Rumah Petaka

Rumah Petaka
Gadis Kecil Ingin Tahu


__ADS_3

“Intinya, hanya aku saja yang selamat dari kejadian itu.” gumam Hyeon Chul menyudahi cerita panjangnya.


Jennie memejamkan matanya sebentar lalu menurunkan bantal kecil dari wajahnya dan menaruhnya kembali ke sofa ruang tamu ini.


“Apa kau takut?” tanya Hyeon Chul setelah Jennie menaruh bantal kecil itu dari wajahnya.


Jennie menatap Hyeon Chul sebentar sebelum menyalakan televisi.


“Em, semua anak kecil akan takut jika Kau ceritakan seperti itu.” jawab Jennie lirih.


“Lalu untuk apa Kau menutupi wajahmu dengan bantal? Kau ‘kan tidak sedang melihatnya, hanya mendengar.” tanya Hyeon Chul lagi sambil tersenyum jahil.


“Hah? Hehe, tapi apa panti asuhanmu tidak mencarimu?” tanya Jennie yang ingin mengganti pembicaraan ini namun tanpa sadar ia membuat aura Hyeon Chul berubah menjadi sedih, lagi.


“Mereka juga tak akan rugi jika aku kaburkan?” tanya Hyeon Chul yang terdengar seperti pernyataan.


Jennie bergumam menyetujui perkataan Hyeon Chul sambil menganggukkan kepala.


“Apa Kau sudah makan?” tanya Jennie membuat Hyeon Chul tersenyum kaku.


”Kau ingin makan?” tanya Jennie lagi mengetahui gelagat Hyeon Chul.


“Ya! Apa Kau belum makan? ” tanya Hyeon Chul balik.


“Belum, tadi aku ingin makan tapi Kau datang jadi baru sekarang terasa laparnya.” jelas Jennie sebelum mengeluarkan senyumnya.


[×]


“Heuh! Di sana benar-benar mendesak tapi beruntung aku yang mendapatkannya.” gumam Mira yang keluar dari kerumunan para ibu rumah tangga, maupun wanita muda yang beramai-ramai berebut tas mewah bermerk terkenal. Yang salah satunya sudah didapatkan oleh Mira.


Dennis terkejut sebentar melihat keadaan rambut dan baju Mira yang berantakan.


“Ck, seharusnya aku menikahinya saat sudah berumur dua puluh lima tahun agar sifatnya tak terlalu kekanakan.” gumam Dennis kepada Mira yang berjarak dua meter darinya.


“Apa? Aku tidak kekanakan, tapi tentu saja seorang wanita akan rela berdesakan untuk membeli barang mewah ini. Dan lagi harganya dipotong hingga 40% persen.” jelas Mira membela diri.


“Maksudku anakmu sedang menangis, Kau kabur dan pergi. Suamimu ingin segera pulang ke rumah, Kau mengajaknya ke mall.” jelas Dennis menatap Mira datar.


Mira menghela napas pasrah lalu ia menggenggam kedua telapak tangan Dennis.

__ADS_1


“Maaf, aku akan perbaiki sikapku.” kata Mira sambil menatap telapak tangan Dennis.


Dennis tersenyum kecil lalu melepaskan genggaman Mira dan menarik lengan Mira pelan.


“Ayo, anak kita sudah menunggu.” ajak Dennis menyudahi ketegangan diantara mereka.


.***.


Suara deru mobil mengalihkan perhatian Jennie yang sedang duduk sendirian di ruang tamu. Jennie segera mengambil sebuah kunci di meja dan beranjak menuju pintu yang tadi ia kunci.


“Sayang! Ayah merindukanmu.” kata Dennis segera setelah ia keluar dari mobilnya.


Jennie membalas pelukan ayahnya lebih erat meluapkan semua yang ia takuti dari rumah ini.


“Maaf, ayah pulang lebih larut.” gumam Dennis sebelum melepaskan pelukannya.


“Aku merindukan ayah.” rengek Jennie menatap sendu ayahnya.


Mira mulai keluar dari mobil dan tatapannya langsung tertuju kearah Jennie dan Dennis.


