
Sungguh, jika suara Mira mengendali, teriakannya tak jauh berbeda melengkingnya dengan Jennie.
Dennis pun spontan menjauhkan telinga dari ponsel yang mengeluarkan suara nyaring itu. Sesaat setelah teriakan Mira selesai, Dennis menatap sejenak ponselnya yang syukurnya tidak mengalami kerusakan signifikan. Dennis lalu segera memasangkan kembali ponselnya pada telinga.
“Mira ada apa?” tanya Dennis tak suka pada sikap istrinya.
“Dennis, pulanglah. Aku takut.” kata Mira terdengar lembut dan manja.
Dennis terheran, ia berpikir mengapa istrinya se bar-bar ini.
“Kenapa?” tanya Dennis kebingungan.
“Ada hantu yg mencekik ku, haa! Aku takut Den!” pekik Mira gemulai.
Dennis semakin kebingungan juga terkejut, ia sekarang khawatir akan keadaan Mira.
“Lalu sekarang Kau di mana?” tanya Dennis khawatir.
“Aku dari jam 9 pagi tadi tidak masuk rumah, aku takut Den.” rengek Mira lagi.
Dennis kelabakan, ia tidak tahu harus bagaimana.
Dennis lalu melihat jam dinding yang masih pukul 11:55 siang, setidaknya masih ada waktu 25 menit ia untuk menjemput Mira.
“Oke, aku akan ke sana.” balas Dennis seadanya.
Dennis segera berjalan menuju lift dengan ponselnya yang masih menjawab panggilan Mira.
“Kau akan ke sini?” tanya Mira terdengar tidak percaya.
“Iya.” jawab Dennis singkat dan jelas.
“Bagaimana dengan pekerjaan mu?” tanya Mira lagi mengungkapkan perasaan ingin tahunya.
“Aku membawa mu kemari, tak apa `kan? Dari pada ketakutan sendirian di rumah.” jelas Dennis tidak lalu maksud apa Mira meneleponnya.
“Ya sudah, tak apa. Yang cepat, ya.” sahut Mira setelah diam menyimak.
“Heum, aku tutup ya.” ujar Dennis seper detik kemudian langsung mematikan teleponnya.
Dennis segera berlari menuju basement tempat mobilnya terparkir, setelah memasuki mobil ia segera menjalankannya.
Sementara Mira tengah menunggu kehadiran Dennis di sebuah taman kecil milik kompleks, ia menggerutu karena rasanya sudah berjam-jam dirinya menunggu Dennis dengan udara panas yang menyebalkan ini.
Hingga waktu telah berjalan sekitar lima belas menit, Dennis telah sampai memasuki kompleks.
__ADS_1
Dari ujung jalan, Mira bisa melihat mobil besar Dennis. Ia segera berdiri dan berjalan di pinggir perbatasan taman. Mira berteriak, melambaikan tangan dan meloncat kecil agar Dennis dapat melihatnya.
“Dennis!” panggil Mira melihat mobil Dennis yang semakin mendekatinya.
Di dalam mobil, Dennis terlihat menengok-nengok posisi Mira yang tertutup pohon besar tersebut. Hingga akhirnya Dennis memberhentikan mobilnya tepat di samping badan Mira yang berbeda di belakang mobil.
Mira melirik tajam mobil Dennis yang berhenti di belakangnya, ia mendengus kesal lalu berjalan menuju jendela yang ditempati Dennis.
“Hehe, ayo masuk sayang.” kata Dennis terkekeh kecut.
Mira dengan wajah kesalnya menuruti perkataan suaminya, ia berjalan mengitari depan mobil hingga akhirnya membuka pintu mobil Dennis.
“Jam berapa anak-anak pulang sekolah?” tanya Mira kini menormalkan wajahnya.
“Kata sekolah jam 1.” jawab Dennis fokus menjalankan mobilnya kembali keluar kompleks.
Mira jadi kembali berpikir, kalau anak-anak pulangnya sebentar lagi lalu mengapa ia harus dibawa Dennis ke kantor. Bukankah Mira sendiri bertekad akan berani masuk rumah Ji Yong jika sudah ada Jennie dan Hyeon Chul.
“Ah!” pekik Mira sambil kedua tangannya memukul jok di sampingnya.
