Dennis.


Sedikit merasa sombong, Dennis tersenyum pasti dengan alis kanannya tertarik ke atas.


Mira berinisiatif memegang bahu sedikit ke bawah milik Dennis, ia mengangkat tangannya guna menaruhnya ke bahu Dennis.


Namun, Dennis dengan raut cemas segera menangkap kedua pergelangan tangan Mira.


Istrinya itu terkejut mengetahui penolakan Dennis, wajah tersentaknya berubah menjadi kesal. Mira lalu menarik paksa tangannya dari Dennis, namun pria itu tak memperbolehkannya.

__ADS_1


“Mira, leher ku bisa panas pedih karena tangan lentik mu tadi sedang berurusan dengan bawang.” jelas Dennis jujur, namun ia tidak ingin Mira marah.


__ADS_2