
“Hyeon Chul! Jangan melamun!”
*
Hari petang menandakan para manusia untuk berhenti bekerja dan harus pulang untuk bertemu keluarganya, begitu juga dengan bangunan menjulang ini.
Para pekerja disana satu persatu keluar dari perusahaan yang ia tempati hampir setengah hari itu.
“Hhh, laporannya sudah selesai.” gumam Dennis mendesah senang akhirnya laporan yang harus ia tunjukkan pada bosnya besok sudah selesai, dan itu artinya ia harus segera pulang dan beristirahat.
“Tuan Den, saya pamit pulang dulu.” pamit sekretaris Kim sesudah mengetuk dan membuka pintu kaca Dennis.
“Heum, aku juga sudah selesai.” sahut Dennis beranjak dari kursinya dengan mengambil jas dan tasnya lalu pergi menghampiri Kim Jong Woon sekretaris barunya di Korea ini.
“Menurutku pekerjaannya hari ini tak terlalu banyak, benarkan tuan Hyuk Jae?” tanya Dennis memecah keheningan dilift ini.
“Ah, ya. Tapi itu membuat ku berpikir keras.” jawab sekretaris Kim sedikit tak tak acuh akan perkataan Dennis tadi.
Dennis tersenyum simpul, ini pertama kalinya ia berkata santai pada sekretaris Kim yang pendiam dan tertutup ini.
“Em, bagaimana keluarga anda? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Hyuk Jae membuat Dennis terkejut sekaligus bertanya pada perkataan Hyuk Jae yang tiba-tiba.
Namun sangat mengecewakan sekali karna tak lama setelah itu lift berdenting menandakan tujuan Dennis dan Hyuk Jae sudah sampai, bahkan Dennis baru saja membuka bibirnya namun kembali tertutup lagi saat sekertaris Lee memberikan senyum smrik-nya dan pergi begitu saja.
“Apa-apaan dia?” gumam Dennis menatap kepergian Hyuk Jae lekat.
Dennis telah sampai di basement namun setelah ia dan mobilnya berjarak 10 meter, mobil silver tersebut bersuara dan lampu mobilpun menyala. Tampak seperti ada yang menyusup kedalam mobil tersebut.
Langkah Dennis semakin cepat hingga terlihat berlari, namun setelah ia membuka mobilnya tak ada siapapun disana, bahkan mobil itu kembali tenang seperti semula.
Pandangan Dennis ia hamparkan ke seluruh penjuru basement ini. Wajah awas bercampur khawatir itu terlihat diwajah Dennis yang sudah mengeluarkan keringat dingin didahinya.
Namun tanpa pikir panjang ia memasuki mobilnya, meninggalkan seseorang dengan baju formal serba hitam yang berada dibelakangnya. Tepat dimana Dennis berdiri tadi, ada seorang yang sedang menggenggam belati dengan erat hingga tangan itu bergetar.
*
“Sayang! Ayah pulang!” teriak Dennis setelah membuka pintu rumah itu.
Matanya terus mencari keberadaan anaknya yang entah kemana.
Terlihat tubuh Mira keluar dari dapur untuk melihat Dennis yang juga menatapnya.
“Eoh? Jennie sedang bermain dikamar.” gumam Mira menyibakkan helaian rambutnya kebelakang telinga.
Dengan gerakan kaku, Dennis membenarkan letak berdirinya yang sebelumnya sedikit miring.
__ADS_1
“Oh, benarkah? Apa dia tidur?” tanya Dennis pelan menatap Mira sayu.
“Entahlah, mungkin tidak.” jawab Mira lirih menautkan kedua pasang jarinya didepan.
Dennis benar-benar membenci suasana seperti ini, seharusnya ada Jennie untuk mencairkan suasana tegang ini.
“Em, kau tidak lapar? Aku sudah membuat makanan.” kata Mira kembali menatap Dennis.
Dennis tersenyum tipis lalu mengangguk dan maju satu langkah mendekati Mira yang terus menatap tepat dimata Dennis.
“Jennie! Waktunya makan malam! Turun sayang!” panggil Dennis menunduk menatap Mira yang lebih pendek darinya.
Dennis menoleh menatap pintu Jennie yang terbuka dan menampilkan tubuh kecil anak gadis itu.
“Wah, ayah pulang!” teriak Jennie **** senyum manisnya membuat kedua orang tuanya ikut tersenyum tipis.
“Ayah membawakan apa untuk ku?” tanya Jennie ketika melihat paper bag ditangan Dennis.
Dennis segera tersadar lalu ia menjinjing paper bag itu keatas dan menyodorkannya pada Jennie.