“Sayang!” panggil Mira setelah Jennie juga menatapnya.


“Maafkan ibu, ya?” gumam Mira lembut sambil menatap Jennie lekat.


Jennie menurunkan pandangannya dari Mira lalu mengangguk mengiyakan permintaan ibunya.


“Jja! Sekarang masuk, udara di luar dingin.” kata Dennis menengahi pembicaraan kedua wanita yang ia cintai ini.


.****.


Wajah bosan Jennie terlihat begitu jelas saat sudah berpuluh menit ia melihat televisi dengan ayahnya karna menunggu masakan Mira yang berada di dapur.


“Apa ibu masih lama?” gumam Jennie memeluk lebih erat boneka kuda poninya yang berwarna pink itu.


“Kau sudah lapar?” tanya Dennis yang berada di sampingnya.


Jennie hanya mengangguk menjawab pertanyaan Dennis.


“Kalau begitu aku mau ke kamar mandi.” kata Jennie lalu turun dari sofa dan menuju ke kamar mandi yang tempatnya berada di ujung rumah—bersebelahan dengan halaman belakang yang dibatasi dengan dinding rumah, tentunya.

__ADS_1


“Makanan segera siap!” ujar Mira terdengar di pendengaran Jennie yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Jennie sebelumnya ingin kembali ke ruang tamu, namun ia jadi mengingat cerita Hyeon Chul yang pertama melihat mahluk itu dari halaman belakang.


Dengan semua keingin tahuannya, ia berbalik. Awal mula ia hanya memegang knop pintu yang terhubung ke halaman belakang, lalu setelah beberapa saat beradu dengan pikirannya. Jennie pun memutar knop pintu dan membukanya.


Dingin, namun tidak seperti dingin saat berada di halaman utama rumah ini.


Ini lebih dingin mencekam dan udara di sini pun terasa menipis.


Jennie melangkah perlahan menyapu keseluruhan halaman rumah ini dengan pandangannya.


“Jennie!” panggil Dennis keras setelah ia muncul dari pintu yang masih terbuka dan menatap Jennie lekat.


Jennie terkejut lalu segera melihat Dennis takut.


“Apa yang Kau lakukan di sini?” tanya Dennis terdengar khawatir namun juga tersirat marah.


“Aku hanya ingin melihat– “ jawab Jennie bingung menjelaskannya.


“Sudahlah, ayo makan!” kata Dennis berjalan menghampiri Jennie lalu menarik tangan Jennie.


Jennie dengan berat hati mengikuti Dennis dan meninggalkan sesosok wanita yang sedang menggantungkan dirinya sendiri dengan rambut panjangnnya dipohon besar itu, wanita itu mengayunkan tubuhnya yang berbalut kain putih di ranting kokoh dan besar pohon itu.


“Sayang! Kau dari mana?” tanya Mira khawatir masih sambil meletakkan beberapa masakan dan piring ke meja makan.


“Jennie ke halaman belakang, entah apa yang ia lakukan.” sela Dennis pada Jennie yang merubah wajahnya menjadi terlihat murung.


Mira tersenyum menenangkan pada Jennie yang menatap murung padanya lalu mencubit pelan dagu Jennie.


“Jennie melihat apa? Peri kecil atau kuda pink bertanduk pelangi?” canda Mira lalu ia menunjukkan sebuah boneka plastik berbentuk manusia yang memakai baju balet dan tambahan sepasang sayap dipunggungnya.


Wajah murung Jennie tiba-tiba terlihat terkejut dan sesaat lagi menjadi ceria mengetahui ibunya membelikan boneka yang selama ini ia impikan.


“Wah, terima kasih bu!” kata Jennie segera mengambil boneka itu dari tangan Mira.


“Jaga baik-baik, jangan sampai kotor ataupun rusak, ya.” nasihat Mira setelah Jennie dengan pasti mengambil boneka itu.


Jennie tersenyum mengerti lalu mulai menyantap makanan di meja setelah Mira menyuruhnya untuk segera makan.

__ADS_1


__ADS_2