Rumah Petaka

Rumah Petaka
Aksi Hyeon Chul


__ADS_3

“Aku merindukan kalian.” lanjut Hyeon Chul terbaring merasakan hangatnya ranjang biru ini.


Perlahan wajah lelah itu tenang saat menyelami lautan alam bawah sadar. Hyeon Chul tertidur dengan semua pikiran kalutnya, memimpikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


*


“Pangeran, bangun! Selamatkan kami!” panggil seseorang dengan suara serak mengganggu tidur tenang Hyeon Chul.


Mata itu mengerjap menetralkan kelopak matanya, untuk bisa berkompromi dengan rasa kantuk.


“Eugh, siapa?” tanya Hyeon Chul bangun dari tidurnya, seraya mengusap kelopak mata.


“Malam nanti, jangan biarkan kau melewatkannya!” kata seseorang itu lagi, dan kini sanggup membuat Hyeon Chul tersadar. Bocah itu membuka matanya, pertama yang ia lihat adalah pria itu.


“K-kakek!” seru Hyeon Chul terkesiap melihat tubuh bugar kakeknya yang tersenyum manis, berdiri tegak menatap hangat dirinya.


“Aku merindukanmu, kek.” gumam Hyeon Chul berlari menuju kakeknya, dan memeluk pinggang pria paruh baya itu.


“Dunia kita sudah berbeda nak. Aku hanya meminta satu hal padamu. Selamatkan kami, ibumu, ayahmu dan kakek. Bawa keluargamu ini ke tempat yang lebih layak, dari sekedar budak.” kata kakek Hyeon Chul panjang membalas pelukan Hyeon Chul.


“B-bagaimana caranya?” tanya Hyeon Chul melepas pelukan mereka.


“Dibawah sini, ada berkas yang harus kau musnahkan! Kami percaya kepada mu Hyeon.” jelas kakek itu membuat Hyeon Chul butuh berfikir keras untuk mengerti.


“Hyeon Chul.” lirih seorang wanita memasuki kamar Hyeon Chul, dan menatap bocah itu sayu.


“Bibi Mira.” tanggap Hyeon Chul sangat terkejut melihat kedatangan Mira yang berada dialam ini.


“Kenapa bibi bisa disini?” tanya Hyeon Chul mendekati Mira yang akan menangis terduduk dilantai.


“Bantu bibi keluar.” pinta Mira tersedu, benar-benar memohon membuat Hyeon Chul menatap prihatin Mira.


“Bagaimana caranya?” tanya Hyeon Chul setelah membelai pelan bahu Mira.

__ADS_1


“Hyeon Chul, apa kau tak sadar sendiri? Kau bisa masuk disini, hanya karna tertidur.” sela kakek Kim menatap lekat Hyeon Chul yang menoleh padanya.


“Benarkah hanya karna itu? Jika memang seperti itu, berarti semua orang bisa melakukannya dengan mudah?” tanya Hyeon Chul berfikir. Bagaimana caranya ia bisa keluar dari sini bersama Mira?


“Aku tahu caranya. Tapi dikamar Dennis, dikamar Dennis ada pria tua itu.” kata Mira mendongak mendapat pandangan dari kedua lelaki berbeda generasi itu.


“Siapa?” tanya Hyeon Chul tak sabar ingin segera menyelamatkan Mira dan keluarganya.


**Pintu kamar itu terbuka menampilkan keadaan ruangan berdebu, dan seorang kakek yang dengan tenang duduk dikursi rotannya—menghadap pada dinding yang hitam polos.


“Aku tak akan membiarkan kalian pergi.” kata pria paruh-baya** ***itu berdiri dari duduknya, lalu menatap tajam ketiga


orang dihadapannya.


“Tak ada bedanya, jika kau membunuh keluarga ini. Menjadikan mereka budak, kehidupanmu akan sama saja seperti ini.” jelas kakek Kim, membuat wajah pria itu marah. Hingga suara sebuah gelas dimeja terlempar kearah samping wajah kakek Kim.


“Setidaknya kalian akan merasakan suramnya hidupku ditangan cucuku.” sela kakek itu berjalan cepat kearah mereka—menyerang ketiga orang didepannya. Kedua tangannya bersiap mencengkeram salah satu leher mereka, targetnya Mira yang mundur tak beraturan.


Hyeon Chul takut, ia ingin memberontak dan mengalahkan pria yang sudah tak bernyawa ini. Namun ia kembali berfikir, dirinya adalah manusia dan kakek itu hanyalah seorang hantu dan tak bisa melakukan apapun terhadap manusia. Hyeon Chul menghadap Mira sesaat yang berada dibelakangnya, lalu ia kembali memperkuat keinginannya untuk mengalahkan kakek itu.