“Tapi Jennie harus makan dulu, baru boleh membuka hadiahnya.” kata Dennis menuntut Jennie yang mengeluarkan wajah kesalnya keruang makan.
*
“Ah! Ceritanya membosankan, aku tidur saja.” gumam Jennie beranjak dari sofa yang juga dipakai oleh kedua orang tuanya.
“Kau mau tidur? Jangan lupa ke kamar mandi dulu ya! ” pinta Mira menatap Jennie yang akan melangkah lebih jauh meninggalkan mereka berdua.
“Euh, bukankah lebih baik?” lirih Dennis membuka suara dengan terus menatap tayangan layar drama.
“Apa?” tanya Mira pelan menoleh menatap bertanya kearah Dennis.
Dennis tersenyum miring lalu tangannya yang bersender diatas punggung sofa tergerak menarik Mira agar lebih dekat dengan tubuhnya.
Seketika senyum yang ditahan Mira muncul ketika Dennis berhasil membawanya lebih dekat dengan suaminya itu.
“Aku senang kau kembali.” gumam Mira menunduk dengan senyum malunya.
Namun perlahan senyum lepas Mira hilang dan wajahnya berubah menjadi serius bercampur khawatir.
“Sebenarnya aku tidak ingin lagi mengungkitnya, tapi aku benar-benar penasaran tentang ini.” kata Mira masih belum ingin menatap Dennis yang sekarang menatapnya bingung.
“Kenapa saat itu, aku kau- ya, mencekikku?” tanya Mira dengan segala kegugupanya.
“Mencekikmu?” kata Dennis membeo, wajahnya terlihat sangat kebingungan.
__ADS_1
“Kapan?”
Kini bukan hanya Dennis yang menatapnya namun Mirapun ikut menatapnya kebingungan. Sekarang meraka saling tatap dengan wajah yang mengernyit.
Dennis beranjak dari duduknya dan menatap Mira kesal.
“Aku tidak merasa pernah mencekikmu. Kau tahukan aku tak pernah berbuat kasar padamu!” ucap Dennis meninggi, ia nampak tak terima jika dirinya pernah melukai Mira.
Mira merasa perkataannya memancing kembali perkelahian. Ia benar-benar ingin mengembalikan waktu dimana semuanya menjadi baik.
“Ah, tidak! Sepertinya tidak, aku mungkin hanya berkhayal.” sahut Mira mencoba menenangkan Dennis yang masih menatapnya tajam dan penuh pertanyaan.
Mira mencoba memegang kedua bahu Dennis agar pria itu kembali duduk disofa namun Dennis menepis tangan Mira.
“Tidak, aku tidur saja, lelah.” gumam Dennis pergi meninggalkan Mira yang sudah mengeluarkan kekecewaannya.
Ia mengepalkan kedua tangan dan air matanya telah meluncur melewati pipinya dan jatuh kelantai kayu itu.
*
Asap yang entah dari mana ini menghalangi pandangan Dennis. Ia hanya melihat hitam putih yang tersarat monoton.
“Seseorang! Tolong aku!” teriak Dennis merasa terjebak ditempat ini.
“***Mencari sesuatu?”
Suara seorang dari belakang mengejutkan Dennis hingga membuat pria itu berbalik dengan napas tak beraturan***.
“***Jong Woon!” pekik Dennis mendekati Jong Woon yang menatapnya rendah dan bibirnya yang membentuk seringaian.
“Ka-kalau begitu bawa aku pergi dari tempat ini.” pinta Dennis sesekali menatap tempat ini.
“Heum? Hanya aku yang akan keluar dari sini, namun kau harus tinggal ditempat ini bersama keluargamu yang lainnya.” jawab Hyuk Jae berbalik melenggang pergi dari Dennis yang mengejarnya.
Dennis merasa kedua kakinya tak bisa bekerja sama dengan pemikirannya. Kakinya sangat lambat untuk berjalan, hingga Dennis harus jatuh terbaring karna terlalu memaksakannya.
“Ayo! Bergeraklah, bodoh.” teriak Dennis memukul kedua kakinya hingga ada seseorang lagi menghampirinya.
Dia seorang pria dengan kepala yang berlumuran darah yang memenuhi dahinya, terlihat berkas tembakan di kepala botaknya. Pria itu menghampiri Dennis dengan terseok-seok.
“Jangan! Jangan dekati aku!” teriak Dennis menggunakan tangannya untuk menutupi wajahnya, seolah tangan pria botak itu meraih wajah Dennis***.
*
Mata Dennis terbuka lebar dan napasnya tak beraturan seperti dimimpinya namun kali ini lebih parah dari mimpi itu, keringat dinginnya bahkan mampu membasahi kaos oblong putihnya terutama dibagian dada dan punggung.
__ADS_1