Dennis yang terkejut, sedikit tidak bisa mengontrol stir mobil hingga mobilnya berjalan melambai.
“Kau ini kenapa?” tanya Dennis gemas.
“Kita keluar saja dari rumah nenek.” pinta Mira manja.
“Oh, ya sudah.” gumam Dennis masih ada banyak pertanyaan di kepalanya.
Namun Dennis tidak ingin berbicara di mobil, takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Dennis melirik arlogi di tangan kanannya, ia terbelalak mengetahui jam sudah pukul dua belas siang—tiga belas menit. Mata Dennis terbelalak mengetahui itu, ia segera menancap gas mobil.
Mira tak kalah melebarkan matanya mengetahui mobil itu begitu kencang melaju, tangan kanannya memegang erat pinggir jok sementara tangan kirinya menangkap handle pegangan tangan di samping-atas jendela pintu mobil.
“Den?!” teriak Mira di ambang antara senang dan ketakutan.
“Aku telat sayang.” jelas Dennis menatap lekat jalan di depan.
Mira sebenarnya tidak marah, ia hanya takut terjadi sesuatu. Huh, sudah lama juga tidak merasakan wahana bermain semacam roller coaster ini.
Mira membuka jendela pintunya, ia sangat lebih menikmati jika ada semburan angin kencang yang menjadi bukti kebrutalan mobil Dennis melesat.
“Haha,” tawa Mira tidak bisa tertahan lagi.
Dennis pun terkekeh senang melihat Mira yang menikmati tantangan maut ini.
__ADS_1
Hingga akhirnya, mobil Dennis telah sampai hanya dalam waktu 10 menit di kantor.
“Ayo.” ajak Dennis segera membuka pintu mobil.
Mira mendengus kesal melihat Dennis berjalan lebih dahulu darinya.
“Den..!” panggil Mira manja berjalan menghentakan kakinya.
Dennis yang lebih maju 5 meter darinya itu terdiam menunggu dengan sabar Mira yang berusaha lambat berjalan namun dengan langkah yang besar.
“Eeumh...!” rengek Mira menarik tangan Dennis.
Mereka lalu segera berjalan cukup cepat memasuki kantor.
“Eh, Direktur?” panggil terkejut Sekretaris Dennis.
Membuat pria itu jadi semakin gugup apakah atasannya nanti tahu ia telat, karena walau secepat apapun ia menuju kantor, Dennis masih telat dua menit.
“Hish, Kau ini.” gemas Dennis ketika Hanisa Sekretaris-nya mendekati mereka.
“Ooh, ada nyonya Dennis.” sapa Hanisa menunduk hormat sebentar.
Mira tersenyum tipis sedikit terpaksa membalas Hanisa.
“Dewan Pengawas mencari aku?” tanya Dennis was-was.
Hanisa menggeleng jujur sebelum ia menjawab.
“Tidak, mereka sedang sibuk ke proyek di Perancis.” jawab Hanisa menjelaskan.
Mereka kembali berjalan dalam satu tujuan yaitu ke ruang kerja Dennis.
Waktu pun berlalu dengan cepatnya, Mira yang terus menengok jam sambil memainkan ponsel pun kali ini melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 12:39 siang.
“Eh, Den. Sudah jam 1 kurang, aku ke sana menjemput anak-anak, ya.” pamit Mira beranjak dari berbaringnya di sofa.
Dennis hanya menengok sebentar pada Mira.
“Oh, hati-hati, ya. Ini kuncinya.” kata Dennis melempar jarak dekat kunci mobilnya ke pinggir meja kerja.
Mira tanpa berhenti sejenak hanya langsung mengambil kunci itu dari meja Dennis, ia berhenti ketika akan keluar dari ruang kerja Dennis.
“Aku pergi, ya.” pamit Mira lagi sayup.
Dennis yang mendengar keanehan pada suara Mira pun menoleh dan melihat wajah Mira yang nampak gusar. Dennis terdiam sebentar meresapi arti wajah Mira, hingga ia pun mengangguk.
__ADS_1
“Iya. Hati-hati ya.” sahut Dennis ikut gusar melihat raut wajah Mira yang berbeda secepat itu.