***Pria itu terpental dan menghantam dinding. Seketika dinding itu retak, karena tubuh itu terlalu keras menghantam dinding.


Bajunya terlihat lusuh dan terkoyak di berbagai sisi karna lemparan Hyeon Chul. Sementara bocah lelaki itu hanya bisa takjub, dengan kekuatan manusia yang menakjubkan didunia gelap ini.


“Kau, anak kecil!” pekik kakek itu kembali mencoba berdiri dengan tegap, namun pergerakannya terhenti. Karena Mira dengan segera melempar sebuah kursi kearah kakek itu hingga tubuhnya kembali terhuyung jatuh.


“Aku akan kembali ke kamar mandi, terima kasih sudah menolongku. Pergilah, Hyeon.” kata Mira lalu segera memasuki kamar mandi, meninggalkan Hyeon Chul yang menatap kakeknya.


Bocah itu masih ingin merasakan kehadiran kakeknya yang sangat ia rindukan***.


“***Kakek, aku pergi dulu.” pamit Hyeon Chul dengan berat hati, mengundurkan diri.


Pergi dari kamar dengan pandangan yang terus tertuju pada kakeknya, sementara kakek Kim hanya tersenyum tenang seolah ia akan baik-baik saja***.

__ADS_1


*


“Hyeon Chul!” panggil Dennis mengguncang Hyeon Chul yang meracau dengan keringat didahinya.


Setelah bocah itu terlihat tenang, ia membuka matanya. Dan pandangan pertama yang ia lihat, adalah wajah khawatir dari Dennis.


“Kau tak apa?” tanya Dennis duduk dipinggir ranjang.


Hyeon Chul mengernyit, sesekali mengerjap tak nyaman dengan cahaya matahari yang masuk disela-sela ruangan.


“Apa bibi Mira sudah sadar?” tanya Hyeon Chul kali ini membuat Dennis mengernyit heran.


“Memangnya kenapa?” tanya Dennis balik memijat pelan tengkuk Hyeon Chul.


Merasa pertanyaannya tak dijawab langsung oleh Dennis, bocah itu menunduk lalu melepas pelan tangan Dennis yang berada dibelakang lehernya. Merajuk.


“Mira belum bangun.” jawab Dennis setelah menghembuskan napas, mengalah dari Hyeon Chul.


“Saatnya sarapan pagi, Hyeon Chul.” tanggap Dennis mengusap bahu Hyeon Chul, lalu beranjak dari ranjang. Dan berjalan pergi meninggalkan Hyeon Chul yang terlamun entah memikirkan apa.


Dengan segala keyakinannya, ia bersemangat untuk turun agar bisa melihat bagaimana keadaan Mira sekarang. Namun sebelum itu, Hyeon Chul memasuki kamar mandi dan berniat membersihkan wajahnya.


Pintu kamar mandi itu kembali terbuka menampilkan wajah Hyeon Chul yang lebih segar. Lalu ia berjalan menuruni tangga menuju Dennis dan Jennie yang membuka beberapa bungkusan makanan yang sepertinya baru mereka beli.


"Hyeon Chul sudah turun. Ayo makan, nak.” ajak Dennis yang tak sengaja melihat Hyeon Chul yang turun dari tangga.


Hyeon Chul melihat deretan makanan yang ada dimeja, 8 macam khas Korea. Dan masakan berkuah yang sangat disukainya, tentu Hyeon Chul pagi ini akan sangat bersemangat untuk memakan semuanya. Apalagi ada makanan berkuah yang paling ia suka, seperti Seollontang dan Sundubu Jjigae.


“Wah, ternyata disini juga ada tahu!” seru Jennie melihat sebuah sup dengan beberapa potongan tahu disana.


Dennis melihat sekilas Jennie yang menatap penuh minat masakan itu. Lalu pria itu menatap Hyeon Chul yang berada disebelahnya, sedang mencoba untuk duduk. Namun entah mengapa, Dennis tersenyum tulus melihat kedua bocah dihadapannya ini.


“Makan sesuka kalian, tapi jangan tergesa-gesa.” pinta Dennis memerintah.

__ADS_1


Sementara Jennie dan Hyeon Chul mengangguk, dan perlahan mencoba untuk bersikap lebih tenang saat makan. Kembali Dennis tersenyum, namun kali ini lebih merekah. Mencoba menghilangkan beban beratnya dari semua masalah tak masuk akal yang terjadi belakangan ini.


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Dennis, membuat pria itu mengalihkan atensinya.


__ADS_2