Rumah Petaka

Rumah Petaka
Perjuangan Hyeon Chul


__ADS_3

“Mira.” gumam Dennis pelan hanya didengar oleh dirinya sendiri, menyadarkan dirinya bahwa itu adalah Mira istrinya.


Suara benda besi seperti akan jatuh, terdengar pelan memasuki gendang telinga Dennis, membuat pria itu bersikap siaga. Ia melihat tempat-tempat yang kemungkinan sumber suara, hingga pandangannya teralih pada lampu kaca besar yang tepat di atas kepalanya, berayun siap untuk jatuh.


Prank!


Sesudah Dennis tahu jika lampu besar itu akan jatuh, ia segera menghindar secepat mungkin. Dan secepat itu pula, lampu itu jatuh hingga sebagian tubuhnya mengenai pecahan kaca lampu.


“Akh!” teriak Dennis meringis kesakitan dan melihat baju bagian lengannya terkoyak. Dengan kulit yang berdarah karena dihujani beberapa pecahan kaca kecil.


Tawa puas terdengar memenuhi setiap sudut rumah, membuat Dennis tersungkur kaget sambil memegangi lengannya. Ia menoleh dengan raut wajah kesakitan pada seorang pria yang sudah ia duga, sangat pasti menertawai kebodohannya tidak mempercayai Mira.


“Bagaimana, Den? Sakit?” tanya Kim Hyuk Jae dengan nada yang dibuat-buat, seraya keluar dari kegelapan disudut pintu belakang. Menghampiri Dennis yang menatapnya tajam.


“Heum, Dennis Mahendra Putra.” gumam Hyuk Jae melewati tubuh Mira, lalu ia berjongkok di hadapan Dennis.


Diam-diam dari belakang, telapak tangan Hyuk Jae mengambil serpihan cukup besar dari lampu kaca, lalu ia berkata kembali.


“Bodoh!” pekik Hyuk Jae lalu menyayat begitu cepat lengan Dennis dengan serpihan kaca. Bahkan begitu cepatnya Hyuk Jae bergerak, hingga membuat Dennis tak bisa mengelak saat tangannya disayat oleh Hyuk Jae.


“Apa maumu, Hyuk Jae! Aku tak punya kesalahan, ‘kan padamu?” tanya Dennis tak sanggup untuk mendongak, menatap wajah Hyuk Jae karna ia terlalu tersakiti.


“Kau, kau? Kau tak punya kesalahan, Den?!” teriak Hyuk Jae diakhir katanya.


Dennis sadar pria di depannya adalah psiko yang handal—hingga mampu bekerja sama melakukan pembunuhan dengan mahluk halus.


“Tapi, kenapa kau mencelakai keluargaku?! Kenapa?!” teriak Dennis terdengar sangat emosional.


Hyuk Jae terlihat luluh mendengar perkataan Dennis. Sebenarnya ia tak kasihan pada keluarga Dennis, namun ia kembali mengingat keluarganya yang begitu menyayanginya.


“Kau tahu, aku juga ingin keluargaku kembali utuh. Tapi mereka pergi! Dan aku ingin keluarga lain juga merasakan apa yang aku rasakan. Dan aku mendapatkannya, Hyeon Chul sekarang mempunyai hidup yang kelam dan menderita.” jelas Hyuk Jae tak membuat sedikitpun hati Dennis terenyuh.

__ADS_1


Justru ia benar-benar mengutuk Hyuk Jae, karena mendengar penjelasan yang tidak logis dari pria itu.


“Kau, kau brengsek.” umpat Dennis lirih menatap penuh kebencian terhadap Hyuk Jae.


Bugh!


Sebuah pukulan telak dari Hyuk Jae pada rahang bawah Dennis yang tak bisa membalasnya, hanya diam dan melirik pada belakang tubuh Hyuk Jae, tatapannya memohon pada seseorang dibelakang.


Hyeon Chul mencengkeram dengan kuat tongkat baseball yang akan ia arahkan pada Jong Woon. Bocah itu meringis berfikir apa yang harus ia lakukan, hingga akhirnya, dengan pemikiran singkatnya dapat meyakinkan dirinya sendiri.


Hingga sebuah suara hantaman terdengar, pukulan Hyeon Chul dengan tongkat berat itu berhasil membuat Hyuk Jae terkejut dan merasakan sakit pada punggungnya, hingga ia pingsan dan terkapar di lantai.


“Ouh, paman.” panggil Hyeon Chul menghampiri Dennis yang mulai bergerak—bersandar pada punggung sofa berbaring bersama Mira.


“Akan ku obati.” tanggap Hyeon Chul akan bergerak menuju ke arah dapur, namun Dennis segera menyela.


“Tak perlu! Hentikan semua ini! Segera selamatkan kami, Hyeon. Apapun caranya.” sela Dennis sambil memegang dagunya yang terlihat bercak darah.


Hyeon Chul berfikir kembali dan menyakinkan dirinya, ia kemudian mengangguk menyetujui usulan Dennis. Ia segera berlari menuju loteng yang tadi ia tinggalkan, tak ada lagi ketakutan pada dirinya. Karena rasa ketakutannya, akan membawa dirinya ke dalam penyesalan.


