
Mira lalu menutup pintu rumah, ia lalu berbalik berjalan menuju kamar Ji Yong.
Rumah ini sangatlah simpel, di bagian depan rumah terdapat ruang tamu dan ruang keluarga di kanannya. Lalu setelahnya ada 4 kamar, kamar itu terbagi dua dengan lorong menuju belakang di tengahnya. Pada bagian ujung rumah atau bagian belakang kedua kamar terdapat dapur dan ruang makan, sementara kamar mandi berada di luar rumah. Tepatnya satu dinding dengan ruang makan.
Langkahnya membawa Mira ke kamar neneknya yang berada di belakang kamar depan arah kiri.
Takut mengganggu Ji Yong yang mungkin tidur, Mira terlebih dahulu mengintip neneknya.
Namun kenyataan yang berbeda di penglihatan Mira, Ji Yong tengah berdiri menghadap jendela dengan suara berbisik yang nyaring terdengar.
Pemandangan ini membuatnya mengingat kejadian seram di Korea beberapa bulan yang lalu.
Semakin lama semakin berisik suara tak jelas itu, kini bukan hanya suara neneknya tapi juga ada beberapa orang yang ikut berbisik, salah satunya di belakang telinga Mira.
Mira sontak menoleh cepat ke samping, namun suara itu tak lagi terdengar. Ia kemudian kembali menoleh dan melihat Ji Yong sedang menatapnya datar.
Sedikit terkejut, namun Mira berusaha bertingkah seperti tidak ada apa-apa.
“Nenek, nenek mau makan apa siang nanti? Mira masakan, ya?” usul Mira.
Ji Yong lalu menurunkan tatapan kosongnya pada lantai.
“Terserah.” jawab Ji Yong cepat dan tidak peduli.
Mira terdiam merenung melihat keanehan neneknya yang periang ini, namun tatapan curiga Mira nampaknya tidak disukai Ji Yong. Nenek itu segera mendongak menatap sinis Mira.
“A-aku pergi memasak dulu. Nenek istirahatlah.” kata Mira gugup ditatap sebenci itu oleh neneknya.
Mira lalu kembali berjalan menuju dapur, ia ingin melihat apakah masih ada bahan masak.
Setelah Mira membuka semua laci dapur, ternyata neneknya ini hanya mempunyai bawang dan jeruk.
“Heuh, ponselku mana?” gumam Mira meraba kantung dresnya.
Beruntung ponsel pintarnya itu selalu berada di dekatnya. Segera setelah menemukannya, Mira menelepon Dennis.
“Dennis, di sana tolong belikan beberapa bahan makan, ya? Aku siang ini akan masak soto.” kata Mira langsung.
“Kau tanya pada penjaga toko, Dia bisa membantumu.” balas Mira pada Dennis yang beralasan kebingungan mencari bahan makanan untuk soto.
“Heum,” gumam Mira lalu menutup sambungan telepon.
“Nenek, nenek masih suka kopi `kan? Mau aku buatkan?” tanya Mira tersenyum sambil menyiapkan teko untuk ia isi air.
__ADS_1
Kleng!
Tiba-tiba suara benda terbuat dari aluminium jatuh ke tanah, Mira yang melihatnya secara langsung terdiam terkejut dengan mata yang lekat.
Namun karena tidak mau berpikir lebih dalam dan membuat dirinya ketakutan, Mira lalu mendengus dan mengembalikan tutup panci itu kembali kesemula.
“Huh, tikus di sini ternyata berani orang.” gumam Mira menyemangati dirinya.
Mira tahu ada yang aneh pada rumah ini, namun mungkin karena dirinya sudah pernah merasakan hak yang lebih menegangkan dari ini, jadi Mira tidak mau ambil pusing.
Mira lalu tanpa persetujuan Ji Yong mulai membuat kopi hitam yang bahannya selalu tersedia di laci atas dapur.
Mira dengan telatennya meracik kopi untuk neneknya, ia sesekali bersenandung untuk membuat suasana lebih menyenangkan.
Mira kini tengah menunggu air mendidih, ia termenung melihat teko.
Namun sebuah suara layaknya memanggil-manggil Mira membuat ia berbalik dan setelahnya Mira melihat kepala terbalik dengan rambut tipis juga ada beberapa bagian yang tanpa rambut sedang melihat Mira dengan mata besar, hidung yang terserut berdarah, dan mulut lebar menganga.
Saking takutnya Mira sampai tidak bisa menjerit, ia spontan mundur dan seketika jari tengahnya terkena teko panas, air pun sudah mendidih.
“Eugh,” pekik tertahan Mira menarik tangannya lalu mengusap kasar jari tengahnya sambil sesekali wajahnya menoleh ke belakang.
[1 Jam Kemudian]
“Ini bahan makannya, aku membeli semua yang tersedia di sana. Penjaga toko tidak tahu bahan masak soto.” jelas Dennis meletakkan satu kantung plastik besar di atas meja.
Sedangkan Mira hanya mengamati Dennis dengan raut terkejut.
“Banyak sekali, berapa semua ini?” tanya Mira mengeluarkan bahan-bahan masakan.
“195, termasuk yang dibeli Jennie dan Hyeon Chul.” jawab Dennis melihat kertas bon dari swalayan.
“Tak apalah, bisa untuk 4 hari.” perhitung Mira kembali memasukkan bahannya ke dalam kantung.
Mira lalu berjalan memasuki dapur, menata bahan itu di kulkas.
“Ayah, ayo lihat nenek.” ajak Jennie sudah berada di samping pintu kamar Ji Yong.
Dennis yang terduduk lelah di sofa terlihat akan menolak Jennie dengan kerutan di dahi dan matanya yang menyipit.
“Nenek sedang tidur.” kata Dennis padahal ia tidak tahu juga.
“Benarkah? Ayah tahu?” tanya Jennie polos.
__ADS_1
“Kakak Hyeon Chul, kemarilah. Ayo lihat nenek.” ajak Jennie mencari teman.
Hyeon Chul yang duduk dengan rasa semangat memakan cemilannya itu tidak menghiraukan apa yang dikatakan Jennie.
“Sudahlah, sayang. Nanti saja kalau nenek sendiri yang keluar.” nasihat Dennis tersenyum hangat.
Jennie akhirnya mengalah, ia lalu berjalan menjauh dari pintu Ji Yong yang sedikit terbuka dan menampilkan sebuah tangan berwarna biru pucat akan menarik Jennie ke belakang bersamanya.
“Eh?”
Dan Dennis melihat, ia terdiam melihat apakah itu tangan Ji Yong atau itu hanyalah halusinasinya dengan terus melihat pintu bawah Ji Yong yang sudah kembali tertutup.
“Ayah, mau kopi?” tanya Mira muncul dari lorong kamar.
Membuyarkan lamunan Dennis tentang tangan itu.
“Oh. Oh, iya, iya. Kopi.” jawab Dennis bingung di awal.
Mira kemudian tersenyum tipis dan kembali lagi ke dapur, sedangkan Dennis mulai bosan melihat televisi Indonesia yang selalu menampilkan acara ghibah, kisah nyata dan sinetron. Seputar itu saja.
Dennis kemudian berniat untuk melihat aktivitas Mira saja di dapur.
Dennis lalu beranjak melihat sebentar anak-anaknya sebelum ia pergi ke belakang.
“Sayang,” gumam Dennis bernada.
Ia lalu menangkup ujung bahu Mira.
“Iya, ini sudah akan selesai.” jawab Mira terbebani sendiri, takut Dennis menunggu.
“Heum, aku hanya ingin melihatmu, kok.” gumam Dennis melihat tangan Mira yang mengaduk kopi.
Dennis mengernyit khawatir sekaligus tidak suka melihat jari tengah Mira melepuh hingga berwarna putih pucat.
“Kau tak apa? Kenapa jarimu melepuh?” tanya Dennis khawatir.
“Heum? Tak apa. Ini kopinya.” kata Mira segera menyodorkan cangkir kopi pada Dennis.
“Kau temani anak-anak, aku akan memasak.” perintah Mira lembut.
“Oh, baiklah. Mira, boleh aku temui nenek? Nenek sedang tidur `kah?” izin Dennis setelah menyeruput kopinya.
“Nenek sedang sakit, ia butuh istirahat.” jawab Mira menutupi reaksi gugup dan takutnya.
__ADS_1