Brak!


Hyeon Chul segera berlari menuju ke sudut ruangan, pandangannya tertuju pada sebuah lampu yang ia pikir, mungkin bisa membuat secercah sinar di sini.


Setelah ia dapat menarik saklar lampu yang menggantung di samping bola lampu, perlahan lampu itu bersinar membuat Hyeon Chul menghembuskan napasnya lega.


“Apa yang menjadi berkas keluarga?” tanya Hyeon Chul sambil mencari sesuatu yang mungkin bisa membantunya.


Tangan Hyeon Chul berhenti spontan ketika ada sebuah foto berdirikan 5 orang, Hyeon Chul melirik lekat semua orang yang berada di foto itu. Di sana terlihat ada dua orang wanita dan pria paruh baya, saling menggengam tangan dan melempar senyum cinta. Sama halnya dengan kedua pasang pasutri yang terlihat lebih muda, dengan keduanya saling memegang ujung bahu seorang anak kecil yang berada ditengah-tengah mereka.


“Ini pasti yang kakek katakan, foto keluarga.” tebak Hyeon Chul lalu segera mengambilnya, dan segera berbalik untuk pergi dari loteng. Hingga sesuatu menghadangnya.

__ADS_1


“Aku tak akan membiarkanmu?!” pekik seorang pria dengan kulit yang mengelupas tersayat-sayat, hingga menimbulkan bau busuk.


Hyeon Chul sangat terkejut hingga ia menjatuhkan tubuhnya, spontan bersandar pada beberapa barang besar di belakangnya. Kaki pria di depannya ini semakin mendekat, menambah ketakutan dan jijik Hyeon Chul. Tidak pernah ia bayangkan akan bertemu dengan mahluk menjijikkan seperti ini.


“Jangan, ambil, itu!” perintah pria itu terdengar sangat susah untuk mengatakannya, karena tampak rahangnya yang begitu rapuh, seakan terlihat jatuh jika hanya untuk bergerak.


Hyeon Chul mulai mengingat sesuatu, hingga ia kembali melihat gambar digenggamannya dan benar tebakannya. Pria didepannya adalah pria tua yang bersama isterinya dalam foto itu.


“Jangan dekati aku!” teriak Hyeon Chul berdiri dan berlari dengan cepat mendorong pria rapuh itu.


Karena Hyeon Chul terlalu jijik dengan penampilan mengenaskan pria itu, hingga ia nekat walau hanya bisa mendorong karna tak ingin bersentuhan langsung pada mahluk tersebut.


Hyeon Chul tak berniat menoleh ke belakang, hanya untuk sekedar melihat keadaan pria itu. Ia tidak ingin lagi melihat sosok terburuk yang pernah ia jumpai seumur hidupnya.


Hyeon Chul segera berlari menuju halaman belakang, namun ia teringat sesuatu jika foto ini harus bisa dibakar agar benar-benar lenyap. Kembali bocah itu memasuki rumah dan mencari korek api, benda kecil namun penyimpan gas itu.


“Di mana?” gumam Hyeon Chul kalut memberantakkan barang-barang di mana ia pikir ada benda itu.


“Kau, tak bisa!” pekik seorang dibelakangnya meraih baju belakang Hyeon Chul, hingga membuat bocah itu terhentak mundur.


Hyuk Jae menyeringai melihat wajah ketakutan Hyeon Chul yang memegang erat secarik foto itu.


“Paman gila! Jika paman ingin keluarga paman bahagia, ikhlaskan mereka! Bukan kembali memanggilnya hingga mereka buta arah!” teriak Hyeon Chul marah dengan pemikiran Hyuk Jae yang membuat orang lain menjadi korban berikutnya.


Jong Woon marah, ia menatap tajam Hyeon Chul dan tangannya secara perlahan mencengkeram leher anak kecil itu.


“Kau bilang apa? Mereka lebih senang bersama denganku, daripada diujung dunia manapun. Karena mereka menyayangiku.” sahut Hyuk Jae terdengar sangat ingin meyakinkan Hyeon Chul.


Cengkramannya bahkan diperkuat saat Hyeon Chul menggeleng tak setuju dengan penjelasan Jong Woon.


“Jika paman melepaskan mereka, keluarga paman akan bahagia disurga. Dan nantinya akan menunggu paman juga bergabung, dengan kenikmatan surga yang lebih nikmat dari apapun itu.” jelas Hyeon Chul terbata-bata, mencoba bertahan dari penyiksaan Hyuk Jae dan menyadarkan pria itu agar ia segera bisa bertobat.

__ADS_1


Pria itu terhenyak dengan penuturan Hyeon Chul yang tak pernah ia pikirkan selama ini. Jadi begitu kejamnya ia menghambat jalan kebahagiaan kekal untuk keluarganya, hanya karna ia tak rela semua anggota keluarganya meninggal.


Hyuk Jae kalap, ia menjambak rambutnya. Frustrasi, seperti orang gila.


__ADS_2